My Duda

My Duda
Eps 44



.


.


.


"Yank bangun dulu." Ucap Ghea pelan sambil mengusap kepala Gavin yang dibenamkan didepan dadanya.


Padahal tadi diawal acara bobok siang mereka tidur dengan posisi Ghea membelakangi Gavin, dan Gavin memeluknya dari belakang. Namun kini sudah berubah posisi, mereka saling berhadapan dan kepala Gavin mendusel di dada Ghea.


"Eughh...kenapa sih sayangg?" Guman Gavin dengan suara berat. Pria itu masih enggan bergeser padi posisi PW nya.


"Gathan kemana? kok nggak ada? kamu bangun dulu ih, anak nya ilang juga!" Ucap Ghea sedikit kesal karna Gavin tak kunjung bangun. Dan akhirnya dengan sedikit malas, Gavin bangun dan menegakkan tubuhnya.


"Pipis kali, coba aku cek dulu." Ucap Gavin, kemudian pria itu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi yang ada dikamar Ghea guna mengecek, apakah putranya disana atau tidak.


"Nggak ada loh, yank." Ucap Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Masa iya diambil mamah, atau bunda? Kan tadi mereka yang nyuruh kita istirahat." Guman Ghea.


"Ayo cari dulu." Ucap Gavin yang mendapat anggukan kepala dari Ghea. Keduanya keluar dari kamar Ghea untuk mencari Gathan.


"Bentar-bentar." Seru Ghea sambil menghentikan langkahnya saat tepat didepan pintu kamar abangnya.


"Kenapa?" Tanya Gavin bingung.


"Itu kamar abang rame banget kayak nya, masa iya pelihara tuyul? nggak mungkin kan." Guman Ghea.


"Kita tanyain lah." Balas Gavin.


Tok


Tok


Tok


"Abang ini Ghea, buka pintunya dong bentarrr." Panggil Ghea dari luar kamar Satya. Tak lama pintu kamar Satya pun terbuka, menampakkan sosok pria dengan sorot mata tajam sambil menggendong seorang bocah tampan berusia lima tahun.


"Apa lu!" ketus Satya sambil menatap tajam sepasang pasutri baru itu.


"Gathan kok bisa sama lu, sih?" Tanya Ghea heran.


"Ya bisalah, anaknya nangis emak sama bapaknya malah pada asik kelon!" Ketus Satya.


"Masa iya sih, kok Ghea nggak denger ya? kamu denger nggak yank?" Ucap Ghea.


"Aku? Nggak denger kayaknya, lupa." Jawab Gavin.


"Ya nggak denger lah, orang kalian pada molor!" Sembur Satya.


"Uncle Satya, kelon itu apa?" Tanya Gathan dengan sejuta rasa penasarannya.


"Eh? Anu kelon itu berpelukan cil." Jawab Satya spontan.


"Jadi sekarang Athan sama Uncle Satya lagi kelon?" Tanya Gathan sambil memperhatikan dirinya memeluk tubuh Satya yang tengah menggendong tubuhnya.


"Hah? ya gitu pokoknya, cil." Balas Satya yang sudah kehabisan kata-kata.


"Anak gua jangan lu racunin pikirannya, Bang Sat!" Seru Ghea.


"Anak lu nih!" Seru Satya sambil menyerahkan tubuh Gathan pada Ghea.


"Uhh baby boy makin berat aja kamu ya, makasih bang udah dijagain anak gua, byeee." Ucap Ghea. Baru saja mereka berjalan beberapa langkah, Satya memanggil mereka dan membuat langkah keduanya terhenti.


"Hei lu berdua sini-sini!" panggil Satya.


"Ape?" Tanya Ghea sambil menolehkan kepalanya kebelakang.


"Itu yang dipake laki lu baju siape?" Tanya Satya sambil memincingkan kedua bola matanya menatap penampilan Gavin.


"Baju lu, kenapa? Gua kasih tau ya abang Satya yang paling ganteng setelah ayah, kemudian suami gua, kemudian anak gua. Jadi orang jangan pelit-pelit, apalagi sama keluarga sendiri. Laki gua ini adik ipar lu, right!" Balas Ghea.


