My Cold Senior

My Cold Senior
Jangan Paksa






Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Ini dimana??" pertanyaan yang entah ke sekian kalinya untuk sekedar mendapat jawaban dari pria yang sengaja membisu itu



"Ini rumah gue, sekarang lo tinggal disini!" putusnya tanpa meminta persetujuan terlebih dulu pada yang bersangkutan. Wait? emang penting? Bukankah apa yang menjadi keputusan Arva memang itu yang akan terjadi? Lo gak lupa kan?



Rumah yang dimaksudkannya ini bukan rumah orang tuanya, bahkan tak ada yang tau mengenai hal ini. Kepribadian yang selalu mencuri waktunya itu mungkin harus ia syukuri untuk hal ini. tanpanya, Arva hanya seorang anak orang kaya yang selalu menghabiskan uang orang tuanya



Mikaela menggelengkan kepalanya "Aku mau pergi" ucapnya sambil memutar tubuhnya



"Mau kemana sih?" tahan Arva meraih pergelangan tangannya



"Aku mau cari kontrakan"



"Apa bedanya sih? disini aja gue bilang"



"Aku gak mau! jangan paksa" tekannya penuh keberanian



"Lo itu kenapa gak pernah mau nurut sama gue?" Arva menatap tajam kedalam sorot matanya



Mikaela tak takut, ia seakan menantang pria itu dengan membalas tatapannya "Mungkin kamu udah lupa, aku ingetin lagi kalo kita udah putus" ucapnya dengan penuh tekanan pada akhir kalimatnya



"Gue gak pernah mengiyakan" timpalnya



"Lagian aku juga gak pernah mengiyakan untuk jadi pacar kamu kan? kenapa ketika putus harus ada persetujuan kamu?"



Arva mendengus, gadis ini ternyata memang tidak sepolos yang diperlihatkannya. Ada sisi kuat dalam dirinya







"Gue gak ngijinin lo kemanapun"



"Arva kamu gak ada hak" protes Mikaela



"Terserah" pungkasnya



"Ketika gue gak bisa ngendaliin lo dengan kelembutan, maka gue akan pake cara paksa" tekannya



Sedetik kemudian Arva sudah mengangkut Mikaela ke atas bahu nya seperti karung beras.



Mikaela meronta, ia menendang-nendang kaki panjangnya, namun tak berpengaruh apapun, Arva tetap meloloskan rencananya



Cklek


Arva mengunci pintu kamar besar yang ia masuki dengan satu tangannya yang menganggur, lalu menjatuhkan tubuh yang diangkutnya ke atas kasur king size yang tersedia



Tubuh Mikaela terpantul di atas kasur empuk yang pasti harganya dapat membeli kehidupan orang yang gak punya harga diri. Mikaela segera berlari menuju pintu kamarnya untuk segera keluar dari kukungan pria yang menakutkan itu



Cklek cklek


Mikaela mencoba membukanya beberapa kali namun nihil, semakin ia memaksa malah tangannya yang sakit



"Lo gak bisa keluar" ucap Arva sembari memperlihatkan benda yang ada di genggaman tangannya



Mikaela masih tak putus asa, ia segera menghampiri Arva untuk merebut benda itu



Arva mengangkat tinggi tangannya, membuat gadis yang 10 centi lebih pendek darinya berusaha berjinjit mati-matian.



Saking kukuhnya dengan niat yang tak mungkin bisa tercapai, Mikaela tak menyadari kalau pipi mulus nya sudah menyentuh wajah pria itu.



Cup


Mikaela segera menarik dirinya sendiri dan menyentuh pipinya yang berhasil dikecup pria itu tanpa izin. Memangnya kapan Arva pernah meminta persetujuan?? mimpi



Arva melangkah menghampiri gadis itu yang sudah terpojok pada tembok "Gue gak punya niat jahat sama lo" tuturnya sambil mengelus lembut rambut gadis yang diam terpaku itu



Mikaela menghembuskan nafasnya berat "Plis biarin aku pergi" ucapya seraya memohon



Arva menggelengkan kepalanya cepat "Lo tetep disini, biar gue bisa mastiin keselamatan lo"



"Aku gak akan kenapa-napa, gaada orang yang sejahat itu" keluhnya. Mikaela hanya gadis biasa, lantas siapa orang yang mau bersusah payah untuk mencelakainya??



"Gue gak mau nanggung resiko" jawabnya datar. Mikaela diam, mungkin ini yang bisa membuatnya diam tanpa membantah. Tatapan tajam dengan wajah yang tanpa ekspresi dari pria itu



Mikaela membuang wajahnya, ia menghampiri ranjang besar itu lalu duduk di tepiannya.



"Ibuuu hikss" Mikaela menangis pilu. Ia menundukkan kepalanya sambil menutupi wajah menyedihkan itu dengan kedua tangannya



Arva berdecak, ia tak suka melihat gadis itu menangis. ia menghampirinya kemudian merangkulnya erat. Sentuhan awal membuat tubuh Mikaela menegang namun detik demi detik otot-ototnya mulai menerima.



