My Cold Senior

My Cold Senior
Gak akan Lagi



Jangan lupa


✔Follow


✔Like


✔Comment


Instagram : @Lovelyliy_



Happy Reading ♡♡



"Gak habis pikir deh kenapa si masih aja diladenin" gerutu Mikaela di sela langkahnya



"Gak tau malu banget, dia hampir aja bunuh Arva tapi masih punya muka buat nemuin. Emang dasar si cowok brengsek itu juga mau-mauan"



"Siapa yang brengsek" sahut seseorang yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya, membuat Mikaela terhenyak



"Rannnn" keluh Mikaela sambil mengusapi dada nya "Kalo dateng bilang-bilang dong"



"Hehe maaf" sesalnya "Lagi kesel ya? kok dilipet gitu sih mukanya" tanya Rani



"Dilipet? pffftt muka dilipet kayak gimana bentukannya"



"Ya kayak lo gini" tuduh Rani sambil mengabsen wajahnya lebih dekat



"Apa sih Ran" elak Mikaela



"Kenapa? Arva lagi?" tanyanya masih kepo



Mikaela menghela napasnya "Jangan bahas yang gak ada disini ya" jawabnya



Rani mengangguk setuju "Oke, terus lo ngapain disini?" tanyanya



"Nunggu kelas lah, aku udah beberapa hari gak masuk"



"Kelas dimulai jam 10, dan sekarang udah lewat 15 menit" ujarnya



"A-apa? serius?" tanya Mikaela



Rani mengangguk "Iya" jawabnya polos



"Emang kamu gak akan ikut kelas?"



"Ikut dong, masa enggak sih"



"Terus ngapain masih disini? malah ngajak ngobrol lagi" protes Mikaela



"Astaga" kaget Rani sambil menepuk keningnya karena baru saja menyadari kelalayannya



"Hahahaha" Mikaela tertawa



"Kok ketawa sih Mik? ayoo ah" ajak Rani sambil meraih pergelangan tangannya



"Iya iyaa"



_____________________________



"Kenapa?" tanya Arva



"Sorry, gue bener-bener gak bermaksud nyakitin lo. Hanya saja waktu itu gue.. g-gue gak sadar dengan apa yang gue lakuin" ungkap Vanya



"Udah lewat, gak usah dibahas lagi" jawab Arva



Jawaban Arva berhasil membuat Vanya bergeming



"Itu aja yang mau diomongin?" tanya Arva yang tak mendapati kalimat lain lagi dari gadis itu



"Gue suka sama lo Arva, apa gak ada kesempatan bagi gue?" tanyanya lirih



"Sejak dulu kita udah jadi temen, dan perasaan gue gak lebih dari itu. Gue suka sama lo hanya sebatas temen, dan gue harap lo gak ngelakuin hal bodoh lagi" tutur Arva



"Gue akuin kalo gue juga pernah salah sama lo, gue brengsek karena pernah mainin perasaan lo. Gue anggap tragedi kemaren sebagai hukuman lo buat gue, maka dari itu gue gak memperpanjang masalah ini seperti yang mami mau" lanjutnya



Vanya mengangguk "Mami kamu emang gak pernah suka sama aku" ucapnya sambil tersenyum miris



"Lo salah. Dari dulu dia udah suka sama lo, ketika lo jadi temen gue." jelasnya



"Lo tau? perasaan ini nyiksa."



"Van.."



"Gue belum selesai ngomong" tahan Vanya pada pria yang sudah memotong ucapannya



"Gak tau kenapa selama ini perasaan gue hanya bertahan di lo. Kenapa harus lo orangnya, kenapa hati gue gak bisa terima oranglain selain lo. Selama ini mungkin gue gak pernah menanyakan hal itu karena memang lo istimewa dan gue pikir cuman lo orang yang pantes dapet perasaan gue." tuturnya dengan ujung mata yang sudah basah



"Tapi nyatanya orang yang selalu gue sebut setiap saat ini tidak merasakan hal yang sama. Lo tau kan kalo gue gak pernah menerima penolakan? semua yang gue mau harus gue dapetin, lo tau kan?"



