
.
.
.
.
.
Dibaca per hurup seperti biasa, per hurup ya biar pegel nya dapet;)
Hari terus berganti, keluarga Ghea semakin ramai karna adanya si kembar. Ghea memutuskan untuk tidak memakai nanny atau suster, ia lebih mengandalkan keluarganya yang tentu bisa dipercaya.
Untuk masalah kuliah Ghea, semua aman. semester ini ia disibukkan untuk menyusun skripsi, Untuk masalah KKN ibu tiga anak itu sudah menyelesaikannya pada semester sebelumnya.
Mumet dah kalo punya bini masih sekolah begini.
Eh tapi tenang, udah mau kelar broh.
"Sayang."
Ghea yang merasa dipanggil pun menolehkan kepalanya pada sumber suara itu. Didapati suaminya baru saja masuk kedalam kamar, sepertinya suaminya baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya.
"Iya dad, kenapa?" tanya Ghea.
"Anak-anak udah tidur?" tanya Pak Gavin yang menghampiri istrinya yang duduk di sofa sambil memangku laptop nya.
"Udah, nanti Gathan di pindahin ya dad, tadi pengen nemenin adeknya bobok katanya.Si kembar juga udah bobok." jawab Ghea, Gavin menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
"Masih berapa bab lagi sih? masih banyak ya?" Tanya Gavin.
"Kurang dikit kok." jawab Ghea.
"Kalo cape istirahat sayang, jangan dipaksain ntar kamu sakit." ucap Gavin mengingatkan istrinya agar tidak lupa istirahat.
"Iya dad, tenang aja." balas Ghea.
"Maaf ya gara-gara aku yang nggak sabar pengen punya anak dari kamu jadi gini semuanya, kamu musti kerja dua kali lipat buat kita." ucap Gavin tiba-tiba, bukan menyesal lebih ke kasian aja sama Ghea yang sekarang kurang istirahat mana musti ngurus keluarga sama kuliahnya barengan, untung Ghea pinter ngatur waktu.
Tenang Bu, semuanya bakal terbayar diakhir nanti.
"Ngomong apa sih dad, udah disyukurin aja, kita jalanin bareng-bareng. Dari awal kan emang aku nggak niat buat nunda, eh beneran langsung jadi kan. Syukurin aja." ucap Ghea sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Sama-sama, dad. " balas Ghea sambil membalas pelukan hangat dari suaminya.
Cup
"Aku bikinin susu anget dulu ya, kamu tunggu sini." ucap Gavin.
"Siap Pak Bos." seru Ghea.
Gavin melepas pelukannya pada sang istri, bapak tiga anak itu beranjak keluar dari kamar nya menuju dapur. Sudah menjadi hal biasa bagi Gavin dan Ghea untuk saling memberikan perhatian, walau hanya perhatian kecil yang terkesan sepele.
Susu hangat sudah siap diteguk, dibawalah segelas susu hangat itu menuju kamarnya. Namun saat ia sampai didalam kamar, ia mendapati istrinya tengah duduk tegak sambil menyusui salah satu putranya. Terlihat Ghea terus menguap dan sesekali memejamkan matanya menahan rasa kantuk yang menyerang.
Lagi-lagi Gavin menghela nafas, ia merasa tak berguna sebagai seorang suami dan juga ayah.
Dihampirilah istri dan anaknya, bayinya sudah anteng dan kembali memejamkan mata.
"Sayang, pindah ke kasur gih." bisik Gavin sambil mengusap lembut wajah Ghea.
"Eumh...astaga Ghe ketiduran." guman Ghea. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar dan kembali memperhatikan putranya yang masih menghisap putıng nya sambil memejamkan mata.
"Pindah ke kasur ayo, kamu harus istirahat udah ngantuk berat juga." ucap Pak Gavin yang tak mau dibantah.
Alhasil Ghea pun menurut pasrah, rasa kantuknya sudah tak mampu ia tahan lebih lama lagi. Gavin pun membantu Ghea membaringkan putranya, setelah itu membantu istrinya agar ikut berbaring. Dirapikanlah selimut pada tubuh Ghea, keempat keluarga kecil Gavin itu tidur dengan tenangnya.
Setelah itu Gavin memindahkan putra pertamanya ke kamar sebelah. Tak sampai situ, ia juga menyempatkan diri untuk melihat tugas kampus istrinya.
Ghea sering menceritakan tentang jurusan yang ia ambil kepada suaminya, dan Gavin tentu sedikit paham tentang hal itu. Tak ada salahnya membantu bukan? Setidaknya sedikit meringankan beban istrinya.
Walau tak paham banyak, Gavin punya banyak koneksi dimana-mana yang tentu bisa ia mintai tolong agar memberi arahan padanya.
Fiks, Pak Gavin suami idaman banget:)
__________________
Bayyy
Up dikit, daripada bolong.
Maap yaaa:)