Tanpa perlawanan dan tanpa penolakan, Arva sangat tau kalau gadis ini butuh sandaran. Tunggu, bukan ! tapi Mikaela memang butuh dirinya, hanya butuh Arva bukan yang lainnya







Mikaela menyender di batasan loteng gedung kampusnya, ia memikirkan bagaimana kehidupannya setelah ini. Akankah lebih mengerikan? atau ..



"Mikaela" panggil Rani lemah, memecah kekalutannya



"Maafin gue" ucapnya lirih sambil memeluk tubuh sahabatnya.




"Enggak ! lo keliru ! gue bukan sahabat yang baik, gue gaada ketika lo butuh, gue gak di samping lo ketika lo terpuruk"



"Ran .."



"Mik.."ucapnya bersamaan memanggil nama keduanya



"Gue pikir gue lesby" ucap Rani seketika membuat kening sahabatnya mengkerut minta penjelasan



Rani tertawa kecil karenanya kemudian menghapus jejak air matanya "Gue lebih menyukai sahabat gue sendiri dibanding pria yang gue suka" tuturnya



"Tunggu.." pinta Mikaela mencoba mencerna penuturan Rani



"Kamu suka sama .."



"Gak perlu dilanjut" potong Rani



"Udah aku sangka" ucap Mikaela membenarkan prasangkanya. Feeling nya memang kuat



"Lo tau??"



"Iya lah. Mana mungkin aku gak ngeliat perubahan sahabatku sendiri" tuturnya



"Enggak, gue nyesel. Kemaren gue cuman butuh waktu aja, tapi sekarang gue udah gak apa-apa."



"Biar aku bantuin ya.."



"Ck, lo ngomong apa sih ? gue lebih butuh sahabat gue dari pada cowok Mik, udah ya jangan di bahas"



"Tapi.."



"Mencintai bukan berarti harus memiliki kan?? gue gak mau maksain perasaan Mik, gue tau kalo rasanya gak enak" tuturnya lagi



Mikaela menghembuskan napasnya berat, ia membawa helaian rambutnya yang tertiup angin ke sela telinganya



"Kenapa? ada yang salah?" tanya Rani melihat perubahan ekspresi Mikaela



"Enggak ko" bohong Mikaela memalsukan senyumnya



"Gue bisa bedain mana senyum tulus lo dan mana yang sekedar dipaksa"



Mikaela melenguh "Arva.." keluhnya pelan



"What? dia kenapa emangnya? bikin ulah lagi?"



"Aku gak paham Ran, cuman aku gak nyaman aja sama perilaku dia yang suka menguasai aku" tuturnya



"Menguasai? maksudnya?"



"Aku gak tinggal lagi di rumah paman, aku pergi dari sana. Emang harusnya dari dulu aku sadar, kenapa bertahan selama ini coba?" Mikaela mengambil napas



"Terus pas di jalan, Arva nemuin aku dan mengharuskan aku tinggal di rumahnya. Dia maksa Ran, aku gak suka" lanjutnya



"Kenapa lo gak bilang?" tanya Rani lirih, ia kembali menyesal dan ingin menangis karenanya.



"Ran, kok?"



"Gara-gara gue" isak Rani



"Coba kalau.."



"Udah Ran, please. Aku gakan cerita nih kalau kamu begini terus" tutur Mikaela memberi pilihan



Rani segera menghapus jejak tangisnya lagi "Oke"



"Sebenernya Arva punya kepribadian ganda Ran" ucap Mikaela sangat pelan



Rani terhenyak, ia segera menutup mulutnya yang akan mengekapresikan kekagetannya dengan cara tak biasa seperti kebiasaanya



Mikaela mengangguk untuk menambahkan keyakinan dalam penuturan sebelumnya "Kamu tau kan dia sering berubah-ubah? seperti yang pernah aku bilang, tapi itu waktu aku belum tau" Mikaela menjeda ucapannya sebentar, butuh menampung banyak oksigen untuk menyampaikan hal seperti ini



"Reza, nama kepribadiannya Reza! Awalnya cuman dia yang selalu mengekang. Bahkan yang memaksa aku buat jadi pacarnya itu awalnya Reza, tapi Arva pun sekarang begitu. Padahal dulu kamu tau kan kayak gimana perubahan sikapnya yang sangat signifikan? dia Arva Ran, dia gak pernah sekalipun ngelirik aku" jelasnya



"Dia merhatiin lo Mik, cuman lo gak sadar" ucap Rani menelisik



"Menurut gue Arva udah sadar sama perasaannya yang selama ini diabaikan" terawangnya



"Lo cuman gak terbiasa aja, gue tau kok sebenernya lo juga suka kan sama dia?" lanjutnya lagi dengan sikap so tau yang parahnya emang selalu tepat



Mikaela melenguh lalu menggelengkan kepalanya "Kamu sebenernya temen aku atau laki-laki itu sih? kenapa belain dia?" protesnya



"Eh gue gak bela siapapun Mik, gue hanya.."



Mikaela menutup kuat telinganya "Aku gak mau denger" ucapnya sambil berlalu



"Hey.. Mikaelaaaa" panggil Rani



•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT