
"Kenapa Indira bisa aneh si Mah?" tanya Faisal menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Itu juga, kopi papa di habisin. Tumben banget pagi-pagi ngopi," timpal pak Benny, istrinya hanya tersenyum mendengarnya.
"Mungkin Dira minum kopi biar gak oleng kali Pa." Ledek Faisal, dengan terkekeh.
"Hussh ... sembarangan kamu kalau ngomong!" tegur Mama Diana, membuat Faisal tersenyum.
Sambil menuangkan adonan pancake, di atas teplon. Abhimanyu memperhatikan gerak-gerik istrinya yang terlihat aneh, sejak bangun tidur.
'Kamu kenapa sih sayang? Aku memikirkan sikap aneh kamu sejak tadi,'
Pikiran Abhi terus memikirkan istrinya, kenapa semua makanan yang tak pernah di makanannya, sekarang mendadak ingin dia makan.
Kini, pancake strawberry yang Abhi buat sudah matang, lalu diberikan madu diatasnya. Abhimanyu tersenyum melihat makanan, yang di pesan istrinya sudah siap.
"Mah, aku antar ini buat Dira dulu ya?" mama Diana mengangguk, Abhi pun dengan membawa pancake di piring untuk istrinya.
Saat sudah sampai di sofa, Abhi melihat kalau Indira sedang tertidur. Kini Abhimanyu duduk di dekat Dira, sambil membelai rambut Indira dengan lembut.
"Sayang," panggil Abhi, membuat Indira mengerjapkan matanya, seperti seorang bayi.
"Mas Abhi," kata Dira dengan manja.
"Hemmh ... kenapa sayang?" Abhi membelai rambut Dira dengan lembut. "Ini pesanan kamu, pancake strawberry, sudah siap,"
"Susu coklat hangatnya pun juga sudah jadi, tuan putri," timpal Faisal, dengan tersenyum.
Indira tersenyum, mendapatkan perlakuan manis dari suami dan kakak tercinta. Dira pun duduk dan melihat pancake buatan orang yang tersayang, terlihat lezat.
"Dira, tuh suami kamu sudah membuat pancake khusus untuk kamu," kata mama Diana menggoda putrinya. " Kamu habiskan ya! Kasian sudah bikin capek-capek, tapi gak di habisin."
"Iya Mah," jawab Dira dengan tersenyum.
Kini Indira mencicipi pancake strawberry buatan suaminya. Sekali mengigit pancakenya yang terasa enak, Dira tersenyum dan itu membuat perasaan Abhi lega, karena sang istri menyukainya.
"Bagaimana sayang, rasa pancakenya enak?" tanya Abhi dengan penasaran
"Enak Mas! Aku suka makan pancake strawberry buatan kamu, rasanya lezat. Terima kasih suamiku," kata Dira dengan suara manjanya.
"Iya sama-sama sayang. Kalau kamu suka, dan rasanya enak kamu habiskan ya!" kata Abhi, dan Indira pun mengangguk.
Setelah tiga pancake strawberry, habis oleh Dira. Kini pandangannya tertuju pada susu hangat, buatan Faisal. "Aku minum ya, susu yang Kak Ical buat? Sepertinya enak,"
Lalu Indira mengambil gelas nya, dan langsung di minum, susu hangat coklat buatan Faisal, sampai habis tak tersisa.
"Bagaimana dek? Enak susu coklat buatan kakak," tanya Faisal dan Dira pun mengangguk.
"Enak lho Kak, terimakasih Kakak ku sayang,"
"Sama-sama ," Faisal tersenyum.
Setelah enam pancake strawberry, habis dan susu coklat di gelas pun juga sudah tak tersisa. Terlihat wajah Indira sumringah, karena sudah merasa kenyang.
Mama Diana kini duduk di samping putrinya. Sambil tersenyum, memandangi wajah Dira yang semakin terlihat cubby.
"Sayang, Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh Ma! Mama mau tanya apa ke Dira?"
"Uummm ... bulan ini, kamu sudah datang tamu?" tanya Mama Diana dengan hati-hati, agar putrinya tidak salah paham.
"Harusnya sih udah Mah! Tapi kenapa sudah lewat tangga Lima belas, masih belum datang juga ya?" Perkataan Dira berhasil membuat para keluarga tersenyum, termasuk Abhimanyu yang kini berada di sampingnya.
"Seriusan sayang?" tanya Abhi yang terselimuti rasa bahagia, sekaligus berharap dengan apa yang mereka harapkan.
"Iya Mas, masa aku bohong. Bulan kemarin juga haid nya hanya sebentar saja." Jelas Dira.
