
"Makan yang bener!"
Mendengar teguran itu, Alea langsung menundukkan pandangan menatap wadah makanan yang ia pegang. Ia malu karena tertangkap basah tengah memperhatikan Gathan yang tengah makan.
"Bang Gathan gimana masakan Lea, enak nggak?" Tanya Alea mencari topik pembicaraan dengan Gathan.
"Lebih enak masakan mom saya tentunya." Jawab Gathan singkat.
Alea menekuk wajahnya, "Kan yang Lea tanyain cuma masakan Lea, bukan perbandingan masakann Lea sama masakan mom-nya bang Gathan."
"Biasa aja."
Mereka melanjutkan acara makan siang dengan saling diam-diaman. Keduanya sama-sama fokus pada makanan masing-masing.
"Makasih makanannya, setelah ini kamu bisa langsung pulang. Saya juga masih punya banyak kerjaan." Kata Gathan sambil mengusap bibirnya yang sedikit kotor dengan menggunakan tissue.
"Lea diusir?" beo gadis itu sambil menatap Gathan tak percaya.
"Memang kamu mau ngapain lagi disini? Mau jadi patung hidup? Saya juga masih punya banyak pekerjaan, lebih baik kamu pulang aja." Jawab Gathan
"Tapi kan Lea pengen ngobrol-ngobrol sama bang Gathan gitu, masa langsung pulang aja." Guman Alea sambil mengemasi kotak bekal makanan yang ia bawa tadi.
Gathan tak lagi menanggapi celotehan gadis itu, laki-laki itu kembali menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas penting diatas meja kerjanya.
"Lea mau pulang nanti jam satu aja deh, masih pengen ngadem disini." Kata Alea. Gadis itu mendudukan tubuhnya disebuah kursi tepat dihadapan Gathan. Alea memainkan ponselnya dengan kepala yang ia rebahkan diatas meja.
"Kepala kamu, awas." Alea sedikit menggeser kepalanya dan membiarkan Gathan melanjutkan pekerjaannya.
"Bang Gathan, hubungan kita tuh sebenernya apa sih?" Tanya Alea tiba-tiba.
"Nggak ada." Jawab Gathan singkat.
"Bang Gathan suka nggak sama, Lea?" Tanya Alea terang-terangan.
Gathan menghentikan kegiatannya sejenak, kemudian menatap wajah gadis dihadapannya itu dengan pandangan aneh. "Nggak." jawabnya.
"Oh." Balas Alea sambil menganggukan kepalanya.
"Kenapa nanya-nanya gitu?" Tanya Gathan heran.
Saat waktu menunjukkan pukul satu siang tepat, Alea berpamitan kepada Gathan untuk pulang. Gadis itu benar menepati ucapannya untuk pulang pukul satu siang. Padahal biasanya saat berkunjung ke kantor Gathan, Alea sengaja mengulur waktu agar bisa berlama-lama bersama dengan Gathan.
"Lea pulang dulu, sampai ketemu lagi. Bay."
"Eh, Assalamualaikum." sambung Alea.
"Waalaikumsalam." Balas Gathan.
Tak ada drama terjadi kali itu. Alea benar-benar langsung pulang meninggalkan kantornya, Gathan dapat melihatnya dari atas gedung.
"Aneh." Guman Gathan. Tapi putra sulung Bu Ghea dan Pak Gavin itu tak mau ambil pusing dengan perubahan Alea yang drastis.
__________
"Ada apa?" Gathan yang baru saja menyelesaikan rapat dengan para karyawannya menyempatkan diri untuk menyambut kehadiran Alea di kantornya.
"Minggu depan Lea mau ke luar negeri loh."
"So?" Balas Gathan.
"Ya terus Lea mau lanjutin pendidikan diluar negeri, terus tinggal disana, terus nggak pulang kesini lagi." Ucap Alea memberitahukan.
"Oh." Balas Gathan.
"Kok oh doang? Bang Gathan nggak ada niatan buat nahan Lea gitu? Lea jangan pergi, disini aja sama abang, gitu?" Sebal Alea sambil mengerucutkan bibir nya ke depan.
Alis Gathan terangkat mendengar hal itu, disusul tawa renyah. "Buat apa? Nggak ada untungnya buat saya." Ujar Gathan.
"Nanti bang Gathan kangen berat sama Lea baru tau rasa."
"Kamu bisa ngelakuin semua hal yang kamu mau, toh saya juga nggak ada hak ngatur hidup kamu. Saya juga udah terbiasa nggak ada kamu, dan semua fine fine aja. Jangan merasa terbebani karena saya, kita hanya orang asing yang tidak sengaja bertemu." Jelas Gathan.
__________
TBC.