
.
.
.
.
.
.
.
.
"Cucu nenek pengin adik ya, uluh-uluh kesayangan nenek sini-sini pangku sama nenek." Ucap Mamah Wina yang ingin memangku cucunya.
"Mau sama mommy, nek." Balas Gathan.
"Ngambek nih cucunya kakek." Ucap Papah Harry menimpali.
"Mommyh..." Rengek Gathan karna Ghea mengabaikan dirinya dan lebih memilih menyibukkan diri dengan segerombolan buah jambu air dikeranjang.
"Apa ganteng, mau jambu? sini aaaaaaa.." Ucap Ghea sambil menyodorkan buah jambu air yang telah ia bersihkan kepada Gathan.
"Nggak mau, jambu nya sepat (sepet)." Seru Gathan menolak.
"Ini manis loh, kayak Gathan." Ucap Ghea.
"Uncle Satya, cilok Athan sama es Athan mana!" Seru Gathan pada Satya.
"Yang sopan sayang." Ucap Gavin memperingatkan putranya.
Ya maklumlah Gathan masih kesel mungkin ama Si Satya, gegara Satya kan dia nggak jadi ikutan maen tadi.
"Ada noh Cil, di jok motor." Ucap Satya sambil mencocol buah mangga pada sambal rujak yang ada dicobek.
Satya tuh orangnya mudah bergaul dan akrab sama suasana baru, jadi nggak usah kaget kalo Satya bisa langsung berbaur sama keluarga adik iparnya itu.
"Ambil gih." Ucap Ghea pada Gathan.
"Sama mommy?" Balas Gathan.
"Minta tolong sama Uncle Satya coba, minta baik-baik kan kalian best friend." Ucap Ghea.
"Uncle Satya anterin Athan ambil ciloknya dong, Athan ndak bisa ambil Uncle." Ucap Gathan mode manis dan gemoy.
"Yaelah baru juga beberapa comot." Batin Satya.
"Hayuk lah." Balas Satya, pria itu mengangkat tinggi tubuh Gathan hingga melayang diudara.
Cie udah baikan.
"Kakek gembul mana? udah maem belum?" Tanya Gathan pada sang kakek.
Gembul tuh peliharaan Gathan tapi dititipin ke kakek ama neneknya.
W lupa gembul tuh kucing apa kelinci? Kalian ada yang inget nggak di eps berapa kita bahas gembul? Udah pernah dibahas di eps sebelumnya pokoknya.
Yaudah anggep aja kucing ye.
"Itu lagi main dibawah pohon. " Ucap Papa Harry.
Gathan berlari kecil menghampiri kucing mont0knya, tubuh kucing itu benar-benar gempal ditambah lagi dengan bulu yang lebat membuatnya tampak lucu dan menggemaskan.
"Nggak kuat gendong." Rengek Gathan sambil menarik-narik tubuh si gembul yang menurutnya sangat berat.
Sabar ye mbul, mungkin kalo tu kucing bisa ngomong udah diumpatin tuh Si bocil.
Bisa-bisanya lagi rebahan cantik malah badannya ditarik-tarik ama Si bocil.
Ganggu aje lu!
"Ponakan lu tuh bang, bantuin coba." Seru Ghea pada abangnya. Tak ingin dicap sebagai paman buruk, Satya segera menghampiri Gathan.
"Masa ginian aja nggak kuat Cil." Ucap Satya meremehkan keponakannya. Gathan hanya diam memperhatikan setiap gerakan Satya, lu sendiri mampu nggak bos?
Satya meraih tubuh gempal si gembul, awalnya ia mengira jika berat badan kucing itu hanya sebatas balon karet yang terbang diudara.
Tapi tunggu!
Beneran berat ini!
"Lumayan berat ye Cil kucing lu." Guman Satya.
"Athan bilang apa, gembul itu berat Uncle." Seru Gathan.
"Uncle bawa kesitu." Ucap Gathan menunjuk tempat dimana kedua orang tuanya dan kakek neneknya duduk lesehan sambil makan buah.
"Makan apa nih Si gembul sampe berat gini, pah?" Tanya Satya pada papah Harry sambil mengelus perut bulat si gembul.
"Cuma makan makanan kucing doang, sama sayur-sayuran juga." Jawab Papah Harry.
"Widih kucing aja bisa vegetarian, masa lu kagak Cil." Ucap Satya.
