My Duda

My Duda
Eps 40



H-3


.


.


.


.


.


"Bagas!! Bagas!!" Seru Ara memanggil Bagas. Yang dipanggil pun langsung berbalik badan melihat siapa yang memanggilnya.


"Iya? kenapa sayang?" Tanya Bagas dengan lembut.


"Bagas dapet undangan dari Ghea nggak? Ara dapet soalnya, tapi Ara kok nggak percaya ya kalo itu Ghea. Masa Ghea udah mau nikah, kan belum punya pacar. Setahu Ara, Ara punya temen yang namanya Ghea cuma satu doang, masa orang nggak kenal ngundang Ara? Tapi diundangannya itu jelas-jelas namanya Ghea loh, menurut Bagas gimana?" cerocos Ara panjang lebar. Kelihatan sampai gadis itu sangat penasaran.


"Aku juga baru tahu loh, tadi pagi dikasih undangan sama orang dirumah. Ghea juga nggak ada bilang apa-apa sama aku, mamah sama papah juga baru tau kalo tante Citra mau mantu." Jelas Bagas.


"Ghea nggak masuk kampus, emang?" Sambung Bagas lagi.


"Udah beberapa hari Ghea nggak masuk kampus." Jawab Ara.


"Hmm mungkin beneran mau nikah dia." Guman Bagas.


"Bagas." Panggil Ara sambil bergelayut manja di lengan kekasihnya.


"Hm?"


"Bagas kapan nikahin Ara?" Tanya Ara sambil mengerjap-ngerjapkan kedua bola matanya dengan lucu.


"Ha? Hahahaha." Tawa Bagas seketika langsung pecah bukan karna permintaan Ara, tapi karna pembawaan Ara yang sangat menggemaskan menurutnya.


"Kenapa ketawa ih!" Decak Ara kesal sambil memanyunkan bibirnya karna kesal.


"Maaf sayang maaf, habisnya kamu lucu banget sih bikin aku gemes jadinya." Jelas Bagas pada Ara.


"Kapan?" Tanya Ara lagi sambil mendongak menatap wajah tampan Bagas didepannya.


"Kamu masih kecil, belajar dulu ya. Aku juga belum kerja, mau dikasih makan apa anak kita kalo ayahnya pengangguran?" Jelas Bagas sambil membingkai wajah chubi Ara.


"Tapi janji ya, jangan ninggalin Ara." Pinta gadis imut itu sambil mengangkat jari kelingking nya.


"Iya janji." Jawab Bagas kemudian menyatukan jari kelingkingnya pada jari kelingking mungil milik Ara.


Rasanya jiwa jomblo ku meronta-ronta~😌😌


********


"Abang, jalan-jalan yuk." Ajak Ghea pada sang kakak.


"Lu bentar lagi mau kawin, Nyet! Bukannya bantu-bantu malah pengen jalan-jalan! Lu kagak liat gua lagi sibuk!" Seru Satya dengan sewot.


"Kagak usah galak-galak lu! Ntar gantengnya ilang, emang mau ditinggal mbak sekertaris?" Seru Ghea.


GAWAT!!


"Ngomong apa lu barusan?" Tanya Satya sambil memincingkan kedua bola matanya kepada Ghea.


"Bang Sat suka sama sekretarisnya! Dan sekretarisnya seorang single parent, so?" Ucap Ghea dengan santai namun penuh penekanan.


Bola mata Satya melebar sempurna mendengar ucapan Ghea.


Bentar Ghea tau darimana kalo Satya punya sekertaris baru dan seorang single parent?


Apakah Ghea jelmaan cenayang?


"Jangan fitnah ya lu! mana ada! Inget fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!" Seru Satya.


"Dan orang yang suka bohong disebut pendusta, apalagi sama orang tua!" Seru Ghea menyindir abangnya.


"Dan lu pasti udah tau apa siksaannya, mulutnya bakal dirobek sampe ke telinga! Belum lagi siksaan bagi anak durhaka, gimana mantap bukan?" Sambung Ghea lagi. Satya yang di beri siraman rohani oleh adiknya hanya bisa menelan ludahnya sendiri. Bagaimana jika itu terjadi padanya, pikirnya.


"Nyet, lu mau beli knalpot baru kagak? Atau lu mau modip motor lu gitu, biar tambah keren?" Tanya Satya mengalihkan pembicaraan.


"Motor gua udah paling keren, kagak perlu modip-modip segala!" Seru Ghea. Gadis itu tentu paham tujuan abangnya memberi penawaran menggiurkan itu,tentu saja untuk membungkam mulutnya dari sang bunda.


"Ya udah! bilang mau lu apa!" Balas Satya.


"Hehe nggak susah-susah amat kok, tinggal ajak gua jalan-jalan keluar aja. Tapi inget pake motor, ye!" seru Ghea.


"What the hell? Ghe plis lah gua bener-bener capek, males, mager buat keluar. Ini kesempatan gue buat rebahan di kasur. Masa mau lu rampas juga kebahagiaan gua?" Ucap Satya dengan memelas.


"BUNDAAAA." Seru Ghea memanggil bundanya.


"MONYET SIALAN!!"


"Gua monyet, lu gorila dong." Balas Ghea.


"Ambilin gue helm, gue mau siap-siap dulu!" ketus Satya.


"LOPE YOU BANG!!!" Seru Ghea sambil memberikan finger love menggunakan jarinya kepada Satya.


"Lope yu mata mu!" Gerutu Satya.


.


.


.