My Cold Senior

My Cold Senior
Menenangkan



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



Mikaela mengerjapkan matanya, rasanya malam ini tidurnya sangat nyenyak, tak ada lagi mimpi buruk, tak ada lagi yang mengganggu pikirannya hanya untuk membuatnya bangun di tengah malam. Sangat damai dan tenang



Deg


Mikaela tertegun dengan apa yang dilihatnya saat ini, sosok pria yang masih lelap dalam tidurnya. Mikaela menghembuskan nafasnya lega lalu kedua ujung bibirnya melebar, semua ini nyata. Mulai sekarang ia sudah menemukan penawar kegelisahan yang sejak lama bersarang, dan semua akan bergantu menjadi kebahagiaan, hanya itu. Selamanya, benar kan?



Ia fikir malam pertamanya akan menjadi malam yang melelahkan, tapi pria itu malah memberinya malam yang menenangkan. "Aku mohon, biarkan pria ini terus bersamaku seumur hidupku" batin Mikaela, mengingat jalan penuh liku yang sudah ia lewati untuk sampai ke tahap ini





"Aku akan terus bersamamu" sahut Arva yang ternyata sudah membalas tatapnya.



Mikaela segera mengerjapkan matanya "Kamu bangun?" tanyanya



Arva mengangguk



"Sejak kapan?"



"Sejak kamu liatin aku kayak gitu, sampe lupa ngedip kayaknya" goda Arva



"Enggak kok, lagian aku gak bilang apapun"



"Tapi aku tau kalo hati kamu lagi berasenandung"



"Bersenandung apaan? sok tau ya"



"Aku bisa baca dari mata kamu, sudah lah jangan pura-pura, kita sudah menikah, masih mau berbohong?"



"Aku eng.."



"Hemm apa? kenapa gak diterusin?"



Mikaela segera menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya yang sudah malu karena tertangkap basah



"Ciee jatuh cinta ya buk" goda Arva sambil tertawa bangga, ia akhirnya memiliki hati beserta si pemilik hati itu sepenuhnya. Paket komplit



Mikaela mengintip sedikit, sejak kapan ia mulai menyukai tawa itu?



"Jangan mengintip" ujar Arva yang lagi tau dengan sikap diam-diam wanitanya itu



Mikaela menampilkan wajahnya kembali, ia tak usah menutupinya lagi, toh ia memang sudah menggilai pria itu, bahkan dengan gila nya takdir membawa pria itu dalam kehidupannya seperti ini





Perlahan tangan Mikaela menyentuh kulit wajah Arva, lalu telunjuknya diarahkan pada area yang tidak rata di daerah pipi nya. Ya, lesung pipi milik Arva menarik perhatiannya sejak tadi



"Aku suka ini" ungkap Mikaela, ia mengingat perkataan Nayla kemarin, tawa Arva memang bagus, bahkan ia menyadarinya sejak awal, dan saat ini ia ingin memilikinya sendirian. Egois bukan?



"Aku juga suka" sahut Arva sambil ikut menyentuh wajah Mikaela



"Tapi aku gak punya lesung pipi kayak kamu"



Arva mengangguk "Memang, tapi melihat senyummu membuat lesung pipi yang ada padaku ini terlihat"



"Hemm, kenapa bisa?"



"Karena aku bisa senyum setelah menemukan kamu"



Mikaela diam tak berkutik, mendengar penuturan itu membuat jantungnya sudah berdebar tak karuan.



"Dan karena kamu suka, maka aku tidak akan memperlihatkannya pada siapapun lagi selain padamu saja" tutur Arva, membuat Mikaela tak bisa menyembunyikan rasa malu yang menerpanya



"Takutnya banyak yang suka, nanti kamu punya saingan" lanjut Arva, membuat Mikaela memudarkan senyumnya



Arva kembali tertawa karena perubahan ekspresi Mikaela, sedangkan Mikaela hanya merutuki pria itu dalam hatinya. Bisa-bisanya hatinya dibuat terbang melayang lalu dijatuhkan ke tempat paling terdalam dalam satu waktu, gak punya perasaan



Cup


Arva mengecup punggung tangan Mikaela yang ia genggap sejak tadi


"Aku bercanda sayang" ucapnya



"Aku tau, tapi aku kesal" keluh Mikaela



"Bagus" pungkas Arva



"Kok bagus?"



"Itu artinya aku memang sudah benar-benar ada disini" tuturnya sambil menyentuh dada Mikaela, tempat dimana posisi hatinya berada



_________________________



"Tolong kamu handle pekerjaan selama saya gak ada" tutur Arva di balik teleponnya



"Dan selama saya liburan jangan hubungi saya, kalau penting hubungi pak Danu saja" pesannya lagi pada sekertarisnya



"Sayang" kaget Arva yang tiba-tiba melihat penampilan istrinya yang menohok





"Ayok" ajak Mikaela



"Kamu serius pakek baju ini?" tanyanya memastikan, dress yang amat sangat mini, bahkan mungkin akan pantas kalau ditambah celana sebagai bawahannya



Mikaela mengangguk "Memang kenapa?"