"Athan makan sayur kok Uncle." Bantah Gathan.
"Em carrot?" Guman bocah itu.
"Mana ada wortel sayur, yang ada tuh kangkung kalo sayur mah Cil. Cie nggak pernah makan sayur masa kalah ama ni kucing. Cie bocil kalah ama kucing cieee." Seru Satya menggoda sang keponakan.
"Tapi wortel dimasak dulu baru boleh dimaem, berarti wortel sayur kan mommy? iya kan mommy?" Tanya Gathan yang berusaha mendapat dukungan dari emaknya.
"Wortel enggak sayur Cil." Ucap Satya.
"Sayur Uncle!" Balas Gathan.
"Enggak!"
"Sayur Uncle!"
"Enggak enggak enggak!!"
"Mommy Wortel sayur, myh?" Rengek Gathan sambil menghambur memeluk tubuh Ghea.
"Iya sayur sayang, wortel sayur, udah nggak usah dengerin Uncle mu itu. Lama-lama bikin kamu kesel kalo terus diladenin." Ucap Ghea sambil membingkai wajah imut Gathan.
"Wleekk wortel sayur kan Uncle!" Seru Gathan.
"Iyain aja lah biar seneng, mending makan nih timun enak Cil dicocol pake sambel." Ucap Satya.
"Enak Uncle?" Tanya Gathan.
"Enak banget Cil, mau coba nggak?" Ucap Satya sambil menyodorkan potongan mentimun yang sudah dicocol dengan sambal rujak kepada Gathan.
"Ndak pedes kan?" Tanya Gathan waspada.
"Ini aman cil, coba dah sini buka mulutnya Uncle suapin." Ucap Satya, dengan penuh kepercayaan akan ucapan Satya yang meyakinkan, akhirnya Gathan menerima suapan mentimun itu dari tangan Satya.
"Mantap kan Cil?" Tanya Satya dengan tawa yang ditahan.
"Mommy pedess." Seru Gathan dengan kedua bola mata berkaca-kaca.
"Ishh pen gua gaplok ya lu, ponakan sendiri lu jailin juga!" Guman Ghea sambil menatap tajam abangnya yang sibuk nyengir.
"Maap-maap hehe." Balas Satya.
"Mommy minum mommy." Seru Gathan menahan rasa pedas di mulutnya.
"Bentar-bentar mommy ambilin susu dulu, Gathan maem buahnya dulu jangan pake sambel biar ngurangin rasa pedesnya." Seru Ghea.
"Dad, jagain anaknya jangan sampe dikasih sambel lagi sama Bang Sat!" Seru Ghea.
"Masih pedes?" Tanya Gavin pada putranya.
"Masih daddy." Balas Gathan.
Nah loh Bang Sat anak orang kepedesan gegara elu, tanggung jawab lu!
"Maap Cil, Uncle kira lu kuat pedes." Ucap Satya.
"Nggak papa nak Satya, biar latihan nahan pedes udah gede masak nggak bisa nahan pedes." Ucap Mamah Wina, ia tau jika Satya pasti merasa bersalah karna candaannya tadi.
"Hehe maap ya Cil."
"Sini-sini minum dulu susunya." Seru Ghea menghampiri putranya. Gathan buru-buru mengambil alih gelas yang berisikan susu yang dibawa oleh Ghea tadi.
"Pelan-pelan sayang." Ucap Ghea saat melihat Gathan meneguk susu itu dengan tergesa.
Uhukk Uhukk
Byurr
Susu yang ada didalam mulut Gathan menyembur mengenai wajah tampan Satya.
"Masyaallah Cil, anget Cil." Ucap Satya sambil mengusap wajahnya yang basah karna semburan susu dari Gathan.
Sontak semua yang melihat kejadian itu tertawa terpingkal-pingkal karna Satya mendapat karma dari Gathan.
"Sorry Uncle Satya." Ucap Gathan pelan.
"Semenjak ada Ghea, keluarga anak kita jadi rame ya pah." Ucap Mamah Wina dengan pelan sambil memperhatikan interaksi cucu dan kakak dari menantunya itu.
"Iya mah, makin rame. Papah ikut seneng liat mereka bisa bercanda seneng-seneng kayak gini." Balas Papah Harry.
"Moga awet yah."
"Amin."
Lanjut nggak nih? kalo rame lanjut
.
.
.
.
.
.
.