My Cold Senior

My Cold Senior
Pasti Mimpi



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Mikaela mengerjapkan matanya yang sudah terpapar sinar matahari dari sela jendela. Ia meregangkan otot tangan yang terhubung sampai punggungnya



Pergerakannya terhenti ketika tangannya menyentuh sesuatu yang ada di sampingnya. Peelahan Mikaela membuka matanya yang masih menutup malas



"Aaak.. " Mikaela segera membungkam mulutnya sendiri, atau manusia yang masih pulas itu akan segera bangun karena mendengar teriakannya



Mikaela menekan kuat dada nya yang sudah seperti akan meledak detik ini juga. Kenapa ia bisa tertidur di kamar orang lain seperti ini? apalagi kedapatan seorang pria yang sedang bertelanjang dada tidur tepat di sampingnya, bahkan sangat dekat



Sekali lagi pergerakannya terhenti, ada yang aneh dari tubuhnya. Kedua mata Mikaela membulat sempurna ketika menyadari pakaiannya saat ini. Ia memakai kemeja putih tanpa dalaman, ya punya siapa lagi kalau bukan Arva?



Mikaela memeluk dirinya sendiri, ia menekan kuat matanya mencoba mengingat kejadian semalam



Kedua tangan Mikaela segera menyentuh bibirnya, ketika ingat bahwa semalam ia mencium Melvin. Seorang Mikaela berciuman di tempat umum? apalagi ia sendiri yang memulainya duluan. Mikaela mengusap wajahnya kasar, kalau saja bermuka dua itu bukan hanya peribahasa maka saat inu ia sangat ingin memilikinya



"Ahw" ringis Mikaela pelan ketika merasakan sakit pada intinya "Gak mungkin" gumamnya tak terima



"Pasti mimpi" yakinnya. Kemudian gadis itu melirik ke arah pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Keadaan pria itu sudah sangat menjadi bukti yang kuat tai ter-elakkan



Mikaela menjambak kasar rambutnya "Aku bisa gila" keluhnya. Perasaan ingin marah, bercampur dengan ingin menangis sekeras-kerasnya



Mikaela mengatur napasnya, ini bukan waktu yang tepat untuk mengeluh. Ia akan memikirkan jalan keluarnya setelah ini







Perlahan Mikaela berusaha menyingkirkan tangan Arva yang berada di atas perutnya dengan hati-hati agar dapat melarikan diri dan cukup untuk tak menampakkan dirinya lagi setelah ini



Niat hanyalah sekedar niat, tangan itu menahan diri untuk tak bisa disingkirkan dengan baik-baik. Mikaela melirik ke tempat dimana pemilik tangan itu berada



"Morning" sapa Arva dengan suara serak, suara khas orang yang baru bangun tidur.



Mikaela tak bergeming, lalu selang beberapa detik gadis itu segera menarik selimut untuk menyembunyikan tubuhnya



Hening



Bahkan pria itu tak memberi komentar apapun atas kelakuannya. Perlahan Mikaela membuka sedikit celah untuk melihat situasi dan kondisi yang ada di luar selimut tebalnya



Terpampang nyata Arva yang sedang menyangga kepala dengan satu tangannya, setia menunggu gadis yang sedang berusaha menutupi rasa malu nya



Glek


Mikaela menelan salivanya berat. Pria itu menahan selimut yang akan ia tarik kembali



"A-aku mau .." Mikaela menggantung kalimatnya, ia sendiri blank dengan kegiatan rutinnya yang akan ia pakai untuk bisa terlepas dari belenggu ini



Mikaela melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi



"Aku mau mandi, udah telat" ucap Mikaela memberi alasan yang ternyata masih mendapat cekalan dari pria itu



"Hari ini lo gak usah masuk" putus Arva



Mikaela mengerutkan keningnya tak setuju "Gue yakin lo masih sakit" jelas Arva



Mikaela kembali menutup rapat mulutnya ketika mendengar penuturan pria itu, seolah mengingatkan kembali pada keadaannya saat ini



Arva mengelus puncak kepala Mikaela yang masih bungkam tak berkomentar "Satu lagi.." lanjutnya "Gue gak mau lo ketemu sama Melvin lagi" peringatnya



"Kenapa kita bisa ngelakuin ini?" tanya Mikaela yang masih tak bisa menerima kenyataan



"Walaupun gue bisa begini sejak awal, gue gak ngelakuin itu kalau tanpa persetujuan lo"



Mikaela bangkit dari kasurnya dengan kedua tangan yang menyilang menutupi dada membusungnya lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai



Arva segera bangkit dari kasurnya lalu menghalangi jalan keluar dari kamarnya



"Aaaaaaakkkk" teriak Mikaela menutup kuat matanya dengan kedua tangannya, membuat pakaian yang sudah dipungutinya barusan kembali berserakan



Arva melihat keadaan dirinya yang membuat wanita itu tak mau melihat lalu mendengus. Bahkan ia masih pakai boxer di bagian bawahnya, kenapa seperti melihat orang telanjang? walaupun harusnya biasa saja, bukannya sudah merasakan kegagahannya??



