
Sebenarnya Abhimanyu berniat ingin mendiami Indira, karena merasa kesal melihat kejadian tadi pagi antara Indira dan Aldo. Namun tiba-tiba Abhimanyu tersadar kalau istri manjanya itu pasti belum makan, sedang kan di rumah nya belum ada bahan bahan untuk di masak. Karena kemarin pun mereka makan dengan memesan lewat aplikasi. Dan benar saja, perasaan nya tidak salah. Berniat ingin mendiami Indira, namun tak tega untuk mendiami nya. Apalagi dengan insiden tersiram air panas saat memasak.
Akhirnya Abhimanyu pun menyuapi makanan untuk Indira. Di saat seperti itulah Abhimanyu dapat melihat kelucuan dan kemanjaan dari istri kecilnya itu.
" Aku kira, setelah di panggil oleh dia, dengan panggilan kesayangan. Kamu akan selalu kenyang, tapi ternyata tidak. Lagian bukan nya tadi kamu juga dapet makan siang dari dia ya. Kenapa kamu masih lapar, kirain bisa tahan sampai malam rasa lapar kamu itu.?"
Mendengar itu Indira langsung tersedak. "Bagaimana bisa tau, kalau Aldo membawakan makanan untuk ku.?" Pikir nya Indira .
Abhimanyu pun segera mengambil minum untuk Indira.
Uhuk.. uhuk.... uhuk... Indira menepuk dadanya, karena tersedak.
" Minum dulu Dir." Abhimanyu memberikan minum untuk Indira, Indira pun meminumnya.
" Bagaimana om bisa tau kalau Aldo membawakan aku makanan.?" Tanya Indira, dengan perasaan tak enak.
Abhimanyu tersenyum kecut, saat kembali mengingat kalau dirinya melihat Indira berdua dengan Aldo.
" Tadi aku sempat melihat kamu di kelas sama dia. Berniat ingin ngasih kotak makan, yang udah aku pesan. Namun aku urungkan niatku, karena aku melihat dia kasih makanan juga untukmu."
" Kenapa om tidak kasih ke aku. Terus makanannya om kemanain.?"
" Aku kasih bu Tiwi, kebetulan dia beli makanan, namun makanannya belum datang." Jawab Abhimanyu." Lagian kalau di kasih ke kamu, pasti gak akan di makan. Karena sudah ada makanan dari dia." Sindir Abhimanyu.
" Ya enggak gitu juga om. Kalau ada makanan dari om Abhi sudah pasti aku makan makanan dari om."Abhimanyu pun tersenyum mendengarnya, dan ada rasa geli juga karena Indira tanpa sadar masih memanggil dengan panggilan om.
" Iya aku tau, kalau kamu akan makan makanan punya aku. Karena kamu tau dengan makanan yang rasa nya enak." Kata Abhimanyu dengan mencubit hidung Indira.
" Sakit om, lepasin dong." Rengek Indira.
" Biarin, dari tadi kamu manggil nya Om terus. Kamu lupa, kalau aku itu siapa.?" Abhimanyu melepaskan tangan nya dari hidung Indira." Atau kamu ingin aku buktikan, kalau aku ini suami kamu."
Indira mendengar Abhimanyu mengatakan ini, langsung bergidik ngeri.
" Aku kan masih kecil, memang om mau kalau om di bilang ped*fil." Mata Abhimanyu mendelik saat Indira mengatakan kata itu.
" Astaga Dira omongan kamu itu, bener bener ya." Cetak .... Abhimanyu menjentik kening Indira.
" Aaaww sakit tau om, dasar om om.." Kata Indira dengan kesal nya, dan terus ngeledek Abhimanyu dengan mengatakan om om.
" Ow jadi seperti nya kamu nantangin aku ya. Ok kamu kayak nya mau bukti dari pria yang kamu panggil om om ini hah." Kata Abhimanyu yang memegangi kedua tangan Indira.
