My Cold Senior

My Cold Senior
ENDING



Arva menghentikan ocehan Mikaela dengan bibirnya, wanita itu terlalu banyak bicara, ia tak mau anaknya sampai mendengar hal yang tidak seharusnya.


Kini kedua tangan Mikaela sudah melingkar pada leher Arva, kini pertahanannya benar-benar runtuh.


"SUPRISE!!!" Beberapa orang muncul dari balik pintu, dan berbagai pihak menjadi sangat awkword.


Bagaimana mungkin pertengkaran yang mereka dengarkan dari balik pintu sejak tadi bisa berakhir seperti ini? hanya dalam waktu kurang dari 1 menit?


Arva menetralkan wajahnya, sekarang ia merasa sedang digrebek warga sekampung karena ketahuan mesum.


"Ada apa ramai-ramai begini?" tanya Arva.


"Ahh kita cuman ...."


"Kita hanya ingin mengejutkan! hahaha" sambung Rendra diakhiri dengan tawa yang dipaksakan, membantu ucapan Vino yang tersendat.


Arva mengangguk. "Tapi sepertinya kalian yang terkejut?" tuduhnya benar, membuat Rendra dan Vino menjadi tambah canggung.


"Btw acara yang sebenarnya ada di taman belakang, orangtua lo nungguin di sana!" jelas Rendra.


Arva menggelengkan kepalanya. "Silahkan nikmati pestanya karena pasutri ini akan menikmati malam yang panjang hanya berdua saja." tutur Arva mendorong tubuh keduanya agar cepat keluar dari kamarnya.


Namun tubuh Arva pun ikut terdorong keluar, siapa lagi kalau bukan ulah istrinya. "Maaf kalian harus menunggu, aku mau membenarkan riasanku dulu, suamiku merusaknya." delik Mikaela pada sang suami sebelum benar-benar menutup pintunya.


"Kalian merusak malam gue!" ucap Arva dingin.


"Ahahaha jangan canggung begini, kita temenan udah lama." ujar Vino.


Rendra ikut membenarkan. "Lanjutkan saja nanti, kita udah lama gak ngumpul."


"Setelah ini kalian bisa pergi!" tegas Arva yang sudah berjalan meninggalkan tanpa menoleh.


"Gue jadi pengen cepet nikah!" gumam Rendra.


"Tanpa nikah pun lo udah sering bukan?" sahut Vino.


Rendra menggelengkan kepalanya. "Pasti rasanya beda! gue penasaran."


Vino berdecak. "Serah loo!!" gusarnya. "Bisa-bisanya ingin cepat menikah hanya karena penasaran? dasar cah geblek." gerutu Vino di sela langkahnya menyusul Arva.


Hiasan Taman belakang sudah bertambah dari yang sebelumnya Arva lakukan, ia lupa kalau ayahnya itu terlalu banyak tau! sebenarnya ia sudah mempersiapkannya dan ingin menikmati pergantian tahun baru dengan istrinya saja, kenapa orangtuanya ikut-ikutan segala? benar-benar tidak pengertian.


Mikaela sudah kembali tampil sempurna, tidak terlihat ada yang mines, walau tadi makeupnya sempat dibuat berantakan oleh seseorang yang kini menatapnya lekat.



Arva memang terlalu peka, ia orang pertama yang menyadari kemunculan istrinya, bahkan tatapannya sudah mengarah pada pintu sebelum tubuh Mikaela muncul dari sana.


Arva hampir menghampiri, namun sosok gadis mendahului pergerakannya.


"Ya ampun bentar lagi gue punya ponakan!" seru Nayla. "Kapan keluarnya sih, Mik? gak sabar deh."


Arva melenguh, gadis itu ternyata datang juga, siapa yang membuatnya kemari? Arva melirik kedua temannya.


"Bukan gue!" Rendra tak mau dituduh. Sedang Vino sibuk mengedarkan pandangannya tak mau ditanya.


"Ini malam terakhir gue di sini!" ucap Rendra lagi.


