
.
.
.
.
.
Keesokan harinya Keluarga Triple G masih asik bergulat dengan selimutnya dikamar. Hari ini ketiganya sepakat untuk dirumah aja, karna tubuh Gathan masih belum benar-benar vit seperti semula. Tau kan kalo Gathan itu aktifnya nggak ada obat, mirip unclenya nggak bisa diem orangnya.
Sangat aktif bund.
Awalnya Ghea meminta agar dia saja yang menemani Gathan dirumah, namun Gavin menolak. Pria itu tetap kekeh untuk stay dirumah menemani istri dan anaknya dirumah.
"Morning Cup." Ucap Ghea kemudian memberikan kecupan selamat pagi untuk suaminya.
"Too. " Balas Gavin dengan senyum manisnya.
Gavin memperhatikan Ghea yang tengah mengecek kondisi suhu tubuh Gathan menggunakan metode skin to skin, alias menempelkan punggung tangan nya pada kening Gathan.
"Masih anget, mom?" Tanya Gavin dengan sebelah tangan yang ia gunakan untuk menopang kepalanya diatas kasur.
"Udah lumayan mendingan dari pada tadi fajar dad." Balas Ghea.
"Nggak dibangunin?" Tanya Gavin.
"Nggak usah dad, biar bangun sendiri aja nanti. Semalem kan tidurnya nggak pules, kasian anak ku ini." Guman Ghea mengamati wajah polos anaknya.
"Aku siapin air nya dulu, abis itu kamu langsung mandi. Terus aku mau masak dulu, kamu jagain Gathan disini ntar kalo bangun nggak ada siapa-siapa kasian dia." Ucap Ghea. Wanita itu menggulung rambutnya di cepol seperti biasa hingga menampakkan leher mulusnya.
Eh bentar, nggak mulus lagi soalnya Pak Gavin bikin cuppang satu semalem.
"Iya sayang." Balas Gavin.
Pria itu keluar dari selimut tebalnya kemudian mendekat pada Ghea. Seperti biasa ia akan meminta jatah untuk mengawali kegiatan paginya, berupa ciuman manis dan juga pelukan hangat dari Ghea.
"Heum love you. " Guman Gavin sembari menduselkan kepalanya dilekuk leher Ghea. Menghirup aroma tubuh Ghea kini menjadi candu untuknya.
"Love You Too." Balas Ghea sambil mengecup puncak kepala suaminya dan mengusap lembut surai hitam milik suaminya itu.
Agak kebalik sih, tapi nggak papa yang penting romantis.
"Morning kiss??" Pinta Gavin sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah elok nan cantik istrinya.
Cup
Akhirnya kedua bibir mereka bersilaturahmi Dipagi hari, saling menyapa dan menyentuh satu sama lain. Kedua bibir manis mereka saling mengecap satu sama lain hingga rasa candu menerpa keduanya hingga rasa enggan untuk melepas pangutan itu.
Nggak ada kata bau jigong diantara mereka, karna konsep hidup mereka subuh-subuh langsung bersih-bersih dulu kayak wudhu, cuci muka, atau pun gosok gigi gitu.
Karna biasanya abis sholat subuh, mereka juga nggak langsung tidur-tidur beneran gitu, paling juga cuma rebahan sambil nunggu matahari terbit.
Jadi gitu sodara.
"Cup udah ya, kamu mandi aku siapin airnya." Ucap Ghea.
"Okey." Balas Gavin.
Sebagai suami yang pengertian dan peka dengan keadaan, selagi Ghea tengah menyiapkan air untuknya mandi. Gavin menyempatkan diri untuk membuka tirai demi tirai yang ada didalam kamarnya guna memberikan celah bagi sinar matahari untuk masuk kedalam kamarnya.
"Daddy silau..."
Gavin menengok pada putranya yang mulai terbangun dari tidurnya.
"Gathan udah bangun, mau tidur lagi apa bangun hmm?" Tanya Gavin menghampiri putranya.
"Bangun daddy." Jawab bocah itu .
"Gimana udah enakan badannya?" Tanya Gavin.
"Heum iya Daddy." Balas Gathan menganggukkan kepalanya.
"Ininya daddy lepas aja ya." Ucap Gavin sambil melepas plester demam yang menempel pada kening anaknya.
"Iya daddy." Jawab Gathan .
Ditengah kegiatan bapak dan anak itu, tiba-tiba datanglah sosok emak dari Gathan. Ghea baru saja keluar dari kamar mandi usai menyiapkan air untuk suaminya mandi.
"Gathan udah bangun?" Tanya Ghea.
"Iya sayang, aku lepas plester demam nya. Nggak papa kan?" Balas Gavin.
"Nggak papa, kalo masih anget diganti yang baru aja dad." Ucap Ghea.
"Gathan mau ikut daddy mandi apa ikut mommy masak?" Tanya Ghea menghampiri putranya.
"Ikut mommy." Balas Gathan.
"Yaudah sini." Ucap Ghea merentangkan tangan nya, dan Gathan pun langsung meraih tangan Ghea. Bocah tampan itu akhirnya masuk dalam dekapan ibunya, karna masih lemas Gathan hanya mampu menyadarkan kepalanya dibahu mommy nya sambil memeluk leher Ghea.
