My Cold Senior

My Cold Senior
Bodoh !






Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Mau tau?" Arva menarik sebelah alisnya



Mikaela menatap ngeri ekspresi Arva. ia tau ada udang dibalik tatapan penuh arti itu.



Mikaela menghindari dada Arva yang sudah condong kedepan dengan tatapan intimnya



Mikaela terhuyung hampir jatuh karena punggungnya yang ia lenkungkan ke belakang akibat menghindari Arva yang terus mencondongkan dadanya.



Arva menangkap tubuh Mikaela yang hampir mengalami accident terjengkang. Membuat jarak keduanya sirna, dahi keduanya sudah saling menempel



Deg


Getaran itu semakin bermasalah, ia takut punya penyakit jantung yang belum terdeteksi



"Maaf den" pelayan paruh baya memecah ketegangan yang dirasakan Mikaela



"Ada apa?" Tanya Arva santai, seolah tak terjadi apa-apa. ia melepaskan cengkraman pada pinggang Mikaela



"Tuan dan nyonya gak akan pulang malam ini" ucapnya menyampaikan pesan



"Bagus" pungkasnya lalu menarik Mikaela menaiki anak tangga yang gak lumayan banyak.



Bruk


Ctrek



Pintu kamar terkunci sempurna.



"Jangan dikunci" protesnya menghampiri pintu kamar



Cklek cklek


Dengan apa yang udah diliatnya tadi. Udah dikunci, bisa dibuka hanya dengan cara mendobraknya. Tapi mana mungkin?



"Ngapain disana sama pria brengsek itu?"



"Disana dimana?"



"Di kafe tadi.."



Mikaela tak bergeming. ia malas menanggapi, memangnya siapa dia? Kenapa harus seperti orang yang cemburu? Penasaran gak sekepo itu harusnya.



"Jawab" tekannya



Mikaela menyandarkan punggungnya dibalik pintu kamar itu dengan bibir yang masih terbisu kaku



"Mikaela" tegasnya menaikkan intonasi suaranya, membuat gadis polos di depannya terhenyak



Buliran bening mulai menetes dari pelupuk matanya. Mikaela menekan giginya kuat "kenapa aku nangis?" Tekannya dalam hati. Semakin ditahan, tangisan itu malah semakin menjadi dengan isakan yang gak bisa ditahan.



Tatapan Arva melemah, bukan ini yang ia mau. Padahal ia tak menyentuh sedikitpun, apalagi memukul? Maka Arva akan menyakiti dirinya sendiri sebagai ganti, seperti terakhir kali ia memukul cermin setelah pukulannya mengenai Mikaela.



Arva mengusap pipi di wajah Mikaela yang masih menunduk.



"Gue gak suka lo nangis" lanjutnya.



Mikaela mengangkat wajahnya lalu menepis lengan Arva. "Kamu bukan siapa-siapaku, kamu gak berhak ngelakuin ini sama aku! Aku bisa jalan sama siapa aja, Melvin itu baik" ucap Mikaela sambil mengusap air matanya yang masih mengalir sambil menahan isakannya.



Arva mengusap kasar rambutnya ke belakang. "Lo gak tau siapa dia sebenernya" tegas Arva sambil memegang bahu Mikaela dengan kedua tangannya



"Emang kamu tau apa? Haa.. aku gak pernah denger keburukannya dari oranglain selain dari kamu" jawabnya



"Gue bilang jangan deket sama dia ya jangan! Kenapa lo batu sih? Sejak kapan lo berani jawab?"



"Cukup! Lepasin" Mikaela mendorong tubuh Arva agar pegangan di bahunya terlepas "kenapa kamu gak ngilang aja sih?" Ucapnya sambil ngos-ngosan karena udah ngeluarin seluruh tenaganya



"Maksud.."



"Kenapa kamu balik lagi?"



"Gini.. aku gak ngerti kenapa Arva punya kepribadian yang lain kayak kamu! Tapi aku mohon kamu jangan.."



"DIAM !!" bentak Arva menghentikan ucapan Mikaela.



Prangg


Arva melempar vas bunga ke tembok samping Mikaela, membuat gadis itu terkejut dan ketakutan setengah mati. ia menutup kedua telinganya dengan tubuh bergetar



Arva melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. Kasurnya pun sudah tak berbentuk, semua bantal dan guling sudah berserakan di lantai, begitu juga dengan selimut dan sprainya.



tubuh Mikaela merosot kebawah, ia memeluk kakinya yang ditekuk. Air matanya sudah mengering dengan tatapan kosong.



Arva dengan nafasnya yang masih terengah mulai tersadar dan menghentikan kekacauannya. Lagipula gaada lagi barang yang bisa ia lempar.



Arva menghampiri Mikaela yang masih memeluk tubuhnya sendiri. "Ja jangan mendekat" Mikaela berusaha menjauh, padahal punggungnya udah nempel di tembok, ia terus menggeser ke samping, sampai benar-benar buntu



Arva tak menurut, ia mulai berjongkok dan meraih kepala Mikaela lalu memeluknya dengan paksa.



Mikaela ******** bibirnya kuat, agar tangisnya tak kembali pecah.


