
PROLOG
Mataku hampir terlelap, namun sadarku dipaksa kembali ketika suara-suara itu lambat laun menyentuh gendang telingaku.
Kepalaku sudah berada di bawah selimut, bahkan bantal pun sudah berada di atasnya tapi suara itu malah semakin mencuat, sialan! **** itu kembali melakukan aktifitas biadabnya di rumah ini, apa tidak ada tempat lain? Bahkan hotel bintang lima bisa ia beli dalam waktu sekejap.
"Arrgghh" aku menggeram, kulempar asal seluruh benda yang tadinya kulekatkan pada tubuhku sampai berantakan tak beraturan.
Aku turun dari ranjangku lalu meraih jaket yang menggantung di pintu, telingaku akan kotor kalau hanya berdiam diri di tempat ini.
"Non mau kemana?" tanya salah satu asisten rumah tangga yang melihat pergerakan cepatku menuruni anak tangga.
Aku tak menjawab.
"Non jangan kemana-mana, nanti tuan.."
"Apa???" gertakku
"Tuan bilang ...."
"Terus gue harus diem aja, ngeliat dia bersetubuh dengan pelacur di rumah ini? Lo gila?" Amukku, lalu kembali melanjutkan langkah besarku.
Aku menarik nafas panjang ketika berhasil duduk di jok kemudi. Aku menyalakan mesin mobil lalu sesekali melirik ke kaca spion, ternyata wanita hampir 40 tahunan itu berlari kecil mengejarku, bukankah sia-sia? Tidak mudah menyerah, itu bagus tapi aku tak perduli. Aku mempercepat laju mobilku, bersamaan dengan rasa sesakku yang perlahan menghilang.
Alea Noveandra, namaku. Satu-satunya hal yang masih bisa aku banggakan dari diriku. Bukan karena arti dari namanya, tapi dari siapa yang memberikannya.
Aku tak pernah melihat sosok pemberi namaku, pria itu bilang aku lah penyebab dari kematiannya. Apa itu sebab dari selama ini ia membenciku?
"Daddy!"
"Sudah kubilang panggil sebutan itu jika di depan orang lain saja" amuknya
"Tapi kenapa? Daddy kan ...."
Pria itu mencengkram daguku "Aku bukan daddy mu, jangan bermimpi!!!" tegasnya dengan tatapan menusuk.
"Alea??" seseorang memanggilku.
Aku mendongak, melihat siapa yang sekarang berada di depanku. Aku tersenyum, bukan karena anak laki-laki itu, tapi dengan beberapa benda manis kesukaanku yang berada di telapak tangannya. Tanpa bertanya aku hendak mengambil alihnya, namun lengannya malah dikepal, membuatku melenguh.
Punggung lengan anak itu menyentuh pipiku, membuat bekas tangisku tak lagi tergambar. "Nih" dia kembali menyodorkan permennya, aku pun kembali tersenyum.
Aku segera tersadar dari tidur singkatku. Kulirik benda yang melingkar pada lenganku, ternyata sekarang sudah hampir tengah malam. Sudah 4 jam lebih aku meninggalkan rumah, mungkin wanita jalang itu sudah kembali ke habitatnya.
"Aaaakkkhhh"
Aku mengurungkan niat untuk memacukan mobil, barusan seperti suara teriakan, apa aku salah dengar?
Aku mengedarkan pandanganku, gelap! hanya lampu dari mobilku yang menjadi penerang di tempat ini.
Oke, mungkin hanya halusinasi.
"Aakhh hiks hiksss"
Hampir saja aku kembali menginjak pedal gas mobilku, tapi rintihan itu kembali kudengar, semakin jelas. Ada apa ini? di tempat seperti ini? sangat sepi.
Dengan sangat waspada dan penuh kehati-hatian aku pun keluar dari mobil lalu mulai mengikuti arah suara. Semakin aku mendekat, suara itu semakin jelas, dan ternyata suara rintihan penuh kepedihan itu berasal dari sebuah gubuk tak berpenghuni. Sedang apa dia disini?
Apa wanita ini korban pemujaan setan yang dilakukan orangtuanya? ataukah memang sedang menjadi santapan jin yang sedang kelaparan?
Tunggu, itu? dia tak sendiri. Sangkaanku benar, wanita itu korban dari setan. Setan yang lebih kejam dari setan yang sebenarnya. Setan yang berasal dari Pria busuk macam ayahku, ah tidak. Aku tak punya ayah, bahkan pria itu tak pernah mengakuiku. Lalu apa alasanku untuk tetap menganggapnya sebagai ayah, ah Daddy, cuih
Tidak, pria ini lebih *** dari sosok ANGGARA PUTRA. Bahkan pria ini menyalurkan hasratnya pada wanita yang tak mau menerimanya, memaksa, aku benci itu.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? haruskah aku membantu wanita itu? atau pergi saja lalu melupakannya begitu saja? bisakah?
Cek di karya aku, ya! Jangan lupa follow, like, dan comment😉