Arva mengangguk "Lo selalu ngambil apa yang gue pegang, kalo gak dikasih lo bakal nangis sejadi-jadinya." tambah Arva



Vanya tersenyum "Dan lo selalu ngalah"



"Tapi untuk kali ini gue gak akan ngalah, gue bakal mertahanin perasaan gue." tutur Arva



Vanya mengangguk, membuat butiran air mata yang masih menggantung itu merembes keluar "Gue tau" jawabnya



"Ini saatnya gue bayar semua hal yang udah lo relain buat gue" lanjutnya



Arva berdeham "Lo jangan nangis gini dong, tar dikira orang gue jahatin lo lagi"



"Emang" jawab Vanya sambil membalas tatapan pria itu "Rasanya sakit Arv, dan lo gak berusaha buat meluk gue" tuturnya



"Sorry" ucap Arva sambil merengkuh tubuh gadis itu



"Gue bakal pergi" ucap Vanya



"Pergi?" tanya Arva seraya melepas pelukannya, namun tidak dengan Vanya, ia enggan melepaskannya, membuat pria itu mengindahkan perlakuannya



Vanya menyimpan dagunya di atas bahu Arva "Relain lo sama orang lain itu butuh usaha yang keras, lo tau?"



"Gue tau" jawab Arva



Vanya berdecak, pria itu mulai membanggakan dirinya. "Tapi gue gak janji untuk menghilang selamanya"



"Lagian gak ada yang nyuruh lo ngilang" jawab Arva



"Tapi Mikaela pasti berharap begitu"



"Dia gak sejahat itu"



Vanya mengangguk "Tapi gue jahat" jawabnya "Kalo gue balik lagi, gue gak janji untuk gak ngerebut lo lagi dari dia" lanjutnya



"Kalo gitu gue akan mempersiapkan diri untuk tidak tergoda siapapun" jawab Arva



Vanya menarik kedua ujung bibirnya lalu melepas pelukannya "Gue bakal berusaha bikin lo kalah" ucapnya



"Kayaknya lo lupa, kalau gue gak pernah kenal kata kalah" timpal Arva



____________________________




"Bukannya hari ini Arva mau pulang ya? kenapa Mikaela malah pergi?" gumam Rendra sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya



"Kebiasaan si kampret, hobby banget bikin orang nyari" keluh Rendra di sela langkahnya sambil berusaha menelepon Vino yang tak kunjung terhubung



Rendra mengurungkan niatnya untuk membuka pintu ruangan, ia mendapati seorang wanita yang terlihat dari jendela pintunya "Vanya?" gumam Rendra "Ngapain dia kesini?"



Kalau ada seseorang lain di dalam, otomatis penghuni ruangan nya juga ada disana. Dan ketika Rendra mengintipnya secara keseluruhan.. memang benar, Arva sedang ada disana. Keduanya terlihat sedang berbicara serius



Cklek


Pintu ruangan dibuka dari dalam "Lo nguping?" tuduh Arva karena mendapati pria itu di depan pintu ruangannya



Rendra mengerjapkan matanya karena kurang sigap untuk segera kabur agar tak ketahuan, ia menggelengkan kepalanya "Gak kedengeran" akunya



"Ngapain lo kesini?" tanya Rendra pada gadis itu



"Gue cuman mau pamit" jawab Vanya



"Kalo gitu gue pulang" pamit Vanya pada Arva



"Gue gak mungkin anter lo pulang, jadi biar Rendra.."




"Gak usah lagian, gue bisa naik taxi" ucap Vanya



"Lo serius gak akan laporin dia?" tanya Rendra ketika gadis itu sudah berlalu



Arva menggelengkan kepalanya "Gue juga banyak salah, gue anggap ini sebagai hukuman buat gue" jawab Arva



"Tapi lo hampir mati" keluh Rendra



"Nyatanya gue masih hidup kan?" jawab Arva santai



"Bukannya lo suka sama dia?" tanya Arva



"Lupain, gue gak tertarik sama cewek penuh ambisi" sangkalnya



"Bukannya lo mau diperjuangin?"



"Kalo main nyawa beda cerita" timpal Rendra



"Setiap orang bisa lupa, dia lagi lupa dan harus diingetin. Tapi yaudah lah, lagian lo gak akan ketemu dia lagi dalam waktu yang cukup lama, jadi bisa buat space juga agar lo lupa"



"Syukurlah, gue gak berharap" jawabnya



"Move on itu gak mudah, semangat buat lo dan selamat bahagia buat gue" ungkapnya lega



"Emang dia mau kemana?" ceplosnya yang tak pernah bisa menahan rasa penasarannya



Arva menggelengkan kepalanya "Dia gak bilang dan gue gak nanya" jawabnya



"Kenapa lo jadi cowok dingin banget? tanya kek, sekedar tau apa salahnya" protes Rendra



"Yang nanya itu harusnya lo, kenapa gue? temen gak harus tau banyak" timpalnya



Rendra mendengus dan segera balik kanan untuk memastikan sesuatu yang akan mengganjal di hatinya dan jadi bahan penyesalan kalau tidak segera dibereskan



"Mau kemana? katanya lo kesini buat jemput gue" tahan Arva



"Gue lupa, kalo lo gak butuh gue kalo cuman pulang ke rumah" jawab Rendra bergegas