Arva menggelengkan kepalanya tak setuju "Cepat ganti" titahnya



"Kok? ini kan baju yang kamu beliin, lagian bagus kok" sahut Mikaela



"Mana tau kalau baju nya kependekan kayak gitu, cepet ganti sana"




"Iya" patuhnya kembali masuk ke dalam rumah



"Sayang ayoookkk" panggil Arva



"Iya-iyaa sebentar" sahut Mikaela yang masih repot





Mikaela sudah keluar dengan pakaian yang berbeda, namun langkahnya terhenti ketika pria yang sudah berada di dalam mobil itu malah keluar untuk menghampirinya



"Kok turun?" heran Mikaela



"Kamu tuh ya kalo dibilangin" Arva segera meraih lengan istrinya untuk membawanya kembali ke dalam



"Kemana sih? bukannya udah telat?"



"Dengan pakaian terbuka kayak gini? No" kukuh Arva tak menyerah



"Terbuka gimana sih? ini udah panjang tuhh" Mikaela memutar tubuhnya, bahkan dress nya kali ini hampir menutupi seluruh betisnya



"Tapi atasnya terbuka, itu apaan tali gak guna, gak nutup apapun"



"Kamu yang beli loh"



"Kan masih ada yang lain, jangan yang kurang bahan kayak gini"



"Aishh, ini aku ada jaket levis, bisa nutup kan, nih liat"



"Aku gak mau ada orang selain aku liat dada kamu kebuka kayak gitu"



Mikaela segera menyilangkan tangannya menutupi dada "Kamu kok.."



"Aku cowok, aku tau pikiran busuk cowok kayak apa" tutur Arva sambil meraih lengan Mikaela



"Tapi nanti kita telat"



"Kita bisa ikut penerbangan selanjutnya"





"Nah ini baru Mikaela nya aku" ucap Arva sambil meraih lengan istrinya yang terlihat tak senang



"Kenapa murung? gak suka aku atur kamu begini?"



"Bukan, tapi kita jadi telat"



Arva melihat jam yang melingkar pada tangannya "Masih ada waktu, ayok" membukakan pintu mobil untuk Mikaela



"Tadi aku sengaja siap-siap satu jam sebelumnya, biar bisa santai di jalan. Tapi kalau sekarang, agar kita tepat waktu berarti kita harus ngebut" tutur Arva setelah memakaikan seat bell pada Mikaela.



Arva segera memakai seat bell miliknya lalu bersiap-siap untuk menjadi raja jalanan, kebiasaan yang sudah ia tinggalkan ternyata masih bisa berguna.



"Hhh hhhh" Mikaela masih mengatur nafasnya, pasalnya selama perjalanan ia merasa bahwa nyawanya hampir di ujung kematian, mungkin ia tak bisa menikmati kebahagaiaan pernikahannya lebih lama, sungguh menyedihkan bukan?



"Sudah sampai, ayok" Arva sudah membukakan pintu mobilnya untuk Mikaela, dengan tangan bergetaran Mikaela keluar dari mobilnya, dan belum bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari bibir nya yang kelu



Cup


Arva mengecup bibir Mikaela, membuat jiwa gadis itu kembali karena tergantikan rasa malu. Ya, Mikaela paling anti jadi objek perhatian banyak orang



"10 menit lagi" gumam Arva, segera meraih lengan Mikaela lalu berlari masuk ke dalam bandara



"Hhhh hhhh" Nafas keduanya sangat jelas terdengar setelah berhasil menempati tempat duduk di pesawat business class yang hampir saja meninggalkannya



Suara nafas itu lalu disusul dengan gelak tawa keduanya ketika setelah saling tatap "Maaf" ucap Arva



Mikaela mengangguk "Kapan lagi diajak lari sampe kehabisan nafas kayak gini" sahutnya



"Mungkin ini pertama dan terakhir" timpal Arva



"Masa ratuku dibikin capek sih?" lanjutnya



Mikaela tertawa "Kamu apaan sih" protesnya



"Well, aku gak mau lagi liat kamu pakek baju-baju kayak tadi. Biar nanti baju nya aku buang"



"Kok, kan sayang" keluh Mikaela



"Lagian kan aku cuman mau kayak cewek lain, yang cantik dan seksi, kamu pasti suka cewek kayak gitu kan? aku gak mau kamu liat cewek lain" jelasnya



"Kamu bisa pakai pakaian itu kalau di rumah, bukan di luar rumah, atau di tempat yang ada orang lainnya, awas aja kalau sampe berani"



"Kalau berani mau apa?" tanya Mikaela



"Kamu nantangin? huh"



"Cuman mau tau aja"



"Kamu bakal nyesel" bisiknya



"Aku akan.."



Mikaela segera membungkam mulut Arva dengan telapak tangannya, mengingat bahwa jawaban Arva itu akan selalu berputar pada otak nya dan susah hilang, mending tidak dengar



Mikaela segera meraih lengan besar Arva lalu memeluknya "Aku ngantuk" ujarnya sambil menutup matanya perlahan




bersambung..



Lagi menikmati suara takbir nih ❤❤


Terima kasih buat yang setia menunggu update an cerita ini, selalu tinggalkan jejak like dan komentarnya thankyouuuuu dan aku mau ucapin selamat hari raya idul adha yaa.. minal'aidzin walfa'idzin semuaaa❤


Gimana nih ada yang kurban?? atau dikurbanin?? haha aku sih udah berkurban perasaan tapi tetap disia2kan :( ululuhhh haha intermezo yaa