My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Pasrah di makeover



Setelah membeli jajanan pasar, rujak serta menikmati soto Bogor, dan es cendol. Kini Abhi dan Indira kembali ke rumah, namun bukan tempat mereka, melainkan kekediaman pak Benny.


" Hallo ... Mama, papa! Aku datang," ucap Dira datang bersama Abhi dengan membawa bungkusan buah dan juga jajanan pasar.


Pak Beny dan bu Diana nampak heran, dengan apa yang dibawa oleh putrinya dan menantunya ke rumah mereka.


"Ya ampun, Dira Abhi! Kalian bawa apa segini banyaknya? Ini juga jajanan pasar, kamu beli sebanyak ini memang ingin mengadakan acara ?" tanya Mama Diana dengan membuka bungkus plastik merah, berisikan kue yang cukup banyak.


"Semua ini keinginan cucu Mama. Sejak pagi Indira sudah merengek ingin memakan jajanan pasar katanya!" jawab Abhi, membuat mertuanya menggelengkan kepalanya.


"Nah! terus ini buah rujak segini banyaknya ingin kalian apakan? Apa hanya kalian saja yang makan?" tanya pak Benny melihat buah rujak.


Pak Benny meringis saat melihat buah kedondong dan mangganya.


"Ya enggak dong pa, 'kan bisa aku panggil Hanna, Gea, dan Alin. Aku akan mengundang mereka ke rumah ini, lalu kita makan rujak sama-sama." timpal Dira, dengan terkekeh.


Mama Diana hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat putrinya yang begitu semangat untuk ngerujak.


"Ya sudah! Mama bersihkan buahnya terlebih dahulu, dan sekalian nanti buat bumbu rujaknya," kata Bu Diana dengan mengambil bungkusan plastik merah.


"Beneran nih Mah? Bumbu rujak buatan Mama itu tidak ada duanya." Puji Dira dengan memberikan dua jempolnya.


Benar saja tidak lama, setelah bumbu rujak jadi. Tiga sahabat Dira akhirnya datang ke rumah pak Benny.


"Halo bumil!" sapa Alin saat baru sampai.


"Hai gaes, jadi enak nih kita ditelepon sama Dira, cuma untuk nemenin dia ngerujak." Ledek Alin membuat Gea dan Hana terkekeh mendengarnya.


"Hey ... hey ... kalian berdua sini bantuin tante!" panggil Bu Diana. "Sekarang kalian membersihkan buah-buah ini! Enak saja datang mau main makan, bantuin dulu dong!" Gea dan Alin menggarukkan yang tak gatal karena malu.


iya Tante jawab Alin n dan Gea dan itu membuat Dira dan Abhi terkekeh melihatnya. Sedangkan Hanna sendiri memang saat datang langsung membantu calon ibu mertuanya.


Kini buah-buahan, sudah dibersihkan dan bumbu rujak pun juga sudah jadi. Sedangkan Indira yang sudah menunggunya dengan rasa tak sabar.


Indira terlihat bahagia saat melihat buah-buahan dan bumbu rujaknya sudah di hadapannya.


huuff ... haam! Kreesss!


Terdengar suara kepedesan dan gigitan buah yang mereka makan..


Bu Diana dan pak Benny melihat Dira dan menantunya begitu menikmati makan rujaknya. Mereka hanya meringis, apalagi saat melihat buah kedondong yang asam di gigit oleh Abhi.


Pak Benny hanya memegangi mulut yang sudah membayangkan betapa asamnya buah kedondong itu.


"Mah apa mereka berdua tidak merasa keasaman ya?" Bisik pak Benny di telinga istrinya.


"Pah yang namanya ngidam, rasa asam seperti itu memang mereka cari. Apa kamu tidak ingat waktu aku sedang mengandung Dira!" jawab Mama Diana, yang berbisik kepada suaminya.


Pak Benny pun mengingat, kala istrinya saat itu sedang mengandung Dira.


"Iya, waktu kamu sedang mengandung Dira. Kamu minta aku untuk mencarikan buah jamblang, dan saat itu sangat sulit mencarinya," pak Benny mengingat nya, dan mama Diana tersenyum mendengarnya.


"Waktu itu aku ingat hanya ada satu pohon jamblang, kalau gak salah milik Kong Samad. Lalu kamu meminta aku untuk memanjatnya, padahal banyak semut saat aku naik ke atas. Tapi Demi istriku, aku rela," ucap pak Benny menggobali istrinya.