Dan untuk kali ini, Abhimanyu terpancing dengan Indira. Indira tertahan di sofa dengan kedua tangan di pegang oleh Abhimanyu. Dan tatapan mata mereka pun saling bertemu, Indira dapat merasakan hembusan nafas dari pria di hadapannya ini.
Jarak keduanya kini sudah sangat dekat.
" Om. Gak takut di bilang pe**fil.?" Goda Indira dengan menantang.
" Gak takut tuh. Aku buktiin sama kamu, bagaimana menjalani hubungan bersama seorang om om yang tampan seperti aku.."
Indira pun nampak gugup dengan jarak mereka, apalagi tatapan mata Abhimanyu begitu sejuk. Membuat degup jantungnya berdetak sangat cepat. Wajah Abhimanyu kian dekat lalu.
Abhimanyu pun menjauh kan wajahnya dari Indira. Abhimanyu tidak bisa meminta hak nya sebagai suami kepada Indira. Abhimanyu sudah berjanji kepada dirinya dan keluarganya. Kalau dia tidak akan menyentuh Indira, sebelum waktunya. Sebenarnya Abhimanyu merasa gemas dengan sikap Indira. Namun Abhimanyu berusaha menahan hasratnya, untuk saat ini. Kalau sudah saatnya Abhimanyu sendiri yang akan meminta hak nya kepada Indira. Tapi untuk saat ini, Abhimanyu belum bisa.
Indira masih tercengang dengan kejadian apa yang barusan terjadi. Walaupun tidak terjadi apapun kepada mereka, tetapi debaran yang saat ini dia rasakan masih terasa.
" Maaf.. " Ucap Abhimanyu dengan lirih.
Tiba-tiba terdengar suara getaran handphone, dan itu berasal dari handphone milik Abhimanyu. Abhimanyu melihat handphone miliknya, dan ternyata mamah Diana yang menghubungi nya. Abhimanyu membuang nafas, agar dirinya tidak gugup saat bicara dengan mamah mertuanya.
Huuufffhh.... Pip Abhimanyu mengangkat panggilan telepon dari mamah mertuanya.
" Hallo assalamualaikum mah." Nada suara Abhimanyu sudah kembali normal, sudah tidak ada nada gugup.
" Waalaikumsallam. Abhi, kamu sedang dirumah tidak .?"
" Iya mah, Abhi di rumah ada apa ya mah.?"
" Ini loh, apa Indira ada nak. Apa dia baik baik saja Abhi.?" Tanya mamah Diana. Abhimanyu menatap Indira.
" Iya Indira ada mah, Dira juga baik baik saja. Mamah ingin bicara dengan Indira.?"
" Iya Abhi, mamah ingin bicara dengan Indira boleh.? Soalnya mamah menghubungi handphone miliknya tidak di angkat angkat."
" Ow begitu ya mah. Sebentar ya mah." Abhimanyu menjauhkan handphone dari nya.
" Dira, handphone kamu di mana.?" Tanya Abhimanyu dengan suara pelan.
" Di kamar, ada apa.?"
" Ya sudah sini aku bicara sama mamah." Abhimanyu pun mengangguk.
Lalu Abhimanyu melanjutkan bicara kepada mamah mertuanya di telpon.
"Hallo mah. Maaf Abhi jadi mendiami mamah.?"
" Tidak apa-apa nak. Mamah mau bicara dengan Dira boleh Bhi.?"
" Boleh dong mah, sebentar." Abhimanyu memberikan handphone miliknya kepada Indira.
Indira pun kini yabg bergantian ngobrol dengan mamah Diana lewat handphone Abhimanyu.
" Hallo mamah."
" Dira sayang, bagaimana nak kabar kamu. Kamu sehat kan nak, dan baik baik saja.?" Tanya mamah Diana dengan beruntun.
Indira tersenyum mendengar mamah begitu mengkhawatirkan dirinya. Padahal tadi sore Papah baru menghubungi Indira.
" Dira baik baik saja mah. Mamah jangan khawatir dengan Dira."
