
"Maaf Do, itu alasanku kenapa aku tidak menerima permintaan kamu. Jika itu terjadi, maka akan banyak hati yang terluka, dan satu lagi, aku sudah tidak miliki rasa apapun kepadamu." Jelas Dira.
Penjelasan dan kejujuran dari Dira benar-benar membuat dirinya terluka dan terasa menyakitkan.
"Saya harap kamu mengerti! Jangan pernah sekali-kali kamu mengganggu Indira atau berusaha merebutnya dari saya.! Karena saya tidak akan main-main untuk melakukan sesuatu, jika sampai itu terjadi!" ucap Abhi, di balik kata-katanya penuh penekanan dan ancaman.
Setelah mengatakan itu, Abhimanyu membawa Indira pergi. Sedangkan Aldo sendiri diam mematung, saat mendengar apa yang di katakan oleh Indira dan Abhi yang dia kenal gurunya itu.
Sungguh tak rela rasanya, jika gadis yang selama ini membuatnya selalu semangat dalam melakukan apapun untuk sehari-hari. Kini dirinya sudah menjadi milik orang lain, yang tak lain gurunya sendiri, yang dirinya kenal pria dingin dan arogan. Tetapi justru Indira sudah menjadi istrinya, benar-benar membuatnya tak terima.
Sebenarnya dari lubuk hati terdalam, Indira tak tega melihatnya seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, nama Aldo sudah tidak ada. Saat ini hanya ada nama Abhimanyu yang mengisi seluruh hatinya.
Indira hanya diam tak bicara mengikuti langkah Abhimanyu. Tiba-tiba langkahnya terhenti, saat Abhi menatap wajah Dira yang menunduk dan terdiam tanpa kata.
"Kamu kenapa diam? Apa kamu menyesal sudah mengatakan itu kepadanya?" tanya Abhi tanpa ekspresi.
Indira menggelengkan kepala. " Aku tidak memikirkannya, aku hanya berpikir semoga Aldo mengerti. Semoga dia bisa menerima perjodohan dari orang tuanya, tanpa menggangu hubungan kita." Abhimanyu tersenyum mendengarnya.
"Iya, kamu benar. Sekarang kita pulang yuk! Kasian teman-teman kamu menunggu kamu di kantin," ucap Abhi, dan Indira pun mengangguk.
Kini teman-teman Dira sedang bermain di kediaman Abhimanyu, pastinya Abhi juga tak keberatan karena itu membuat istrinya merasa tidak kesepian.
Kini mereka sedang berada di ruang TV, di mana para empat wanita itu sedang menikmati Snack dan cake yang di sediakan oleh Bu Sumi atas perintah Abhimanyu. Sedangkan Abhi sendiri sedang keluar untuk mengecek restauran miliknya.
"Dira, menikah muda itu enak tidak?" tanya Hanna dengan tiba-tiba, sambil memakan kripik.
Gea dan Alin hanya menyimak pertanyaan Hanna, karena di lihat menikah mudah seperti Indira seperti tidak menakutkan. Dira masih berpikir dengan ucapan temannya.
"Uuumm ... gimana ya?" Indira nampak berpikir. "Di bilang enak, ya tidak juga. Hanya saja, lebih tepatnya beruntung kali ya, menikah di saat usia muda."Jawab Indira.
"Beruntung gimana sih, Dir? Gak paham gue." Tanya Alin, menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Beruntunnya itu,gue nikah, dan paksu itu bisa sabar dengan sikap gue yang kekanak-kanakan. Selain itu, kita bisa berpacaran dengan pasangan yang sudah Sah, jadi mengurangi dosa, hihihi ..." Indira tertawa cekikikan. " Gak enaknya, ya kita gak bisa menceritakan masalah kita setiap perdebatan dengan pasangan, dengan orang tua. Biasanya kita itu 'kan kalau sedang bete, suka curhat ke nyokap. Setelah kita menikah, kita tidak bisa seperti itu lagi, setidaknya kita selesaikan masalah dengan pasangan kita dengan kepala dingin."