Saat mendengar itu, Abhimanyu dan Mama Diana, segera membawa Indira untuk ke dokter. Karena melihat kondisi Dira yabg selalu lesu, tak semangat, membuat mereka khawatir.
Kini mereka sudah berada di ruangan dokter. Dira yang sedang di periksa dengan di temani Abhi yang sudah sangat penasaran dengan kondisi istrinya.
Dokter perempuan itu tersenyum, saat memeriksa Dira.
"Bagaimana Dok, istri saya? Apa benar Dira sedang mengandung?" tanya Abhi.
Dokter perempuan yang bernama Bella pun tersenyum. "Sebentar ya tuan! Biar lebih jelas, kita lihat di USG."
"Maksudnya di USG? Maaf Dokter, kenapa istri saya harus di USG?" tanya Abhi.
Dokter itu tersenyum mendengar Abhi bertanya seperti itu. " Iya, dari pemeriksaan saya mengarah kalau istri kamu sedang hamil. Tapi biar lebih jelasnya kita lihat ya di USG!"
Mendengar jawaban dari dokter Bella, membuat Abhimanyu tersenyum. Bukan hanya Abhi saja, Dira dan mama Diana terlihat sangat bahagia.
"Alhamdulillah, sayang kamu hamil." Ucap Abhi membuat Dira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. " Ma, Indira hamil!" bu Diana pun juga mengangguk.
Tak henti-hentinya, Abhimanyu mengucap syukur, karena di berikan kepercayaan begitu cepat setelah kemarin sempat kehilangan.
Indira mengangkat setengah baju, untuk di periksa dengan alat USG. Dokter menggerakkan alat itu di perut Dira, untuk mencari letak janinnya.
"Nah, ini janinnya sudah terlihat, dan ukurannya masih kecil ya. Perkiraan usia janin kamu memasuki usianya delapan Minggu.Jadi kamu harus berhati-hati, karena masih rawan, dan lemah." Penjelasan dokter Bella.
Setiap apa yang dokter Bella katakan, Abhi mendekatkan dengan baik. Untuk kali ini, dia akan menjaga istrinya dengan hati-hati. Cukup yang kemarin, di jadikan pelajaran untuk nya, Abhimanyu tak ingin terulang kembali.
Kini Abhimanyu,Dira dan Mama Diana sedang berada di dalam mobil. Senyum kebahagiaan terlihat di wajah mereka, terutama Abhi, sesekali dia menatap wajah istrinya dengan senyum manisnya.
"Tau nggak sih Dira sayang. Mama tuh bahagia banget, saat tahu kamu lagi hamil," ucap Bu Diana.
"Apalagi aku Mah, begitu sangat bahagia mendengar kabar Dira hamil," timpal Abhi, yang membelai rambut istrinya.
Kini mereka sudah sampai di rumah, Abhi membantu Dira saat turun dari mobil. Mama Diana tersenyum melihat menantunya begitu sigap menjaga putrinya.
Pak Benny dan Faisal yang sejak tadi menunggu, kedatangan keluarganya yang mengantar Indira kerumah sakit. Mereka ingin sekali mendengar langsung kabar bahagia dari Dira.
"Bagaimana sayang, apa ada berita bahagia dari Dira?" tanya papa Benny ke istrinya.
Indira dan Abhimanyu tersenyum melihat wajah papa Benny yang terlihat tak sabar.
"Iya sayang, putri kesayangan kamu sedang hamil. Sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek," jawab Mama Diana, dengan raut wajah bahagia.
"Alhamdulillah," pak Benny mengusap wajahnya. "Selamat ya buat kalian. Nak kamu harus jaga kesehatan kamu, gak boleh capek-capek!" pesan Papa Benny.
"Tuh dengerin apa yang Papa katakan, jangan terlalu capek ya!" Abhi mengingatkan kembali.
"Iya Pah, aku akan ingat pesan Papa, Mas Abhi dan yang lainnya," jawab Dira membuat semua tersenyum mendengarnya.
"Selamat adikku tersayang, sebentar lagi qkan jadi mommy. Ingat pesan Kakak, jangan kurangin manjanya ya!" goda Faisal, membuat Indira tersenyum mendengarnya.
Kabar bahagia tentang kehamilan Indira, kini sudah terdengar oleh Bu Lidya dan pak Arif, dan itu membuat mereka sangat bahagia. Karena menantu kecilnya, cepat di berikan kepercayaan kembali oleh tuhan, setelah apa yang sudah terjadi kepadanya .
Bersambung....