
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Assalamualaikum mah, pah." Panggil Gavin saat memasuki kediaman rumah kedua orang tuanya.
"Waalaikumsalam, dibelakang nak." Balas Mamah Wina. Gavin dan Ghea pun menyusul mamah Wina yang kebetulan berada dibelakang rumah.
"Ih kalian nih udah jarang main kerumah mamah mentang-mentang pengantin baru." Ucap Mamah Wina pura-pura merajuk.
"Gimana mau main, orang Ghea aja ditinggal kerja keluar kota selama seminggu mah." Ucap Ghea setelah menyalami tangan mertuanya, tak lupa papah mertua juga ya gengs.
"Kamu ini udah ada istri sama anak masih aja sibuk terus ngurusin kerjaan, vin!" Seru Mamah Wina sambil memukul lengan putranya.
"Gimana pada sehat kan keluarga?" Tanya Papah Harry pada anak dan menantunya.
"Sehat pah, alhamdulillah." jawab Ghea.
"Cucu mamah dimana? kalian tinggal, kok nggak ikut?" Tanya Mamah Wina saat ia tak mendapati keberadaan Gathan.
"Lagi main sama pamannya mah, punya temen baru dia." Jawab Gavin.
"Mah, jambu air yang disini udah pada berbuah belum sih?" Tanya Ghea pada mamah mertuanya.
"Udah pada mateng sayang, tapi cuma beberapa yang sehat, susah berbuah kalo nggak musim gini. Kenapa, kamu pengen makan jambu air?" Tanya Mamah Wina.
"Hehe iya nih, kayaknya seger kalo dimakan siang-siang gini." Ucap Ghea.
Mamah Wina terdiam sambil melirik putranya, seolah berkata 'Istrimu kenapa?'
Gavin mengendikkan bahunya, ia juga tak tau kenapa Ghea menjadi aneh seperti itu.
"Sayang kamu ada keluhan apa gitu akhir-akhir ini, barangkali?" Tanya Mamah Wina pada Ghea.
"Enggak kok mah, aman-aman aja." Jawab Ghea, wanita itu kini tengah disibukkan mengamati pohon jambu air guna menargetkan buah mana yang ingin ia ambil.
"Jangan-jangan kamu isi lagi, nak." Ucap Mamah Wina.
"Ha? isi? maksud mamah Ghea hamil?" Balas Ghea, Mamah Wina menanggapinya dengan anggukan kepala.
"Ya enggak lah mah, Ghe tau kok gejala orang hamil, ini mah perut Ghea aja yang pengen makan buah-buahan seger." Ucap Ghea dengan tawa kecil. Ya kali dikira hamil, pikir Ghea.
"Oh yaudah ayo mamah temenin ngambil Jambu nya." ajak mamah Wina, dengan antusias Ghea pun mengikuti langkah mertuanya yang hendak mengambil galah.
Kalo ga paham galah, galah tu kek tongkat panjang biasanya dari bambu buat ngambil buah dari pohonnya langsung gitu. Ditempat asli saya namanya gotek wkwkwk.
"Dad, panjatin pohonnya dong." Pinta Ghea pada suaminya.
"Kok manjat sih mom, kan udah ada galahnya." Ucap Gavin.
"Tapi aku pengennya kamu yang manjat, dad." Ucap Ghea.
"Pohonnya tinggi loh mom." Ucap Gavin berusaha menghindari tugas memanjat dari istrinya.
"Dad." Rengek Ghea dengan mata berkaca-kaca sudah bersiap untuk mewek.
"Iya-iya aku panjatin pohonnya, udah jangan nangis." Ucap Gavin, seketika acara mewek Ghea pun di pending. Ghea nggak jadi nanges.
Mamah Wina dan Papah Harry hanya tersenyum melihat interaksi antara anak dan menantunya. Sungguh uwuuuw.
"Semangat manjatnya dad!'' Ucap Ghea sambil mengepalkan kedua tangannya diudara dan bertujuan untuk menyemangati suaminya yang akan memanjat pohon.
Berbekalkan tekad dan skill memanjat yang pas-pasan, akhirnya Gavin mulai memanjat pohon jambu air tersebut. Ukurannya pohon yang lumayan tinggi tentu hal itu menyusahkan dirinya untuk menggapai buah jambu yang ditunjuk Ghea tadi.