Lanjut ke Dira dan Abhi.


Setelah rujak mereka habis, lalu Indira mengeluarkan jajanan pasar untuk teman-temannya. Pak Benny dan Bu Diana ikut berkumpul dengan mereka, menikmati kue yang Dira beli.


Beberapa bulan kemudian usia kehamilan Dira sudah memasuki tiga puluh delapan Minggu. Yang di mana Abhi tidak ingin kehilangan momen menjadi peran suami yang siaga untuk istrinya.


Kegiatan-kegiatan Abhi sekarang lebih dikurangi. Dia lebih fokus untuk menjaga istrinya yang sedang hamil tua dan akan mendekati persalinannya.


Pengorbanan Abhimanyu bukan hanya itu saja. Seperti saat ini Abhi pasrah ketika istrinya merengek, agar dirinya mau di makeover oleh istrinya. Karena jika tidak dituruti, sudah yakin kalau istrinya akan merajuk.


Sambil bersenandung, Dira menguncir rambut suaminya. Meskipun hanya sedikit, dan itu seperti pucuk pohon pisang, membuat Abhi sendiri pasrah.


Bukan hanya itu, Indira juga memberikan jepitan kupu-kupu, di sisi kiri-kanan rambut yang sudah dikuncir.


'Ya ampun, kalau bukan karena istriku yang sedang hamil. Aku tidak akan mau di perlakukan seperti ini. Lihat aja, aku di perlakukan oleh mantan murid sendiri. Rasa wibawa ku sebagai guru, luntur seketika. Kalau murid-murid ku yang lain sampai tau, atau orang rumah lihat aku seperti ini. Aku tidak tau harus ku sembunyikan di mana mukaku ini.' Abhi hanya berani ngedumel di dalam hatinya.


Dira menatap suami, yang selalu memberikan senyuman kepadanya. Padahal dia gak tau hatinya sedang menggerutu di perlakukan seperti ini.


Abimanyu pasrah dan hanya merebahkan dirinya di tempat tidur. Sedangkan Dira duduk sambil mengolesi wajah suaminya dengan make up yang dimilikinya.


"Dira sebenarnya aku mau kamu apain sih?" tanya Abhi sudah mulai merasa bosan.


"Sebentar lagi, kamu akan mejadi cantik setelah aku makeover!" timpal Dira dengan mengoleskan sesuatu dibibirnya.


Indira terkekeh saat melihat hasilnya.


"Ya ampun! Mas kamu diam-diam jangan bergerak!" pinta Dira.


Indira mengambil sesuatu di atas meja, dengan terkekeh melihat wajah suaminya.


"Mas Abhi sayang. Jangan cemberut gitu dong, senyum dikit ya!" pinta Dira.


Abhi pun tersenyum dengan mata terpejam, sedangkan Indira terkikik geli melihat wajah suami.


Cekrek ... cekrek!


Terdengar bunyi bidikan kamera, Abhimanyu pun membuka matanya. Benar saja, sebuah handphone dengan mode camera berhasil mengambil gambarnya.


"Kamu ngapain sih Dir? Kamu foto aku ya?" tanya Abhi mengubah posisinya menjadi duduk.


"Iya, habis wajah kamu tampan banget Mas, kaya oppa Kim bum," goda Dira membuat Abhi tersenyum.


"Kim bum! Gak apa-apa lah. Asal jangan Kim Jong-un! Dulu kamu selalu menyebut itu kalau di hadapan aku." Ucap Abhi saat mengingat kejadian di perpustakaan bersama istri, waktu jadi murid di sekolah.


"Hihihi ... iya dulu kamu garang sayang. Tapi kalau sekarang senyuman kamu itu membuat aku betah memandangi kamu," ucap Dira menggoda suaminya dengan mengedipkan matanya.


Abhi terkekeh dan menjadi salah tingkah, dengan ucapan istrinya.


Setelah puas berbincang dan tertawa, akhirnya Abhi masuk kedalam kamar mandi, berniat ingin membersihkan wajahnya, dari makeup yang di oleskan istrinya.


Abhimanyu terkekeh melihat wajahnya sendiri dari kaca, sebelum di bersihkan.


"Kenapa gue jadi cantik begini, setelah di makeup Dira. Hadeeuh ... jangan sampai anak gue ngeliat nanti, kalau ayahnya di buat seperti ini sama ibunya."


Abhi pun segera membersihkan wajah dangan sabun muka, sampai sisa make-up nya hilang.


Bersambung