
.
.
.
.
.
"Kenal dad?" Tanya Ghea. Gavin terlihat seperti mengingat-ingat siapa wanita itu, baginya perawakannya familiar menurutnya, tapi agak asing juga menurutnya.
"Kayaknya nggak deh, mom." Jawab Gavin sedikit ragu.
"Serius kamu nggak kenal?" Tanya Ghea menyelidik.
"Serius mom, aku nggak punya kenalan cewe juga." Balas Gavin seadanya.
DEG
"Kenapa, kok kayak gugup gitu?" Tanya Ghea menatap heran suaminya.
"Nggak kenapa-napa kok mom." Balas Gavin.
"Ada yang kamu disembunyiin dari aku? Atau kamu mau ngasih tau siapa cewe itu?" Tanya Ghea setenang mungkin.
"Nggak lah mana ada, orang aku juga nggak kenal mom." Seru Gavin.
"Yakin? apa perlu aku yang kenalin dia ke kamu?" Ucap Ghea.
Gavin membelalakan matanya, apakah Ghea benar-benar ingin mengenalkan wanita itu padanya? Pikirnya.
"E-emang kamu kenal sama dia?" Tanya Gavin hati-hati.
"Enggak juga, tapi kayaknya kamu yang kenal sama dia." Jawab Ghea santai.
Tak ada perbincangan lagi antara keduanya, mereka berdua sama-sama bungkam dan berkelana dalam pikiran masing-masing.
Sambil menunggu giliran dipanggil dokter , Ghea memilih untuk memainkan ponselnya. Wanita itu terlihat tengah sibuk berbalas pesan melalui aplikasi chat di hpnya. Sedangkan Gavin masih berdiam dengan pikirannya.
"Sayang." Panggil Gavin pada Ghea yang terlihat asik sendiri dengan ponselnya.
"Hm?" Balas Ghea menatap sebentar suaminya.
"Balesin chat dari siapa sih, rame banget kayaknya." Ucap Gavin seperti biasa Ia akan cemburu jika dicuekin oleh Ghea.
"Ini temennya Bagas, nawarin modif motor." Jawab Ghea jujur.
"Cowok?" Tanya Gavin.
"Iya, anak teknik dikampus." Jawab Ghea.
Seketika ekspresi wajah Gavin langsung suram, yang ada diotaknya sekarang adalah, gimana kalo Ghea berpaling ke daun muda dan ninggalin dia ama Gathan? Nangis 7 hari 7 malem tuh.
"Kenapa, cemburu?" Tanya Ghea dengan sinis.
"Heum iya." Balas Gavin tak bersemangat.
Jujur sekali kamu itu!
"Gathan mau daddy baru nggak? orangnya ganteng, pengertian, asik, mau masih muda lagi cocok lah ya buat diajak main sama Gathan." Ucap Ghea dengan sengaja memanas-manasi keadaan.
"Mau mommy, yang bisa nemenin Athan main terus ya tiap hari, nggak kayak daddy kerja terus." Celoteh bocah itu.
"WHAT??!" Seru Gavin tak percaya dengan ucapan putranya.
"Pinter banget anak mommy." Ucap Ghea dengan bangga mengusap kepala Gathan.
"Kalian ini ngomongin apaan sih? Jangan aneh-aneh ya, kamu lagi hamil anak aku loh yank masa iya mau selingkuhan aku? Terus ini lagi Satu, masa mau-mauan punya daddy baru, emang Gathan nggak sayang sama daddy? Daddy kerja buat kamu sama mommy loh sayang." Ucap Gavin panjang lebar kali tinggi.
"Nggak usah baper deh dad, becanda doang." Seru Ghea sambil mengambil alih tubuh Gathan dari Gavin dan memangkunya.
"Ya habisnya kalian becandanya nggak asik!" Gerutu Gavin.
"Masih nggak jelasin dad?" Tanya Ghea.
"Apa?" Ucap Gavin.
"Sebenernya agak risih sih diliatin kayak gitu, tuh orang liatin kita dari tadi, perlu aku colok dulu kali ya matanya biar nggak liatin kita mulu." Ucap Ghea.
Lagi-lagi Gavin harus mengalihkan pandangannya kepada wanita itu, dan lagi-lagi saat tatapan keduanya bertemu si wanita itu buru-buru mengalihkan pandangannya kesembarang arah.
Dahlah, giliran nggak ditengok elu malah ngeliatin Ghea ama keluarganya, giliran diliatin balik malah buang muka.
Assudahlah.
"Biarin aja mom, lagian kita juga nggak kenal kan." Ucap Gavin.
"Aku mah emang nggak kenal, kamu kali yang kenal." Seru Ghea.
Ghea terus mendesak Gavin agar mengaku jika Gavin mengenal wanita itu. Bagaiamana pun juga Ghea juga manusia dan punya feeling, bahwa ada yang ditutup tutupi oleh suaminya itu darinya.
"Mom....serius Aku nggak kenal loh." Ucap Gavin.
"Gathan kenal sama Aunty itu nggak?" Tanya Ghea pada Gathan.
