
Happy Reading ♡♡
"Lo dihajar?" Tanya Vino yang baru ngeuh
"Si anjir siapa yang berani nyentuh lo" celetuk Rendra
"Kalo lo ngelawan gak mungkin sampe begini !" gumam Vino menelisik
"Jangan bilang lo sengaja??" Tambah Rendra
"Biasanya kan emmm.." ucapan Rendra terpotong karena sepotong roti yang disumpelkan ke mulutnya oleh Vino. Suruh siapa terus nyerocos?
Rendra mau gak mau harus mengunyah potongan roti yang memenuhi mulutnya sampai mengembung
"Ekhemmm .."
Rendra menutup mulutnya yang kembung, dilihatnya Arva dan Vino yang seolah fokus itu membuatnya muak
"Itu yang di belakang.. kalau mau makan, di kantin jangan di kelas saya!" Ucap Dosen
"Sa suayya emm .." omongan Rendra tak jelas karena roti siapan itu
"Maaf bu tadi.."
"Keluar!" Perintah dosen
"Tapi bu.."
"Kamu yang keluar atau saya yang keluar?"
Dengan sekejap semua mata penduduk kelas berbalik ke arah Rendra yang tersalahkan. Menatap tajam dan penuh dengan intimidasi.
"Baik bu" ucap Rendra pasrah
Plak
Rendra memukul belakang kepala Vino dengan cepat dan segera berlalu. Itu cukup membuat Vino meringis dan Rendra puas dengannya
"Sialan" teriak Vino
"Kamu gak terima temen kamu disuruh keluar?" Ucap dosen yang ada di depannya membuat Vino menggerutu sendiri, kenapa bisa kelepasan?
"Ke.. lu.. ar!"
"Bukan gitu bu .. saya rela ko dia keluar rela banget malah kalau perlu untuk selamanya aja" ucap Vino panjang lebar
"Kamu bukan teman yang baik ya" ucap dosen
"A apa bu?" Vino lagi-lagi salah mengutarakan maksudnya.
"Keluar saya bilang!" perintahnya lagi
Vino berdecak dengan berat hati ia mengikuti perintah dosen galaknya itu.
Arva hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kelakuan kedua temannya itu emang gak ada yang bener ! Walaupun Vino rada waras tapi yah tetep sama-sama gila
________________________
Terlihat Melvin bersama tumpukkan buku di sampingnya dan satu diantaranya sedang ia baca
Melvin memukul kepalanya yang terus didatangi bayangan gadis yang sialannya itu selalu manis di matanya dan sekarang merrmbet pada otak jenius nya
"Ka Melvin.." sapa Mikaela yang tiba-tiba duduk di kursi yang ada di depannya
"Ko disini? Gaada kelas?" Tanyanya
"Hah.. emm kamu sendiri kenapa disini?"
"Aku lagi ngerjain tugas, nyari materi disini" ucapnya sambil menampilkan senyum yang beakangan ini selalu saja menghantui pikirannya
Deg
Mikaela menggedikkan dagu nya sebagai pertanda menunggu jawaban dari pertanyaannya yang dialihkan
"Ah gu guee. ."
Senyuman itu membuat pikiran kacaunya hilang seketika, yang sejak tadi sulit fokus walau sejak tadi diasupi bacaan yang biasanya langsung diterima otaknya
Tapi kenapa Mikaela? Apa karena Mikaela yang bikin pikirannya kacau? Jadi yang bisa nyembuhin ya cuman Mikaela bukan objek yang lain
"Kaaaa" panggil Mikaela mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Melvin yang keliatan bengong
"Ah yaa.."
"Kok bengong?" herannya
"Senyum kamu bagus" ucapnya
"Ah kenapa?" Tanyanya lagi seolah tidak dengar
Melvin menggelengkan kepalanya untuk mengembalikan kesadarannya "Nggak, gapapa" jawab Melvin
"Ohh hehe yaudah aku lanjut disana ya" pamit Mikaela menunjuk ke tempat dimana teman sekepasnya berada
"Emang disuruh ngapain?" Tanya Melvin membuat Mikaela lupa dengan niatnya
"Ini.." Mikaela menunjukkan catatannya
"Ohh sini.." Melvin bangkit dari duduknya lalu meraih lengan Mikaela untuk mengikutinya menuju ke suatu rak besar
Mikaela menatap takjub karena kelihaian Melvin dalam mencari buku, seolah ia sudah membaca semua buku yang ada di seluruh rak besar yang ada disini.
"Suka baca ya?" Tanya Mikaela yang dijawab dengan lirikan dan sebuah senyuman yang entah itu mengiyakan atau bukan
"Cuman kalau lagi bosen aja" jawabnya
"Kalo misalkan bosen baca?"
"Emm gak pernah.." ucapnya
"Serius?" Mikaela tertawa pelan karenanya
__________________________
"Gara-gara lo gue disuruh keluar" delik Rendra
"Diem lo ngeselin" balas Vino
"Eh ini kita mau kemana?" Tanya Rendra
"Kita? Ngapain lo ngikutin gue? Pergi aja sana kemana ke" ucapnya dingin
Rendra hanya mengangkat alisnya tak perduli, ia tetap mengikuti kemana Vino pergi.
