
Happy Reading ♡♡♡
Shopia mengangguk "Istrimu rutin minum pil kontrasepsi, kamu juga tau kan?" Shopia merasa ada sesuatu yang aneh lalu tatapannya beralih pada Mikaela yang kini hanya menunduk "Atau.."
"Arva yang minta" potong Arva
Mendengar itu membuat tatapan Shopia beralih lagi pada Arva lalu memicingkan kedua matanya sebagai tanda kalau ia perlu diyakinkan.
Arva mengangguk cepat tanpa ragu, tak sulit baginya untuk menyembunyikan perasaan sakit, hatinya sudah terlatih untuk perasaan semacam ini. Namun bedanya perasaan sakit kali ini berasal dari Wanitanya uang baru saja membuat senyumnya sulit pudar dari wajahnya.
Arva menatap Mikaela lekat, mencoba menelanjangi maksud dari semua yang baru saja membuatnya tercengang. Nope, ia tak menemukan apapun selain permohonan untuk meneruskan drama di depan kedua orangtuanya.
Arva menarik kedua ujung bibirnya lalu mremas lengan Mikaela kuat "Arva mau berduaan dulu sama Mikaela" tambahnya untuk lagi lebih meyakinkan.
Shopia menghela nafas panjang "Baiklah, Mami tidak bisa apa-apa kalau memang itu keinginan kalian berdua. tapi jangan terlalu lama, itu bukan sesuatu yang baik" tuturnya menyembunyikan rasa kecewanya demi kebahagiaan anaknya.
__________________________
5 menit sudah berlalu namun tak sepatah kata pun yang kelur dari mulut keduanya setelah sampai di kamarnya selain saling berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.
Mikaela ingin sekali menjelaskan apa yang pastinya sangat mengganggu pikiran Arva sekarang, tapi lidahnya kelu, rasanya terlalu berat untuk mengawali pembicaraan.
Apapun yang terjadi Mikaela harus tetap mengutarakan yang sebenarnya, ia memejamkan matanya kuat-kuat lalu membukanya penuh keyakinan "Arva.. a-aku.. sebenarnya aku.."
Arva bangkit dari duduknya "Aku mau keluar, jangan tunggu aku pulang, kamu tidur duluan aja" potongnya cepat.
Ucapan yang disela membuat mulut Mikaela masih terbuka, ia harus apa sekarang? Arva sudah akan beranjak dari kamarnya, haruskah ia menghalanginya?
"Arva dengar.. aku punya alasan" ucap Mikaela penuh penekanan sampai membuat nafasnya berderu kencang karena luapan emosi yang tertahan.
Arva menghentikan langkahnya. Sepasang lengan sudah melingkar pada perut ratanya, membuat perasaan sakit itu ingin sekali ia luapkan saat ini juga.
"Jangan marah, aku mohon kamu mengerti" tutur Mikaela sendu, dengan sisi wajah yang menempel pada punggung Arva, membuat isak tangisnya dirasakan si pemilik punggung.
Arva memutar tubuhnya "Bahkan aku tidak mengeluarkan satu kata pun yang menyinggung" ucapnya sambil menghapus jejak air mata istrinya, ia anggap itu sebagai ganti air mata nya yang tak akan ia biarkan keluar, setidaknya untuk saat ini
"Aku takut, aku mohon jangan tinggalin aku, aku tau kalau kamu sangat menginginkan seorang anak, tapi.. tapi aku.."
Arva menjauhkan tubuhnya "Setiap luka butuh waktu untuk sembuh" ungkapnya tiba-tiba.
"Jangan temui aku sebelum aku yang datang sendiri" lanjutnya segera hengkang sebelum akhirnya emosi nya harus ia luapkan pada wanita yang ada di depannya, atau akan ada penyesalan baru.
Sekuat tenaga Mikaela berusaha mengejar langkah pria itu, ia menuruni tangga dan hampir terjatuh, namun ia masih bisa mengimbangi.
"Awhhh" Mikaela terjatuh di teras rumahnya setelah hampir menggapai punggung orang yang dikejarnya.
Arva sempat menoleh, namun ia kembali melanjutkan maksudnya untuk segera pergi dari hadapan Mikaela.
Bayangan gadis itu terlihat menjauh dari spion mobilnya, semakin lama dan semakin hilang.
"Aku butuh waktu untuk mengerti" gumam Arva.
