My Duda

My Duda
Eps 55



.


.


.


.


Kini Satya sudah sampai di salah satu rumah sakit terdekat dari lokasi lapangan tadi.


"Dok, dok tolongin anak saya!" Seru Satya memanggil salah satu dokter yang kebetulan lewat.


Bentar, "Anak saya"


Noah hanya terdiam saat Satya menyebut dirinya anaknya. Entah apa yang dipikirkan anak itu.


"Mari silahkan masuk pak, bawa ke ruangan saya disebelah sini." Ucap Dokter tersebut.


Satya kemudian menuntun Noah dan berjalan menuju ruangan dokter tersebut. Didalam sana Noah langsung ditindak lanjuti oleh sang dokter.


"Gimana keadaannya, dok?" Tanya Satya dengan raut wajah khawatir+cemas.


"Jadi gini, terjadi pergeseran tulang di pergelangan tangan anak bapak. Namun pergeserannya tidak terlalu parah, kita dapat mengembalikan tulang ke posisi semula, dengan menggunakan gips. Untuk rasa ngilu dan nyeri itu wajar, kami akan memberikan obat pereda nyeri untuk mereda rasa nyerinya." Jelas dokter tersebut.


"Oh syukurlah ." batin Satya.


"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya." Ucap Satya.


Dokter tersebut pun mulai melakukan tugasnya sesuai prosedur rumah sakit.


Saat pemasangan gips berlangsung, itu memanglah menyebabkan sedikit rasa ngilu, namun Noah masih mampu menahannya.


"Untuk sementara pake gips dulu, ntar kalo dirasa malah makin parah, bapak bisa bawa anak bapak kesini lagi, saya akan menindak lanjuti." Ucap Dokter itu.


"Iya, dok." Balas Satya.


"Oh iya kira-kira waktu penyembuhan hingga benar-benar total, berapa lama ya dok?" Tanya Satya.


"Kalo untuk kasus ini, bisa diperkirakan 3-6 minggu. Dan itu harus melakukan perawatan dirumah sesuai arahan dokter, usahakan gips selalu dipakai hingga tulang benar-benar sembuh, gips harus tetap kering dan tidak boleh terkena air, jangan melakukan aktivitas berat yang bisa menunda penyembuhan tulang, dan yang terakhir saya akan siapkan jadwal pertemuan untuk memantau proses penyembuhan." Jelas Dokter tersebut.


"Ini nggak perlu dirawat inap dok?" Tanya Satya.


"Saya rasa itu tidak diperlukan pak, bapak bisa melakukan perawat rutin dirumah seperti yang saya anjurkan tadi." Jawab Dokter.


Secepat itu kah? pikir Satya.


"Baik dok, terima kasih. Apa ada obat yang harus saya tebus?" Tanya Satya.


"Bapak hanya memerlukan obat pereda nyeri dan beberapa vitamin penunjang saja, sudah saya resepkan. Nanti silahkan ditebut di apotik rumah sakit." Ucap Dokter itu.


"Baik, terima kasih dok. Kalo gitu saya permisi dulu." Pamit Satya.


"Mari, silahkan." Balas dokter tersebut.


"Kamu tunggu disini bentar, om urus administrasi nya dulu." Ucap Satya pada Noah.


"Iya om." Balas Noah.


...__________________...


"Aunty itu kakaknya." Seru Gathan sambil menunjuk Noah yang tengah duduk dibangku rumah sakit menunggu Satya menyelesaikan administrasi nya.


Pandangan Teressa pun langsung beralih pada sosok yang ditunjuk Gathan barusan, dan ternyata benar itu putranya. Dengan segera Teressa pun menghampiri putranya.


"Sayang." Panggil Teressa pada putranya.


"Bunda? bunda udah dateng!" Ucap Noah dengan senang.


"Iya bunda dateng, bunda khawatir sama kamu. Gimana, ada yang sakit lagi nggak? Udah diobatin belum sama dokter?" Tanya Teressa beruntun.


"Udah diobatin kok bund." Jawab Noah.


"Terus om Satya pergi kemana?" Tanya Teressa.


"Lagi bayar administrasi pengobatan Noah tadi, bund." Jawab Noah.


"Kita tunggu Om Satya balik ya, ini adeknya ponakan Om Satya dititipin sama bunda." Ucap Teressa, Noah hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Bunda, nanti uangnya om tadi yang buat bayar biaya rumah sakit Noah, diganti ya?" Pinta Noah sambil menatap bundanya.


"Iya sayang, nanti bunda ganti." Jawab Teressa sambil mengusap lembut kepala putranya.


"Kakak tangannya sakit ya?" Tanya Gathan sambil menunjuk pergelangan tangan Noah yang dipasang gips.


"Enggak kok, nggak sakit." Jawab Noah sambil tersenyum.


"Eumm...Athan pernah jatuh pas main dirumah, tapi Athan ndak nangis." Ucap Gathan bercerita.