Arva berdecih, lagi pula siapa juga yang akan menampung si teman sampah nya itu.


"Gue mau nyusulin Vanya!" lanjutnya, kini membuat Arva menjadi sedikit serius.


"Ngapain?"


"Pakek nanya lagi, doi mendadak pengen cepet nikah gara-gara mergokin lo tadi."


"Wuahhh serius?? hahahaha." Arva tertawa lepas namun akhirnya memegang bahu temannya itu kuat.


"Harusnya lo liat pada saat-saat terburuk!" ucap Arva serius.


Rendra menyingkirkan lengan Arva yang menghambat pergerakannya, pria itu menghalangi pemandangannya.


"Kayaknya gue pending deh." gumam Rendra ketika seseorang yang membuatnya terpana menghampiri. Vino bergerak lebih cepat sebelum Rendra kembali melangkah, pria itu membusungkan dadanya tak memberi celah.


Arva segera mengambil alih Nayla dari genggaman Vino. "Gak bisa!" tekannya.


"Gak bisa apa sih, kak?"


"Temen gue itu brengsek semua!!"


"Kalau gitu, lo juga brengsek!" delik Nayla tak mau kalah.


"Gue beda, buktinya bisa dapetin Mikaela!"


"Karena tuhan masih mau berbaik hati aja, gue juga heran kenapa bisa begitu." deliknya lalu kembali menghampiri Vino. Sedangkan Arva dan Vino saling tatap, seolah sedang saling bicara melalui tatapan.


"Biarin aja!" suara Mikaela muncul, sedari tadi wanita itu melihat semanya tanpa bicara.


"Apa boleh?"


"Kenapa enggak? Vino baik kok."


Arva mendelik, ia teringat pernah hampir membunuh lelaki itu karena sudah berani mendekati Mikaela, dan sekarang wanita ini masih membelainya, seberapa dekat mereka?


Wanita itu memang tidak ada peka-pekanya, sudah jelas membuat cemburu tapi tidak sadar.


"Tapi kamu jauhhh lebih baik, karena pilihanku selalu yang terbaik." ucap Mikaela, membuat Arva tak bisa mengontrol dimple nya untuk tidak muncul.


"Oke sekarang semuanya bubar!" pugkas Arva akhirnya mengumumkan.


"Bubar? loh kenapa?" tanya Shopia tak mengerti.


"Sebenarnya ini sudah kupersiapkan dari jauh-jauh hari, jadi tidak mungkin kami yang memisahkan diri?" jelasnya.


Oke, rencana kali ini tidak membuat si target lebih senang, jadi tak ada yang berani menyalahi.


"Mikaelaaaaa ...." sapa Rani yang baru datang, membuat semua orang melihat ke arahnya secara bersamaan.


Mikaela menelan salivanya berat, ia tidak tahu kalau Arva menyiapkan semuanya hanya untuk berduaan dengannya, jadi tadi selagi dandan ia mengajak temannya itu untuk ikut bergabung dengannya


Tapi bukan hanya Rani, melainkan teman-teman satu kampusnya dulu, termasuk Vera, teman karibnya Vanya pada waktu sering membuli Mikaela pada waktu itu.


Arva melirik ke arah 2 temannya yang bahkan tak tahu menau tentang hal ini.


"Aku yang undang." bisik Mikaela terlihat menyesal.


"Merayakan tahun baru dengan banyak orang tidak terlalu buruk, kamu masih di sisiku juga!" ucap Arva.


Keduanya sudah saling berhadapan, tak perduli dengan keberadaan banyak manusia di sekelilingnya, nyatanya Mikaela hanya berfokus pada Arva, begitupun sebaliknya.


Duarr


Suara kembang api meledak menjadi bongkahan kecil menghiasi gelapnya malam menandakan pergantian tahun yang sudah dimulai.


Bibir Arva kembali mendarat pada pipi Mikaela, fokus istrinya telah beralih pada benda terang di atasnya.


