
.
.
.
.
.
Keluarga kecil Ghea tengah bersiap-siap untuk jalan-jalan ke moll. Seperti biasa mereka tak pernah absen untuk berkumpul bersama, dan kali ini jatahnya para bocil maen di time zone.
"Mom jangan cantik-cantik dandannya." seru Gavin.
Dikehamilan Bu Ghea yang ke-2 ini, entah mengapa wanita itu sangat suka berdandan sangat cantik dan terkadang membuat Pak Gavin tak rela. Bukannya apa, untuk membeli sayuran didepan saja bumil itu rela berdandan lama untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Bayangkan cuma mau beli sayur didepan doang, tukang sayur keliling padahal. Hal seperti itu lah yang membuat Gavin cemburu, ia tak rela kecantikan istrinya dinikmati orang lain termasuk para pria diluaran sana.
"Yuk berangkat." seru Ghea dengan semangat.
Ia pun turun dituntun oleh kedua putranya, Gathan dan Ghavi sedangkan Gheva sudah dibawah menemani daddy nya memanasi mobil.
Gathan tumbuh menjadi sosok remaja laki-laki yang kini duduk dibangku sekolah menengah pertama. Sedangkan kedua adiknya sudah duduk dibangku esde.
Ketiganya hampir memiliki sifat yang sama, tapi yang agak melenceng adalah Gheva, sedikit tengil dan petakilan. Namun semuanya tetap sama-sama anak kesayangan Bu Ghea dan Pak Gavin.
"Daddy, mommy udah siap." seru Gathan.
"Wow mommy beautiful sekaliii!!" seru Gheva dengan heboh memuji kecantikan ibunya.
"Makasih ganteng." balas Ghea sambil menoel pipi putra bungsunya itu, yang mana membuat Gheva tersenyum malu-malu.
"Menjijikkan!" cibir Ghavi.
"Mommy Kakak ngatain Gheva, myhh." rengek Gheva meminta pertolongan mommy nya.
"Itu kenyataan." seru Ghavi.
"Mommyhhh." rengek Gheva semakin menjadi.
"Shuttt boy jangan nangis, dan Ghavi nggak boleh ngeledek adeknya okey." ucap Bu Ghea menengahi pertikaian kecil antara kedua putra kembarnya itu.
"Just kidding mom." balas Ghavi.
"Okey sekarang masuk, Gathan ditengah ya jagain adik-adik jangan sampe tawuran." seru Ghea.
"Iya Mom." balas Gathan.
Mereka pun masuk kedalam mobil dan menduduki posisi masing-masing. Saat bepergian bersama, Gathan selalu ditempatkan ditengah-tengah kedua adiknya karna biasanya kedua adiknya akan bertengkar dan membuat kekacauan.
"Nah kan kamu dandan nya cantik banget, tau gini tadi pagi aku umpetin aja alat-alat make-up kamu mom." gerutu Gavin.
"Ini udah tipis banget dad, nggak menor lagi." seru Ghea membela diri.
"Sini aku bantuin hapusin.'' seru Gavin. Pria itu sudah menarik tisu basah dan siap mengusap permukaan wajah istrinya, namun Bu Ghea terlebih dahulu menghindar.
"No! aku udah lama-lama dandan masa dihapus gitu aja, aku aja belum ketemu orang-orang loh." seru Ghea.
"Kamu dandan buat siapa?" tanya Gavin.
"Buat kamu lah." jawab Ghea.
"Yaudah dihapus aja kalo gitu, make up nya didepan aku aja diluar nggak usah make-up an." seru Gavin.
"Kamu mau istri kamu dibilang gembel gara-gara mukanya nggak kerawat? ntar aku dibilang jelek? Nggak bisa ngerawat diri? Yang ada malah makin banyak cewe yang godain kamu, dad."
Nah kan malah debat pilkada.
