
" Semangat....!" Kata Indira mengepalkan tangannya dan mengarah ke atas.
Abhi pun ikut tersenyum melihat istri kecilnya begitu bersemangat.
Keesokan harinya
Hari ini adalah hati terakhir di mana sekolah Puspita Pertiwi melakukan Ujian Sekolah. Selepas pelajaran terakhir, seluruh murid keluar kelas, dengan raut wajah ceria. Bagaimana tidak, mereka menghadapi Ujian sekolah seperti uji nyali di tempat angker. Wajah mereka terlihat tegang dan tak bersuara, namun saat bel berbunyi wajah seluruh murid menunjukkan ekspresi lega, seperti tanpa beban.
Indira dan teman temannya nya lagi lagi tujuan mereka adalah kantin. Di mana tempat itu adalah tempat favorit untuk makan dan tertawa ceria. Selain bisa bercanda dengan teman temannya, mereka bisa bercanda dengan penjual jajanan di kantin.
Sepulang sekolah, Indira dan teman temannya pun berniat untuk jalan jalan ke salah satu Mall di kawasan Jakarta. Indira dan temannya pun memasuki restauran siap saji, yang di mana tempat itu banyak remaja sedang menikmati makanan yang cukup jadi makanan terfavorit.
Setelah memesan, dan makanan pun sudah di antar. Kini mereka semua menikmati makanan yang terbuat dari bahan daging panggang. Indira dan teman temannya pun bercerita sambil tertawa.
Namun saat itu meja mereka di dekati oleh seorang wanita cantik yang tersenyum ke arah Indira. Raut wajah Indira seketika berubah, Alin, Gea dan Hanna nampak heran dengan ekspresi wajah temannya. Mereka pun menoleh ke arah kana Indira menatap, bukan hanya Indira, Gea pun juga sama. Karena mereka melihat Winda, seorang gadis yang pernah menyinggahi hati Abhimanyu.
"Dira," Panggil Gea.
" Iya Ge, tenang gue gak kenapa kenapa ko." Jawab Indira, dengan pandangan mengarah ke gadis yang kini semakin mendekati nya.
Alim dan Hanna yang memang tak tau akar permasalahannya hanya saling menatap sambil menaikkan kedua bahunya
"Hai, kita bertemu lagi," kata Winda yang kini berada di hadapannya Indira. " Hai Gea sayang, bagaimana kabar kamu. Tanteh jarang ketemu kamu," Winda pun menyapa Gea.
"Haha... Kabar aku baik tanteh, iya ya, kita sudah gak pernah ketemu malahan, sejak Tante pindah," jawab Gea seketika raut wajah Winda menjadi masam.
Sedangkan Hanna dan Alin melihat 3 orang di hadapannya bicara. Mereka berdua hanya menjadi pendengar saja.
" Oh iya Alin, Hanna. Kenalin ini tanteh Winda, beliau ini mantan pacarnya om Abhi." Kata Gea, sengaja menyebutkan nama mantan agar tau posisinya sekarang.
Bukan hanya itu, Gea juga memberikan kode kepada Alin dan Hanna. Dan bukan teman namanya kalau gak mengerti kode kode yang di berikan para sahabat.
"Oh jadi tanteh ini mantannya Om Abhi, tapi bukan pacar nya kan. Cuma mantan aja kan?" Timpal Alin asal celetuk.
"Maksud kamu apa ya, memang aku mantannya. Tapi aku akan berusaha mengambil hatinya kembali," jawab nya dengan santai tanpa rasa bersalah.
Seketika itu raut wajah Indira berubah, tangan terkepal di bawah meja. Alin dan Gea melihat kepalan tangan Indira. Bukan hanya Indira, Gea dan yang lainnya pun sama menunjukkan wajah tak suka nya.
"Mengambil hati ko kaya mengambil barang, enteng banget. Kayaknya yakin banget si tanteh ingin mengambil hati om nya Gea?" Tanya Hanna yang juga memancing pembicaraan Winda.
"Loh memang nya kenapa, aku yakin Rendra masih mempunyai rasa sama aku," Kata Winda dengan percaya dirinya.
"Mangkanya kebetulan banget tanteh ketemu kalian, tanteh ingin minta tolong dengan kalian berdua.?" Dengan menunjuk ke arah Indira dan Gea.
"Minta tolong apa ya tante?" tanya Indira dengan tatapan menyelidik.
"Nah ini pertanyaan yang membuat tanteh senang. Tanteh minta kalian berdua, untuk dekati tanteh dan om kalian.!"
Alin dan Hanna menatapnya dengan tatapan heran, kenapa Winda bilang om kalian kepada Indira dan Gea.
'Kenapa nih cewe bilang kalau Om Abhi Om mereka berdua. Memang dia gak tau kalau Indira itu istrinya Om Abhi. Waah, sakit nih cewek kaya nya, masa minta dekati Om Abhi ke dia, lewat Dira lagi. Gak beres nih," ucap Alin dalam hatinya.
