
.
.
.
.
.
"Uncle itu itu." Seru Gathan sambil menunjuk-nunjuk gerobak pedagang cilok yang terparkir di dekat lapangan bola, kebetulan tadi mereka lewat sana.
"Awas bener dah mata nih bocil." Batin Satya, pria itu lantas mengarahkan motornya menuju sana. Disana banyak para pedagang kaki lima street food, karna kebetulan kondisi lapangan ramai di isi berbagai kegiatan. Biasanya disana akan diadakan acara olahraga bersama dilapangan atau ditaman kota pas hari minggu.
"Turun, Cil." Ucap Satya.
"Uncle Satya, Athan nggak bisa turun ih!" Seru bocah itu sambil mencebikkan mulut mungilnya.
"Oh iya, kan bocil." Ucap Satya, lantas pria itu mengangkat tubuh kecil Gathan dan menurunkannya di jalan.
"Gandeng Uncle, Cil. Disini rame, takutnya entar kamu ilang. Bisa repot Uncle di omelin emak lu." Ucap Satya, Gathan hanya mengangguk sebagai jawaban. Pandangan bocah itu terfokus pada cilok yang menggiurkan didepannya itu.
"Mang, beli cilok sepuluh ribu, nggak usah pedes, kasih kecap, bungkus, jangan lupa kasih tusuknya sekalian." Ucap Satya dengan sekali tarikan nafas.
"Siap om." Ucap penjual cilok tersebut.
"Om? dikata gua om-om kali ya!" Guman Satya. Pria itu lantas menunggu sambil duduk di kursi plastik yang disediakan pedagang cilok tersebut.
"Uncle yang isinya telur dinosaurus, ya?" Pinta Gathan.
"Haa? Nggak ada Cil, yang isinya telur dinosaurus udah abis, kita kesiangan dateng nya." Jelas Satya.
"Yaudah yang isinya telur burung unta aja Uncle." Ucap Gathan lagi.
Lagi-lagi Satya harus memutar otaknya untuk mencari alasan.
"Gini ya Cil, isinya tinggal telur ayam sama telur buwung puyuh doang, yang telur dinosaurus, telur burung unta, sama telur buaya stok nya habis. Harus nunggu tahun depan baru ada." Ucap Satya.
"Uncle boong!" Seru bocah itu sambil memukul tubuh Satya yang tengah memangkunya.
"Nggak boong, cil. Tanyain aja sama abangnya." Ucap Satya.
"Ndak berani." Cicit Gathan sambil menyembunyikan kepalanya diketek sang paman.
"Nah tau nggak berani, pake acara nggak percaya, dasar bontotnya Ghea." Guman Satya sambil mengusap kepala Gathan dengan lembut.
"Jadi gini rasanya punya anak? Seru, tapi nggak ada yang bisa diajak buat anak." Batin Satya.
"Uncle, nanti Athan mau lihat bola." Ucap Gathan sambil menunjuk kerumunan anak laki-laki yang saling mengoper bola di tengah lapangan.
"Iya, abis beli pop ice, oke." Ucap Satya, Gathan hanya menganggukkan kepala nya kemudian bocah itu kembali menyandarkan tubuhnya pada tubuh Satya.
...____________________...
Usai beli cilok dan beli pop ice, seperti permintaan Gathan. Mereka berdua kini akan menonton bola dipinggir lapangan.
"Uncle itu ada yang didorong jatuh uncle." Seru Gathan menunjuk lapangan.
"Hah mana?" Tanya Satya.
"Itu Uncle!! Uncle see kan?" Seru Gathan dengan nyolot dan ngegas, pamannya ini benar-benar lemot bikin naik darah.
Kasian kan anak kecil darahnya tinggi gara-gara Satya.
"Eh iya, Cil. Ayo bantuin." Seru Satya. Satya menggendong Gathan kemudian menghampiri kerumunan tersebut.
"Mas-mas, tolong bantuin tuh mas tangannya patah kasian." Seru ibu-ibu pada Satyta sambil menunjuk seorang anak laki-laki yang merintih kesakitan dibagian tangannya.