Efek sakit jadi males mandi, begitulah manusia.
"Aku tinggal dulu dad, buruan mandi." Ucap Ghea.
"Okey." Balas Gavin
___________
"Sayang kita makan siang diluar aja ya, bosen sama makanan rumahan terus aku." Keluh Ghea.
"Hm mau makan dimana emang? makan siang apa?" Tanya Gavin.
"Eum nggak tau tapi aku pengen di suapin sama Bang Satya, boleh ya?" pinta Ghea.
"Boleh sayang." Jawab Gavin.
"Kita mau ketemu sama Uncle Satya ya mommy?" Tanya di kecil Gathan. Bocah itu nampak riang saat mommy nya membicarakan unclenya itu.
"Iya sayang, Gathan kangen nggak sama Uncle Satya?" Ucap Ghea.
"Iya mommy, Athan kangen banget sama Uncle Satya. Athan mau main sama Uncle Satya, mom." Ucap bocah tampan itu.
"Mau berangkat sekarang? ke kantor Satya apa kerumah Bunda?" Tanya Gavin.
"Ke kantor Abang aja, ntar makanannya beli dijalan aja." Ucap Ghea.
___________
"Kita langsung masuk aja?'' Tanya Gavin sambil menggandeng lengan putranya.
"Iya dad, lagian karyawan udah tau aku kok. Ayo masuk." Ajak Ghea.
Ketiganya pun masuk menuju gedung perusahaan milik Satya tersebut. Dan benar saja saat memasuki area tempat kerja para pegawai kantor, beberapa orang disana menyapa Ghea dengan ramah.
"Siang mbak Ghea." Sapa salah satu karyawan kantor Satya.
"Siang mbak Caca." Balas Ghea.
"Nyari pak Satya ya?" Tanya Mbak Caca.
"Iya mbak, abang masih dikantor kan?" Tanya Ghea.
"Masih kok mbak, diruangan direktur lantai paling atas." Jawab mbak caca.
"Yaudah Ghea duluan ya mbak, dahh." Ucap Ghea, mbak Caca hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
Ghea dan kedua pria kesayangannya itu pun melangkah menuju lift direktur yang biasa Satya kenakan untuk naik turun lantai atas ke lantai dasar.
Ceklek
"Abanggg." Seru Ghea yang langsung menghambur memeluk tubuh Satya. Udah kek orang kagak ketemu satu abad rasanya.
"Tumben maen kesini, nggak minta uang jajan kan?" Celetuk Satya dengan membalas pelukan adiknya.
"Ih enggak lah." Balas Ghea.
"Uncle Satyaaa." Seru Gathan dengan riang menghampiri Satya sambil merentangkan kedua tangan kecilnya.
"Hei bocil." Balas Satya, pria itu langsung mengangkat tinggi-tinggi tubuh Gathan diatas udara.
"Athan kangen Uncle Satya, Uncle kangen Athan ndak?" Tanya Gathan dengan gaya khas seorang bocil yang lucu dan menggemaskan. Kedua tangannya sudah bergelayut pada leher Satya.
"Kangen dong masa enggak." Balas Satya sambil memeluk tubuh mungil Gathan yang ada dalam gendongan nya.
"Ayo duduk, oh iya kenalin yang duduk di pojokan penunggu bangunan sini. Namanya Jin Mpin, asik jin nya kok. Udah jinak juga." Celetuk Satya yang ditujukan kepada Marvin yang duduk di pojokan, karna tempat kerjanya sengaja ditaruh Bang Sat dipojokan entah apa motifnya.
"Gila kali lu!" Dumel Marvin. Pria itu beranjak dan berkenalan dengan Gavin.
"Marvin asistenya si BANGSÁT." Ucap Marvin memperkenalkan dirinya.
"Mulut lu, gua sambit ya! Ada bocil juga!" Seru Satya.
"Yaila maap." Balas Marvin, pria itu kembali memperkenalkan diri nya dengan baik dan benar.
"Perkenalkan nama saya Marvin Edward Frans Adam, biasa dipanggil Marvin. Umur 30 tahun, status masih single alias perjaka, profesi jadi asistennya Bapak Satya terhormat." Jelas Marvin dengan gaya bahasa baku dan resmi.
"Perjaka dari Hong kong, udah sering keluar masuk dibilang perjaka!" Cibir Satya.
"Udah sih, nutupin aib temen sendiri sekali-kali." Balas Marvin.
"Kenalin ini suaminya Ghe, namanya Mas Gavin. Dan itu anaknya Ghe, namanya Gathan. " Ucap Ghea memperkenalkan Gavin.
"Gavin." Ucap Gavin menerima jabatan tangan Marvin.
"Marvin." Balas Marvin.
"Kalian bawa makanan? kebetulan banget gua belom makan siang." Ucap Satya.
"Ih bukan buat abang, tapi buat ponakan abang ." Ucap Ghea.
"Ponakan gua kenapa? Kan masih didalem perut lu tuh, yakali makan sendiri. " Ucap Satya.