" Maksud nya buat Tanteh dan Om aku jadian lagi.? Bukannya Tanteh sendiri yang kemarin ninggalin om aku, terus kenapa sekarang ingin balikan lagi?" Celetuk Gea. Winda pun merasa kesal dengan perkataannya Gea.
"Iya aku menyadari, kalau aku sudah menyakiti Rendra.Aku menyesal, dan berpikir kalau aku tidak bisa berpaling dari Rendra Ge," Winda bercerita membuat aliran darah Indira mengalir lebih cepat ke atas kepalanya, saat mendengar nya.
" Kenapa Tanteh minta balikan lagi dengan Om Abhi, bukan kah Tanteh sendiri yang meninggal Om Abhi?" Tanya Indira dengan rasa penasaran.
"Iya karena Tanteh masih sangat mencintainya, dan aku yakin kalau Rendra juga masih cinta sama Tanteh.?" Sambil menepuk dadanya sendiri.
"Jangan bercanda kamu Ge, gak yakin kalau Rendra sudah punya kekasih?"
" Terserah Tanteh si, kalau gak percaya, itu kan hak Tanteh. Tapi yang jelas, aku mengatakan kalau itu benar adanya," Gea dan yang lainnya memakai tas. " Tanteh, seperti nya kita balik duluan ya. Maaf tanteh kita gak bisa lama, soalnya keluarga besar sudah menanti kedatangan aku dan calon istrinya Om Abhi."
"Kedatangan calon istri Abhi, memang ada acara apa di rumah tanteh Lidya?" Tanya Winda dengan rasa penasaran.
"Makan malam bersama, keluarga besar. Om Abhi akan datang bersama Tanteh Dwi Diandra, kalau begitu aku duluan ya Tanteh." Jawab Gea, yang meninggalkan Winda, sambil melambaikan tangannya.
Gea, Indira, Alin dan Hanna pun meninggalkan Winda yang masih berada di restauran itu. Dengan wajah kesalnya menatap kepergian Gea dan teman temannya.
"Aku akan cari tau sendiri, apa benar yang di katakan Gea itu. Kalau Rendra sudah memiliki calon istri. Kalau iya, aku tidak terima, bagaimana pun cara aku harus mendapatkan Rendra kembali,"
Kini Indira sudah sampai di rumah, dengan di antar oleh ke 3 temannya.
" Thanks ya, kalian sudah nganterin sampai sini. Ow iya kalian mau mampir gak.?" Tanya Indira.
"Gak usah kita langsung balik aja ya. Next time kita main deh," jawab Gea, yang masih berada di atas motor nya.
"Iya Dira nanti aja, soalnya gue udah janji sama bunda mau ketempat temannya," timpal Gea.
"Ya udah deh, kalau begitu thanks. Kalian hati hati ya.!"
"Yupz, kalau begitu kita balik ya. Daaah..." Gea dan yang lainnya pun mengendarai motor nya meninggalkan Indira.
Indira pun mengendarai motor nya masuk ke garasi mobil. Indira melihat mobil Abhi yang berada di sebelah motornya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsallam... " Jawab Abhi. Indira pun duduk di sofa di dekat Abhimanyu. "Kamu dari mana Dir?"
"Jalan sama Gea," jawab Indira dengan jutek.
"Kamu kenapa si, ko jawab nya jutek gitu.? Padahal tadi aku lihat setatus Gea kalian senang banget?"
" Gak kenapa kenapa, aku hanya lagi males ngomong aja. Kalau begitu aku mau ke kamar dulu ya, mau istirahat." Kata Indira yang bangkit dari duduknya. Namun Abhimanyu menahan tangannya.
"Kamu kenapa si, hemm...? Ko ketus gitu aku tanya, memang salah ya aku tanya kamu dari mana.?" Indira diam tak menjawab perkataan Abhi. "Dira, ngomong dong. Kamu kenapa, tiba-tiba ko omongan kamu jutek gitu.?"
"Kan aku bilang, aku gak kenapa kenapa. Aku hanya malas ngomong aja, karena seseorang." Kata Indira dengan tak sadar menyebutkan kata seseorang.
"Siapa yang kamu maksud seseorang.? Kamu habis bertemu dengan siapa, sampai sikap kamu berubah seperti ini.?" Tanya Abhimanyu masih memegangi tangan Indira.
Indira masih diam tak menjawab pertanyaannya. Dan itu benar benar membuat Abhimanyu penasaran, sedangkan Indira bersikap aneh.
"Sayang, kamu jawab dong. Beneran aku bingung dengan sikap kamu yang tiba-tiba ketus, padahal tadi aku lihat setatus Gea kalian bahagia sekali.?" Kini posisi Abhimanyu berdiri menatap wajah Indira.
"Kamu kenapa, hemmm.?"
"Tadi aku bertemu dengan mantan kamu.!" Jawab Dira dengan nada ketus.
"Mantan aku, siapa sayang.?" Tanya Abhi kembali.
"Memang mantan kamu ada berapa, selain Winda.?" Tanya balik Dira dengan tatapan menyelidik ke arah Abhi.
Abhi pun tercengang, seperti dia tersadar kalau ucapannya ada yang salah.
Bersambung