
.
.
.
.
.
"Gathan nggak usah ngebut sayang, ntar kamu luka lagi astaga!!!" dumel Ghea yang sedari tadi mengomeli putra kecilnya itu. Bumil itu nampak posesif sekali dengan jagoan kecil nya itu, tapi tenang aja Gathan kan LAKIK jadi musti strong!
Brakk
Satya dan ayah Juan juga Gavin berlarian menghampiri Gathan yang tengah terjatuh dari sepeda. Sudah kesekian kali bocah itu jatuh dari sepeda, bahkan sudah banyak plester menempel pada tubuhnya.
Dari siku, lutut, telapak tangan, bahkan dagu nya pun kena plester. Dan jangan lupa kan pelipis bocah itu sedikit memar karna ia terjatuh saat bermain bersama Satya semalam.
Kasian sekali anak tampan itu.
"Santai bro jangan nanges okey!! Inget lu itu LAKIKK, jadi musti kuat. Jatuh bagian mah kecil nggak berasa, nih plesternya kurang banyak nih, tambahin satu." Oceh Satya sambil memasangkan plester pada tangan Gathan.
''Nah cakep." sambung Satya.
"NGGAK BERASA PALA MU!!" Sentak Ayah Juan dengan kesal menggeplak tubuh Satya.
Kalo kepala kan kasian, ntar konslet Bang Sat.
"Emang bener kali yah, gini doang mah nggak berasa." balas Satya yang membuat ayah mendengus kesal.
Gavin hanya bisa menghela nafas, kelakuan Satya dan Gathan sekarang beda tipis. Memang benar Satya membawa pengaruh baik untuk Gathan, seperti menjadi anak yang lebih aktif dan mudah berekspresi kepada orang lain. Tapi hal itu malah membuat Gathan menjadi anak yang sembrono.
"Nggak papa kan?" Tanya Gavin sambil mengusap kepala putranya.
"Its okey daddy, ATHAN LAKIKKK!!!"
"Udah dibilangin pake pelindung nya dulu, kalo nggak ada kan bisa beli dulu! Ini malah langsung belajar sepedanya. Liat nih, astaga banyak banget plesternya. Ini siapa yang mau tanggung jawab sama wajah anak Ghea, kalo sampe kenapa-napa kalian Ghe tuntut ya!" cerocos sang bumil tanpa jeda.
"Mommy plesternya gambar batman, bagus kan." tunjuk Gathan pada plester-plester yang menempel pada permukaan kulitnya.
Ini bukannya ngerengek kesakitan , malah dipamerin tuh plester.
Anak Ghea memang beda.
"Gathan bandel ya sekarang, nggak mau dengerin omongan Mommy ya sekarang?" seru Ghea berucap lebih tegas kepada Gathan.
Bukannya mau marah atau gimana, namanya juga emak-emak kalo lagi khawatir sama anaknya. Gitu kan ? biasa lah.
"Gathan nggak papa sayang, udah namanya juga anak-anak pengen belajar naik sepeda, biasa jatuh mah. Biarin aja, kasian." ucap Gavin yang memihak pada Gathan.
"Apa kamu bilang, biasa? Kamu nggak liat tubuh Gathan kegores-gores semua. Liat dad, plesternya dimana-mana. Walau dia bilang enggak sakit, tapi aslinya sakit. Dia masih anak kecil, kamu bukannya ngawasin anak kamu biar nggak luka malah dibiarin aja. Abang juga, kalo main sama ponakan tuh jangan ambil seru nya aja, pikirin keselamatannya juga!" ujar Ghea memarahi kedua pria itu.
Tunggu, apa ayah akan kena juga?
"Giliran ayah." bisik Satya pelan.
Gleg
"Ayah kan disini yang paling dewasa, bisa dong yah negur abang atau suami Ghe, suruh mereka buat jagain Gathan. Kasian yah cucu ayah jatuh terus malah dibiarin, atau malah kalian ya yang nggak sayang sama Gathan?"
Hormon bumil suka gitu ya, semua dianggep salah!
Heran, sensi mulu dari kemaren.
Yaudah lah yaww, namanya orang hamil.
"Siapa bilang, ayah sayang sama Gathan kok. Kan cucu ayah sendiri dek, masa nggak sayang. Aneh kamu ini." balas Ayah Juan sambil mengusap kepala Gathan.
"Apalagi gua, gua nih udah selayaknya bro and bro ama si Bocil. Ini cuma semacam melatih ketahanan tubuh aja, ya kan cil." sambung Satya.
"Gathan anak aku!" ketus Ghea. Bumil itu meninggalkan ketiga pria didepannya, dan melangkahkan pergi masuk kedalam rumah sambil menggandeng tangan Gathan.
"Huffhhhhh."
Ketiga pria itu sempat-sempatnya menghela nafas.
"Si Ghea semenjak bunting sensi bener heran." guman Satya.
"Ponakan kamu itu!" celetuk Ayah.
"Kecebong dia nih." tunjuk Satya pada Gavin.
Sabar Vin.
"Ghea kenapa, masuk-masuk kesel gitu mukanya?" Tanya bunda yang baru keluar rumah. Ketiga pria itu hanya mengendikkan bahu masing-masing.
__________
Biar tambah asik mari kita isi dengan adegan ahik2 yang sebenarnya.
"Dad-hhh, Gath-anhhhh diluar sendirian." seru Ghea kesusahan berucap karna bibirnya dilum-at oleh Gavin.
Kini keduanya berada dikamar mandi, niatnya mah mau mandi pagi. Tapi mungkin ada sedikit olahraga pagi tambahan.
"Diluar ada Ayah sama Satya, sayang." balas Gavin.
"Berbalik sayang." titah Ghea, tau akan maksud ucapan dari suaminya Ghea pun berbalik dengan tubuh agak menunduk dan kedua tangan bertumpu pada bilik kamar mandi itu.
Enak nih.
Ndak og Canda tok.
Gavin membuka lebar-lebar kedua kaki Ghea, kemudian bersiap meluncurkan rudalnya kedalam sana.
Maap rada pulgar.
Jleb
"Auwhhh dad, jangan masukin semua ahh."
Bless
Semua milik Gavin terbenam sempurna didalam kepunyaan Ghea. Ghea sempat memekik terkejut saat batang suaminya memenuhi ruang miliknya dibawah sana.
Bukan tanpa alasan, ia merasa junior suaminya itu bertambah besar sekarang. Bahkan terkadang ia kualahan menerima permainan suaminya.
"So?"
"Bergerak!" Seru Ghea.
"Okey baby."
Dan kemudian pak Gavin pun mulai memaju mundurkan pinggulnya sesuai keinginan Bu Ghea. Keduanya sama-sama merasakan kenikmatan tiada tara didalam kamar mandi tersebut.
Erangan dan ******* saling bersautan mengisi ruangan itu. Sepasang suami istri kini tengah dimabuk gairah dan saling mengasihi, sampai tiba dimana keduanya mencapai puncak bersama.
Kecebong Pak Gavin pun kembali berenang didalam rahim Ghea.
"Makasih sayang."
"Sama-sama dad."
Maap kalo rada pulgar
______________
Babay