My Duda

My Duda
Eps 62



"Yang, buruan bangun ini udah siang aku mau mandiin Gathan." seru Ghea membangunkan Gavin.


Untuk pertama kali Ghea tidak tidur lagi setelah sholat subuh. Setelah menunaikan sholat subuh Ghea langsung menyiapkan perlengkapan untuknya dan juga untuk Gavin dan Gathan, baru setelah itu ia turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan sederhana untuk suami dan anaknya.


Kemudian setelah selesai dengan urusan dapur ia kembali ke kamar untuk membangunkan suami dan anaknya.


"Sayang bangun udah siang!" Seru Ghea, sambil melepaskan pakaian yang melekat di tubuh putranya satu persatu.


"Mommy mau main bubble boleh ya?" Ucap Gathan sambil mengangkat sebelah kakinya saat Ghea membantunya melepas celana.


"Main bubble nya besok ya, sekarang mandi dulu ini udah siang ntar Gathan terlambat masuk sekolah lagi." Ucap Ghea memberi pepenjelasan.


"Iya mommy." Balas Gathan.


Ghea kemudian mengangkat tubuh bugil Gathan dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.


"Gathan tunggu disini bentar ya, mommy bangunin daddy dulu." Ucap Ghea pada Gathan.


"Yes mommy." Balas bocah itu sambil memainkan boneka bebek berwarna kuning yang mengambang diatas air dalam bathub.


Ghea pun kembali keluar dari kamar mandi.


"Sayang buruan bangun udah pagi loh." Seru Ghea sambil menggoyang-goyangkan lengan kekar milik Gavin. Pria itu hanya menggeliat malas saat Ghea berusaha membangunkannya.


"Jam berapa sih yank?" Guman Gavin dengan suara serak khas bangun tidur.


"Udah jam 6 nih, buruan bangun." Ucap Ghea.


Mungkin kalo dirumah bunda, Ghea lah yang paling susah untuk dibangunkan tapi kini gantian Ghea yang harus bersabar membangunkan suaminya.


"I want a kiss." Ucap Gavin sambil menunjuk bibirnya.


"Buruan wake up, mandi dikamar mandi lain. Jam 6 lebih seperempat harus udah selesai, aku mau mandiin Gathan." Ucap Ghea lalu meninggalkan Gavin ke kamar mandi.


..._________________________...


"Sini-sini kalian duduk sini, biar mommy sisirin rambutnya." Seru Ghea, wanita itu baru saja menyelesaikan acara mandi paginya. Gavin dan Gathan pun duduk bersebelahan diatas kasur. Kemudian Ghea pun mulai menyisir rambut keduanya serapi mungkin, tak lupa memberi minyak rambut yang berbeda untuk keduanya (minyak rambut untuk anak dan dewasa beda ya)


Setelah itu Ghea memakaikan dasi di leher Gavin disusul dasi kecil di leher Gathan.


"Nah udah cakep nih, dad jas nya jangan lupa dipake, Gathan sini pake sepatu sama mommy." Ucap Ghea.


Jangan tanyakan dari mana Ghea bisa mengikatkan dasi untuk Gavin, hampir setiap hari Ghea melihat bundanya memakaikan dasi untuk ayah Juan. Jadi tak heran jika Ghea bisa mengikat dasi.


"Mommy nanti ikut anter Athan ke sekolah kan?" Tanya Gathan pada Ghea.


"Iya sayang, nanti mommy ikut anter kamu ke sekolah." Balas Ghea sambil mencubit pelan pipi Chubby Gathan.


"Tunggu mommy bentar ya, mommy mau ganti baju bentar, abis itu kita sarapan bareng-bareng." Ucap Ghea, kedua pria beda generasi itu hanya menganggukkan kepalanya.


Tak memakan waktu lama bagi Ghea untuk ganti baju, wanita itu keluar dari walk closet dengan outfit ke kampusnya seperti biasa.


"Rambutnya digerai aja, mom." Ucap Gavin mengingatkan.


