My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Di antar pulang



Indira dan Abhimanyu pun segera mencari tempat duduk. Dan mereka memilih menu pilihan mereka masing-masing.


Sambil menunggu makanan yang mereka pesan. Abhimanyu dan Indira pun hanya diam tak saling bicara. Indira menjadi tak nyaman dengan diam diaman mereka, Indira merasa seperti duduk bersama patung manekin.


" Pak Abhi ," panggil Indira.


Abhimanyu pun menoleh. "Ada apa,"


"Pak Abhi itu ko betah si diem seperti itu.?"


"Maksud nya, diam bagaimana,"


"Itu diam jarang ngomong, betah gitu loh pak. Memang kalau diam aja gak di lalerin gitu pak. Hihihi.." Abhimanyu pun menatap Indira dengan tatapan tajam, namun Indira tidak takut sama sekali."


"Jiaaah .... Saya di pelototin sama pak Abhi. Bercanda pak, jangan baper apa jadi orang. Nanti ganteng nya jadi bertambah loh pak. Mau memangnya kalau banyak cewek-cewek yang ngejar-ngejar pak Abhi, kan repot."


Abhimanyu hanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap murid yang satu ini.


'Saya kira dia ini gadis manis. Ternyata dugaan saya salah. Dia gadis Bar bar yang tingkah nya seperti Gea. Tapi ada hiburan tersendiri melihat dia seperti ini, terkadang tingkah nya bikin gemes. Eeh ngomong apaan si saya, dia itu Bocah 16 tahun. Ingat Abhi ingat." Ucap Abhi hanya dalam hatinya.


Saat itu juga makanan yang mereka pesan pun sudah datang.


"Pak Abhi suka nasi goreng juga ya?"


"Iya, memangnya kenapa, nasi goreng makanan manusia kan?"


"Yang bilang makanan jangkrik siapa, si Pak?"


"Kamu barusan, bisa tidak kalau sedang makan itu diam. Dari tadi saya dengar kamu ngoceh mulu, gak capek memangnya.?"


"Capek si pak?"


"Yasudah diam, sekarang kamu makan, dan berhenti bicara.!"


"Iya pak," Kata Indira sambil memanyunkan bibirnya. Dira pun akhirnya menuruti perkataan Abhimanyu, yang makan tanpa bicara.


Sesekali Abhimanyu melirik Indira yang fokus makan. Ada rasa tergelitik melihat Indira yang makan dengan mulut cemberut, seperti anak kecil, yang di paksa makan oleh ibunya.


Selesai makan, Indira hanya bermain handphone miliknya, dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Kamu kenapa?" Indira hanya melihat Abhimanyu dan menggelengkan kepalanya saja, tanpa menjawab pertanyaan orang yang ada di hadapannya.


"Kenapa kamu hanya diam, tidak menjawab pertanyaan saya?" Tanya Abhimanyu lagi dengan wajah serius.


"Kata pak Abhi, jangan banyak bicara. Mangkaya saya diam saja."


"Astaga, jadi mentang mentang saya bilang seperti itu. Sampai saya bertanya kamu tidak mau menjawab?" Indira pun mengangguk. Abhimanyu hanya menggelengkan kepalanya melihat gadis di hadapannya ini. "Sekarang kamu boleh bicara.!"


Indira pun tersenyum mendapat izin untuk boleh bicara. Abhimanyu berusaha menahan tawanya, saat melihat ekspresi lucu Indira. "Terus kenapa kamu kesal seperti itu.?"


"Ini pak, tadi saya kesini sama kakak saya. Tapi tiba-tiba teman lama nya menghubunginya kalau ingin bertemu dengan kakak saya. Janji nya mau jemput saya, tapi malah gak jadi. Nyebelin banget gak si pak," Dengan bibir manyunnya membuat Abhimanyu harus menahan tawanya.


"Oooh begitu, yasudah biar saya yang antar kamu pulang."


Indira pun terkejut mendengar nya.


"Apa pak, pak Abhimanyu mau antar saya?" Abhimanyu mengangguk. "Enggak usah pak, saya bisa pulang sendiri."


