My Cold Senior

My Cold Senior
Lupain



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Arva .." kaget seseorang membuat 2 sejoli itu menoleh ke arah suara secara bersamaan



"Sedang apa kamu di gubuk butut ini??" kecamnya tegas



"Pa.. papi .." gumam Arva segera bangkit dari posisi intimnya dan segera membenarkan kemejanya yang sedikit kusut



"Papi kenapa bisa disini?" tanya Arva dingin



Mikaela yang sedari tadi melempar tatap ke dua arah pria yang sedang bersitegang ini mulai menundukkan kepalanya ketika mendapat tatapan tajam dari pria paruh baya yang terlihat menakutkan baginya



Arva yang menyadari ketakutan kekasihnya ini segera menarik tubuh kecil itu untuk membawanya berada di belakang tubuhnya



"Ayo pulang!" pria paruh baya itu meraih lengan anaknya untuk segera membawanya pulang



Kebisingan yang terjadi di ruang tamu yang terbilang seperti ukuran toilet bagi seorang pengusaha sukses seperti Danu membuat si pemilik rumah mulai berdatangan untuk mengecek apa yang terjadi di rumahnya



"Papi apa-apaan sih?" Arva menghempaskan cekalan papi nya kasar



"Secara sadar atau paksa?" ucap Danu memberi pilihan



"Ck, Arva udah gede! mendingan papi pergi dari sini! tegasnya berdecak tak perduli



"Oke kamu membuat pilihan" ucap Danu melenggang keluar yang sebelumnya melirik rendah ke arah Erik serta anak dan istrinya yang saling tatap tak mengerti dengan apa yang terjadi



Belum satu menit Danu keluar dari ruangannya maka berdatangan 4 orang laki-laki bertubuh kekar dan tegap menghampiri Arva dan menyeretnya keluar secara paksa



"Lepasin gue brengsek" Arva meronta mencoba melawan namun usahanya tak memberi efek apapun, sebab tubuhnya terkunci oleh cekalan orang suruhan Danu di berbagai sisi



Mikaela hanya bisa menutup mulutnya tak percaya "Ada apa ini sebenarnya" batin Mikaela yang tanpa sadar mengikuti langkah orang-orang tersebut sampai keluar rumahnya



Arva sudah dimasukkan secara paksa kedalam salah satu mobil mewah yang berjejer di pekarangan kosong depan rumahnya



Mikaela segera menciut ketika Danu menghampirinya dengan tatapan menusuk "Jauhi anak saya" sebuah bisikan penuh tuntutan



"Kamu tidak berpikir untuk bersanding dengan Arva bukan? jangan mimpi ketinggian!" lanjutnya semakin menajamkan ucapannya



"Bahkan tubuhmu saja sudah kotor sejak kecil! aku tidak akan membiarkan anakku menyesal untuk itu" lanjutnya dengan tatapan merendahkan



Deg


"Kotor?" gumam Mikaela



"Apa maksudnya?" batinnya meringis bagaikan ditancap puluhan pisau pada ulu hatinya. Bagaimana bisa tubuhnya kotor? bahkan seumur hidupnya ia tidak pernah membiarkan seorang pria pun untuk merecoki kehidupannya, hanya saja Arva terlalu sulit untuk dijauhi



______________________



"Sayang ada apa ini?" tanya Shopia histeris ketika melihat anaknya yang sudah babak belur di sekujur tubuhnya



"Itu akibat dari pembangkangannya" ketus Danu



"Sayang kamu gak apa-apa nak?" Shopia merangkul anaknya yang terkulai lemas di lantai



"Sabar nak, mami panggilkan dokter" ucap Shopia yang sudah membantu anaknya berpindah ke sofa, ia merogoh ponselnya untuk segera menghubungi dokter pribadinya



Cup


Shopia mengecup kening pria dewasa di hadapannya ini, di matanya Arva hanya anak kecil yang selalu menginginkan pelukannya, namun itu 13 tahun yang lalu sebelum peristiwa itu terjadi dan menghancurkan istana indah yang dibangunnya



"Pasti sakit ya nak" gumam Shopia seraya memperhatikan bekas biru yang memenuhi wajah anaknya yang sedang tertidur lelap akibat obat yang diberikan dokter tadi



Shopia menutup pintu kamar Arva pelan, ia menghembuskan nafasnya berat mempersiapkan diri untuk menghadapi suaminya yang sudah kelewatan batas



"Kamu ini kenapa?" protes Shopia pada suaminya yang sedang mengangkat kaki kekarnya di atas meja dalam ruangan kerjanya



"Jangan sekarang" keluh Danu mencoba tetap bersikap lembut pada istrinya



"Kamu itu kenapa? kenapa melukai anak sendiri? orang tua macam apa suamiku ini?" cibir istrinya dengan deruan nafas mengeluarkan segala amarahnya



"Anak macam apa yang tak mau menuruti orangtuanya? tak ada cara lain selain memaksanya"



"Apa masalahnya? beri tau aku! Arva tidak akan melawan jika tidak ada sesuatu yang salah darimu"



"Aku tidak suka Arva membiarkan gadis miskin menempel padanya" tutur Danu menghampiri istrinya, ia tak bisa bersikap keras pada Shopia atau istrinya akan sakit karenanya



"Gadis miskin? siapa?"



