My Duda

My Duda
Eps 113



.


.


.


.


.


Hari terus berganti, kini kedua bayi Ghea sudah menginjak usia 12 bulan. Kedua bayi tampan itu sudah mulai bergerak dan aktif menggapai barang-barang disekitarnya.


Pagi itu Gavin menuntun kedua putranya disisi kiri dan kanan, tujuannya adalah ke dapur menghampiri istrinya. Walau masih berusia satu tahun, kedua batita itu sudah bisa menjaga keseimbangan dan berdiri agak lama tentunya dengan bantuan orang dewasa yaitu ayahnya.


Dengan langkah hati-hati, Ghavi dan Gheva melangkahkan kakinya sesuai arahan sang ayah.


"Mm...mmyy....


Gathan yang tengah membantu ibunya mencuci buah pun menolehkan kepalanya kebelakang, adiknya ada disana. Begitu juga dengan Ghea, wanita itu langsung menyambut antusias kedatangan kedua putranya.


"Uhhhhh jagoan mommy udah bangun ya.." Ghea mencuci tangannya terlebih dahulu, kemudian segera menghampiri anak-anak tampannya itu dan disambut girang oleh Ghavi dan Gheva.


Saking girangnya mereka malah mengangkat tangannya ke atas dan melepaskan pegangan tangannya dari jemari sang ayah.


Brughhh


"Nah kan jatuh, pelan-pelan sayang." seru Ghea sambil mengusap pantat Ghavi yang masih terbalut pempes, sedangkan Gheva sudah menangis digendongan Gavin.


Untung jatuhnya kalem.


"Cup Cup Cup, ganteng masa nangis sih." seru Gavin sambil menimang putra bungsunya itu.


"Dek Gheva jangan nangis ya, kata Uncle Satya kalo LAKIKK nggak boleh nangis. Ayo jangan nangis, stop crying." seru Gathan mencoba menghibur adiknya.


"LAKIK."


"LAKIK."


"LAKIK."


Kedua adiknya tertawa lepas mendengar seruan Gathan tersebut, senyumnya kembali mengembang setelah melihat tawa adiknya.


Selalu happy kiyowohhh.


"Gantengnya mommy yang ini pinter banget sih, adek nggak nangis lagi loh. Sini-sini mommy kasih hadiah morning kiss." seru Ghea.


Ghea sengaja menundukkan kepala nya, kemudian dengan antusias Gathan pun mendekatkan wajahnya pada wajah mommynya. Dan....


Cup


Muachhhh


"Makasihh mommy." seru Gathan dengan senang. Kemudian bocah itu gantian menghadiahi kecupan manis pada salah satu pipi Ghea, disusul Ghavi yang juga melakukan hal yang sama, dan kemudian yang terkahir Ghea mendapatkan bonus morning kiss dari Gheva dan pak Gavin.


Bahagia banget Bu Ghea.


"Mamm...mam..


"Yaudah yuk kita mamam dulu, adek udah laper loh ini." seru Bu Ghea.


"Sebentar, tadi Kakak cuci buah strawberry, blueberry. Mommy, buatin smoothies yaaaa." pinta Gathan pada mommy nya.


"Iya mommy buatin, kalian tunggu dimeja makan ya." seru Ghea. Bukannya mengikuti ucapan Ghea, keempat laki-laki beda generasi itu malah menempel pada tubuh Ghea.


Mereka mengamati semua kegiatan yang dilakukan Ghea. Terkadang Ghea juga gemas sendiri dengan kelakuan mereka, tapi untungnya mereka tenang dan damai sehingga tak membuat kericuhan didapur itu.




"Okey, smoothies kita udah jadi!!" seru Ghea. Wanita itu langsung menggiring suami dan anak-anaknya ke meja makan. Sudah menjadi rutinitas di Pagi hari seperti ini bagi Ghea.


Awalnya Ghea akan mendudukan putranya diatas baby chair, namun Gavin menyarankan agar pagi ini mereka sarapan lesehan di ruang tengah.


"Kita makan diruang tengah aja yuk mom, biar anak-anak bisa gerak." seru Gavin.


"Daddy dibawah pohon rambutan aja." ucap Gathan memberikan usulan.


