My Teacher I Love You

My Teacher I Love You
Marah



Setelah para keluarga mengucapkan selamat kepada Indira.Kini para keluarga besar sudah berada di ruang makan, yang di mana banyak makanan yang sudah di sajikan dan tertata rapih di atas meja.


Saat ini Indira melihat isi kado yang di berikan adiknya. "Ya ampun Adam, sweet banget sih. Kamu pakai belikan kakak jam tangan segala,"


Indira jadi mengingat kejadian saat sebuah jam tangan yang di berikan Aldo hancur karena tidak sengaja tersenggol oleh Adam. Waktu itu Indira sangat marah, Adam berjanji akan membelikan nya kembali, jika uang tabungannya terkumpul. Kini Adam sudah membelikan jam itu kembali, di saat hari ulang tahunnya.


Abhimanyu yang baru masuk ke kamarnya, melihat Indira yang sedang melamun.


"Sayang, kamu kenapa,?" Dira pun langsung menoleh.


"Mas Abhi, aku gak kenapa kenapa ko. Hanya saja aku terharu melihat kado pemberian Adam,"


"Memangnya adik kamu memberikan apa ke kamu?"


"Adam memberikan ini ke aku," sambil menunjukan sebuah kotak berisikan jam tangan, "meskipun harganya gak semahal seperti hadiah kamu, kakak mamah dan papah. Tapi aku jadi teringat sesuatu, dan tau kenapa dia sampai membelikan aku ini,"


"Memang kejadian apa, sampai Adam membelikan jam itu ke kamu?"


"Aku teringat hadiah pemberian dari Aldo," mendengar Dira menyebutkan nama Aldo, seketika raut wajahnya berubah masam. "Waktu itu, aku di kasih kado oleh Aldo, dan si Adam tidak sengaja menjatuhkan jam tersebut, dan jam itu rusak. Aku sempat marah, tapi dia berjanji akan menggantikan jam tangan itu. Ternyata Adam membuktikan janjinya itu, untuk menggantikan jam tersebut,"


Ada sedikit senyuman di bibir Abhi, saat Indira mengatakan barang pemberian Aldo sudah rusak. Kesannya memang jahat, tapi memang itu kenyataannya setiap kali mendengar kata Aldo, Abhi merasa panas mendengar nya.


"Ya sudah kamu simpan pemberian Adam dengan baik, jangan kamu nilai dari nominal harganya, tapi dari niatnya Adam untuk menggantikan kado itu." Indira pun mengangguk.


"Iya aku akan menyimpannya dengan baik," Abhimanyu pun tersenyum.


Abhimanyu melihat kotak botol parfum dengan merek ternama, dan harganya pun lumayan mahal.


"Parfum itu siapa yang kasih?"


"Kakak yang kasih parfumnya. Kata kakak, parfum itu harganya cukup mahal, waktu itu aku sempat di belikan oleh mantan pacar ka Ical. Wanginya aku suka banget, dan ternyata diam-diam sekarang Kakak memberikan parfum itu lagi ke aku sebagai hadiahnya." Ada raut wajah bahagia pada Indira, Abhi hanya mengangguk kan kepalanya saja.


Keesokan harinya, Indira sudah masuk sekolah, tentunya teman dekatnya mengucap kata selamat ulang tahun kepadanya. Bukan hanya itu, Indira pun juga mendapatkan beberapa kado dari temannya. Indira berniat mengajak teman-teman nya untuk dia traktir makan bakso, di tempat milik usaha keluarga mereka.


Saat jam pelajaran sudah selesai, Indira dan teman temannya sudah keluar kelas. Karena Papah Benny dan Abhimanyu pun juga sudah mengizinkan, Indira pun mengajak teman temannya untuk mentraktir makan bakso. Namun saat di halaman sekolah, Indira meras ada yang memanggil namanya, dan saat Dira menoleh ternyata Aldo yang memanggilnya. Abhimanyu pun melihat, Aldo menghampiri Indira, perasaannya benar benar tidak nyaman dengan kedatangan Aldo.


"Aldo, kamu di sin?"


"Iya, aku di sini memang gak boleh.? Aku sejak tadi menunggu kamu di luar pagar, aku hanya ingin memberikan kamu sesuatu. Aku tau kamu ulang tahun hari ini, mangkanya aku ingin menemui kamu hari ini." Aldo mengulur kan tangannya ke arah Indira. "Selamat ulang tahun Dir, semoga apa yang kamu harapan kamu terkabul. Amiin." Saat Indira menyambut uluran tangan Aldo, justru Aldo


Namun Aldo melakukan yang membuat Indira terkejut, Aldo justru bercipika cipiki lalu memeluknya. Dan itu di lihat oleh banyak orang, terutama Abhimanyu menatap dari kejauhan.


"Aldo, kamu apa apaan sih.!" Sambil mendorong Aldo.


