
Tanpa tak disangka ternyata ada tamu undangan yang justru membuat Indira diam mematung. Bukan hanya Dira saja, Abhimanyu,teman-teman pun juga menatapnya kedatangan orang satu ini.
Orang itu ternyata Aldo yang datang ke pernikahan Indira dan Abhimanyu.
"Aldo, elo ngapain datang kesini?" tanya Gea.
"Gue hanya ingin ngucapin selamat buat pengantin!" jawabnya namun tatapannya menatap lurus kearah Indira.
"Gue izinin elo buat ngucapin selamat, tapi elo jangan buat masalah disini! Ngerti 'kan maksud gue Do? Di sini banyak orang, dan kalau elo berbuat masalah, elo tau apa akibatkan!" ucap Gea dengan penuh ancaman.
Namun nyatanya Aldo tak merespon ucapan Gea, dan terus melangkah menuju pelaminan.
Aldo mengulurkan tangannya, dan mengucapkan selamat kepada Abhimanyu.
"Selamat Pak, atas pernikahan dengan Dira. Saya titip dia, jangan sakiti dia atau membuatnya menangis!" ucap Aldo dengan tatapan serius dan penuh penekanan di akhir kalimat nya.
"Kamu tidak perlu khawatir, Indira akan saya jaga, dan tidak akan membuatnya terluka sedikitpun. Satu lagi. Saya harap, kamu bisa melupakan dan merelakan Dira hidup dengan saya!" jawab Abhimanyu dengan wajah serius, Aldo hanya mengangguk.
Aldo melangkah dan berhadapan dengan Indira, mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Dira menatap wajah Aldo yang nampak kusut, dan terlihat tangannya penuh dengan lebam. Ada rasa tak tega di benaknya.
"Selamat atas pernikahan kalian! Aku akan coba belajar untuk merelakan kamu dengan Pak Abhi.
Indira anak nampak tak tega, melihat wajah Aldo yang terlihat kusut.
"Aldo. Terima kasih, sudah datang. Semoga kamu mendapatkan gadis yang lebih baik dari pada aku maafkan aku Do, sudah membuatmu terluka," ucap Dira.
Greepp!
Tiba-tiba Aldo memeluk Indira di saat itu juga, dan menjadi pusat perhatian para tamu undangan.
Terutama Abhimanyu yang hanya mengepalkan kedua tangannya, menyaksikan istrinya dipeluk dengan pria lain, apalagi laki-laki itu masalalu dan sangat mencintai Dira.
Aldo menangis saat memeluk Indira, begitu juga Indira merasa hatinya ikut bergetar, dan bulir bening keluar dari pelupuk matanya.
"Jujur, aku belum siap buat terima kenyataan ini. Tetapi aku gak bisa memaksa untuk merubahnya. Aku hanya butuh waktu untuk menerima ini semuanya, maafkan aku Dira." Indira mengangguk, Aldo pun melepaskan pelukannya. " Sekali lagi selamat untuk pernikahan kalian." Sambil menepuk pundak Indira dan Abhimanyu.
Abhi dan Indira mengangguk, dan Aldo pergi meninggalkan dua pengantin yang berdiri di pelaminan sambil menatap kepergiannya.Semua mata pun juga tertuju kepadanya, yang menuruni pelaminan dan pergi meninggalkan acara itu, dengan mata yang memerah.
Setelah Aldo menghilang, Abhimanyu menatap Indira yang masih menatapnya.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"tanya Abhi menatap Dira.
Indira mengangguk dan tersenyum kecil, meskipun matanya masih terlihat butiran air mata. Dira berusaha menenangkan dirinya. "Aku gak apa-apa,Mas! Maaf, ya Mas?" ucap Dira dengan menyentuh tangan Abhi dan menciumnya.
Abhimanyu mengangguk, dan mengerti. Abhi menganggukkan kepalanya, dan tersenyum. "Mas, gak apa-apa kok." Sambil menghapus air mata Dira, lalu membawanya kedalam pelukannya.
Bukan hanya itu, Abhi juga mencium berkali-kali tangan Indira, di depan para tamu undangan. Membuat saudara dan kerabat bersorak-sorai,melihat kelakuan Abhimanyu yang seperti itu .
Semuanya itu menjadi adegan yang romantis, bagi yang melihatnya. Abhimanyu mengerti posisi dan kondisinya, bisa menjaga emosi dan menenangkan Indira.