"Aku nggak mau kecantikan kamu diliat sama pria-pria lain, yang boleh liat cuma aku sama anak-anak aja titik." seru Gavin.
Bu Ghea tak lagi menjawab, ia malas, ia galau, ia sedih, butuh nenangin diri.
Yaelah alay bet gua nih.
"Mommy jangan sedih ya, yuk dihapus yuk make-up nya. Sini Gepa bantuin." ucap Gheva yang membuat Bu Ghea melebarkan matanya tak percaya. Putra bungsunya mendukung suaminya? padahal biasanya anak itu yang selalu ada di kubu nya.
Sebenarnya itu hanyalah trik Gheva supaya cek-cok daddy dan mommy nya selesai dan ia dapat segera bermain di time zone.
"Gheva nggak sayang mommy?" tanya Ghea dengan eskpresi dibuat sedih.
Semua anak-anak Ghea tak akan tega jika melihat ibunya sedih. Ya begitulah, mereka akan kembali luluh dengan wajah sedih yang ditampilkan Ghea.
"Tapi boy-
"Mommy cry!!" seru Gheva.
Semua anak-anak langsung menengok kearah mommy nya. Bumil itu sensitif sekali sekarang, dikit-dikit mewek mungkin hormon kehamilan.
"Mom, jangan nangis. Udah lah dad, biarin aja make-up mommy, nggak usah dihapus. Nanti biar kita yang jagain mommy supaya nggak digodain sama uncle-uncle genit." seru Gathan.
Pak Gavin menghela nafas, dan akhirnya ia mengiyakan ucapan putra sulungnya itu.
"Jangan nangis lagi, mom." seru Gavin sambil mengusap lelehan bening yang membanjiri pipi istrinya.
Sedangkan Ghavi? anak itu tak memihak kubu manapun, hanya diam tak bersuara. Sebenarnya Ia tau jika mommy nya hanya berakting, tapi satu sisi Ia tak mau membuat mommy nya bersedih. Maka dari itu ia memilih diam.
"Let's go ke mall!" seru Gheva.
__________
Mall~
"Daddy mau es krim." seru Gheva.
"Gepa mau rasa teh hijau ya."
"Gathan rasa apa?" tanya Gavin.
"Sama dad, green tea. " jawab Gathan.
"Ghavi, kamu rasa apa boy?"
"Vanila." jawabnya.
"Aku strawberry dad." seru Ghea sambil mengusap perut buncitnya.
Bu Ghea bentar lagi mo lahiran.
"Okey." balas Gavin. Pria itu langsung meluncur ke kedai es krim di mall itu, kemudian menyebutkan semua pesanan es krim istri dan anak-anaknya.
...lezat bukan~...
"Daddy nggak beli es krim?" tanya si bungsu Gheva.
"No boy, daddy lagi diet." jawab Gavin.
"Pake acara diet segala, ntar dirumah juga makanan yang ngabisin kamu." cibir Ghea.
"Habisin es krim kamu, atau aku cium disini." seru Gavin
Yaudah lah bu, mamam es krim dulu . Ntar di cup di tempat umum kan malu sendiri:)
Setelah puas bermain dan jajan makanan mengelilingi mall, mereka mampir ke toko baju terlebih dahulu mengantar Ghea membeli pakaian (dalam)
"Mau beli daleman lagi mom?" tanya Gavin.
"Iya nih udah pada sesek lagi tau." keluh Ghea.
"Ntar kamu ka langsing lagi mom." balas Gavin.
"Orang aku pengen beli model yang baru!" gerutu Ghea.
"Model gimana? yang udah bolong ya?"
"Filter dong dad, ada anak-anak juga!" seru Ghea merengut kesal.
"Mommy, Gepa juga mau beli celana dalem yang kayak punya Uncle Satya ya. Mau Tayooo!!" seru anak itu.
"Of course, kita beli satu kardus. "
"Yeayyy!!"
____________
Babay.