"Tidak apa apa rumah kita searah, dan juga saya melewati rumah kamu lebih dulu kan.?"


"Memangnya pak Abhimanyu tau rumah saya?"


"Tau lah, yasudah habis ini kita pulang ya.!"


"Iya pak terima kasih sebelumnya,"


"Eeemmmm...."


Bagaikan rezeki nomplok di siang bolong, Indira seperti mendapatkan voucher belanja gratis. Bagaimana tidak, buku di belikan, makanan pun di bayarin. Sekarang pulang di anterin. Walaupun kakak nya tidak jadi menjemput, namun sudah terbayar oleh Kebaikan gurunya.


Kini Abhimanyu dan Indira berada di dalam mobil. Tidak ada obrolan di antara mereka, yang terdengar hanya suara lagu, yang di nyanyikan oleh band yang cukup terkenal.


🎢🎢


Tepian hati terbentang luas


Samudera bahagia


Melayang 'ku di dekatmu


Kau mempesona isi dunia


Seakan semua mata tertuju padamu


Hanya padamu


Kau pancarkan sinar itu


Dari dua matamu


Buat 'ku merasa indah


Sepertinya 'ku sedang bermimpi


Tanpa dirimu


Tepian hati terbentang luas


Samudera bahagia


Melayang 'ku di dekatmu


Kau pancarkan sinar itu


Dari dua matamu


Buat 'ku merasa indah


Sepertinya 'ku sedang bermimpi


Tanpa dirimu


Kau pancarkan sinar itu


Dari dua matamu


Buat 'ku merasa indah


Sepertinya 'ku sedang bermimpi


Tanpa dirimu


By Utopia ( Indah)


🎢🎢


Abhimanyu mendengar Indira bernyanyi, sampai begitu menghayati. Abhimanyu hanya mendengarkan setiap lirik lagu, yang di nyanyikan Indira. Apalagi dengan suara Indira yang terdengar merdu, dan bagus.


Setelah Indira selesai bernyanyi, Abhimanyu pun tersenyum.


"Kamu suka bernyanyi ya.?"


"Hihihi.... Sedikit si pak."


"Enggak aah, kemarin saya juga dengar kamu latihan sama teman teman kamu, dan suara kamu bagus."


"Terimakasih pak .. "


Indira hanya tersenyum mendapatkan pujian dari pria di sampingnya yang tak lain gurunya.


Kini mobil yang di kendarai Abhimanyu sudah berada di depan rumah Indira. Dan tepat saat itu juga Faisal pun sampai. Faisal bingung saat ada mobil yang berada di depan rumah nya. Saat yang keluar dari mobil itu ternyata adiknya, Faisal pun langsung menghampiri.


"Dira..." Indira diam tidak menjawab panggilan kakaknya.


Faisal menanggapi nya dengan tersenyum, dirinya tau adiknya sedang marah.


"Kenapa senyum senyum kaya gitu. Nyebelin banget si jadi kakak."


"Iya iya, kakak minta maaf." Namun Faisal di buat terkejut dengan seseorang yang keluar dari dalam mobil. Lalu orang itu pun tersenyum.


"Ical..." Faisal pun juga tersenyum melihatnya.


"Rendra, " panggil Faisal, begitu pun juga Abhimanyu yang tersenyum saat namanya dipanggil, lalu keduanya pun saling bersalaman.


Indira hanya melihat keduanya, yang ternyata mereka saling kenal. Dan itu membuat Indira hanya menjadi penontonnya saja.


"Ko elo bisa kenal sama adik gue?"


"Indira itu murid gue di sekolah tempat gue ngajar,"


"Serius Lo ,?" Abhimanyu pun mengangguk.


"Sempit banget ya dunia, jadi ternyata elo guru adik gue?" Abhimanyu pun mengangguk.


"Ka Ical, ko Kakak bisa kenal guru Dira si.?" Tanya Indira.