"Tapi panas loh, ntar ribet lagi." Balas Ghea, karna biasanya wanita itu selalu mengikat rambutnya saat pergi ke kampus.


"Terserah!" Balas Gavin acuh.


"Astaga Ghe sabar ya, yuk bisa yuk." Batin Ghea.


Pada akhirnya wanita itu memilih untuk menggerai rambut miliknya, dari pada Pak Gavin ngambek ye kan.


"Udah nih, udah digerai. Ayo turun sarapan." Ajak Ghea.


"Mommy really beautiful." Ucap Gathan, seperti biasa bocil itu akan menguasai Ghea. Bocil itu sudah menggenggam jemari Ghea.


"Thank you boy, mommy nya siapa dulu dong." Balas Ghea sambil membelai wajah halus milik putranya.


"Mommy nya Athan!" jawab Gathan dengan semangat.


"Iya-iya, makasih pujiannya yaa." Balas Ghea.


Ditempat lain~


Dari semalam Satya belum keluar kamar, pagi ini adalah kesempatan bunda untuk menemui putranya.


Satya bener-bener kek perawan kalo lagi ngambek, maen nya ngurung diri dikamar.


"Abang." panggil bunda Citra saat melihat Satya baru saja turun dari kamarnya dan melewati ruang makan.


Dengan helaan nafas panjang Satya menoleh ke belakang kemudian berkata, "Iya ada apa bund?" Tanya Satya.


"Kamu nggak sarapan dulu?" Tanya Bunda Citra.


"Tya ada meeting pagi, sarapan diluar aja." jawab Satya. Bunda Citra pun menghampiri putranya yang berdiri tak jauh dari meja makan itu.


"Kamu masih marah sama bunda?" Tanya Bunda Citra sambil menatap anak laki-lakinya dengan mata berkaca-kaca.


Kini posisi Satya serba salah, disisi lain ia tak akan pernah tega jika melihat bundanya menangis disisi lain masih ada terselip rasa kesal dibenaknya.


"Nggak ada yang marah sama bunda." Ucap Satya.


"Bang, maafin bunda. Bunda tau bunda salah, bunda udah berprasangka buruk sama orang lain. Bunda nggak akan pernah ngelarang kamu suka sama siapa aja, yang terpenting dia wanita baik dan taat pada agama. Sama kayak Ghea, bunda nggak mau beda-bedain kalian." jelas bunda lirih.


"Kalo nggak taat agama?" Tanya Satya sambil mengangkat sebelah alisnya.


Wah wah Bang Sat mancing bunda nih!


"Usahain bang, buat dia taat agama. Kalo dia nggak taat agama berarti dia ninggalin Allah, Tuhannya aja ditinggalin apalagi kamu nanti." Jawab Bunda Citra.


"Hmm." Guman Satya.


"Jangan marah sama bunda ya?" Ucap Bunda Citra sambil membelai wajah Satya.


"Satya nggak marah sama bunda." Balas Satya.


"Kalo gitu ikut sarapan sama ayah sama bunda ya." Ucap Bunda Citra.


"Serius bund, Tya pagi ini ada meeting dikantor jadi nggak keburu kalo sarapan dulu." Balas Satya menjelaskan.


"Yaudah tunggu bentar bunda siapin bekal kamu! Pokoknya kamu harus sarapan jangan sampe perut kamu sakit karna telat sarapan, bunda nggak mau sampe kamu kenapa-napa. Apalagi dikantor nggak ada yang jagain kamu." Seru Bunda Citra panjang lebar sambil menyiapkan kotak makanan untuk putranya.


"Mau ngantor bang?" Ucap Ayah Juan yang baru turun dari kamar.


"Baru bangun boss?" Balas Satya dengan senyum meledek.


"Yoi." Jawab Ayah Juan.


"Pagi-pagi udah basah aja rambutnya, semalem lembur ya?" Ucap Satya.


"Tau lah pasti kamu." Balas Ayah Juan sambil mendudukan tubuhnya diatas kursi ruang makan.


"Dasar kelakuan, udah punya cucu juga, Astaga." Batin Satya menggerutu.


.


.


.


.


.


.