My Duda

My Duda
Eps 93



.


.


.


.


.


Hi i'm back yuhuuu


jan pada julid ye.


_________


Malam ini Ghea benar-benar membiarkan Gathan tidur dikamarnya. Namun tak semulus itu bagi Gathan meluncur ke alam mimpi.


Tepat jam 7 malam tadi, bocah itu kembali mengeluh kedinginan. Saat Ghea mengecek suhu tubuh putranya, benar saja ternyata bocah itu deman dengan tubuh lumayan panas.


Sebelum tidur, Ghea mengompres Gathan terlebih dahulu guna mengurangi rasa panas ditubuh anak itu dan supaya Gathan bisa tidur dengan nyaman.


Ghea emak yang gercep ya bund.


"Sekarang bobo ya?" Ucap Ghea usai memberikan obat sirup kepada Gathan.


"Iya mommy. " Balas Gathan lemas. Bocah itu mengambil posisi ditengah-tengah kasur lebih tepatnya diantara kedua orang tuanya, sambil memeluk tubuh Ghea dan menjadikan lengan mommynya itu menjadi bantalan tidur nya.


Dengan sabar Ghea mengusap-usap punggung kecil milik putranya itu hingga Gathan terlelap dalam dekapannya.


Sedangkan Pak Gavin, pria itu masih belum tidur dan memilih menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang sambil memperhatikan istrinya yang tengah menidurkan putranya.


"Daddy nggak tidur?" Tanya Ghea dengan suara pelan takut mengusik tidur Gathan.


"Hm, kamu juga belum tidur mom." balas Gavin sambil mengusap puncak kepala Ghea dengan lembut.


"Belum ngantuk, dad." Balas Ghea.


"Sini deh geseran ketengah." Ucap Gavin meminta Ghea agar bergeser ke tengah.


Ghea sedikit menggeser tubuhnya ke bagian tengah, dengan perlahan sambil mengangkat tubuh Gathan yang ada dalam dekapannya.


Dan seperti pada malem-malem sebelumnya, Gavin akan tidur dengan memeluk tubuh Ghea dari belakang jika ada Gathan diantara mereka.


"Masih belum bisa tidur, hm?" Tanya Gavin dengan kedua tangan yang sudah melingkar cantik di pinggang ramping milik Ghea.


"Masih belum dad. " Balas Ghea.


"Yaudah pejamin mata kamu, abis itu berdoa, terus tidur." Ucap Gavin masih dengan tangan yang sibuk mengusap perut Ghea.


"Heum." Balas Ghea. Wanita itu melakukan hal yang diinstruksikan Gavin tadi, namun entah kenapa ada yang membuat dirinya tak nyaman dan merasa ada yang kurang. Tapi apa? wanita itu terus memutar otaknya untuk berpikir.


"Uhh,, pegel banget tangan mommy sayang." Guman Ghea lirih sambil mengusap tubuh Gathan yang meringkuk dalam dekapannya.


Dengan sigap Gavin langsung mengambil tindakan cepat, ia memindahkan kepala Gathan diatas bantal sendiri, tentunya secara perlahan dan penuh kelembutan.


"Sini aku pijitin kalo pegel tangannya, mom." Ucap Gavin sembari meraih lengan Ghea yang digunakan tidur Gathan tadi.


"Nggak papa dad?" Tanya Ghea.


"Nggak papa sayang." Balas Gavin yang kini mulai memijat pelan lengan Ghea.


"Udah enakan dad." Ucap Ghea.


"Yakin udah enakan?" Tanya Gavin, Ghea mengangguk sebagai jawaban.


Ghea menepuk kasur disebelahnya menyuruh Gavin agar ikut berbaring disampingnya. Setelah Gavin membaringkan tubuhnya disamping Ghea, Ghea langsung berbalik badan menghadap suaminya dengan kedua tangannya yang mengalung pada leher Gavin.


"Kenapa hm?" Tanya Gavin lembut.


"Mau ke kamar mandi?" Ghea menggeleng.


"Mau minum?" Ghea masih menggeleng.


"Mau maem lagi?" Dengan ragu Ghea menganggukkan kepala nya dengan wajah yang disembunyikan pada dada bidang Gavin.


"Kayaknya anak daddy lagi pengen maem tengah malem gini ya." Ucap Gavin sedikit terkekeh kecil.


"Mau makan apa hm?" Tanya Gavin.


"Mie dad." Jawab Ghea sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.


"Mie?" Guman Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Boleh yaaa." Rengek Ghea manja.


"Nggak boleh." tolak Gavin dengan tegas.


Ghea nampak memberontak dalam dekapan Gavin karna keinginannya tak dipenuhi. Sedangkan Gavin, pria itu berusaha semaksimal mungkin mengunci pergerakan Ghea agar tidak menimbulkan gerakan yang dapat mengganggu tidur Gathan.


"Jangan gerak-gerak sayang, Gathan baru tidur loh." Ucap Gavin dengan lembut.


"Tapi mau mie dad." Rengek Ghea penuh permohonan .


"Yang lain aja ya, ntar aku bikinin." Ucap Gavin berusaha bernegosiasi dengan keinginan istrinya. Ia khawatir jika Ghea masih sering mengonsumsi makanan instan akan berdampak pada janin yang Ghea kandung.