"Yang ini mom?" Seru Gavin sambil memperlihatkan buah jambu ditangannya.
"Bukan bukan, yang disampingnya dad. " Seru Ghea.
"Yang ini?"
"Iya-iya itu, ambil dad!!!" Pekik Ghea dengan girang. Gavin pun mengambil segerombolan buah jambu itu.
"Bawa turun aja, dad." Jawab Ghea.
Dengan perlahan Gavin menuruni pohon jambu itu, nggak ada adegan digigit semut karna pohonnya dirawat supaya anti hama, termasuk semut kecil sekalipun.
Hebat nya mamah Wina!
"Nih mom." Ucap Gavin sambil menyerahkan buah jambu air pada Ghea.
"Yeayyy dapet buahnya!" Seru Ghea senang.
"Astaga kalian ini manjat pohon jambu aja udah kayak lomba panjat pinang tau nggak, hebohnya sampe kedengeran dirumah tetangga pasti nih." Ucap Mamah Wina.
"Hehe abisnya nggak sabar mah, yuk makan!" Seru Ghea.
"Rujak enak mah." Ucap Gavin.
"Kamu pengen ngerujak, nak?" Tanya Mamah Wina.
"Ghe dimakan langsung aja mah, Tapi kalo mau dirujak juga boleh kok." Ucap Ghea.
"Kalian tunggu sini ya, biar mamah siapin bumbu rujaknya." Ucap Mamah Wina.
..._____________________________...
"Mommyyyyyy Daddyyyyyy!!!!" Teriak Gathan sambil berlari menghampiri kedua orang tuanya.
Ghea yang belum ada ancang-ancang sedikit terhuyung kebelakang saat tubuh Gathan menubruknya dari depan. Bocah tampan itu memeluk tubuh Ghea dengan erat, ada apa gerangan? Apakah Satya berulah?
"Anak mommy kenapa hm?" Tanya Ghea, wanita itu masih sibuk mengunyah jambu air yang baru dipetik oleh suaminya dari belakang rumah mamah Wina tadi.
"Mommy Athan mau abang mom!" Rengek Gathan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai.
"Mau abang gimana sih sayang?" Tanya Ghea dengan bingung, wanita itu mengangkat tubuh kecil Gathan dan membawanya duduk diatas kursi.
Kini giliran Gavin yang memangku tubuh putranya.
"Anak daddy kenapa hm?" Tanya Gavin pada putra kecilnya.
"Athan mahu kakak dad, mau kakak." Rengek Gathan, bocah itu nampak memukul-mukul dada bapaknya.
Ni bocil kenapa dah?
"Kok minta kakak gimana ceritanya, kan Gathan anak pertama. Harusnya minta adik dong." Ucap Gavin.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam."
"Bang, lu kenape ngos-ngosan gitu?" Tanya Ghea heran menatap abangnya yang terlihat ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Si bocil mane?" Tanya Satya.
"Itu sama bapaknya." Jawab Ghea.
"Eh nak Satya juga disini, nganterin Gathan ya? Loh kok ngos-ngosan gitu, sini-sini minum dulu nih mamah buat es kelapa muda, seger banget." Ucap Mamah Wina.
"Nah kebetulan banget mamah mertua Ghea, Satya aus banget." Balas Satya, pria itu ikut bergabung kemudian mengambil gelas dan meneguk es kelapa muda bikinan mamah Wina.
"Permisi papah mertua Ghea, Satya mau minum dulu hehe." Ucap Satya meminta ijin kepada Papah Harry.
Hadeuh aneh-aneh lu Sat. Mau manggil tante sama om tapi kan mereka udah jadi anggota keluarga, mau manggil mamah sama papah doang kan Satya bukan anak nya.
Yaudah deh Mamah/papah mertua Ghea aja.
"Silahkan-silahkan, habiskan juga nggak papa nak Satya. " Balas Papah Harry dengan ramah.
"Ahhhh nikmat mana yang engkau dustakan Ya Allah." Guman Satya.
"Anak lu buruan bikinin adek noh." Seru Satya kepada Gavin dan Ghea, setelah mengguyur kerongkongannya dengan es kalapa tadi.
Gathan pengen punya kakak apa adik?
.
.
.
.
.
.