"Bukannya gua pelit dodol, selama ini gua pelit apa coba sama elu? semua gua kasih, bahkan kolor gua pun lu pake. Tapi masalahnya kalo cuma oblong mah nggak masalah gua, nah yang ini kan belum pada gua unboxing dari pabriknya, Nyet." Gerutu Satya.


"Ya siapa suruh nimbun baju, mana masih pada baru lagi. Mau buka olshop lu?" Seru Ghea.


"Tau lah, kesel gua ngomong ama lu! bikin naek darah!" Ketus Satya.


"Nah ini nih, baru adik ipar gua. Peka, kagak kayak si monyet! Ganti yang merek pot bunga ya, hehe." Ucap Satya sambil nyengir.


"Pot bunga? Itu keluaran mana, Sat?" Tanya Gavin sedikit bingung dengan merek yang disebutkan Satya barusan.


"GUCCI, elah! masa kagak paham lu ah orang kaya juga!" Seru Satya.


"Oh itu, saya tau kok. Ntar saya cariin yang mirip sama pakaian kamu yang saya pake ini." Ucap Gavin. Betapa mulianya sifat rendah hati mas Gavin, baju aja mau digantiin supaya istri dan abang iparnya nggak berantem.


Ya Allah, sisain satu yang kayak Gavin buat Othor ya, duda juga nggak papa yang penting anaknya kayak Gathan, hehe.😂😂😂


"Heh, lu mau meres laki gua? Oh tidak bisa! Baju lu diganti cepek juga dapet kan, ngapain minta pot bunga segala? jangan mengadi-ngadi ya! Nggak ridho gua!" Sambur Ghea, jiwa bar-barnya langsung mengoar-ngoar.


"Saya mah bodo amat, orang laki lu b aja, kok anda yang sewot?" Balas Satya tak mau kalah.


"Wah wah mancing nih mancing. Ngajak gelud lu?" Seru Ghea.


"Sayang udah jangan berantem, biarin aja toh aku sendiri yang mau ganti pakaian Satya. Nggak seberapa kan cuma pakaian doang." Ucap Gavin lagi-lagi harus menengahi perdebatan yang mulai memanas ini.


"Aman lu!" Seru Ghea sambil menunjuk Satya.


"Sini lu kalo berani lu! cemen woy, beraninya ama lakinya doang!" Seru Satya memanas-manasi Ghea.


"Beneran ngajak berantem lu, hah? Sini lu, beraninya sama Cewek lu!" Seru Ghea.


"Yank." Seru Gavin memperingati istrinya.


"Ya habisnya mancing mulu dianya!" Seru Ghea kesal.


"Ayo udah masuk, kamu juga Satya jangan ngajak berantem adik kamu terus. Masalah baju ntar saya ganti." Ucap Gavin dengan tegas.


"Awas lu!"


"Awasin aja terus, lu kata gua mau nyebrang?"


"GHEA! SATYA!"


"Iye-iye elah, posesip bener lu ah." Gerutu Satya.


"Ghea, buruan masuk." Seru Gavin.


Dan akhirnya pertengkaran adik dan kakak itu mampu diselesaikan oleh Gavin. Selamat~


Dikamar Ghea~


"Gathan mau apa?" Tanya Ghea sambil mengusap pipi gembul milik Gathan.


"Mau kelon mommy." Jawab Gathan dengan polosnya.


"Kelon?" Ghea sedikit bingung dengan ucapan putranya.


"Peluk mommy." Ucap Gathan lagi.


Astaga! Ghea baru ingat, Abangnya lah yang mengajarkan kata-kata kelon kepada putranya. Satya adalah paman laknat untuk para keponakannya nanti.


"Siapa yang mau kelon?" Tanya Gavin yang baru saja datang menghampiri keduanya.


"Anak kamu." Jawab Ghea.


"Kelon siapa?" Tanya Gavin sedikit bingung.


"Kelon aku lah siapa lagi." Jawab Ghea.


"Terus aku kelon siapa dong?" Tanya Gavin dengan muka melas.


"Itu kan masih ada guling."


.


.


.


.