My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Winda dan Indira



Ada rasa tak tega di benak Dira, saat mendengarkan cerita Hanna.


"Yang sabar ya! Gue yakin, suatu saat ada pria baik yang sayang sama elo." Kata Indira dengan memeluk Hanna untuk menguatkan sahabatnya.


Gea dan Alin pun juga ikut, menguatkan temannya. "Jangan sedih ya beb, masih ada kita ko yang mengerti perasaan elo. Kami akan selalu ada untuk menghibur elo." Kata Gea.


"Pastinya ada gue, sohib elo dari orok. Yang akan selalu menghibur elo, kala hati elo terluka," ucap Alin menghibur Hanna.


"Terimakasih gaes, kalian memang selalu ada buat gue." Jawab Hanna dengan kembali tersenyum.


Kini Hanna sudah bisa kembali tertawa riang. Acara mengobrol pun di lanjutkan dari yang asal, sampai yang masuk di akal. ( Memang ada ya? hihihi..)


"Gaes, setelah lulus elo mau lanjutin kuliah atau gimana?" tanya Indira.


"Elo sendiri gimana? Secara elo sekarang sudah menjadi nyonya keluarga Hermawan, apa elo mau lanjutin kuliah?" tanya balik Alin.


"Eemm." Dira nampak berpikir. "Gue sih mau lanjutin kuliah, mas Abhi juga gak melarang gue untuk melanjutkan pendidikan,"


"Iya ya, om gue memang paling pengertian. Gue tau elo pengen banget kan jadi guru, gue yakin elo juga bakal ngambil jurusan itu?"tanya gea


"Yupz bener banget." Jawab Dira. " Selain jadi istri, gue juga ingin memberikan ilmu gue untuk murid-murid. Nah! Kalau kalian ingin kuliah apa, Alim elo bagaimana?"


"Kalau gue, mungkin kerja dulu kali ya? Secara keluarga gue bukan kaya kalian, yang setidaknya untuk kata kuliah, pasti mampu. Gue mau cari duit dulu, agar bisa lanjutin kuliah dengan hasil gue sendiri." Jawab Alin, membuat semua temannya pun merasa malu dengan ucapan Alin yang selama ini mereka kenal sosok gadis yang mandiri.


"Elo ngomong apa si Lin, justru kita tuh malu karena kita belum mandiri. Kuliah aja dari orang tua, sedangkan elo, mau kuliah dengan hasil keringat elo sendiri," ucap Gea di angguki oleh Dira dan Hanna.


"Elo bagaimana Na?" tanya Dira.


"Gue mau ngambil jejak bunda, menjadi Designers, kaya bunda gue buka butik dan bisa buat baju pernikahan. Siapa tau gue bisa buat baju pernikahan gue sendiri. Hihihi ..."Kata Hanna dengan tawanya.


"Iya, bunda kan punya butik bisa buat desain baju juga ya. Nanti gue bilang mas Abhi deh, ketempat nyokap elo aja."Usul Dira, dan Hanna pun mengacungkan jari jempol.


"Boleh banget Dir, nanti gue bilang bunda ya." kata Hanna.


"Oke beb," semuanya pun terkekeh.


Sedangkan Gea sendiri, dirinya ingin ikuti jejak papahnya, yang juga sebagai pengajar.


Next


Setelah selepas ujian sekolah, dan wisudah perpisahan sekolah. Tugas Indira menjadi seorang murid di Sekolah Puspita Pertiwi, sudah selesai. Kini keluarga Abhimanyu maupun Indira di sibukkan dengan acara pernikahan dua sejoli yang berbeda usia.


Teman-teman di sekolah pun semua terkejut mendengar pernikahan Indira dengan guru olahraga yaitu Abhimanyu. Berita itu langsung ramai menjadi bahan di kalangan murid.


Pernikahan Indira akan di laksanakan seminggu kemudian. Tentunya Abhimanyu juga sudah menyebabkan undangan kepada teman-teman sekolah, dan kuliahnya. Hanya Winda saja yang belum mendapatkan undangan dari Abhi.


Tepat hari ini, Abhimanyu sedang berada di restauran. Tiba-tiba saja terdengar suara keributan dari ruang kerjanya, dan terlihat Winda masuk dengan rasa kesalnya.


"Ada apa ini?" tanya Abhimanyu saat melihat Rudi melarang Winda masuk keruangan Abhi.