"Siapa lagi kalau bukan si penyebab kehancuran anak kita 13 tahun yang lalu" ucap Danu dengan ingatan masa lalu



"Apa ?"



"Aku bahkan akan membiarkan seribu gadis yang Arva mau, tapi tidak untuk gadis itu! hidup anak kita hancur karenanya, bahkan ia membuat kita menjadi jauh dengan anak kita sendiri" jelas Danu



"Tapi kenapa dia ada disini? bukankah kita sudah mengirimnya ke luar negeri?"



"Sudah 2 tahun belakangan ini ibunya pun hilang kontak denganku, ia bahkan tak lagi menagih biaya tanggungan yang aku janjikan, tapi tidak aku sangka akan menemukan gadis yang sengaja ku jauhkan sejak lama ini tiba-tiba berada sangat dekat dengan Arva"



"Mungkin mereka hanya berteman.." ucap istrinya berusaha menghaluskan pikiran buruk suaminya



"Sudah aku bilang, seribu gadis miskin manapun yang Arva mau akan kubiarkan, tapi tidak dengan dia!" Danu menegaskannya sekali lagi



"Arva tak mungkin menyukai gadis-gadis miskin manapun selain menjadikannya mainan! tapi aku yakin Arva tidak akan mau, mereka bukan typenya, aku tau karena dia anakku, seleranya sama denganku. tapi gadis itu? Arva tidak akan main-main dengannya." jelasnya lagi



Shopia mengusap bahu suaminya pelan, mencoba menenangkannya dengan memeluknya lembut "Apa salahnya, cinta.."



"Tidak!!" kecam Danu segera melepas lilitan tangan Shopia dari perutnya



"Aku tidak akan membiarkan darah dagingku jatuh cinta dengan keturunan rendahan" lanjutnya kembali memutar tubuhnya



hiks hiks


Danu segera meraih tubuh istrinya lalu memeluknya erat "percaya padaku, akan kuurus semuanya" ucap Danu sambil mengelus puncak kepala istrinya menenangkan



"Aku takut sesuatu terjadi pada anakku.. hiks sudah cukup selama belasan tahun ini ia menjauhiku, aku tidak ingin kehilangannya" tuturnya dengan tubuh bergetar



"Tidak akan ! bahkan ia masih bernafas sampai saat ini atas keinginanmu sayang, apa yang kau inginkan maka itu yang akan terjadi selama itu tidak berlawanan dengan prinsipku"



"Apa maksudmu? aku ini ibunya, aku jelas ingin yang terbaik untuk anakku"



"Iya.. aku akan melakukan yang terbaik untuknya.." ucap Danu menyetujui



".. atas keinginanku" lanjutnya dengan gumaman


________________



"Arva.." panggil Shopia dibalik pintu kamarnya



Shopia kembali mengetuk pintu kamar anaknya untuk yang ke sekian kali namun masih tidak mendapat jawaban



"Mami masuk yaa" ucapnya lembut dengan senyuman berseri, berharap mendapat sambutan hangat dari anak sematawayangnya



"Arva mami memasak makanan kesukaan kamu.." Shopia menghentikan ucapannya ketika tak menemukan anaknya di atas kasur



Shopia menyimpan nampan yang dibawanya di atas nakas lalu mencari keberadaan anaknya ke toilet dan ruang walk in closet



"Arvaa.." panggilnya sekali lagi



"Kamu dimana sayang??" Shopia mulai menautkan jari-jari tangannya mulai khawatir



sreeeettt


Shopia membuka gorden besar di hadapannya yang membuat wajahnya terpejam akibat paparan sinar matahari yang langsung mengenai wajahnya



Shopia menghampiri salah satu jendela yang terbuka "Apa Arva kabur lewat sini?" batinnya meringis dan mulai menitikkan air matanya



"Sayanggg" suara Danu menyudahi lamunannya



"Danu gak boleh tau" batinnya sembari mengusap kasar pipi basahnya dan menghapus jejak kesedihannya



"Apa anak itu sudah bangun?" tanya Danu ketika Shopia baru saja keluar dari kamar Arva