"Uuuhhh ... teman kita satu ini hebat ya!Mengerti arti rumah tangga, gue jadi kepingin menikah muda kaya elo, Dir." Kata Hanna, dengan tersenyum.
Alin, Gea dan Hanna hanya. menggelengkan kepalanya, melihat Hanna yang begitu bersemangat untuk menikah muda. Namun seketika raut wajahnya berubah menjadi murung.
"Elo kenapa Hanna? Ko tiba-tiba elo murung?" tanya Gea.
"Gak kenapa-kenapa ko. Hanya saja, gue bingung nikah dengan siapa ya? Hati gue sedang dilanda kegalauan." Jawab Hanna dengan cemberut.
"Galau kenapa si beb? Bukannya elo mentok dengan kakak gue?" tanya Indira dengan menggodanya.
"Sepertinya gak jadi Dir! Gue mengundurkan diri hati gue dari Abang Ical."
"What ...?" jawab serempak tiga temannya.
"Elo udah nembak, ka Ical?" timpal Alin yang ikut bertanya.
"Elo ditolak sama bang Ical?" tanya Gea pun juga tak mau kalah bertanya.
Hanna mengangguk." Mungkin kak Ical menganggap perkataan gue hanya bercanda! Tapi gue mengatakan itu, secara langsung gue mengungkapkan tentang isi hati gue. Jawab Hanna membuat ke tiga temannya merasa binging.
"Maksudnya gimana sih, Markonah? Sumpah gue gak paham. Elo yakin kalau bang Ical gak suka sama elo dari mana?" tanya Gea merasa gemas dengan temannya.
"Begini ya! Waktu itu gue dan dia pernah bertemu, dan kita sempat cerita. Gue sempat mancing pembicaraan tentang pasangan ke dia." Hanna menceritakan.
Flashback
Suatu hari, Hanna sedang joging pagi di taman dekat rumahnya. Di mana tanpa sengaja, dirinya berjumpa dengan Faisal.
"Hai bang Ical." Sapa Hanna.
"Hanna, kamu sama siapa?" tanya Faisal.
"Sendiri, memang mau sama siapa? Adik kakak kan sudah di bawa suaminya, hihihi ..." Hanna terkekeh, Faisal hanya tersenyum mendengarnya.
"Iya tidak ada Dira di rumah jadi sepi," jawab Faisal.
"Ow iya ka, kemarin kakak jalan dengan siapa? Tidak sengaja pas di lampu merah aku melihat kakak, dengan seorang gadis. Pacar kakak ya?" tanya Hanna meskipun ada rasa tak kuat mengatakannya.
"Ow itu Yasmin, memang kita sedang dekat. Oh iya doa ' kan kakak ya, semoga hubungan kakak dengannya semakin dekat!" kata Faisal dengan wajah bahagia.
Hanna bingung harus menanggapi nya seperti apa, dirinya hanya tersenyum. Meskipun bibir tersenyum hatinya tercabik-cabik mendengar cerita pria di sampingnya.
"Ko diam?" tanya Faisal melihat Hanna kembali tetdiam.
"Terus kakak sudah punya gebetan, nasib hatiku bagaimana?" tanya Hanna, dengan raut wajah menyedihkan.
Pikir Faisal, itu hanya bercanda.
"Nasib hatimu pasti ada pria baik yang akan miliki kamu." Sambil mengacak rambut Hanna.
" Kenapa bukan kakak, aku hanya ingin kakak?" tanya Hanna yang langsung mengenai sasaran pertanyaannya.
Fais menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum. "Kakak hanya menganggap kamu sebagai adik, tidak lebih. Kaka yakin suatu saat ada pria yang akan jatuh cinta sama kamu dengan tulus." Faisal menyentuh lembut pipi Hanna.
Di saat itulah, untuk pertama kali hatinya patah, dan sakit. Mendengar kejujuran yang menyakitkan dari Faisal, pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Flashback of
Mendengar cerita Hanna membuat teman-temannya merasa tak tega dengan sahabatnya itu.