"Gathan nanti kalo udah besar terus udah sukses jadi kebanggaan mommy, jangan ngelupain mommy sama adik ya. Gathan kesayangan mommy pokoknya." Ucap Ghea kemudian menghujani wajah tampan Gathan dengan kecupan bertubi-tubi.
"Ndak mommy, Athan sayang mommy sama adik kok." Balas Gathan memeluk erat leher Ghea.
Gathan udah bener-bener sayang ama emaknya ya, terharu ga tuh.
"Sayang kamu kenapa sih?" Tanya Gavin yang menyadari perilaku tak nyaman yang Ghea tunjukan.
"Nggak papa aku mah, b aja sih. Cuma mau bilang dikit, kira nih udah hidup bareng-bareng kurang lebih sebulan kan. Jadi aku harap nggak ada yang ditutup tutupin aja antara kita, terbuka aja. Kalo mau ngobrol yang lebih luas ntar aja dirumah, disini masih ada Gathan." Jelas Ghea setenang mungkin, namun wanita itu nampak menghela napas panjang setelahnya.
"Iya sayang, aku bakal terbuka sama kamu. Bakal aku ceritain semuanya sama kamu, nggak ada yang aku sembunyiin atau aku tutupin dari kamu, love you." Balas Gavin kemudian mengecup kening Ghea. Ghea hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya saja.
Kalem, santai, tenang, tapi juga sadis juga siapa lagi kalo bukan Ghea. Tapi sadisnya tau kondisi ya, pas ditindas baru beraksi.
Gavin sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Ghea, niatnya mah pengen minta kiss bibir, tapi dengan cepet Gathan mendorong kepala ayahnya itu agar menjauh dari wajah Ghea.
"No,daddy ndak boleh kis-kis ya!" Seru bocah itu dengan garang. Seketika Gavin dan Ghea tertawa kecil melihat tingkah lucu menggemaskan putranya itu.
"Kiss Athan aja, pipi Athan ada dua nih." Sambung Gathan.
Muachhh
"Udah-udah geliiiii hihihi." Seru Gathan sembari menjauhkan wajahnya dari serangan kedua orang tuanya.
"Ganteng banget sih anak mommy, makin sayang deh." Seru Ghea.
"Siapa dulu dong, daddy nya." Balas Gavin dengan bangga.
"Athan anaknya mommy sama daddy, Athan kakaknya adik. Athan punya semuaaaanya Uncle Satya juga, sama oma sama opa, sama nenek kakek, Athan sayang semua." Seru Gathan sambil memperagakan melalui gerak tubuhnya.
Mereka berbahagia bersama serasa dunia milik bertiga yang laen ngekoss.
"Keluarga Bapak Andreas?" Ucap salah satu perawat memanggil.
"Iya, kami sus." Jawab Gavin.
"Silahkan masuk pak, sekarang giliran keluarga anda." Ucap perawat itu dengan ramah.
"Baik sus, ayo Sayang, Gathan sama daddy sini." Ucap Gavin.
Ketiga nya pun masuk kedalam ruang dokter kandungan bersama.
"Baring di bed ya mama muda." Ucap Dokter obgyn itu dengan ramah. Gavin memilih duduk disamping Ghea dengan duduk diatas kursi sambil memangku Gathan.
"Ini cek usia kandungan dulu ya." Ucap Dokter itu.
"Iya dok." Jawab Ghea.
Dokter itu pun melaksanakan tugas nya sesuai prosedur rumah sakit. Diawali dengan mengoleskan benda semacam gel pada perut Ghea kemudian dokter akan menempelkan alat transduser USG ke perut Ghea.
"Janinnya masih berusia 3 mingguan, janinnya juga sehat dan kuat." Ucap Dokter itu, Gavin dan Ghea sama-sama menyimak dengan seksama kalo Gathan udah diem aja tuh bocah.
Nah kan langsung jadi mungkin bibitnya unggul+Ghea lagi masa subur. Jadi langsung tokcer dah.
"Eh tunggu sebentar, kalian bisa liat kan di monitor ada dua kantung di rahim mamanya." Ucap Dokter itu sambil menunjuk gambar dilayar monitor.
"Dua?" Beo Gavin.
"Iya bayi kalian ada dua, selamat." Ucap Dokter itu ikut senang.
"Mas." Panggil Ghea dengan bola mata berkaca-kaca. Ya ikut baper, seneng, terharu, pengen mewek juga iya. Intinya mah bahagia udah.
Moga ga ada rintangan ye ampe lahiran ye, cukup bang Sat aja yang banyak rintangan.
Canda Bang, kita kan prend.
"Alhamdulilah anak kita kembar sayang, makasih ya muachh." Seru Gavin dengan menghadiahi banyak kecupan manis pada wajah Ghea.
"Adik Athan ada dua?" Guman bocah itu bingung.
"Iya sayang, adik Gathan ada dua. Gathan seneng kan sayang." Ucap Gavin.
"Wow Athan seneng, tapi kenapa adik Athan kecil-kecil daddy?" Balas Gathan sambil memperagakan ukuran kecil dengan mengapitkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Yuhuuuu im back. Gimane kabarnya? baik kan. maap kemaren ga up.
Ntr dilanjut lagi ya, bye2.
lope U all♡
.
.
.
.
.
.