"Maaf udah bikin lo takut" ucapnya lagi



Hiks


Mikaela tak bisa menahan lagi, tangisannya kembali, butiran bening itu kembali membasahi pipinya.



__________________



Mikaela mengerjapkan matanya lalu terkejut dengan wajah yang ada di depannya saat pandangannya tak kabur lagi.



"Sejak kapan aku tidur?" Mikaela mengangkat tubuhnya lalu mengedarkan pandangannya





"Kamarnya juga udah gak berantakan kayak tadi" batinnya. Mikaela kembali melihat wajah orang di sampingnya yang ternyata sudah membuka matanya



Mikaela terkejut dengan itu, Arva meraih jemari tangan Mikaela dan menariknya untuk kembali berbaring



Arva menatap Mikaela intens. Mikaela memberanikan diri untuk membalas tatapan pria itu. Tatapannya yang lembut membuat tubuh Mikaela tak lagi menegang "Apa tadi ucapanku keterlaluan?" Pikir Mikaela mengingat kejadian tadi



Mikaela mengalihkan tatapannya pada langit-langit kamar dan sekelilingnya, ia berusaha menyibukkan matanya asal tidak jatuh pada Arva



"Udah tidur kali ya" yakinnya. Ia merasa sudah lumayan lama dan gaada pergerakan apapun. Mikaela akhirnya melihat ke sampingnya dan ternyata Arva masih setia menatapnya. Emang gak capek apa? Mikaela menyentuh pipi wajahnya, mungkin ada sesuatu yang aneh disana



Mikaela menghembuskan nafasnya menyerah "Ka kamu gak tidur?" Tanyanya ragu. ia takut kalau Arva marah lagi kayak tadi? Itu menakutkan



Arva hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Kenapa?" Tanyanya lagi. Padahal ini udah hampir jam 3 pagi



"Kalo tidur, gue takut gak bisa balik lagi" jawabnya



"Tapi tadi.."



"Hampir" potongnya. "Untung lo bangun jadi gue gak jadi tidur" lanjutnya



"Gue takut ngilang dan gak bisa ngeliat lo lagi" ucapnya lagi



Mikaela tak bergeming, kenapa kepribadian ini jadi melow begini? Jujur Mikaela sangat tersentuh dengan perkataannya. Tapi apa boleh? Gimana dengan kepribadian yang asli? Dia ada dimana sekarang?



"Dan lo mau gue hilang?" Tanyanya. Menyadarkan pikiran Mikaela yang lagi bercabang



"Ahh hemm a aku.."



Arva mengangkat sebelah alisnya "A .. aku.." hanya sebatas itu. Mikaela mengulang-ulangnya tanpa melanjutkan



Arva melepas genggaman tangannya pada gadis cantik di sampingnya lalu mengangkat tubuhnya



"Apa dia marah?" Batin Mikaela sambil memperhatikan pergerakan pria itu.



"Tu tunggu" tahan Mikaela ketika Arva menjatuhkan kakinya ke lantai



"Kenapa?" Tanyanya malas tanpa menoleh.



Mikaela yang merasa bersalah segera duduk lalu meraih lengan Arva untuk menahan pria yang akan segera melangkahkan kakinya.



Arva berusaha mengontrol dirinya, ia tersenyum senang tanpa sepengetahuan Mikaela yang masih menatap punggungnya



"Emm gini.. a aku.. jadi maksud aku.." Mikaela memutar otaknya, memilih kata yang ia lontarkan agar tidak menyinggung kepribadian yang sensitif ini.



Lagi pula ia bingung harus ngomong apa, dilema. Jadi ibaratnya si kepribadian ini pun punya hati yang bisa merasakan sakit, tapi disamping itu kepribadian yang asli apa kabarnya? Apa ia menghilang ketika yang lain ini muncul?



Mikaela merutuki dirinya sendiri. ini sungguh rumit! Lebih baik disuruh ngerjain tugas fisika seharian, mata pelajaran yang paling ia benci pertama sebelum matematika. Kesulitan yang masih bisa terpecahkan



Hati?? ini paling membingungkan. Mikaela sendiri punya hati yang lembut, ia gak bisa dikerasin apalagi dibentak. Oleh karena itulah Mikaela paling berhati-hati dengan yang namanya hati. ia paling tidak mau menyakiti oranglain atau ia akan sangat menyesalinya



"Apa?" Arva menoleh ke belakang. Melihat Mikaela yang saling menautkan kedua tangan tangannya seakan sedang berpikir keras



Arva menjatuhkan bokongnya di sisi ranjang, melihat wajah Mikaela yang sudah merah padam.



Arva mengelus puncak kepala Mikaela lembut



"Gue mau cuci muka" ucapnya



"Ah i iya" Mikaela menganggukkan kepalanya



Arva mengangkat lengan kanannya yang masih dipegang erat oleh gadis di depannya



"Oh.." Mikaela segera melepas pegangannya. ia menyamping lalu menepuk jidatnya disana "bodoh !!" omelnya merutuki dirinya sendiri menahan malu.



•


•


•


Please like and comment!!