Arva melenguh, bahkan gadis itu tak sadar dengan apa yang sudah dialihkannya. Mikaela malah tersenyum lepas menatap kagum benda-benda langit yang keindahannya bertambah. Kelihatannya memang begitu, namun bagi Arva keberadaan Mikaela lah yang menjadikan semuanya indah, sebab ketiadaannya semua yang indah tak akan berarti.


Semua orang sudah sibuk dengan kesenangannya masing-masing. Vino dan Nayla sedang menjadi agen petasan, apapun pekerjaannya jika dilakukan berdua dengan seseorang yang disukai maka akan menjadi adegan romantis.


Danu dan Shopia sibuk memanggang barbeque, pekerjaan yang sudah lama tak dilakukannya. Sedang Erik dan Sinta menikmati hidangan, dinner romantis yang diimpikan sejak lama sepertinya terwujud pada detik ini.


"Sendirian?" tanya Rendra pada Rani.


"Berdua!" potong Melvin, segera membawa gadisnya pergi jauh dari pedofil yang tak kunjung taubat.


Arva menyudahi perhatiannya, ia mulai memeluk Mikaela dari belakang sambil mengelus perut besarnya.


"Kamu ingin anak perempuan atau laki-laki?"


"Perempuan lucu juga sih, tapi laki-laki juga boleh, dia bisa bantuin kamu buat jagain aku! terus nanti kalau punya ade cewek ...."


"Ahwws!" Mikaela meringis, sosok dalam perutnya menendang amat keras.


"Kenapa?" tanya Arva panik.


Mikaela menggelengkan kepalanya, tapi Arva paham persis dengan apa yang terjadi.


"Kamu sih, 1 aja belum keluar udah ngomongin anak kedua."


Mikaela menyikut perut suaminya. "Bukan gitu maksud aku!" deliknya.


Arva tertawa kecil. "Iya aku tau!" pria itu membungkuk lalu mengecup singkat perut Mikaela dan mengelusnya lembut. "Sepertinya kamu sensitif, sayang." gumamnya.


"Apapun jenis kelaminnya yang penting sehat dan selamat." tutur Arva yang kembali mendapat respon gerakan kecil dari calon anaknya.


Semuanya tampak indah dan tampak sempurna, tak kurang satu hal apapun. Kebersamaan keluarga yang terjalin, suara tawa bahagia yang terdengar satu sama lain menjadi hal yang harus diingat ketika suatu saat nanti menhgadapi masa sulit.


"Aku bahagia!" gumam Mikaela.


"Sebahagia apapun kamu, aku menjadi satu-satunya orang yang jauh lebih bahagia darimu." balas Arva.


Tak terbayangkan sebelumnya Mikaela bisa benar-benar mencapai titik ini, titik di mana semua harapannya seakan terjadi pada satu waktu.


Perasaan yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan akan bisa dirasakannya, bahkan Mikaela lupa dengan rasanya sepi dan sendiri. Kini harinya selalu ada Arva, Arva, dan Arva. Baik kemarin, sekarang, bahkan nanti akan tetap terus begitu. Selamanya, Mikaela dapat menjamin bahwa lelaki itu pasti diperuntukkan hanya padanya.


~ **T.A.M.A.T **~


Setiap yang diawali pasti memiliki akhir. terima kasih untuk para pembaca yang sudah setia dengan cerita ini dari awal sampai mencapai akhir kisah.


Tulis tanggapanmu tentang cerita ini di komentar, aku ingin membacanya dan tersenyum-senyum sendiri ehehehe ..


Oh ya, mau extra part??


Kalau tembus 1k like + 100 comment aku akan membuatnya, jadi tinggal menunggu respon kalian aja 😘😘


Sampai jumpa di next cerita, jangan lupa baca juga ceritaku yang lainnya, caranya klik foto profilku lalu pilih karya, pilih deh cerita yang kamu suka. Luvvvyuuuuu


Jangan lupa follow aku di instagram: @Lovelyliy_ facebook/twitter: @lovelyliy95


Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa kasih vote yaaa..



caranya klik detail lalu klik vote! biar cerita MIKAELARVA masuk ranking sampe 3 besar😍😍😍 thxu