Dengan berat hati Arva ikut menyilangkan tangan berototnya untuk menghalangi keindahan dada miliknya yang digilai banyak wanita. Bukan ketakutan seperti ini, aneh



Seketika ada sesuatu yang mengalihkan fokusnya ketika Mikaela lupa menyimpan tangannya pada posisi awal



Kemeja yang dipakai Mikaela dapat sedikit memperlihatkan benda yang ada di baliknya.




Pandangannya meremang, Pria itu mulai merasakan kembali hal yang sudah tersalurkan semalam.



"Eghmm"


Arva berdeham, ia memaksa mata nakal yang berkesempatan itu untuk menyudahi peruntungannya



Arva menggeser tubuhnya yang menghalangi pintu untuk memberi Mikaela jalan sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah asalkan pada selain wanita itu



Mikaela terkesiap ketika tubuhnya terangkat ketika ingin melewati pria itu.



"Jangan macem-macem" peringat Mikaela sambil menutupi bagian atasnya



"Gue gak tega liat lo jalan sambil nahan sakit" tutur Arva sambio melanjutkan langkahnya



Kalimat yang amat sangat sederhana namun berhasip membuat wajah Mikaela memanas, mungkin warna kulit wajahnya kini sudah seperti tomat busuk



________________________



Vanya mondar-mandir resah, ia tak menemukan Arva di kelas. Itu berarti hari ini Arva gak masuk



Wanita seksi ini dapat kabar bahwa ada tragedi baku hantam setelah dirinya pergi "Gue samperin aja deh" yakinnya membuat keputusan



"Kemana beb?" tahan Rendra mencekal lengannya



"Jangan berani sentuh gue" protes Vanya menepis lengan pria itu



"Kayaknya gue harus ingetin lo lagi.."



"Cukup" potong Vanya



"Mending lo jauh-jauh dari hadapan gue! enek tau gak?"



Rendra manggut-manggut mengerti "Kalo telat PMS kabarin ya, gue bakal tanggung jawab" bisik Rendra menampilkan senyum evil nya



Vanya menggertakkan gigi nya "Itu gak akan terjadi" sangkalnya. Penuturan pria itu menambah hancur mood nya.



Kalau Melvin habis dipukuli oleh Arva lalu gadis itu? efek obat yang ia campurkan kemarin, gadis itu menyalurkannya dengan siapa?? Vanya kembali gelisah



________________________



Rani melihat bangku kosong yang ada di sampingnya. "Apa peduli gue? mau masuk kek mau enggak kek, bukan urusan gue" batinnya



Semuanya sudah jelas, ia tak cukup mengenal gadis itu. Mungkin ia terlalu cepat mengambil keputusan, tak seharusnya ia menilai orang hanya dari tampang. Tampang polos gak ngejamin hatinya suci kan? bahkan bisa lebih liar dari sekedar dirinya yang suka berperilaku seenaknya



"Ran.." sapa Melvin menghampiri kelasnya yabg sudah kosong



"Lo masuk?" ucapnya basa-basi



"Cuman luka dikit kok" jawab Melvin



"Emm.."



"Mikaela?" tebak Rani



"Dia gak masuk" lanjutnya tanpa menunggu lawan bicaranya membenarkan tebakannya. Lagian siapa lagi? pria ini kan hanya perduli gadis so polos itu



"Kalo gak ada bahasan lagi gue pulang ya, ada janji" pamit Rani



"Ran.." panggil Melvin membuat gadis itu menghentikan langkahnya



"Apa yang lo liat belum tentu kebenarannya" lanjutnya.



Rani kembali melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kembali. Benar kan? pria itu masih berusaha untuk menyelamatkan Mikaela. right ! just she is one



•


•


•


♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡


Like Like Like


Comment Comment Comment


♡♡♡♡




gw spam nihh.. seneng kannn?? senengin Author juga dongggggg..


spam like dan komentar!! dan follow instagramnya 👉@Lovelyliy_👈