"Ah .. ya dia sangat butuh istirahat" ucap Shopia lembut dan segera merangkul lengan kekar suaminya



"Biar aku lihat.." Danu mengangkat satu alisnya



"Uh tidak.." tahan Shopia



"Jangan ganggu.. dia masih butuh sendiri" lanjut Shopia memberi pengertian pada suaminya



"Baiklah.." ucap Danu pasrah sambil mengelus pipi Shopia lembut, keinginan istrinya itulah yang akan terjadi



____________________



"Siapa kamu" kaget Mikaela yang segera terbangun dari tidurnya ketika merasakan sebuah tangan melingkar pada pinggangnya, ia segera beringsut ke atas ranjang dan memeluk tubuhnya sendiri



Cahaya lampu tidur membuat gadis itu hanya dapat melihat siluet dari tubuh seseorang



"Jangan mendekat" tahan Mikaela dengan tubuh bergetar



"Aku bilang.."



"Sstttt.." pria itu membekap mulut Mikaela dengan telapak tangannya lembut



ctrek


Pria itu menyalakan lampu kamarnya, membuat Mikaela yang tak siap terkena sinar lampu kamarnya segera memejamkan matanya



"Ar.." ucapannya terhenti



"Re Reza.." kaget Mikaela dengan siapa yang ada di kamarnya saat ini



Reza menarik ujung bibirnya "good girlfriend" desisnya menyeringai



"Sepertinya lo udah bisa mengenali pacarnya sendiri" ucapnya senang



Mikaela tak mendengar penuturan Reza, ia fokus pada wajah pria itu yang penuh dengan bekas biru dan luka, sangat jauh berbeda sebelum pria itu dibawa pergi dari sini



Tanpa sadar tangan Mikaela menyentuh wajah Reza dengan amat sangat pelan, ia menelusuri wajah pria itu seolah ikut merasakan sakit atas lukanya



"Mau ngobatin luka gue?" tawar Reza yang langsung diangguki Mikaela tanpa pikir panjang



"Gue kangen sama lo" ucap Reza mewarnai kefokusan Mikaela yang sangat berhati-hati dalam mengobati lukanya



Mikaela tak menjawab apapun atas ucapan-ucapan yang dilontarkan Reza



"Ahw" ringisnya



"Maaf" ucap Mikaela segera meniupi lukanya



Reza tersenyum, ia senang mendapatkan perlakuan khusus dari Mikaela. Bukankah wajar? Mikaela kan kekasihnya



Tapi tetap saja, perlakuan Mikaela yang tanpa pemaksaan ini hampir tidak pernah ia dapatkan selama ini



"Lupain!!" titah pria itu



Mikaela menghentikan aktifitasnya "Tentang apa?" tanyanya lalu kembali mengolesi lukanya



"Omongan pria tua itu" Reza yang tak mau mengingat kejadian semalam berusaha menyebut si biang kerok



"Papimu?"



"Anggap aja begitu"



"Tenang aja, aku mudah lupa" tutur Mikaela yang sudah selesai dengan aktifitasnya



"Tapi mata lo nggak bilang kayak gitu" telisik Reza sambil meraih jemari kekasihnya lembut




"Yaudah terserah" jawab Mikaela singkat tak ingin berargumen. Mikaela bangkit dari posisinya yang hendak meletakkan kotak p3k itu kembali pada tempatnya. Percuma juga mengelak, itu hanya akan membuang tenaganya saja



Reza mencekal lengan Mikaela lalu menariknya sehingga membuat tubuh Mikaela terpantul menabrak dada besar miliknya



"Gue gak akan biarin satu orangpun nyakitin lo! siapapun itu, termasuk bokap gue" tutur Reza sembari merangkul dan memeluk erat kekasihnya



Mikaela yang tak ingin menunjukkan tangisnya pada siapapun tak bisa menahannya lagi, ia membenamkan wajahnya pada dada bidang pria itu lalu menangis sepuasnya disana



"Gue gak akan ninggalin lo" ucapnya lagi menenangkan



"Gue akan jagain lo gimanapun caranya" lanjutnya sambil mengelusi punggung gadisnya yang semakin bergetar.



Mikaela tak bisa lagi menahan beban tubuhnya, kaki nya lemas, ia tumbang dan beruntung Reza segera menangkap tubuhnya dan membawanya kembali ke kamarnya



Reza membaringkan tubuh kekasihnya di atas kasur "Mik.." gumamnya memanggil kekasihnya, guna memastikan kesadaran gadis yang tak seharusnya dapat tertidur dengan waktu yang amat singkat




•


•


•


Please votement !!


like like like


COMMENT COMMENT COMMENT