
Tinggalkan vote dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Ada apa?" Tanya Arva. Bukan pertanyaan karena perhatian tapi ia merasa tak nyaman karena dapat tatapan tak mengenakkan dari Mikaela
"Ah enggak" ucap Mikaela membenarkan ekspresi wajahnya. Tanpa banyak gerak Mikaela langsung saja melewati tubuh Arva agar segera menghilang dari jangkauan pria aneh itu
"Tunggu" Arva memegang bahu Mikaela dan menariknya, membuat tubuh mungil itu kembali di posisi awal.
Arva menyimpan telunjuknya di pelipisnya lalu menggaruk pelan disana.
Mikaela hanya terpaku tanpa berani menatap ataupun hanya sekedar menggerakkan tubuhnya apalagi kalau langsung berlari saja dari sini, padahal dia gak mungkin ngejar-ngejar kan?
Tangan Arva yang menggaruk pelipis tadi beralih menutup mulutnya sendiri, seperti seseorang yang sedang berpikir serius
Mikaela menghembuskan nafasnya berat, kalau sekedar untuk berhadapan tanpa bicara buat apa? "Aku gak punya waktu" ujar Mikaela, membuat pria itu kembali menatapnya
Deg
"Kenapa tatapan itu selalu bikin aku gak bisa berkutik?" Batinnya. Tatapan pria ini dan pria yang satunya, kedua orang itu punya tatapan yang sama, tapi kenapa mereka seperti punya ingatan yang berbeda?
"Begini.." kata pertama yang keluar dari mulut Arva. Itupun memiliki jarak untuk mencapai pada kata berikutnya.
"Gue bingung mau ngomong mulai dari mana" tuturnya lagi.
"Bingung? Apalagi aku?" Gumam Mikaela pelan dengan memutar matanya.
"Kael kenapa kamu disini? Tadi paman nyari kamu kemana-mana" ucap Erik yang muncul dari belakang tubuh Arva.
Kael adalah panggilan sayang keluarganya untuk gadis ini. Keluarga? Tunggu.. kini Mikaela hanya punya ibu dan adik dari ibunya, yaitu paman yang rela menampungnya. Ditambah Istri dan anak dari pamannya, yah walaupun sikap mereka kurang baik, tetap saja mereka adalah keluarga.
"Kael?" gumam Arva, seakan pernah mendengar nama itu. Ia memutar otaknya, berusaha mengingat apa yang telah ia lupakan. "Arggh" Arva mengerjapkan matanya, semakin ia memaksa maka kepalanya semakin sakit dan menyiksa
"Arva.." panggil Erik antusias ketika melihat siapa yang sedang berhadapan dengan keponakannya itu
"Sedang apa kamu disini?" Erik meraih tangan Arva dan memeluknya. Walaupun sudah berkepala 4, tenaga Erik tidak bisa diremehkan ! Buktinya Arva berhasil dipeluknya, walaupun pria itu bersikeras ingin menolaknya.
"Ah hemm" Arva terpaksa menarik kedua ujung bibirnya, karena sikap Erik yang ramah dan baru kali ini ia menemukan orang seperti ini.
Arva menggaruk belakang kepalanya ketika tangan Erik kini sudah beralih di bahu nya, seperti orang yang sudah akrab, bukankah ini pertemuan yang pertama kali ??
Mikaela hanya mengikuti langkah paman dan pria yang keliatan bingung itu dari belakang sambil menggigiti bibirnya
"Kamu tunggu disini ya ! paman beli makanan dulu." Ucap Erik pada Arva
"Kael ?" Panggil Erik, membuat yang empunya menoleh ke arahnya.
"Jangan sampe temen kamu kemana-mana" ujarnya
Mendengar itu membuat Mikaela terpaksa menganggukkan kepalanya pelan.
"Sebaiknya kamu pulang" titah Mikaela yang segera duduk di samping Arva, setelah melihat pamannya menghilang di tikungan lorong panjang itu.
"Tapi paman lo.."
"Sejak kapan kamu jadi penurut?" Ucap Mikaela, membuat Arva menatap serius.
Arva menoleh ke kiri dan kanan lalu meraih lengah Mikaela dan segera menariknya.
"Arvaaa.." protes Mikaela
"Ssssstt.." Arva menyimpan telunjuknya di depan bibir yang mengatupnya.
Mikaela berada di pojokkan, celah sempit antara ruangan satu dengan ruangan yang lainnya. Itu sasaran empuk karena dapat menyembunyikan tubuh mereka dari orang yang berlalu lalang.
"Kenapa? Kenapa kesini?" Tanya Mikaela kritis
"Gini.. gue bingung mau jelasinnya dari mana, tapi kenapa lo selalu ada di sekitar gue?"
"Hey.. jawab" pinta Arva karena tidak mendapat respon apapun
"A aku bingung"
" hahh.."
"Apa kamu punya kembaran?" Tanya Mikaela ragu.
"Apa? Lo bercanda" kekeh Arva tak habis pikir dengan tuduhan tak mendasar yang terucap dari Mikaela
"Kalau begitu, kenapa sikapmu selalu berubah? Seperti dua orang yang berbeda"
Arva menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi mengunci tubuh Mikaela
"Sedang apa kalian disini?" Ucap Erik menatap sepasang sejoli ini menuntut jawaban
"Emm paman.. gak ko gak ngapa-ngapain! Tadi kita cuman.. ki kita.."
