My Duda

My Duda
MD Pt 2 (Gathan)



Alea, gadis itu memalingkan wajahnya saat tau tatapan Gathan tak berpaling dari wajahnya. Masih dalam posisi yang sama yaitu salah satu tangan Gathan yang menahan pinggang Alea.


"Apa?"


"Ya apa!" Sewot Alea ngegas.


"Sehat kamu?" Seru Gathan.


"Sehat lah, emang kayak situ sinting! Lepas ah!" Decak Alea sambil mengguncangkan tubuhnya guna melepaskan rengkuhan lengan Gathan pada pinggangnya.


"Kamu seminggu lebih nggak ketemu sama saya banyak perubahan, ya." Ucap Gathan sambil menelisik wajah Alea dengan intens.


"Bodo amat!" Alea mengibas rambutnya yang terurai hingga tak sengaja mengenai wajah Gathan dan membuat laki-laki itu memejamkan matanya.


"Panas banget, huh." Alea kemudian menyeret koper berwarna pink kepunyaan menjauhi Gathan.


"Tunggu." Seru Gathan. Laki-laki bingung, ingin mengejar Alea namun adik-adiknya pasti sudah menunggunya diluar. Gathan akhirnya memilih menghubungi salah satu adiknya, dan mengatakan bahwa ia masih ada urusan, dan berkata mereka bisa pulang terlebih dahulu.


Tapi kenapa Gathan ingin mengejar Alea? Bukankah Gathan pernah berkata kalau....


Saat Gathan hendak menghampiri Alea kembali, ia melihat gadis itu sudah bersama seorang laki-laki. Interaksi keduanya terlihat sangat dekat, membuat Gathan menatap keduanya dengan tatapan tanda tanya.


"Kamu yakin nggak mau singgah disini beberapa hari? Yakin mau langsung terbang lagi, emang nggak capek?" Ujar Alea sambil mengusap dahi laki-laki tesebut yang nampak mengeluarkan peluh.


"No sweety. Kalo buat kamu, apapun aku lakuin. Bahkan bolak balik ke luar negeri sekalipun." Jawab laki-laki tersebut.


"Ih sweet banget sih, makin lop deh." Kata Alea sambil memukul dada bidang laki-laki tersebut dengan malu-malu.


Disebrang sana ada Gathan yang menatap mereka dengan perasaan aneh, sangat aneh. Padahal ia sendiri yang berkata kepada Alea kalau hubungan mereka adalah orang asing yang tidak sengaja bertemu. Tapi kenapa Gathan merasa tak suka jika Alea dekat dengan laki-laki lain?


Ingat Gathan, kamu nggak ada hak!


Akhirnya Gathan mengurungkan niatnya untuk menemui Alea. Biarlah ini menjadi pertemuan terakhir yang kurang mengenakan. Laki-laki berbalik badan dan melangkahkan kakinya menjauh.


"Sebel banget sih! Dasar beruang kutub nggak peka!" Dumel Alea sambil menghentak-hentakan kakinya ke lantai.


Alea menghela nafas, "Tuh penghuni kutub!" Seru Alea sambil menunjuk tubuh Gathan yang bergerak menjauh.


"Crush kamu ya?" Alea hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


Laki-laki bernama Jack itu nampak diam memikirkan sesuatu. Selama ini ia lah yang selalu memberikan ilmu kepada Alea untuk memikat lawan jenis. Saat semua ilmu sudah ia turunkan kepada Alea, tenyata tak ada satupun yang mempan, bahkan cara yang terakhir ini gagal total. Padahal Jack bela-belain ke luar negeri untuk menyempurnakan rencana nya dan dang sepupu. Baru diawal tapi sudah gagal saja.


"Gimana, Jack aaaaaaa!!!" Rengek Alea frustasi.


Mau jual mahal ataupun banting harga sekalipun, Gathan sepertinya tak sedikitpun tertarik dengannya, pikir Alea.


"Calm sweety, aku juga bingung. Aneh aja ada cowok ngacuhin kamu yang tampangnya cetar membahana gini, dia straight kan?" Tanya Jack ragu.


"Heh dia itu lurus, cuma susah dicairin aja. Lagian ini tanah air tercinta, bukan negara kamu yang isinya cowok pada nyosor sana sini!" Omel Alea.


"Hm, so kamu sekarang maunya gimana. Aku udah kehabisan ide soalnya." Kata Jack.


"Taudeh, aku Mau ikut kamu aja sekalian liburan. Stress banget aku disini!" Jawab Alea mendengus kesal.


"Serius?" Tanya Jack memastikan. Alea segera menganggukkan kepalanya dengan yakin, "Toh tiketnya udah kebeli dua, ya kali mau aku buang gitu aja."


"Uncle, aunty udah kamu kabarin kan?"


"Ih iya udah, bawel banget sih kamu!" Decak Alea sambil mengapit lengan sepupunya dan meninggalkan area itu.


"Masih sama, cute banget sih." Seru Jack sambil mengacak rambut Alea dengan gemas.


Disudut sana ada sepasang mata yang memperhatikan instruksi saudara sepupu tersebut. Ya, itu adalah Gathan. Laki-laki itu menghela nafas sebelum benar-benar meninggalkan area bandara.


___________


TBC