
H-6
.
.
.
.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, jadi semuanya bisa berkumpul bersama. Bukan untuk berantai-santai melainkan sibuk untuk menyiapkan pernikahan double G, lima hari lagi, lebih tepatnya hari jumat depan.
"Daddy mau ituuuu." rengek Gathan menunjuk salah satu pedagang cilok di pinggiran jalan.
Ya, kini Gavin dan Ghea juga Gathan tengah melakukan perjalanan pulang ke rumah. Mereka tadi pergi ke salah satu hotel berbintang yang rencananya akan menjadi tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahnnya nanti.
Sebenarnya tadi Gavin tak memperbolehkan Gathan ikut, dengan alasan kalau bocah tampan itu nanti akan kelelahan. Tapi berkat bujukan Ghea, akhirnya Gathan diperbolehkan untuk ikut. Dan benar saja Gathan tidak rewel saat ikut Gavin dan Ghea meninjau hotel itu.
Dengan antusias Gathan duduk di pangkuan Ghea, gadis itu pun tak merasa keberatan saat memangku Gathan, dengan senang hati memangku tubuh mungil pria kecil itu.
"Gathan mau cilok?" Tanya Ghea.
"Colok?" Tanya Gathan dengan tatapan polos.
"No no C-I-L-O-K, right?" Ucap Ghea membenarkan.
"Ci-lok." Beo Gathan, dan itu mendapat anggukan kepala dari Ghea.
"Mau cilok?" Tanya Ghea lagi.
"Iya mommyh, boleh?" Jawab Gathan dengan antusias.
"Boleh kalo kata mommyh mah." Balas Ghea.
"Mau beli apa sih?" Tanya Gavin yang sedari tadi hanya menyimak obrolan Ghea dan Gathan.
"Ci-lokk daddy." Jawab Gathan menunjuk gerobak bertuliskan cilok itu.
"Baso?" Tanya Gavin.
"Cilokk ih!" Seru Ghea.
"Aku taunya baso doang, yang." Guman Gavin.
"Daddy boleh?" Tanya Gathan sambil menampakkan puppy eyes nya. Itu adalah jurus andalannya jika ia menginginkan sesuatu.
"Tapi-
"Boleh sayang, boleh, iya kan dad?" Potong Ghea terlebih dahulu.
"Iya-iya boleh." Final Gavin.
"Thank you mommyh, love youuu. Ayo beli, mom." Ucap Gathan dengan gembira.
"Wow wow semangat banget sih yang mau beli cilok." Guman Ghea sambil melepas seatbelt yang melekat di tubuhnya.
"Come on, mom." Seru Gathan yang sudah menarik-narik baju yang dikenakan Ghea.
Cup π
Gavin terbengong saat Ghea mengecup pipi kirinya. Sesaat kemudian pria itu tersadar dengan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Sayang uang-
Ternyata Ghea dan Gathan sudah turun dari mobil.
"Astaga gadis ini benar-benar nakal." Guman Gavin sambil menatap kepergian Ghea dan Gathan menuju pedagang cilok itu.
πΊπΊπΊπΊπΊ
"Astaga ayo lah jangan mikir aneh-aneh bentar lagi, Vin bentar lagi. Lima hari lagi right!" Gerutu Gavin sambil memukul pelan kepalanya yang berisikan tentang hal mesum.
"Aishhh, adiknya Satya bener-bener huhhh." Guman Gavin terus menggerutu tak jelas.
"Arghhh....
"Kamu ngapain sih?"
"Astagfirullah!! kaget yang!" Pekik Gavin terkejut melihat keberadaan Ghea yang sudah duduk disampingnya.
"Itu kenapa kepalanya dipukulin sendiri gitu? kalo sakit gimana? ish kamu mah." Seru Ghea.
"Maaf maaf, udah dapet ciloknya?" tanya Gavin.
"Udah nih, kamu mau nyoba nggak?" Tanya Ghea sambil menawarkan cilok yang dikemas di plastik bening tak lupa diberikan tusuk lidi.
"Nggak usah buat kamu sama Gathan aja, oh iya ini uang buat gantiin uang kamu buat beli cilok tadi." Ucap Gavin
"Apaan sih timbang cilok doang ini mah, sepuluh ribu juga udah dapet, ngapain musti diganti lagian ini kan buat Gathan, hish. " Balas Ghea dengan nada tak suka.
"Oke-oke sorry, kita langsung pulang kan?" Ucap Gavin.
"Iya lah, lumayan capek juga nih aku." Balas Ghea. Peluh mulai membanjiri pori-pori gadis itu, sepertinya Ghea benar-benar kelelahan.
"Harusnya kamu nggak usah ikut tadi, biar aku aja. Lihat kan kamu jadi capek gini." Ucap Gavin sambil mengusap keringat di dahi Ghea menggunakan tisu.
"Demi jadi mommy nya Gathan nih." Balas Ghea dengan tawa jenaka.
"Jadi mommy nya Gathan doang nih?" Balas Gavin.
"Jadi mommy nya Gathan sekaligus jadi mommy dari anak-anak kita kelak." Soal gombal menggombal Ghea lancar banget, apalagi kalo yang digombalin mas duda, bisa nyampe ke tulang sum-sum nya.
"Pinter banget sih jawabnya." Ucap Gavin sambil mengacak rambut Ghea dengan gemas. Ghea hanya terkekeh dengan respon yang Gavin berikan.
Kalo ada yang nanya Gathan ngapain? Tuh bocah lagi maem cilok ya bund~
.
.
.
.