"Perpustakaan? Sejak kapan?" Redra menahan bahu Vino yang akan segera memegang knop pintu besar nan tinggi itu
"Sejak saat ini" pungkasnya lalu melanjutkan niatnya
Rendra menghalangi wajahnya dengan kedua tangannya, seolah banyak sinar yang keluar dari semua buku sialan itu sebagai penyambutan langkah pertama yang ia injakkan di tempat ini selama hampir 2 tahun berada disini
Perlahan Rendra menurunkan tangannya ketika sinar itu perlahan menipis
Plak
Satu pukulan di kepalanya mendarat.
"Liat buku udah kayak liat matahari" ucap Vino lalu melanjutkan langkahnya
"Ahwww" Rendra meringis
"Sialan" umpatnya
"Sssstttttttttttt.." serentak semua orang yang ada disini menempelkan jari telunjuknya di bibirnya
Rendra yang kena peringatan langsung menghentikan umpatannya, masa iya di perpus aja diusir? Kan gak lucu
Bugg
Rendra menubruk tubuh Vino yang mendadak menghentikan langkahnya
"Kalo mau berhenti bilang dong" protesnya
Rendra mengintip apa yang dilihat sahabatnya itu, sampai-sampai membuatnya terpaku
"Mik emmm.." Vino membungkam mulut ember Rendra dengan telapak tangannya
"Ssssttttt" membawanya bersembunyi di balik rak "ishh jigong najis" gerutu Vino ketika membuka bekapannya
"Bodo"
Rendra merongoh ponsel di saku celananya membuat Vino mengerutkan keningnya
Ckrek
Rendra memotret Mikaela dan Melvin yang sedang berdiri saling berhadapan dengan memegang satu buku.
To : Arva
Picture send
"Lo ngapain?" Vino merebut ponsel Rendra
"Lo gila" umpat Vino, secepat mungkin ia akan membatalkan kirimannya tapi gagal karena pesan itu sudah bercentang dua, yang berarti Arva sudah baca.
"Si bocah di kelas ngapain si ko cepet banget cek notif hp nya" sesal Vino yang pergerakkannya kurang lihai
"Buku disana kan banyak, kenapa harus 1 buku berdua? Moduss" ucap Rendra
"Heh monyet.."
"Lo bilang apa?"
"Monyet"
"Sialan"
"Lo sendiri nyadar pas gue panggil monyet"
"Terserah"
"Maksud lo kirim ke Arva itu apa?" protes Vino tak habis pikir
"Ya emang kenapa? Arva kan berhak tau, tar kalo ketikung sama si Melvin itu gimana?"
"Tapi ini gak tepat"
"Gak tepat apanya? Itu mereka sweet banget liat aja"
"Lo paham maksud gue gak sih?"
"Maksud lo apaan?" Ucap Rendra
"Menghindari keributan ! si Arva kan susah ngendaliin emosinya lo mikir gak sih? Dia ketua BEM"
Rendra yang baru paham hanya memainkan mulutnya "gak bilang dari tadi sih" ujarnya polos. minta ditampol panci dapur emang
Vino greget banget sama spesies manusia macam Rendra yang ia harap cuman ini satu-satunya, jangan ada lagi atau Vino akan stress menghadapinnya
________________________
Ting tong notification whatsapp
From : Rendra
Picture
Arva meremas ponsel yang digenggamnya sambil memutar otak cerdiknya agar bisa keluar dari kelas membosankannya ini
"Ada apa" tanya dosen pada Arva yang mengacungkan tangannya
"Saya tidak terima ibu mengeluarkan kedua teman saya" ucap Arva
Dosen tersebut diam sebentar "Itu sudah setengah jam yang lalu" lanjutnya
"Tapi saya tidak terima" tegas Arva lalu berdiri
"Tidak ! Kamu kembali duduk" tegas balik dosen tersebut
"Ck dasar anak zaman sekarang" gumam bu dosen lalu melanjutkan kembali materinya.
"Sial" gumam Arva yang mengepal tangannya kuat
"Ada apa lagi?" Tanya dosen yang melihat Arva kembali mengacungkan tangannya
"Saya izin ke toilet"
Dosen menghela nafasnya "Karepmu lah" ucapnya kemudian
Tak buang waktu Arva langsung bangkit dari tempatnya dan bergegas keluar kelas menuju tempat dimana objek yang menyulut emosinya berada
"Arva" Vino melebarkan matanya melihat sosok yang melewati pintu masuk dengan penuh karisma namun misterius itu, wajahnya datar tak menunjukkan perasaan yang dirasakan hatinya saat ini
Rendra pun ikut terkejut, ia tak menyangka responnya akan secepat itu "Gimana caranya dia bisa keluar dari kelas dosen killer itu?" Gumamnya tak habis piiir
"Akan selalu ada cara" ucap Vino yang sama sekali belum berkedip.
Arva menepis lengan Vino yang menghalangi jalannya, pandangannya lurus ke depan, menatap tajam ke arah dimana sepasang sejoli itu tengah mengobrol asik dengan 1 buku yang dipegang keduanya
Tap tap
•
•
•
Please like and comment !!