
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Pegangan tangan? Ck udah kayak mau nyebrang" protesnya dalam hati.
 Arva pun gak paham dengan perasaannya. kenapa harus kesel? Siapa elo? Siapa dia? Bener-bener gak masuk akal.
Emang sempet ke rumahnya tapi masa karena hal itu bisa bikin suka? Bukannya cuman penasaran? Karena dia cewek yang sering diobrolin oleh beberapa kumpulan lelaki di kampusnya. "Cantik, ramah, dan suci?" Apa cewek itu bisa nahan dengan pesona seorang Arva? Hanya untuk memastikan hal itu
Arva meremas botol aqua nya sampai ringsek tak terbentuk lalu melemparnya ke arah tong sampah yang lumayan jauh, tapi tepat sasaran
O M G ga salah kan gue ngefans
Padahal buang sembarangan aja sih banyak ko yang mau mungutin bekasnya
Heyy gue duluan yang ambil
Ishh tapi gue yang liat duluan kann
Perseteruan para gadis yang memperebutkan bekas minumnya. Entah untuk didaur ulang atau dimasukkan mesium, suka-sukanya mereka lah. Yang penting gak ngeganggu
"Makasih ya ka udah nganterin sampe depan kelas" ucap Mikaela
"Iya sama-sama" jawab Melvin membslas senyumnya
"Mik lo kenapa?" Tanya Rani yang langsung nyamperin pas ujung hidung sahabatnya keliatan dari kejauhan
"Yaudah aku masuk ya kak"
"Cerita nanti aja yuk" ajak Mikaela pada Rani untuk segera masuk kelas
Arva melihat Mikaela yang berjalan sambil bergandengan dengan temannya menuju tempat duduknya dari jendela. Gak ngeliatin sambil diem di tempat! keliatan banget merhatiinnya dong? Arva pinter ko dalam memanipulasi kekepoannya biar gak dicurigai
Arva seakan sedang berjalan, ia menggaruk belakang kepalanya sambil melihat ke jendela kelas
Mikaela duduk di tempatnya, begitupum Rani.
"Cerita!!" Tagih Rani. Dengan telinga dan semua anggota tubuhnya yang siap untuk mendapatkan informasi
"Gue cuman jatoh di lapangan"
"Terus?"
"Ya itu ka Melvin yang nolongin"
"Gitu doang?" Rani masih menunggu kelanjutan cerita yang tadinya seperti penting untuk didengarkan
Mikaela menganggukkan kepalanya, pertanda ia selesai dengan ceritanya.
"Yaelah kirain kenapa.." Rani menyandarkan punggungnya ke sandaran kursinya.
"Ish sakit tau" Mikaela mengusap lututnya
"Lebih sakit nohh.." Rani menggerakkan mulut manyunya mengarah pada jendela
Mikaela segara melihat apa yang ditunjukkan Rani "huh.." Mikaela tak mengerti maksud dari Rani. ia hanya melihat Arva yang melintas disana gaada hal lainnya
"Tadi dia liatin kesini! Mungkin dari tadi dia ngeliat lo sama Melvin" ucapnya
"Gak mungkin lah" sanggahnya
"Kenapa enggak? Kalian kan sering bareng"
"Apa? Enggak ko!" elaknya lagi
"Iya intinya kan gitu! Eh tapi ko gue perhatiin dia gak nyamper-nyamperin lo kayak biasanya ya?"
"Ya enggak lah! Orang beda" celetuk Mikaela.
"Apa ? Beda? Maksudnya?" Tanya Rani semakin kepo
"Mati.. kelepasan" batin Mikaela menggerutu. Gak mungkin kan Mikaela cerita kalo Arva itu punya kepribadian ganda? Walaupun pria itu rese tapi kasian juga ketika tau keadaannya gak sesempurna seperti yang diperlihatkan
Penyakit semacam itu bukan hal sepele! Gaada obatnya dan kemungkinan gak bisa sembuh. Dokter dan obat itu gak bisa banyak bantu, satu-satunya yang bisa mengendalikan adalah diri sendiri, tapi tentu bukan hal yang mudah
"Ah maksudku dia kan emang suka berubah-ubah.. mungkin waktu itu dia cuman penasaran aja sama aku dan sekarang dia udah.."
"Mus.. ta.. hil !" Tekan Rani tak menerima.
"Gak mungkin! Yakali cuman penasaran tapi terang-terangan di depan semua orang!"
"Ya buktinya sekarang?? Kan ?" timpal Mikaela. Rani diam, ya yang dibilang Mikaela ada benarnya juga. Lagian Arva udah terkenal player kan? Jadi wajar kalo dia gonta-ganti cewek
"Tapi gue gak pernah denger kalo dia jalan sama cewek yang sekolah disini"
"Ya terserah dia dong, emang ngaruh?"