Biasanya dulu mereka sering menggelar tikar dibelakang rumah, lebih tepatnya dibawah pohon rambutan dekat kolam renang. Udara disana saat pagi hari sangat sejuk dan segar, ditambah lagi sinar matahari di pagi hari membuat tubuh menjadi sehat, itu lah alasan kenapa mereka sering sarapan diluar ruang.


"Yaudah diluar aja dad, sekalian." timpal Ghea.


"Kamu gendong Ghavi sama Gheva dulu ya, biar aku sama Gathan yang atur tempatnya." seru Gavin sambil menyerahkan putra bungsunya pada sang istri.


"Oke dad."


"Come on boy."


"Let's go!!!" balas Gathan bersemangat.


Walapun sedikit repot, tapi mereka senang menjalaninya.


So? Yang penting happy kiyowohh.


"Selamat makan." seru Gathan.


Sarapan dimulai dengan suka cita, terkesan sederhana namun membuat mereka bahagia.



...kira-kira seperti itu....


Ghea membiarkan putranya merangkak kemana saja, yang tentunya sudah ia pastikan jauh dari daerah kolam.


"Abis makan jangan langsung tidur dad. Nggak baik tau." tegur Ghea pada suaminya yang malah merebahkan kepalanya diatas paha Ghea.


"Aku kekenyangan loh, masakan kamu enak semua tau mom." seru Gavin. Pria itu membalik tubuh nya menghadap perut Ghea.


"Liat perut aku makin buncit aja, kotak-kotaknya mulai ilang. " keluh Gavin, dan Ghea menganggapnya dengan kekehan kecil.


"Kalo aku udah nggak ada kotak-kotaknya, kamu masih sayang sama aku kan mom?" tanya Gavin.


"Ish ngomongnya itu loh, ya kalo kotak-kotaknya hilang kan bisa olahraga lagi. Kamu makin kesini makin mageran tau, disuruh olahraga malesnya masyaallah." seru Ghea.


"Gathan, adek bantuin kesini ya." seru Ghea.


"Mommy, dek Gheva nggak mau kesini." seru Gathan.


"Dad, si adek main dideket kolam tuh. Tolong ambilin gih, bawa kesini biar ngumpul sama kakak-kakaknya." seru Ghea pada suaminya.


Karna malas bergerak, Gavin malah menggulingkan tubuhnya kearah sang putra. Dan...


Hap


Gheva tertawa cekikikan saat Gavin berhasil menangkap tubuhnya dan mengangkat nya tinggi-tinggi.


"Dddd...dy...


"Jagoan mau lari kemana, hm?"


"Hihihi."


"Taruh sini aja dad, biar main lego sama Ghavi."


"Sit here with your brother, okay."


Gheva hanya menganggukkan kepala nya, setelah itu ia ikut berebut mainan bersama saudaranya.


Fyuhh...


"Bukannya ditemenin malah tiduran disini." Cibir Ghea pada suaminya. Gavin kembali menidurkan kepalanya diatas paha Ghea.


"Biarin."


"Kamu nggak ke kantor dad, ini udah siang loh?"


"Sebenernya aku males banget ke kantor, andai aja aku bisa ngasilin uang tanpa harus kerja, pasti seneng banget bisa ngabisin waktu setiap hari sama kamu dan anak-anak." ucap Gavin.


"Mana bisa gitu, ya kamu tetep harus kerja lah. Mau kamu kasih makan apa anak-anak kalo bapaknya males-malesan gini." balas Ghea.


"Andai sayang, kita juga musti nabung buat masa depan anak-anak kita. Aku berangkat jam 9 aja, ntar siang ada meeting sama abang kan." seru Gavin.


"Oh itu kerjasama nya jadi? Perusahaan abang sama Noah kan?" tanya Ghea.


"Iya, kata abang kamu Noah udah siap kok. Makanya sekalian jadiin satu aja, ntar aku sama Satya bisa sambil dampingin." jelas Gavin.


"Keren banget ya Noah, tapi sayang masih anak-anak malah milih ngurus perusahaaan, harusnya kan masih main-main sama Gathan." ucap Ghea.


"Itu pilihan dia, selagi dia seneng ngejalaninnya kenapa nggak, ya kan?" balas Gavin.


"Iya sih."


"Nanti siang main ke kantor ya sama anak-anak." ucap Gavin.


"Iyaa."


"Love You."


"Too."


________________


Babay.



Halloww kembarnya Bu Ghea nih.