"Dia ini, teman kuliah kakak di Bandung. Dan dia ini juga teman 1 Kost kakak, kita memanggilnya Rendra. Tapi udah lama banget kita enggak pernah ketemu lagi, Iya kan Bro.?" Abhimanyu pun mengangguk.


"Iya Dira, saya dan Faisal ini sempat 1 kampus, dan 1 Kost." Indira pun mengangguk.


"Ndra, mampir sini. Udah lama juga kan kita gak pernah ngobrol." Ajak Faisal, dan Abhimanyu pun mengangguk menerima tawaran Faisal.


Kini Abhimanyu pun mampir di rumah Indira, yang tak lain rumah Faisal. Mereka pun saling mengobrol sebagai teman lama yang tak pernah bertemu banyak cerita yang mereka cerita kan. Sedangkan Indira masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.


"Eeh lupa gue mau tanya, ko bisa Lo bareng adik gue?"


"Iya tadi pas gue lagi mau beli buku, gue liat adik elo. Ya dia bilang kakaknya gak bisa jemput, jadi gue suruh bareng aja,"


"Ow begitu." Faisal pun mengangguk mendengar penjelasan Abhi.


"Dunia itu tak seluas daun kelor, ternyata kalian itu adik kakak. Pantesan aja enggak berbeda jauh," kata Abhi dengan terkekeh.


"Maksudnya enggak berbeda gimana, minusnya gitu," Abhimanyu pun mengangguk dan terkekeh. "Dasar lo."


Flashback


Faisal dan Abhimanyu, pernah mengambil mata kuliah jurusan di bidang yang sama yaitu olahraga dan jasmani. Karena keduanya memang sama-sama menyukai jurusan yang sama. Sampai setelah lulus, melanjutkan perjalanan mereka mengajarkan murid di sekolah. Dengan Abhimanyu mengajar dan menetap di Bandung. Sedangkan Faisal di Jakarta, sejak dari sanalah mereka sudah tidak pernah bertemu.


Mangkanya di saat Abhimanyu mengantarkan Indira pulang, dan ternyata Abhi mengenal Faisal itu teman lamanya. Maka saat itu Abhimanyu langsung menghampiri Faisal..


Flashback of


"Jadi sekolah itu punya bokap Lo?" Abhimanyu mengangguk. "Dan Gea itu keponakan Lo.?"


"Iya, kenapa terkejut. Sama gue juga kaget, saat tau Lo kakak nya Indira." Faisal pun tersenyum. "Sekarang elo ngajar di sekolah mana?"


"Waktu habis kuliah, gue ngajarin di sekolah SDN**. Dan sekarang gue mengajar sekolah SMPN**. Nah elo sendiri gimana, katanya elo buka usaha restauran.?"


"Iya gue buka usaha itu, untuk masa depan gue nanti. Setelah gue dari Bandung gue fokus untuk urusan usaha kuliner gue. Dan gue berhenti dulu untuk mengajar. Setelah buka 4 cabang usaha kuliner, gue baru mulai ngajar lagi di SMA tempat sekolah milik bokap gue."


"Hebat Lo, benar benar otak elo encer kalau masalah cuan."


"Ya habis mau gimana lagi, kita itu di tuntut keras untuk bertahan hidup, yang zamannya semakin keras bro. Selain itu gue juga membantu usaha Bokap yang mendirikan sebuah sekolah, dan selebihnya biarkan kakak kakak gue yang ngurus lah. Gue cuma ingin jadi penerus kakek dari nyokap yang mendirikan usaha rumah makannya. Gue semakin tertarik dengan usaha yang di bangun kakek yang di rintis juga dari 0."


"Ya benar, gue pun juga sama, bantuin mengurus usaha Bokap dan nyokap. Bokap kan buka usaha bakso, dan nyokap toko kue. Jadi gue bantuin ortu dalam usahanya yang mereka rintis."


Mereka berdua pun asyik mengobrol, tanpa sadar sudah berapa lama mereka saling bercerita. Lalu terdengar suara deru mesin mobil, ternyata papah Benny dan mamah Diana pun datang.