"Haah? patah, yang bener aja mengadi-ngadi nih." Guman Satya.
"Bunda jangan nangis, nanti Noah ikut sedih.." Ucap anak laki-laki itu pada bundanya. (kira" 10 tahunan.)
"Iya sayang, bunda nggak nangis. Sabar ya sayang, bunda udah telfon ambulans buat ke sini. Anak bunda kuat, tahan sebentar ya." Ucap Wanita itu sambil menenangkan putranya. Wanita itu sebenarnya tak kuasa menahan tangisnya melihat anaknya kesakitan, tapi sebisa mungkin ia tahan agar tak membuat putranya sedih.
"Lah ini kan sekretaris gua?"
"Tessa?"
Wanita tadi spontan pun menoleh, dan ternyata....
"Pak Satya?" Guman Tessa.
"Mas kenal kan, udah anterin aja mas ke rumah sakit, kasian anaknya mas." Seru orang-orang disana.
"Tapi saya bawa motor buk?" Ucap Satya bingung, apalagi ia saat ini bersama si bocil.
"Yang luka tangannya woy, kagak kakinya! Lu kata lumpuh, masih bisa kali naik motor juga! Bilang aja lu kagak mau nganter!" Sewot seorang pemuda disana.
"Lah lu kok ngegas? ada masalah apa lu sama gua! Gua kan cuma nanya, takutnya kagak bisa!" Seru Satya tak mau kalah.
"Gimana kagak ngegas, tuh anak udah kesakitan kayak gitu. Gimana kalo anak lu yang kayak gitu, mau santai-santai Lu!" Seru pemuda tadi sambil menunjuk Gathan yang sibuk mengunyah cilok.
"Ya santai dong, nggak usah pake urat!" Gerutu Satya. Satya pun mendekati anak laki-laki tadi, kemudian membantunya berdiri.
"Bisa jalan nggak?" Tanya Satya pada anak itu.
"Bisa om, tangannya aja yang sakit." Ucap anak laki-laki itu dengan lirih. Walau kesakitan, anak itu tak menunjukkan ekspresi apapun, datar!
"Ayo om bantu." Ucap Satya.
"Pak, anak saya-
"Biar saya bawa ke rumah sakit, saya minta tolong jagain Gathan. Ntar saya balik lagi buat jemput kamu." Ucap Satya.
"Tapi saya sudah panggil ambulans, pak." Ucap Teressa.
"Kamu batalin aja." Jawab Satya.
"Tunggu sebentar, om ambil motornya dulu, kamu tunggu sini." Ucap Satya. Pria itu lantas berjalan cepat untuk mengambil motornya yang ia parkir tadi.
...____________________...
"Hati-hati dijalan pak, sebelumnya makasih udah nolong putra saya." Ucap Teressa pada Satya.
"Iya saya bakal hati-hati, saya titip Gathan dulu. Tolong kamu jagain, Gathan kamu jangan bandel, nurut sama tante nya." Ucap Satya pada Gathan.
"Yes uncle." Balas Gathan.
"Noah, tungguin bunda ya. Ntar bunda nyusul kamu." Ucap Teressa pada putranya.
"Iya, bunda." Jawabnya.
"Saya berangkat dulu, assalamualaikum." Pamit Satya.
"Waalaikumsalam, hati-hati pak." Balas Teressa. Satya hanya menganggukkan kepalanya, kemudian langsung tancap gas.
"Aunty bundanya kakak tadi ya?" Tanya Gathan sambil menatap Teressa dari bawah.
"Iya sayang, aunty bundanya kak Noah. Doain ya biar kak Noah sembuh." Ucap Teressa sambil mengusap lembut wajah Gathan.
"Iya aunty." Balas Gathan. Kini bocah itu sudah tidak makan cilok lagi, karna cilok sepuluh ribunya sudah habis ia makan, yang tersisa hanya pop ice milik Satya tadi.
.
.
.
.
Nggak jadi pindahan hehe...
lanjut besok oke.
maap ga nyambung banget:(