"Kenapa si Dir, aku hanya mem*luk kamu aja kan.?"


"Gak kaya begini Do, ini di sekolah.!' Indira berkata dengan nada kesal.


"Tau elo Do, ini di sekolah kalau ada guru yang melihat kalian bagaimana.?" Tanya Gea dengan nada ketus. "Nanti Dira dapat surat panggilan dari sekolah, kalau ngeliat sikap elo."


Merasa kalau Aldo sedang terpojok, ada rasa tak tega di benak Dira. "Terimakasih ya Do, atas kado nya. Tapi maaf kita harus jalan dulu, soalnya sudah janjian sama teman-teman.


"Kalian mau kemana?" tanya Aldo.


"Kami mau kumpul," jawab Alin.


"Boleh gak, gue gabung dengan kalian?" Indira menatap teman temannya, dan mengangguk. Tanda memperoleh kan ikut dengannya. " Thanks ya,"


Indira dan teman temannya pun mengendarai motor nya, Aldo pun menyusul di belakangnya. Dan semua itu tak lepas dari pandangan Abhimanyu, yang merasa panas saat melihatnya.


Sore harinya, Abhimanyu sudah berada di rumah. Sejak pulang mengajar, Abhi menunggu datangnya Indira dari kumpul bersama teman temannya. Melihat setatus nya di WhatsApp pun juga percuma, Indira tidak memasang setatus nya.


Saat ini Abhimanyu sudah mengganti pakaiannya, Abhi pemutusan untuk ke restauran milik nya. Namun saat hendak membuka pintu kama, ternyata ada Indira di depan kamar.


"Mas Abhi mau ke mana?" tanya Indira.


"Keluar, kamu di rumah saja. Kalau aku pulang malam, kamu tidur saja duluan, jangan menunggu aku pulang.!" Jawabannya dengan nada ketus.


"Mas Abhi kenapa sih? aku punya salah ya, sama kamu.?" Abhimanyu tak menjawab pertanyaan Indira.


Abhimanyu justru menghindar dari Dira dengan mengambil handphone yang tertinggal di atas meja. Indira yang melihatnya, merasa sedih karena diacuhkan oleh Abhi.


"Aku gak tau salahku apa, sampai pertanyaan aku tak di jawab sama kamu. Yang jelas aku capek, aku ingin istirahat. Aku bawakan bakso untuk kita, dan bu Sum. Tapi jika kamu tidak mau gak apa, aku buang saja nanti.!" Jawab Dira dengan ketus, dan berjalan melewati Abhi begitu saja.


Abhimanyu terkejut mendengar perkataan dari Indira, yang begitu berani marah kepadanya. Sebenarnya Indira mengatakan itu, dengan mata yang basah, bahkan air matanya pun sedikit lagi akan mengalir ke wajahnya. Indira paling tidak bisa di acuhkan begitu saja dengan orang lain, jika memang salah lebih baik menegur nya, bukan mendiaminya.


Indira mengambil pakaian dari lemari, dan berjalan menuju kamar mandi. Abhimanyu melihat ada yang aneh, dari langkah Indira. Abhi pun mengurungkan niatnya untuk keluar, dan berdiam diri di kamarnya, menunggu Dira keluar dari dalam tandas.


15 menit, Indira di kamar mandi, lalu keluar sudah mengganti pakaian salin nya. Benar saja saat di lihat, Indira melangkah dengan sedikit berbeda, seperti sedang menahan sakit.


Karena merasa khawatir, Abhimanyu pun menghampiri Indira, yang baru saja duduk di atas kasurnya. Dengan mengambil bantal, lalu di peluk nya.


"Indira kamu kenapa, kaki kamu sakit?" Dira tak menjawab nya.


Abhimanyu menyentuh dagunya, dan di arahkan agar menatap nya. Abhi melihat mata Indira yang memerah, seperti habis menangis. Indira langsung menoleh ke arah lain, untuk menghindari tatapan mata suaminya itu.


"Kamu kenapa, menghindar seperti itu, kamu marah sama aku.?" Indira masih diam, tak menanggapi perkataan Abhimanyu. "Dira, aku bicara sama kamu, jawab.!?" Nada bicara Abhi sudah mulai tidak baik.


"Apa peduli Om, bukan kah tadi aku tanya Om hanya diam.!" Indira menjawabnya dengan kesal, dan matanya yang sudah basah. Abhimanyu mengerti, kalau Indira memanggilnya Om, pertanda dia sedang marah.


"Dira," suara Abhi mulai lembut, saat melihat ekspresi Dira yang sedikit lagi akan mengeluarkan air matanya.


Indira pun turun dari tempat tidur, dan hendak meninggalkan Abhimanyu. Namun dengan langkah cepat Abhi mencegahnya agar tidak pergi.


Bersambung...