"Sekali ini aja dad, please." mohon Ghea.


Diamnya Ghea malah membuat Gavin cemas, entah apa atraksi yang akan dilakukan bumil itu.


"Astaga sayang, kenapa digigit dada aku." rintih Gavin kesakitan kala Ghea menancapkan sepasang gigi taringnya di dadanya.


"Mau ngapain, madep sini coba." Seru Gavin menahan tubuh Ghea yang ingin berbalik membelakangi Gavin.


"Apa, mau ngapain? mau ngambek?" Ucap Gavin.


"Nggak." Balas Ghea.


"Makan yang lain ya, aku ambilin pudding mau?" Tawar Gavin.


"Maunya mie." Balas Ghea.


"Mie apa?" Tanya Gavin.


Ghea mendongak menatap Gavin dengan binar senang. Suaminya akan menuruti keinginan nya.


"Beneran boleh ya? Mau yang mie goreng sambel ijo." Seru Ghea dengan antusias.


"Ini yang terakhir ya, besok-besok udah nggak boleh makan mie instan lagi sampe dedeknya keluar." Ucap Gavin memperingati.


"Heum." Balas Ghea sambil menganggukkan kepalanya dengan patuh.


"Yaudah aku turun dulu, kamu tunggu disini aku buatin mie nya dulu ya." Ucap Gavin kemudian mengecup kening Ghea.


"Ikut." Ucap Ghea.


"Disini aja!"


Gavin segera turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan mie untuk Ghea. Aneh-aneh emang Si Ghea.


Saat Gavin tengah disibukkan membuat mie untuk Ghea di dapur, pria itu dikejutkan dengan keberadaan sepasang tangan cantik yang melingkar di perutnya. Siapa lagi kalo bukan bini nya, yakali mbak kunti kan serem.


"Udah dibilangin jangan ikut turun juga, ngeyel banget." Omel Gavin.


"Hm." Balas Ghea.


"Hm?"


"Hug me." Pinta Ghea, Gavin pun membalikkan tubuhnya kemudian menarik tubuh Ghea kedalam dekapannya.


"Kenapa nggak pake jaket hm, ini juga kenapa nggak pake celana panjang. Ntar masuk angin kamu." Seru Gavin sambil menepuk pelan paha Ghea yang hanya dibalut hotpants diatas lutut.


"Ini udah peluk daddy." Balas Ghea sambil menggeratkan pelukannya pada tubuh Gavin.


"Ayo makan, udah mateng mie nya." Ajak Gavin.


"Ayok!!!"


"Mommyh....


Terlihat Gathan diatas tangga dengan selimut yang membungkus tubuhnya, lebih tepatnya membelit tak beraturan. Bocah itu nampaknya terperangkap di dalam selimut tebal itu.


Saat menuruni tangga bocah itu terlihat oleng karna kakinya tak sengaja menginjak selimut yang ia bawa.


"Astaga hati-hati sayang, kenapa bawa selimut gini sih?" Tanya Ghea menghampiri putranya.


''Sini mommy bantuin lepas" Ucap Ghea, namun Gathan tetap mempertahankan selimutnya agar tak lepas dari tubuhnya.


Namanya juga tenaga bocil, masih kalah lah sama tenaga orang dewasa. Saat Ghea berhasil melepas selimut yang membungkus tubuh Gathan, ia tak habis pikir dan tak bisa menahan tawa dengan tingkah putranya itu.


"Itu kenapa burung kecilnya nggak dibungkus sih? lucu banget astaga!!" Seru Ghea dengan tawa terbahak-bahak.


"Daddy!" Rengek Gathan sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik tubuh Daddy nya


"Astaga kalian ini." Guman Gavin.


"Gathan sini dong, mommy mau liat burungnya Gathan." Seru Ghea dengan jahilnya.


"Ndak mahu!" Tolak Gathan sambil menutup burung kecilnya menggunakan kedua tangan mungilnya.


"Sini-sini." Seru Ghea lagi, wanita itu masih sibuk menjahili anaknya.


"Daddy, mommy dad." Rengek Gathan mengadu pada Gavin.


Ghea tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah lucu putranya itu.


"Lagian kenapa Gathan nggak pake celana? celananya kemana hm?" Tanya Gavin sambil mengangkat tubuh Gathan.


"Gathan abis pipis dad, tapi celana Gathan kena air. Gathan ndak bisa ambil celana, lemari nya tinggi dad." Jawab anak itu.


"Sini ambil celana sama mommy." Ucap Ghea mencoba mengambil alih tubuh Gathan dari suaminya.


"Sama daddy aja." Balas bocah itu.


"Kenapa, biasanya juga sama mommy." Ucap Ghea sambil menabok gemas pantaČ› gemoy milik Gathan yang polos tanpa penutup.


"Mommy Aaaaaa, daddy ayo pake celana dad." Rengej Gathan menghindari sentuhan Ghea yang membuatnya malu.


"Anak mommy udah gede ternyata." Ucap Ghea sambil mengusap lembut kepala putranya.


____________


eps selanjutnya ada part bang Sat yuhuu pasti seru kan.