"Wah hebat banget, anak cowok harus kuat nggak boleh nangis." Ucap Noah sambil menepuk pelan kepala Gathan menggunakan sebelah tangannya.


"Hehe iya kakak." Balas Gathan, entah mendapat keberanian dari mana, bocil lima tahun itu memeluk tubuh Noah dari samping.


Eh? aww....


"Sayang Kamu nggak-


"Nggak papa kok, bunda." Ucap Noah mendahului. Noah membiarkan Gathan memeluk tubuhnya dari samping.


Udah cocok belum, jadi sepupu? wkwkwk


"Lah kalian kok udah ada disini? kan mau uncle jemput nanti?" Ucap Satya yang kini sudah berada di dekat mereka.


"Saya khawatir sama Noah pak, saya akhirnya nyusul kesini. Saya cari rumah sakit terdekat, ternyata bener bapak bawa Noah kesini. Tadi saya kesini naik ojek pak, maaf ponakan bapak ikut saya naik ojek." Jelas Teressa panjang lebar.


"Oo, nggak papa." Balas Satya.


"Keadaan tangan Noah gimana pak? Tangan anak saya parah nggak?" Tanya Teressa.


"Tulangnya sedikit geser, tapi nggak sampe parah kok. Cuma perlu pake gips aja, sama obat pereda nyeri. Waktu penyembuhan kurang lebih 3-6 minggu, ntar juga harus cek up lagi ke dokternya." Jelas Satya.


"Baik pak, saya paham. Terus biaya pengobatan Noah berapa pak, biar saya ganti." Ucap Teressa lagi.


"Biaya? udah saya bayar kamu tenang aja, dan nggak usah kamu ganti." Balas Satya.


"Nggak bisa pak, tetep saya ganti. Bapak kasih tau berapa nominalnya, nanti saya ganti." Ucap Teressa.


"*Ni*h orang keras kepala bener dah, ngeyel bener kayak si monyet." Batin Satya.


"Saya bilang nggak usah ganti, saya ikhlas bantuin! Ayo, Cil kita pulang." Ucap Satya kemudian menggendong tubuh Gathan.


"Pak saya mohon, saya nggak mau hutang budi sama bapak. Kalo bapak nggak mau nerima uang dari saya, bapak bisa potong gaji saya bulan ini." Ucap Teressa sambil menahan Satya dengan memegangi pergelangan tangan pria itu.


Teressa mana tau kalo jantung Satya lagi pada disko! jep ajep ajep ajep ajep ....


Satya tuh nggak abis pikir, ada ya cewek keras kepala kayak gini selain Ghea. Padahal kan Satya niatnya nolong, nggak pake pamrih, intinya ikhlas dari hati gitu loh.


"Yaudah iya!" Final Satya.


"Makasih, makasih banyak pak." Ucap Teressa.


"Bunda tangannya!" Seru Noah, reflek Teressa pun langsung menghempas tangan Satya dengan wajah malu.


"Uncle, Athan laper. Maem yuk!" Ajak Bocah itu.


"Maem? bukannya tadi maem cilok, sekarang ciloknya mana? pop ice Uncle?" Tanya Satya.


"Sudah habis semua Uncle, Athan hebat kan." Ucap Gathan sambil memperlihatkan deretan gigi kecilnya.


"Hah, itu laper apa doyan?" Guman Satya.


Ya maklum lah, si Gathan kan selalu makan makanan home made, pas nyoba makanan luar langsung ketagihan lah.


"Yaudah makan, mau makan apa?" Tanya Satya.


"Eumm...mau maem nasi goreng sosis, Uncle." Jawab Gathan dengan antusias.


"Tadi Athan lihat ada didepan Uncle." sambung Gathan lagi.


"Emang ada?" Guman Satya.


"Ada pak, didepan rumah sakit emang ada tempat makan nasi goreng." Ucap Teressa memberitahukan.


"Oh yaudah ayo kita makan disana sekalian, tapi untuk kali ini biar saya yang bayar nggak ada ganti-ganri uang segala, ini pure tanda terima kasih saya sama kamu karna udah jagain Gathan. Dan saya nggak terima penolakan ataupun penawaran." Ucap Satya.


Dih maksa!


Teressa kemudian menatap putranya , sebentar terdiam akhirnya Noah menganggukkan kepalanya.


"Iya pak, saya ikut." Ucap Teressa.


Yes!


Modus pertama berhasil cihuyy!


.


.


.


.


.


.


.


Maap jika terdapat kesalahan kata atau informasi.


Jujur ini first time saya buat nopel, tolong maklumi ya kalo ada kekurangan.


Yang suka ya alhamdulillah, yang nggak suka ya Udah.


Kalo sekiranya nggak bisa ngasih semangat, lebih baik diam, dijaga ketikannya ya.


Dan untuk pembaca yang udah support dari awal hingga sekarang, makasih banget. Tanpa kalian cerita ini nggak bakal kayak sekarang.


Makasih semua, salam kenal author disini♡✌❤


.


.


.