
.
.
.
.
.
Kini Satya dan Teressa dengan anak-anak sudah berada didalam tempat makan nasi goreng.
Cie anak-anak!
"Kamu sepiring aja sama Uncle ya, Cil?" Ucap Satya pada Gathan. Porsinya kan lumayan banyak, takutnya Gathan nggak kuat ngabisin, pikir Satya.
"Nggak mau, mau makan sendiri Uncle." Ucap Gathan menolak.
"Emang habis?" Tanya Satya.
"Habis Uncle!" Balas Gathan dengan mantap.
"Yaudah." Ucap Satya.
Akhirnya Satya memesankan nasi goreng sendiri untuk Gathan, namun porsinya lebih sedikit dari porsi aslinya.
"Oh iya, tadi kenapa bisa jatuh kayak gitu. Ke dorong temen atau gimana?" Tanya Satya disela-sela makan.
Ceritanya mah pendekatan sama Noah gitu! Wkwk.
"Nggak sengaja ke sandung kaki temen, jadinya jatuh. Udah tumpuan pake tangan eh dari belakang ada temen yang nyeruduk, tangan Noah ke tindih pas lagi nekuk." Jelas Noah.
Jadi gini, ceritanya itu Noah lagi maen bola ama temen-temen. Pas Noah mau ngerebut bola dari lawan, eh kakinya nggak sengaja kesandung gitu. Pas dia jatuh salah satu tangannya dipake buat numpu badannya, eh malah dari belakang temennya kagak pada ngerem main sosor aja. Akhirnya mereka jatuh lah, nah posisinya tangan Noah masih nekuk buat nahan beban. Langsung geser dah tuh tulang.
"Oh berarti murni kecelakaan dong, nggak ada unsur kesengajaan." Ucap Satya.
"Iya om." Balas Noah.
"Habis ini kalian langsung pulang?" Tanya Satya.
"Iya, pak. Langitnya juga kelihatan mendung, takut keburu hujan." Jawab Teressa.
..._________________...
"Kenyang cil?" Ucap Satya pada Gathan.
"Kenyang Uncle. " Jawab Gathan sambil nyengir.
"Itu perut apa karet, nggak penuh-penuh diisi makanan." Guman Satya.
"Kalian pulang naik apa?" Tanya Satya pada Teressa.
"Naik angkot pak, tadi kita ke lapangan jalan kaki." Jawab Teressa seadanya.
Teressa sebenernya punya motor ya gaes, tapi karna dirasa nggak terlalu jauh mereka tadi ke lapangan jalan kaki bareng-bareng sama anak-anak.
"What? naek angkot? Nggak bisa nggak bisa! Kalian nggak boleh naek angkot, bukannya apa, kondisi tangan Noah masih sakit. Tau kan angkot itu desak-desakan banyak orang, ntar takutnya tangan Noah ke senggol malah makin parah. Itu aja nggak boleh banyak gerak sama dokter." Cerocos Satya panjang lebar.
"Noah nggak papa kan kita naik angkot? Noah masih kuat nahan sampe rumah kan, nak?" Ucap Teressa pada putranya.
"Nggak papa bunda, ntar hati-hati kok di dalem angkot." Jawab Noah menyakinkan bundanya.
"Ish!" Gerutu Satya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Satya keluar dari tempat nasi goreng itu. Pria itu terlihat tengah berdiri dipinggir trotoar sambil tengok kanan kiri.
Kira-kira apa yang Satya lakukan?
Ternyata Satya menyetop salah satu taksi yang kebetulan lewat dijalan.
"Kosong pak?" Tanya Satya.
"Kosong mas." Jawab pengemudi taksi tersebut.
"Tunggu bentar pak." seru Satya, pengemudi taksi tersebut pun mengangguk. Satya pun kembali ke tempat nasi goreng tadi.
"Udah selesai kan makannya? atau mau bungkus sekalian mungkin?" Tanya Satya pada Teressa.
"Udah selesai kok pak, nggak perlu bungkus segala, ini aja cukup. Makasih pak." Jawab Teressa dengan sopan.
"Yaudah ayo ikut saya keluar." ajak Satya.
"Bocil tunggu sini bentar, ntar Uncle balik lagi." seru Satya pada Gathan, Gathan hanya menganggukkan kepalanya, karna bocah itu tengah sibuk mengunyah mentimun.
Walau sedikit bingung akan permintaan bosnya, Teressa tetap mengikuti Satya keluar. Satya keluar sambil menuntun Noah, udah dibilangin tuh anak kagak lumpuh, masih aja ngeyel si Satya!
"Tapi saya nggak pesen taksi pak?" Seru Teressa.