"Tapi serius.. Arva cuman jalan sama cewek-cewek berkelas, termasuk si nenek lampir itu! Dia emang mahasiswa sini, tapi untuk derajat sih emang cocok lah sama Arva! Keluarganya sama-sama tajong kan"
"Hah .. tajong?"
"Tajir"
"Oohhh" dengan mulut yang membentuk huruf O dan cukup panjang menyebutnya
"Ko lo biasa aja sih?" Tanya Rani. "Sedih atau apa kek gitu ala abis ditinggal gebetan" lanjutnya
"Yahh kan lagi musim belom jadian tapi udah patah hati duluan" ucap Rani sambil membuka buku tulisnya beserta alat tulis yang disiapkan. Jangan salah, Rani emang anak club tapi dia lebih rajin ketimbang mikaela yang moody-an kalo belajar
"Nggak ah biasa aja.. kamu aja itu yang lebay" jawab Mikaela.
Kalo Rani udah siap-siap gitu maka.. yaa tak lama dosen pun masuk ruangan! Standing uplouse.. Rani kayak punya indra tambahan, dia tau kapan dosen muncul.
Buktinya, waktu mereka lupa ngerjain tugas di hari terakhir. Mikaela ketika sampe kelas, rusuh banget ngerjain. Sedangkan Rani santai aja kayak di pantai. Dan alhasil apa? Dosen gak masuk! Pekerjaan Mikaela pun sia-sia. Yah walaupun masih kepake di minggu depan tapi kan kalo tau gini mending ngerjain di rumah daripada ngebut kayak tadi, tulisannya pun acak-acakkan dan mau gak mau musti tulis ulang lagi ..
"Tukan dia gak masuk" ucap Rani
"Siapa?"
"Dosen"
"Jadi kamu tau dia gakan masuk?" Rani hanya cengengesan dan bilang "just feeling" haha bagusss. Walaupun kebetulannya itu sering banget kejadian
"Abis ini kita..."
"No!" Potong Mikaela
"Belom beres ngomong" protesnya
"Mau ngajak jalan kan?" Dugaan Mikaela membuat Rani mengangguk cepat
"Enggak mau" tegasnya lagi
"Loh.."
"Ampir tiap hari kamu ngajak jalan, gak betah banget di rumah keknya"
"Ya habis beteeee" keluhnya
"Temenin ibu kamu.. dia kan sendirian terus di rumah?"
"So tau lo ah, gatau aja dia sibuk arisan mulu"
"Ya ikut aja .. temenin. Kamu kan sebagai penerusnya hihi" usul Mikaela diikuti dengan tertawa kecil
"Mik"
"Hemm"
"Gak lucu"
"Ya jangan ketawa"
"Yaiyalah gue juga tau kalo gak lucu ya gak ketawa! Ngeselin juga ya lama-lama" protes Rani menatap Mikaela yang sedang berbenah tas nya
"Biarin wlee" Mikaela bangkit dari kursinya dan pergi dengan menjulurkan lidah terlebih dahulu setelah itu mempercepat langkah pincangnya sebelum Rani selesai membereskan bukunya dan mengejarnya
"hah hah" nafasnya terengah dan berasa sesak "faktor umur apa ya? Lari segini aja udah ngos-ngosan" gumamnya sambil menekan pahanya dengan kedua tangannya untuk menahan tubuhnya
Setelah merasa mendingan Mikaela kembali menegakkan tubuhnya.
"Kenapa lari? Bukannya kaki lo masih sakit?" Tanya Arva yang papasan di belokan menuju parkiran
"Ah u udah enggak ko"
"Oya?" Tanyanya memastikan
"Gue anter" Arva meraih lengan Mikaela dan menariknya untuk mengikuti langkah besarnya
"Ahw" ringis Mikaela pelan, menahan perih pada lukanya.
"Gak usah" protesnya
"Aku bisa pulang sendiri" jelasnya menolak. Tapi Arva masih menarik lengannya yang mau gak mau Mikaela harus mengikutinya
Bugh
"Ahww" Mikaela mengusap jidatnya yang bertubrukan dengan punggung besar pria yang menariknya
"Kalo mau berhenti bilang dong" protesnya
"Katanya gak sakit, tapi kenapa jalannya pincang kayak gitu"
"Ya kamu jalannya kecepetan ! Gak sakit bukan berarti sembuh total"
"Itu namanya masih sakit!" Tegas Arva, membuat Mikaela tak bisa menjawab ucapannya.
Arva memutar badannya untuk membelakangi Mikaela lalu berjongkok
"Naik" titahnya.
•
•
•
Please like and comment !!