________________________
"Woyy bangunn" Vino menggoyahkan tubuh temannya yang sulit dibangunkan dengan kaki nya.
Bukannua bangun Rendra malah membawa bantal yang ia peluk untuk menutupi wajahnya.
Kring kring
Dering ponselnya kembali bersuara
Vino berdecak, mungkin kali ini ia harus pergi sendiri.
Dengan kecepatan penuh Vino sudah sampai di lokasi 20 menit lebih cepat dari waktu tempuh yang seharusnya.
Suara degup musik dj sudah terdengar jelas ketika ia sampai di pintu masuk club. Sudah lama ia tak berkunjung ke tempat ini, lalu untuk awal seperti ini ia harus dihadapkan dengan seseorang yang sekarang sudah terkulai lemas di meja bar.
"Mas Vino ya?" tanya seorang yang menelponnya.
"Iya" sahut Vino segera melihat kondisi dari sahabatnya yang tak bisa dibilang baik-baik saja, sebab pria ini bukan pemabuk, ia bisa mengendalikannya, lalu kenapa tiba-tiba..
Tidak bisa dibiarkan, Vino harus segera membawa pria ini pulang, atau istrinya.. ah benar, kalau Mikaela tau maka akan jadi masalah, sepertinya ia harus menampung pria ini dulu.
________________________
Mikaela tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu, ia harus mencari suaminya.
Mikaela bangkit dari jatuhnya lalu kembali ke kamar untuk membawa segala kebutuhannya, dengan langkah yang membuatnya sedikit meringis karena terdapat luka pada kedua lututnya.
Semua penghuni rumah sudah tak ada yang berkeliaran, itu membuatnya bebas untuk segera keluar dari rumah ini.
Clip clip
Suara alarm mobil.
Yap, ini saatnya Mikaela menguji kemampuannya dalam berkendara, memang baru beberapa kali belajar, tapi bukankah malam-malam begini tak akan banyak mobil yang berlalu lalang?
Sepanjang jalan Mikaela melihat setiap mobil, berharap menemukan mobil milik suaminya, tapi nihil.
"Arvaaa" panggilnya ketika sampai di sebuah rumah yang seharusnya ia tinggali.
Mikaela sudah mencari ke setiap ruangan, tapi ini tetap rumah kosong. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
Krek
Suara pintu ketika ia baru saja keluar dari ruangan
Bulu kuduk Mikaela berdiri dan dengan terburu-buru ia segera keluar dari rumah itu sebelum akhirnya harus uji nyali.
Mikaela menjatuhkan tubuhnya sampai menyentuh lantai "Aku harus cari kemana?" keluhnya frustasi.
Seakan muncul cahaya menuju kepalanya, Mikaela segera menekan salah satu kontak yang ada di ponselnya.
"Halo"
_______________________
Rendra menekan kuat kedua telinganya lalu melemparnya asal setelah gusar mendengar dering telepon yang tak kunjung berhenti.
"Arrrggg siapa sih? gak tau apa orang lagi tidur? ganggu aja" amuknya di ujung telepon
"Maaf"
Jiwa Rendra seakan kembali pada raga nya "Mikaela" gumamnya setelah menyadari dan kembali menyambungkan sambungan yang sudah terputus
"Kok gak diangkat?" pikir Rendra menjadi termenung
"Btw si Vino mana?" tanyanya pada diri sendiri ketika menyadari kalau ia hanya sendiri.
Kring kring
Rendra melihat ponselnya namun tak ada panggilan disana, ia mengikuti ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari ponsel Vino yang ada di atas meja
"Mikaela?" ulangnya membaca satu nama yang muncul pada layar. Mengangkat telepon ponsel orang itu tidak sopan, tapi tadi Mikaela pun menelponnya, barangkali ada sesuatu yang penting? Hemm oke biar kalau ada sesuatu dipikirkan nanti saja.
Baru saja Rendra menggulir tombol hijau dan pada saat itu juga panggilannya terhenti.
Rendra menggaruk belakang lehernya, ia menyadari kalau ia terlalu lama berpikir, tapi yang ia heran kenapa ponselnya ada tapi pemilik nya tidak ada di tempat?
Apartemen sekecil ini bisa menemukan keberadaan orang dengan cepat, tapi Rendra mencari nya ke setiap sela, entah itu toilet atau kolong kasur.
Cklek
Pintu apartemen tidak bisa dibuka.
"Jangan bilang.. sialan"
bersambung ○○○
Like and Comment pleaseee