"Ahh paman beli apa?" Potong Arva mengubah topik lalu merangkulnya
Mikaela mengikuti dari belakang sambil menatap lekat punggung pria itu
"Aneh" tekannya dalam hati.
Mikaela hanya menerka-nerka apa yang sebenarnya disembunyikan oleh lelaki ini, tanpa tau apa yang memang terjadi padanya
"Oh ya.. kenapa kamu disini?" Tanya Erik ketika menjatuhkan bokongnya di kursi tunggu yang ada di gedung rumah sakit ini
"Hah .." Arva menghentikan aktifitas mengunyahnya
"ini Arv, Kael kan.."
"Eghmm paman, kita udah selesai kan ayok pulang" potong Mikaela, menghentikan penjelasan pamannya yang akan segera membocorkan jika dibiarkan
Erik melihat jam yang ada di tangan kiri nya sebentar "Nanti ya sebentar lagi" ucapnya
"Jadi Arv, Kael itu.."
Mikaela memutar otak cantiknya untuk segera bekerja keras "Kael banyak kerjaan rumah.. nanti bibi kerepotan kalau ditinggal lama" potong Mikaela lagi.
Padahal Arva sudah sangat menunggu penjelasan pamannya. Mungkin ya sekedar ingin tau, jauh dari kata perduli. Tapi apapun itu, masalah Mikaela hanya untuk dia dan keluarganya saja lah yang tau
"Benar juga.. yasudah Arva sepertinya kami harus pulang" ucap Erik akhirnya.
"Biar saya antar pulang" ucap Arva menawarkan diri, tapi sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Ucapan itu justru menjadi sebuah keharusan
"Kita naik taksi aja" tolak Mikaela
"Boleh" ucap Erik berbarengan. langsung mempersilakan begitu saja tanpa berpikir dua kali.
Penolakan Mikaela seakan tidak terdengar atau bahkan tidak dianggap sama sekali. Arva dan Erik kembali mengayunkan langkahnya bersamaan membuat Mikaela terabaikan
Tak ada alunan musik, suara klakson yang saling bersautan pun tak jadi penghalang obrolan asik mereka, Erik dan Arva yang semakin akrab apalagi saat tau kalau hoby mereka itu sama.
Erik sering sekali nge'gym waktu muda "Berasa ngaca" ucap Erik penuh percaya diri. Mungkin termasuk memuji dirinya sendiri
Di umur 45, tubuh Erik masih kekar dan jangan salah.. banyak yang ngantri jadi selingkuhannya, pantesan istrinya galak. Buat jagain pria macam gitu kayaknya harus waspada sih
"Papaaaa.." panggil Nayla langsung menghampiri ketika melihat kedatangan Erik yang membuka gerbang kecil rumahnya dari jendela
Nayla itu manja banget sama papanya, walaupun Erik biasa aja sih malah suka protes sama Sinta yang memang selalu memanjakan anak gadisnya. Makanya ketika Mikaela ada di tengah-tengah keluarganya, Nayla merasa tersaingi, takut kasih sayang papa nya terbagi.
"Gak mau mampir dulu nih?" Tawar Erik
"Emmm.."
"Dia sibuk banget paman pasti gak bisa, ya kan?" Serobot Mikaela sebelum Arva mengucapkan kata penolakan
"Mungkin sebentar" bantah Arva yang berhasil membuat Mikaela membulatkan matanya sempurna
Tadinya Arva emang mau pamit, tapi setelah mendengar Mikaela seolah tak ingin dirinya berada di sekitarnya itu membuat Arva semakin penasaran dan ingin tau banyak tentangnya
Erik dan Arva sudah mendahului masuk kedalam rumah minimalis itu
"Nay .. bawain minuman sayang" titah Erik
Nayla membenarkan rambut yang menutupi wajahnya ke belakang telinga kecilnya sambil mesem-mesem "Iya pa" ucapnya menurut
Mikaela duduk di depan kedua pria yang sedang asik membicarakan tim sepak bola kesayangannya yang berbeda
Yahh perbedaan yang biasanya bikin orang bertengkar, ini malah bikin semakin akrab? Hemm ada?
Kenapa paman suka tim payah kayak gitu
Apa kamu bilang? Awas ya kamu pasti kalah nanti malam
Kalau paman menang saya bakal ngikutin perintah paman seharian penuh
Hahaha
Bla bla bla
Apalagi itu, semua yang diobrolkannya tak satu pun bisa dimengerti oleh gadis yang sedari tadi melempar tatap pada keduanya secara bergantian
"Tunggu.. apa tadi dia bilang? Nurutin paman? Itu artinya Arva akan ada disini dong?" Batin Mikaela menyadari
"Huahh yang bener aja, paman pasti kalah hahah" ucap Mikaela ikut nimbrung
"Kamu bela Arva?" Tanya Erik.
"Hah aku?? Emm.. ya lagian Arva gak mungkin harus nurutin keinginan paman kan haha ngaco" ujar Mikaela
"Kenapa enggak?" Tantang Arva
"Ya gak mungkin" Mikaela bersikukuh
"Bisa aja kalo tim ku kalah"
"Ya kenapa harus kalah? Pasti menang dong?"
"Bisa aja kalah kan sesekali"
"Pendukung macam apa yang berharap idola nya kalah tanding?"
"Ya realistis aja lah, hidup itu kadang di atas kadang di bawah"
"Gabisaa..."
"Udahh.. kalian kenapa?" Potong Erik jengah. mendengar perseteruan yang sudah seperti pasangan tak harmonis ini
•
•
•
Please like and comment !!