"Oh ya, jangan terlalu seneng. Gue tadi papasan sama Mikaela, dan lo tau mukanya? udah kayak mau makan orang" ucap Rendra sebelum akhirnya berlalu, membuat ketenangan pria itu runtuh seketika



"Sialan" rutuk Arva pada pria yang sudah hilang dari pandangannya



________________________



"Selama aku gak masuk kok kayaknya kamu makin pinter sih" puji Mikaela



Rani mendengus "Dalam rangka apa nih?" balasnya



"Suudzon banget sih, makasih ya udah nyelametin aku tadi" ungkap Mikaela dengan memamerkan senyumnya



"Iye iyeee, udah kewajiban gue kok. Temen baik kan harus saling bantu dalam hal kebaikan" tuturnya



"Tapi untuk kali ini gue arnulir deh, gak ada baiknya bohong sama dosen" tambahnya



"Hehehe kamu memang terbaik" ungkap Mikaela sembari memeluk paksa gadis itu



"Aduhh iya iyaa jangan gini, gue pengap" keluh Rani



"Bodo amat, aku sesayang ini sama kamu"



"Ar-Arva?" kaget Rani



"Jangan bohong, mana ada dia disini" elak Mikaela tanpa melepas pelukannya



"Gue seriusan, lo liat aja"



"Gue gak akan ketipu" kukuh Mikaela



"Kayaknya sekarang gue lagi iri sama lo Ran" suara Arva membuat Mikaela segera menghentikan perlakuannya



"Apa gue bilang" protes Rani sembari membenarkan atasannya yang sedikit kusut akibat ulah temannya itu



"Kenapa disini?" tanya Mikaela



"Mik, kok jutek banget sih? orang masih sakit juga dia bela-belain kesini kan" protes Rani



"Tuh denger" ucap Arva membenarkan



Mikaela mendengus "Iyalah. Orang punya salah, gimana gak maksain" batinnya.



"Eh gue cuman bawa 3 minuman, tadi disini ada 2 orang soalnya" ucap Melvin setelah menyodorkan minuman yang sengaja dibelinya



"Ini aja buat gue" serobot Arva mengambil minuman yang hampir saja diminum Melvin



"Maaf ya kak, ini ambil aja punya aku" ucap Mikaela, menyodorkan minuman miliknya



Melvin melempar tatapnya pada Rani lalu merebut jus yang sedang diminum gadis itu "Kok diambil?" protes Rani



"Gue yang beli lagian" timpal Melvin santai setelah meminum jus miliknya



Rani memutar kedua matanya "Ngeselin" ucapnya sambil bangkit dari duduknya dan berlalu



"Masa ngambek sih gini doang?" keluh Melvin



"Rani itu peka, gak kayak lo" sindir Arva



"Biar aku yang susul" ucap Mikaela yang hampir bangkit dari duduknya namun tertahan oleh Arva



"Gue aja Mik, duluan ya" pamit Melvin



"Dari tadi kek" gumam Arva



Mikaela mendengus "Aku mau pulang" kesalnya



"Yaudah" jawab Arva



"Arva.." protes Mikaela



"Apasih sayang?" tanya Arva dengan meniru nada rengekan gadisnya barusan



"Aku mau pulang" keluhnya



"Yaudah pulang aja" jawab Arva



"Yaudah gimana? kalo kamu masih tahan tangan aku gini" jelasnya



"Ohh hehe gak bilang dari tadi sih" keluh Arva segera melepaskan genggamannya



"Jayus banget sih, gak lucu" tekan Mikaela sambil bangkit dari duduknya



"Tapi suka kan?" goda Arva



"Enggak!" tegas Mikaela "Gak sama sekali" ulangnya memperjelas



"Lagian ngapain kesini? udah tau baru sembuh. Pakek minum minuman dingin segala, emang udah boleh?" protesnya



"Bukannya cewek kalo marah mau banget kalo cowoknya ngebaik-baikin ya?"



"Kamu gak ikhlas?"



"Makanya aku kesini nyamperin"



"Lagian kenapa Vanya gak berhasil nahan kamu? Biasanya dia bisa bikin kamu gak balik lagi secepat ini"



"Gak akan lagi" tutur Arva setelah berhasil melampaui langkah Mikaela.



"Lo denger? gak akan lagi. Gue gak akan pernah ninggalin lo walau sedetik" jelasnya






PLEASE LIKE AND COMMENT



Oh ya cek cerita baru aku yang judulnya "Obsession of Love" cari aja ya, tar ketemu yang baru sampe episode 5. nanti akan bom update, nunggu waktu yang tepat ehehe