My Duda

My Duda
Eps 42



Ghea dengan anggun menuruni anak tangga sambil memeluk salah satu lengan abangnya. Gadis itu benar-benar terlihat sangat cantik jika bertingkah kalem, tak ada terpancar aura bar-bar sama sekali disana.


Sampainya dibawah, Ghea langsung menempatkan dirinya untuk duduk disamping seorang pria yang telah sah menjadi suaminya beberapa menit lalu.


"Hai makmum." Sapa Gavin dengan pelan. Sikap Gavin barusan malah seperti pertama kali bertemu orang baru, terkesan kaku.


Tak bisa dibohongi, pria itu benar-benar terkagum dengan penampilan Ghea yang lebih dewasa.


"Hai juga imam." Balas Ghea sambil tersenyum manis.


"Kamu cantik banget." Guman Gavin.


"Makasih." Balas Ghea.


"Tapi pundaknya keliatan dikit." Sambung Gavin kemudian.


"Ish kamu mah." Gerutu Ghea.


"Silahkan saling bertukar cincin."


Kali ini Gavin menyiapkan sepasang cincin lagi untuknya juga Ghea. Beda dengan cincin yang ia berikan pada Ghea saat melamarnya, dalam masing-masing cincin tersebut terukir nama pasangan masing-masing.


Gavin meraih jemari tangan kiri Ghea, dan Gavin menyematkan cincin cantik itu di jari manis Ghea. Dulu cincin pertama yang Gavin berikan ia sematkan di tangan kanan Ghea, sekarang dibagian kiri.


Kini giliran ghea yang meraih tangan Gavin, gadis itu dengan perlahan memasukkan cincin emas itu di jari manis Gavin.


"Alhamdulillah. " Ucap penghulu itu.


"Salim dulu sayang." Bisik Bunda Citra pada putrinya.


Ghea yang paham maksud bundanya menganggukkan kepalanya, kemudian beralih menatap Gavin. Gadis itu kembali meraih tangan kanan Gavin dan mencium punggung tangan suaminya untuk yang pertama kali nya.


Pandangan Gavin sedari tadi tak terlepas dari Ghea, padahal Ghea tak menampilkan ekspresi gimana-gimana. Tapi entah kenapa, Gavin merasa candu untuk mengamati wajah Ghea.


Usai Ghea mencium punggung tangan Gavin, kini gantian Gavin yang mencium kening istrinya. Hal itu tentu membuat jantung Ghea jedag jedug ora karuan. Darahnya berdesir, seperti teraliri ribuat watt listrik.


Baru dicium kening aja udah jedag jedug, apalagi digoyang kan, pasti langsung disko tuh mbak Ghea.🤣🤣🤣


Setelah itu pasutri baru itu pun melengkapi data-data diri masing-masing untuk kelengkapan data di buku pernikahan mereka.


...____________________...


"Cantik banget sih putri ayah." Puji ayah Juan pada Ghea.


"Makasih ayah." Balas Ghea.


"Selamat ya sayang, kamu udah jadi mantu mamah. Mamah seneng banget deh, ntar bisa mamah pameran ke temen-temen arisan mamah kalo mamah udah punya mantu cakep, pinter, baik lagi." Puji Mamah Wina pada Ghea.


"Bunda juga dong, dapet mantu sama cucu sekalian. Makin rame rumah kita, ya kan." sambung Bunda Citra.


"Bund, abis ini si monyet tetep tinggal disini, kan?" Tanya Satya ikut nimbrung.


"Ghea, abang ih!" Seru Bunda lumayan kesal karna Satya nggak pernah nyantol kalo dibilangin.


Saat ini Ghea hanya bisa menahan emosinya yang sudah mendidih diubun-ubun. Jangan sampai image nya terlihat buruk didepan kedua mertuanya, kalo didepan ayah sama bunda mungkin biasa, tapi kali ini jangan sampe kepancing. Tahan emosi!


"Abang kalo dibilangin bunda jangan suka becanda!" Tegas Bunda Citra memperingati.


"Iya-iya maap, jadi Ghea tetap tinggal sama kita, bund?" Tanya Satya.


"Ya ikut sama suaminya lah, bang." Bukan Bunda yang menjawab, tapi ayah Juan.


"Kenapa kayak gitu?!" protes Satya tak terima.


"Lah, kenapa musti tanya kenapa? Kan adik kamu udah punya suami, jadi harus ikut kemana pun suaminya tinggal. Kamu selama ini sekolah tinggi-tinggi ngapain sih?" Ucap Ayah Juan.


"Belajar lah, belajar ngitung duit ayah." Jawab Satya asal.


"Makanya anak bunda yang ganteng cepet cari jodoh ya biar bunda punya mantu lagi, biar kamu paham gimana ngurusin rumah tangga." ucap Bunda Citra menasehati Satya.


Seketika Satya pun menelan ludahnya kasar, pria itu jadi gugup didepan bundanya.


"Satya mau nyari makan dulu deh, Satya laper hehe. Permisi semua." Pamit Satya undur diri.


Pikiran ayah dan Ghea pasti sama, Satya pasti takut jika ada yang bicara keceplosan tentang dirinya.


"Mommyh?" Panggil Gathan dengan pelan. Kini bocah lima tahun itu buka suara setelah sedari tadi hanya terdiam menyimak pembicaraan orangtua yang tidak ia pahami.


"Iya sayang?" Balas Ghea sambil menoleh ke arah Gathan, putranya.


"Mau duduk sama mommyh, boleh?" Cicit Gathan ragu-ragu.


"Oh astaga anak mommy yang paling ganteng mau duduk sama mommy? sini-sini mommy pangku. Maaf ya dari tadi mommy cuekin Gathan, mommy sayang banget loh sama Gathan." Ujar Ghea sambil mengangkat tubuh Gathan dari pangkuan Mamah Wina. Kini Gathan sudah duduk manis dipangkuan Ghea, bocah tampan itu terlihat lebih ceria dari sebelumnya.


"Kalo capek ntar gantian aku ya, yang pangku Gathan." Ucap Gavin.


"Siap daddy!" Jawab Ghea menirukan suara anak kecil.


Para orang tua yang menyaksikan interaksi keluarga kecil itu sama-sama mengulas senyuman masing-masing. Terlihat bagaimana mereka benar-benar bahagia satu sama lain.


"Sayang, ntar sore ba'da ashar kita bakal ke hotel buat acara resepsi kamu. Acaranya dimulai jam 7, jadi nanti kamu ba'da dzuhur bisa istirahat dulu biar nggak terlalu capek ntar malem, ajak suami kamu sama Gathan juga. Tapi kalo sekarang, kamu nemuin kerabat ayah sama bunda dulu, yah." Jelas Bunda Citra memberitahukan.


"Siap Bunda!"


.


.


.


.


.


.