" Dira, mamah tadi tiba tiba saja memikirkan kamu nak. Perasaan mamah tidak enak, dan sekilas bayangan kamu lewat di pikiran mamah. Mangkanya mamah menghubungi kamu, tapi tidak di angkat angkat telpon mamah. Mangkanya mamah hubungi Abhi."
Perasaan mamah Diana ini sangat peka akan keadaan anaknya. Benar banyak yang berkata, naluri seorang ibu akan sangat peka dengan kondisi anaknya jika terjadi sesuatu. Dan inilah bukti dari kepekaan orang tuanya.
" Maaf mah, handphone milik aku di kamar. Aku lagi di luar, lagi sama om Abhi." Sengaja Indira mengatakan Om Abhi, agar suasana tidak menjadi melow, karena Indira tidak bisa mendengar suara mamah nya sedih karena begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Dira sayang, masa kamu manggil suami kamu dengan sebutan om si. Jangan dong sayang, kasian loh suami kamu.?" Mama Diana menasehati Indira.
" Iya mah, Dira hanya bercanda ko. Yasudah mamah jangan sedih dong suara mamah seperti ingin menangis. Kan Dira jadi ikut sedih."
" Mamah seperti ini, karena mamah kangen sama kamu sayang. Putri cantik mamah, sudah di bawa oleh laki laki. Yang biasanya mendengar suara teriakan kamu, tawa kamu, canda kamu, bahkan marah marah kamu. Sekarang rumah ini sepi nak. Adam dan kakak kamu, mereka bingung ingin menjahili siapa, karena kamu sudah ikut dengan suami kamu." Kata mama Diana, yang terkekeh. Namun terdengar suaranya parau.
" Mamah.." Nada suara Indira sudah bergetar.
Mata Indira sudah mengembun, mendengar cerita mamah Diana. Jujur Indira pun juga merindukan suasana saat bersama keluarganya.
Kini panggil telpon pun sudah selesai. Indira memberikan handphone nya Abhimanyu kembali.
" Kamu kenapa, ko murung.?"
" Mamah kata nya kangen sama aku." Indira mencoba tersenyum, namun air matanya lolos begitu saja dari mata nya.
Abhimanyu menghapus air matanya.
" Kalau mereka kangen, kenapa kamu nangis. Hemm...?"Indira pun tersenyum.
" Aku juga sama, jujur saja aku kangen keramaian kalau lagi dirumah."
" Kamu ingin main kerumah mamah.?" Tanya Abhimanyu. Indira pun mengangguk.
" Yasudah besok kita kerumah mamah ya. Atau weekend kita menginap di sana saja.?"
"Beneran mas Abhi.?" Abhimanyu mengangguk. Wajah Indira kembali cerita.
" Besok kita ke sana ya. Atau mau weekend kita menginap di sana.?"
" Iya mau, kita ke sana weekend aja ya mas. Aku mau menginap di rumah mamah. Tapi mas Abhimanyu bagaimana, tidak keberatan jika menginap di sana.?"
"Memang kenapa, gak apa apa dong. Atau kamu yang risih kalau aku ikut menginap.?"
" Risih, gak lah. Yasudah beneran ya weekend kita nginep di rumah mamah.?" Tanya Indira dengan antusias.
" Iya sayang." Ucap Abhimanyu, membuat Indira tersenyum.
Untuk pertama kalinya Abhimanyu memanggil Indira dengan sebutan sayang.
Cup
Indira pun memberikan kecupan terimakasih di pipi Abhimanyu. Dan seketika Abhimanyu diam mematung mendapatkan kecupan dari Indira untuk pertama kalinya .
Bersambung.
Hai semua, terimakasih sudah mau mampir ke cerita novel receh ku ini. Dan terimakasih juga untuk yang sudah memberikan 👍nya.
...Jangan lupa untuk tinggal jejak 👍 dan komentar kalian ya. Karena itu akan jadi penyemangat ku untuk membuat ceritanya semakin menarik.🙏🙏🙏🙏...