Memang Abhimanyu tak merasa malu, menunjukkan sikap sayang dan bucin, di depan banyak orang. Abhi tidak peduli dengan semua omongan.
Acara masih terus berlanjut, sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam, acara pun selesai.
Abhimanyu dan Indira kini sudah berada di dalam kamar, Abhi membawa istrinya pulang untuk beristirahat.
"Kamu kenapa sih? Ko diam aja sejak tadi pagi?" tanya Faisal, melihat perubahan sikap Hanna, yang biasanya ceria menjadi pendiam, jika di dekatnya.
"Aku gak kenapa-kenapa? Hanya saja kepalaku sedikit pusing sejak tadi."Jawab Hanna.
Faisal hanya menganggukkan kepalanya.
"Kenapa aku merasa kayanya kamu memang lagi menghindari aku?" tanya Faisal membuat Hanna terdiam.
Faisal masih fokus menatap lurus ke depan. Sedangkan Hanna menatap Faisal, dengan heran. "Kok, kakak bisa bilang seperti itu ke aku."
"Habisnya aku merasa kamu menghindar, setiap kali bertemu aku. Biasanya ya, kamu itu tidak pernah menolak setiap kali kakak ajak jalan. Kenapa akhir-akhir ini kamu tidak mau, setiap aku ajak jalan? Saat di tempat acara tadi, kamu terlihat akrab dengan pria yang tidak kamu kenal. Biasanya, kamu itu malas dekat dengan laki-laki."Tanya Faisal, yang sudah menghentikan mobilnya didepan rumah Hanna.
"Mau kakak aku harus bagaimana? Aku tidak boleh dengan mudah dekat dengan pria, iya? Sedangkan satu pria yang aku suka, dia hanya menganggap aku sebagai adik. Apa aku harus berharap lebih, agar cowok itu bisa menghapus kata adik, untuk aku?" pertanyaan Hanna berhasil mencubit hati Faisal.
Faisal menatap Hanna, yang dimana gadis di hadapannya itu sedang menghapus air matanya. "Sudah sampai kak, aku harus masuk. Terimakasih ya! Sudah antar aku pulang."
Saat hendak ingin membuka pintu, Faisal menghentikan Hanna untuk membuka pintu mobilnya. "Apa yang kamu maksud itu, aku?" tanya Ical, "Jawab jangan cuma diam Na?"
Hanna tersenyum kecut, mendengar perkataan Faisal.
"Pasti kakak bisa menilai sikap aku bagaimana setiap kali bertemu dengan Kakak? Sepertinya memang dari akunya yang terlalu over dengan Ka Ical. Huuufh ..." Hanna membuang nafasnya.
"Kala begitu aku turun ya. Terimakasih atas tumpangan nya." Hanna membuka pintu mobil, dan langsung meninggalkan Faisal, saat ingin mengejarnya.
"Hanna!" panggil Faisal dengan berteriak.
Hanna langsung masuk ke dalam rumahnya dan segera menutup pintu dengan rapat-rapat.
Faisal pun segera meninggalkan rumah Hanna, dengan rasa bersalah. Faisal yakin, kalau dirinya sudah membuat gadis yang selalu ceria itu menjadi sedih.
Next balik ke Indira.
Dua hari kemudian Faisal datang mengunjungi rumah adiknya.
"Kakak,"panggil Indira saat menuruni tangga, dengan rambutnya yang sedikit masih basah.
Faisal menatap Abhimanyu dengan tatapan aneh, hanya mereka berdua saja yang tau. Sedangkan Abhi sendiri tersenyum kikuk sambil menggaruk keningnya.
"Hei ... adik kakak, makin seger aja, siang-siang rambut basah begini?" tanya Faisal menggoda adiknya.
"Kakak mah, ngeledek terus! Nanti juga ngerasain begini." Jawab Indira dengan cemberut.
Sudah pasti, Abhimanyu tak ingin istrinya merajuk. Faisal di berik hadiah dengan di jitak kepalanya oleh Abhi.
"Aaw ... sakit! Dasar Ade ipar gak punya akhlak begini nih! Kakaknya datang bukan di buatin kopi, malah di jitak kepala gue!" gruru Faisal, membuat Indira dan Abhimanyu terkekeh mendengarnya.
"Mangkanya, tuh mulut diem-diem! Gak cape apa ya ngoceh terus dari tadi?" timpal Abhi.
Faisal pun tertawa mendengar iparnya memarahinya, begitu juga Indira. Melihat suami dan kakaknya saking berdebat mulut.
Bersambung