"Buruan masuk, ini udah gerimis." Seru Satya. Mau tak mau Teressa mengajak putranya untuk masuk kedalam taksi.
"Pak anterin sampe ke depan rumahnya, ini ongkosnya." Ucap Satya sambil menyerahkan beberapa lembar uang warna merah pada pak sopir taxi.
"Iya mas." Balas Pak sopir itu.
"Hati-hati dijalan." Seru Satya. Sebelum taksi itu benar-benar pergi dari hadapan Satya, Teressa menyempatkan diri untuk membuka jendela taksi itu dan mengucapkan terima kasih kepada Satya, Entah terima kasih yang ke berapan yang Teressa ucapkan kepada Satya.
"Anjir emaknya si bocil pasti kesetanan!" Guman Satya. Pria itu lantas kembali menghampiri keponakannya didalam.
Karna gerimis sudah turun, Satya buru-buru mengajak Gathan pulang.
"Astaga, cil hujan! kita neduh dulu ya?" Seru Satya. Tiba-tiba ditengah perjalanan pulang hujan turun dengan derasnya.
"Nggak mau! Athan mau pulang, mau ketemu mommy uncleeee!" Tolak bocah itu. Sebenarnya itu hanya akal-akalan si bocil aja, padahal sebenernya tuh anak pengen maen ujan-ujanan.
Dahlah fiks, Satya bakal dibakar sama si Ghea nanti!
"Dahlah nanggung juga udah pada basah!" Guman Satya, Satya pun tak jadi berhenti untuk berteduh. Pria itu kembali menancap gass nya menuju rumah.
Sampainya dirumah, ternyata didepan sudah ada anggota keluarganya yang kini tengah menunggu Satya pulang.
Nah ini nih yang Satya takutin, emaknya Si Bocil natap Satya udah kayak mau nelen orang hidup-hidup.
"Turun cil." Bisik Satya pada Gathan. Setelah Gathan turun, bocah itu lantas berlari riang menghampiri mommy nya.
"Assalamualaikum mommy, Athan pulang." Sapa Gathan dengan senyum ceria, bocah itu tak sadar kalo tubuhnya basah kuyup. Bisa-bisanya malah kelihatan seneng kayak abis menang lotre!
"BANG SAATT ANAK GUA KENAPA BASAH KUYUP KAYAK GINIII!" Teriak Ghea murka.
GAWAT!!! Satya harus kabur!
Satya lantas bersembunyi dibalik tubuh bundanya, persis bocil!
"Bunda tolongin Satya bund, Satya khilaf." Ucap Satya memelas sambil mengusap air hujan yang membasahi wajahnya.
"Khilaf apanya! sini lu anak gua basah kuyup kaya gini lu apain ha!" Seru Ghea dengan amarah membludak.
"Sabar yank." Ucap Gavin menenangkan istrinya.
"Sorry Nyet, lagian Si bocil sendiri yang minta." Ucap Satya.
"Bundaaa." rengek Satya pada Bunda Citra.
"Ish kamu nih bang, udah punya ponakan jahilnya naudzubillah! Kasian kan cucu bunda jadi basah kuyup kayak gitu, ntar kalo masuk angin gimana! Kalo demam gimana, ih heran bunda punya anak laki kayak kamu!" Seru bunda Citra ikut mengomeli Satya sambil menjewer telinga Satya.
"Ayahhhh tolongin Satya, yahhh." Rengek Satya mengadu pada ayahnya.
"Maaf ya ayah lebih mentingin jatah ayah dari pada belain kamu, hehe." Balas Ayah Juan. Satya hanya bisa merengut kesal, tak ada yang membelanya.
...__________________...
"Uncle besok jalan-jalan sama hujan-hujan lagi yuk!" Ajak Gathan dengan antusias. Sepertinya bocah itu tak menyadari jika pamannya tengah kesal!
"Jangan mengadi-ngadi ya, lu kagak liat Uncle dimarahin abis-abisan sama emak, oma lu! Cukup ya Cil, jangan bertingkah!" Gerutu Satya.
"Ah uncle ndak asik!" Seru Gathan sambil merebahkan tubuhnya diatas tubuh Satya.
Ya kini Satya dan keluarga lainnya tengah berada diruang tengah untuk menonton tv bersama. Dan Satya memilih merebahkan tubuhnya diatas karpet bulu bersama Gathan.
"Nggak asik tapi nemplok ama gua, Cil!" Cibir Satya.
"Uncle besok kalo Athan libur sekolah, Athan mau jalan-jalan lagi ya sama Uncle. Athan mau main sama kak Noah, sama bundanya kak Noah juga, oke uncle?" Seru Gathan berceloteh.
"Cil bisa diem nggak sih?" Guman Satya pelan.
.
.
.
.
.
.