"Ghe mau makan di suapin abang, ini permintaan ponkanan abang loh." Ucap Ghea.
"Etdah masih jadi kecebong aja suka merentah, gimana kalo udah jadi gundul." Guman Satya.
"Abang nggak mau nyu-
"Mau mau bawa sini makanan lu, gua suapin sini. Ikhlas lahir batin gua demi ponkanan dah ini." Potong Satya terlebih dahulu. bisa-bisa kalo nggak diturutin Si Ghea ngambek, pada kena imbas semua ending nya.
"Makasih abang." Seru Ghea dengan senyum merekah. Wanita itu duduk disamping Satya kemudian menyerahkan makanan yang akan ia makan, bertujuan untuk meminta Satya menyuapi nya.
"Berasa ngurusin elu pas masih bocil tau nggak, abis dimandiin bunda terus yang terus dipakein bedak tebel banget, abis itu keliling komplek gua temenin makan." Ucap Satya sedikit flasback ke masa kecilnya dan juga Ghea.
"Abang inget aja." Balas Ghea.
"Ya inget lah, pas pempes lu penuh nangis kan lu." Ucap Satya sambil menyuapkan makanan pada Ghea.
"Lagi makan jangan ngomongin pempes dong." keluh Ghea.
"Ya maap." Balas Satya.
"Gathan nggak makan?" Tanya Satya pada ponakan kecilnya itu.
"Maem sama mommy, Uncle." Jawab Gathan, bocah tampan itu turun dari pangkuan Satya kemudian berganti naik ke pangkuan Ghea.
"Sini-sini, mau maem sama apa? ikan, ayam, sosis, atau baso?" Tanya Ghea.
"Ayam myh." Jawab Gathan.
Ketiga makhluk hidup itu saling berinteraksi satu sama lain, dimana Satya sibuk menyuapi adik besarnya yang tengah ngidam pengen disuapin sama dia, sedangkan Ghea gantian menyuapi Gathan. Dan Gathan, bocah itu sesekali menyuapkan makanan pada unclenya.
Romantis ya bunda.
"Kayaknya asik deh kalo punya anak, makin rame aja gitu bawaannya." Celetuk Marvin tiba-tiba.
"Emang belum nikah mas?" Tanya Gavin mencoba untuk berbaur dengan kenalan barunya itu.
"Belom, belom ada yang srek di ati." Balas Marvin.
Bilang aja belom dapet yang ori alias kelinci percobaan yang masih perawan.
"Rame sih rame mas, tapi kadang suka iri sama anak sendiri haha." Ucap Gavin tertawa kecil.
Masih keinget kan sama peristiwa-peristiwa dimana bapak Gavin cembokor sama anaknya sendiri. Buset dah, bukan maen.
"Bisa gitu ya." Guman Marvin.
"Eh iya panggil Marvin aja bro, kita kan seumuran beda dikit paling ya kan." Ucap Marvin menyuruh Gavin agar tidak memanggilnya dengan tambahan embel-embel 'mas' atau yang lain sebagainya.
"Okey Marvin?" Ucap Gavin.
"Cakep." Balas Marvin.
"Dad, sini makan bang Marvin ajak sekalian. Makanannya masih banyak nih." Ucap Ghea dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan.
"Ayo Vin gabung, Ghea beli makanan banyak tadi pas kesini." Ajak Gavin.
Dan mereka pun makan siang bersama dengan suasana hangat dan saling bercengkraman satu sama lain. Bahkan Si kecil Gathan dengan mudahnya berinteraksi dengan Marvin, padahal ini kali pertama mereka bertemu.
"Uncle Mpin kok ndak pake sendok? belum cuci tangan kan?" Tanya Gathan sambil memperhatikan Marvin yang dengan lahap nya memasukkan makanan kedalam mulutnya
Uhukk
Seketika Marvin langsung mengehentikan kegiatan makannya. Apakah pria itu baru saja ditegur oleh seorang bocah karna lupa cuci tangan? Buset dah.
"Diare mampus lu!" Sorak Satya.
"Nganu air kerannya Uncle Satya tadi mati Cil." Jawab Marvin tanpa pikir panjang.
"Tapi tadi daddy cuci tangan ada air kok, ya kan daddy?" Ucap Gathan.
"Udah cuci tangan dulu sono nggak usah banyak ngeles." Seru Satya.
"Etdah nanggung Sat, mau kelar juga ini makanannya. Lagian kumannya udah terjun ke lambung gua, gapape kan sekali-kali. " Balas Marvin.
"Serah lu dah." Balas Satya.
"Abang, itu yang disebelah sekertaris abang?" Tanya Ghea menunjuk perempuan dalam ruangan disamping ruangan Satya. Terlihat Teressa tengah memakan bekal makanan yang ia bawa dari rumahnya.
"Bundanya kak Noah, Uncle?" Seru Gathan.
"Kak Noah mana? ndak ikut?" Sambung Gathan lagi.
"Kak Noah lagi seko-
"Yaelah maen nyelonong aja tu bocah." Gerutu Satya melihat Gathan yang keluar dari ruangannya menuju ruangan Teressa dengan berlari kecil.
____________