"Ini pak, mbak Winda memaksa untuk masuk kesini. Padahal kami sudah melarangnya." Jawab Rudi dengan nafas yang tersengal-sengal karena perdebatan dengan Winda.


Winda pun duduk di sofa, Abhi pun juga duduk di sofa dengan jarak satu sofa. Winda menatap wajah Abhimanyu dengan terlihat kesal.


"Ada apa kamu datang kesini dengan membuat keributan di restauran milikku?" tanya Abhi dengan wajah serius.


"Kamu jahat Ndra.! Aku dengar dari Ferdian dan teman-teman yang lain. Kalau kamu mengundang mereka semua di pernikahan kamu, sedangkan aku sendiri, kamu tidak undang."Jawab Winda dengan kesal.


"Aku hanya belum sempat mengundangmu, niatnya aku akan datang bersama calon istriku mengantarkan undangan. Karena kamu sudah datang, nanti ku kasih, tapi undangan pernikahannya sama calon istriku." Kata Abhi dengan tersenyum, dan itu membuat Winda kesal.


"Jahat kamu Ndra, kamu tega meninggalkan aku! Apa kamu tidak ingat kenangan kebersamaan kita, Ndra?" tanya Winda dan itu membuat Abhi merasa muak mendengarnya.


"Bukan aku yang jahat, tapi kamu yang lebih dulu meninggalkan aku. Kamu menolak saat aku ingin menikahi kamu, dan lebih memilih karier kamu. Bukan hanya itu, kamu juga berkhianat di belakangku! Kamu pikir aku tidak tau, kamu berpacaran dengan pria bernama Adit!" Winda terkejut mendengar apa yang Abhimanyu katakan, kalau dirinya tau tentang hubungannya bersama Adit.


"Ndra, aku bisa jelaskan," Winda mencoba membela diri.


"Jelaskan apalagi Win, penjelasan kamu sudah tidak berarti lagi bagiku. Aku sudah menemukan gadis pilihanku, yang pasti, keluargaku merestui pernikahan kami. Jadi aku pinta, jangan pernah kamu ganggu hubunganku dengan istriku!" ucap Abhi penuh dengan kata ancaman.


Abhimanyu pun berdiri. "Aku keluar dulu ingin pesan minum untukmu agar kamu tenang." Abhi langsung keluar ruangan.


Sedangkan Winda sedang menangis menyesali kesalahannya, telah meninggalkan Abhimanyu.


Pintu ruangan terbuka, saat Winda menoleh ternyata yang datang bukan Abhimanyu, melainkan Indira. Dirinya pun segera menghapus air matanya, agar Dira tidak melihatnya.


"Hallo Tante," sapa Dira.


"Hai, Dira. Kamu ngapain kesini, udah libur sekolah ya?"


"Hem ... sudah libur sekolah, 'kan sudah lulus Tante. Aku mau janjian sama cowok Tante, hihihi ... jangan bilang-bilang om Abhi ya!" ucap Dira, dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


Winda pun tersenyum dan mengangguk.


"Memangnya kamu mau janjian dengan siapa? Seorang laki-lak?" Indira mengangguk.


"Tante kenapa? Ko seperti habis menangis, om Abhi membuat Tante seperti ini?" tanya Dira, Winda pun tersenyum kecut.


"Iya, Rendra yabg sudah membuatku menangis." Jawab Winda.


"Ko bisa? om Abhi keterlaluan! Memang masalahnya kenapa Tante, kalau mau cerita aku bisa jadi pendengar yang baik." Kata Dira, dan Winda pun menceritakan tentang masalahnya dengan Abhi.


"Ow, jadi intinya Tante menyesal, dan minta balikan lagi ke om Abhi?" tanya Dira, Winda pun mengangguk. "Kalau sudah seperti ini, susah Tante, karena acara pernikahannya seminggu lagi"


"Maksud kamu? Berkata seperti itu apa?" kata Winda dengan sedikit rasa tak terima.


"Tenang Tante, jodoh itu sudah diatur oleh Allah. Mungkin Tante dan om Abhi belum berjodoh." Kata Indira sambil memberikan senyuman ke Winda.


"Iya kamu benar. Jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan, tapi aku hanya ingin Rendra menjadi jodohku." Kata Winda yang justru bercerita kepada Indira.


Winda tidak tau kalau Indira lah yang akan menikah dengan Abhimanyu, pria yang dia cintai


Bersambung.