
Happy Reading ♡♡
Cklek
Vino membuka pintu apartemen, sudah ada asap di balik pintu, berasal dari kepala seseorang yang gosong karena tak menemukan jalan untuk keluar dari tempat persegiempat lantai 30 ini.
"Lo gi.." amukan Rendra yang akan meledak seketika tealihkan dengan sosok yang ia kenali betul datang bersama teman sialannya itu.
Vino tak menghiraukannya, ia melewati tubuh pria yang malah menghalangi jalannya itu, bahkan tak ada niatan membantu sama sekali.
"Arva?? di-dia ngapain eh maksudnya kenapa?" tanya Rendra bertubi-tubi, tak membiarkan orang yang sedang dilanda kelelahan karena harus memboyong badan yang tak lebih ringan dari beratnya itu istirahat.
Vino menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa lalu menutup mata, membiarkan orang yang sedang dibaluti rasa penasaran itu bertanya-tanya sendiri.
"Eh sialan gue ngomong lu malah ngorok" protes Rendra sambil menggebrak meja, membuat kedua mata Vino terbuka karena suaranya cukup membuat kaget.
"Lo bisa diem gak?" delik Vino dengan sorot mata dingin, siap membunuh siapapun detik ini juga.
Rendra diam, ia tau betul bahwa kalau menemukan Vino yang seperti ini maka ia tak boleh memancingnya atau ajalnya akan berada di ujung tanduk.
Arva menggeram, hanya berupa suara yang menggambarkan kekecewaan mendalam, itu terlihat jelas.
Mereka tidak kenal hanya setahun dua tahun saja, bahkan pahit manis nya kehidupan biasa mereka rasakan bersama. Saling merasakan karena ikut andil dalam nasib satu sama lain.
Rendra malah bingung sendiri, ia bahkan melupakan hal yang sudah membuatnya emosi. Tidak bisa keluar selama berjam-jam, tak ada satu pun pelayan yang menerima pesannya, mungkin sedang asik dengan mimpi nya.
Ini pelajaran, lain kali kalau ia membuat usaha property begini ia harus menyediakan pelayanan 24 jam, agar tak ada orang lain yang merasakan hal serupa dengannya. Miris
Rendra menilik wajah Arva dalam-dalam, seakan mencari sebuah kebenaran disana. Apa ini ada sangkutannya dengan Mikaela? siapa lagi yang bisa membuat temannya kalut seperti ini selain karena wanita itu?
"Tadi Mikaela nelvon" ucap Rendra
Tak ada sahutan dari siapapun, bahkan orang yang sedang berpura-pura itu tak memberi respon. Ya, kali ini ia harus kembali menjadi sosok yang dewasa dibanding keduanya.
Tiba-tiba Rendra dikagetkan dengan pikirannya "Apa jangan-jangan Mikaela selingkuh sama lo Vin? lo habis ribut sama Arva? lo serius?"
"Anjj awhh" ringis Rendra karena mendapat geplakan di kepalanya.
"Ngaco! lagian mana mungkin gue bisa ngalahin dia semudah ini, mimpi"
Yap, benar. Pria ini bukan tandingan mereka berdua. Entah kekuatan dari mana tapi Arva punya keunggulan tersendiri, dia bisa tiba-tiba jadi kuat tak terkalahkan.
"Tadi Mikaela nelepon ke hp lo, gue pikir ada hubungannya sama lo"
Vino segera mengecek ponselnya, dan memang benar.
Rendra menggedikkan bahu nya. "Teleponnya mati, gue telepon balik gak diangkat" jelasnya.
Ya, sudah pasti telah terjadi sesuatu antara keduanya.
_________________________
"Apa?" kaget Rani segera membungkam mulutnya
Sungguh ia tak habis pikir dengan jalan pikiran temannya yang satu ini, terlalu kekanakkan, mungkin seharusnya ia tidak menjalani rumah tangga dulu.
Mikaela tak henti menangis, ia tahu kalau semua orang pasti akan menyalahkan dirinya, ia menyesal, ia tidak seharusnya menyimpan masalahnya sendiri, ia terlalu takut, terlalu takut akan ditinggalkan.
"Apa yang lo takutin? hemm" tanya Rani setelah semuanya sedikit tenang.
"Aku pernah hamil" jawab Mikaela dengan suara yang terdengar serak
Rani mengangguk, wajahnya serius, ia menunggu kelanjutan kalimatnya.
"A-aku .. aku.."
"Dan lo takut? takut kalo lo bakal kehilangan anak lo lagi?" lanjut Rani, seolah menemukan jawaban dari mimik wajah penuh duka sahabatnya.
Mikaela mengangguk "Aku benci kehilangan Ran, amat sangat membenci itu. Lebih baik aku tidak dipertemukan siapapun kalau akhirnya akan ditinggalkan, aku gak mau Ran, sakitt banget rasanya." ungkapnya di sela tangis yang semakin membuncah
"Aku ditinggalkan kedua orangtuaku, lalu aku juga ditinggalkan anakku, lalu siapa lagi? sekarang bahkan Arva mau ninggalin aku, aku benci sendiri Ran" lanjutnya dengan segala kesakitan yang selama ini ia pendam sendiri.
"Arva cuma butuh waktu, gue yakin. Dia gak bisa hidup tanpa lo Mik, lo gak usah sedih, cukup kasih dia waktu sebentar buat mikir" tutur Rani sambil mengusap cairan bening yang masih deras membasahi pipi gadis itu.
"Aku tau kalo dia pengen banget punya anak, tapi aku masih sangat kehilangan, aku cuman takut itu terulang lagi Ran, apa aku salah?"
Rani menggelengkan kepalanya "Lo gak salah, sekarang gue tau gimana besarnya cinta ibu ke anaknya, lo ibu yang hebat Mik, gue bangga sama lo" tuturnya segera memeluk Mikaela yang semakin hanyut dalam kesedihan.
"Kalian cuman kurang komunikasi. Gue yakin Arva bisa ngerti, dia cinta mati sama lo Mik, dia cuman butuh waktu" lanjutnya masih berusaha menenangkan Mikaela
Mikaela menarik tubuhnya lalu menghapus jejak tangisnya. "Dia gak bakal ninggalin aku?"
"Gue berani jamin" yakin Rani
Mikaela menelan salivanya berat, apa mungkin Arva bisa menerima alasannya??
bersambung ♡♡♡