
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Mikaela memasuki kelasnya beriringan dengan dosen mata kuliahnya yang akan segera masuk
"Mik lo gapapa kan?" Rani membingkai wajah sahabatnya itu, manakala ada yang cacat ataupun kurang disana
"gapapa" Mikaela menggerakkan wajahnya membuat lengan yang membingkainya itu terlepaskan
"tapi serius lo gapapa? mungkin ada tekanan di batin lo.." ucap Rani yang masih menilik ekspresi Mikaela, mencoba mencari apa yang tersirat disana
"Ran.. lagi ada dosen" bisik Mikaela sedikit melirik memberi peringatan
"Ya emang kenapa sih? gue kan.."
"Itu yang di belakang kalau masih mau ngobrol silahkan tinggalkan kelas saya!" tegas bu dosen dengan tatapan dinginnya, membuat Rani terpaku beku
"Ma maaf bu" geming Rani sembari menundukkan kepalanya pertanda menyesal
Mikaela tak ambil pusing, lagian udah dikasih tau kan? ngeyel sih. udah tau dosen matematika ini memperhatikan dari ujung ke ujung. gaada yang bisa luput dari pandangannya, bahkan nyamuk aja gak berani ganggu di jam pelajarannya
"Sekali lagi saya dengar, anda gantikan saya untuk menerangkan disini !" tegasnya lagi tak terbantahkan. membuat seisi kelas ikut bungkam dan merasakan ketegangan itu sampai ke ulu hati.
______________________
"Eh kak.." sapa Rani pada Melvin ketika keluar kelas
"Ran.." balas Melvin sambil celingak-celinguk seperti mencari seseorang
Rani memudarkan senyum antusiasnya "cari Mikaela ya.." tebaknya dengan ekspresi biasa yang ia tunjukan, menutupi perasaan yang sebenarnya
Melvin mengangguk mengiyakan tuduhan yang dilontarkan. "Mikaela mana?" tanyanya to the point
"Masih di da..." jawabannya belum selesai tapi Melvin sudah melewati tubuhnya
"..lam" lanjut Rani. meski Melvin sudah menyusul kedalam.
"Inget Rannn.. cinta gak harus memiliki" tekannya dalam hati seraya melengang pergi. mengingat dirinya sudah ada janji dengan ibunya yang tidak akan pulang terlambat hari ini.
_____________________
Brakkk
Gebrakan di mejanya membuat Mikaela terhenyak.
"Udah gue bilang lo jangan sekali-kali deketin Arva! dia itu punya gue" bentak Vanya.
Mikaela hanya terpaku diam tak bisa menjawab apapun, melihat kemarahan kakak tingkatnya yang dikenal selalu seenak jidatnya.
Slahnya Mikaela dimana? dia dilema
"lo denger gak sih?" Vanya yang tak bisa menahan emosinya mulai menjambak gadis yang dianggap sebagai perebut itu
"aahhwww.." ringis Mikaela menahan rambutnya yang seperti akan segera lepas dari kepalanya
"lo jauhin Arva atau hidup lo gak akan tenang!" tekan Vanya lagi, lebih memperkuat jambakannya
"ahhww .. bukan aku yang mau" elaknya disela ringisan
"Mikaela.." kaget Melvin segera menyelamatkan Mikaela dari cengkraman ratu tega di kampusnya ini.
"lo gak usah ikut campur!!" tekan Vanya ketika siksaannya pada Mikaela berhasil dihentikan
"ini namanya penganiayaan!!" ucap Melvin yang masih berusaha tenang
"gue gak perduli!!" teriaknya
"sini cewek brengsek! dasar centil ! gak punya otak! sialan.." umpatnya sambil berusaha meraih Mikaela yang bersembunyi dibalik tubuh penyelamatnya
seketika Vanya menghentikan tingkah liarnya setelah ajudan centil yang sejak tadi menontoninya di belakang membisikkan sesuatu.
"inget.. urusan kita belum selesai" tunjuk Vanya tepat di wajah Mikaela yang langsung dihalangi tubuh besar milik Melvin
"lo juga" tunjuknya lagi di depan wajah Melvin sebelum akhirnya nenek sihir itu memutuskan untuk pergi
"Lo gapapa?" tanya Melvin ketika Mikaela sudah menjauh lebih dulu dari tubuhnya
Mikaela mengangguk sambil sedikit melukis senyum "makasih" ucapnya
"Gak usah bilang makasih.. beberapa kali gue suka liat Vanya kasar sama yang lain juga!" ujar Melvin
"Tapi kenapa Vanya bisa kasar sama lo? soalnya dia gak akan begitu tanpa sebab" lanjutnya
"Bukannya kamu bilang udah sering liat?" jawab Mikaela dengan bertanya balik. ungkapan Melvin memang seolah menyudutkan Mikaela yang seakan sudah mencari masalah dengan kakak tingkatnya itu.
"Emm maksud gue.." Melvin menggantung ucapannya. a juga merasa sudah menyudutkan Mikaela, padahal bukan maksudnya seperti itu. lagian ia sudah tau akar penyebabnya. sudah pasti karena Arva. lelaki itu! siapa lagi?
"Oh ya kenapa belum pulang?" tanya Melvin seraya mengganti topik pembicaraannya
Mikaela mengedarkan pandangannya, ia kesulitan mencari alasan karena saat ini kelasnya sudah kosong tak berpenghuni
"A akuu.. aku lagii.." jawabnya gugup. mencari alasan tanpa harus menjelaskan yang sebenarnya.
Kalau bukan karena paksaan, mana mau Mikaela nunggu Arva disini? mau tak mau ia harus menuruti keinginan pria anehnya! atau Arva akan koar-koar tentang hubungan yang tak sah menurut aturan hati itu. hubungan yang tak pernah ia setujui.
Mikaela harus mau mengakui atau Arva akan membuat orang lain yang mengakui hubungannya! hanya itu pilihannya. tak ada pilihan, daripada dirinya jadi sasaran tumbal nenek sihir? itu lebih mengerikan
"Mik.." panggil Melvin, menyadarkan keterdiaman Mikaela
"Kenapa belum pulang?" tanyanya sekali lagi
"Yaudah biar gue anter" tawar Melvin yang tak sungkan
"Enggak gak usah. haha aku bisa sendiri" elaknya
"Gue takut Vanya gangguin lo lagi" madusnya yang masih saja meyakinkan Mikaela
Mikaela yang kehabisan akal masih memutar otaknya tapi sebelum ia menemukan jawabannya itu, lengannya sudah ditarik pria di hadapannya ini "yukk.."
"Tapi kak.." tahan Mikaela yang mau tak mau mulai mengikuti langkah di belakang Melvin.
"Mikaela" panggil seseorang ketika beberapa langkah sudah keluar dari gedung kelasnya
Langkah Mikaela terhenti, membuat Melvin yang sudah tau dengan siapa yang menghentikannya ikut berhenti.
"Mikaelaa.." panggilnya sekali lagi dengan penuh penekanan. membuat Mikaela menengok ke arah suara dan terpampanglah wajah tak bersahabat yang pertama kali dilihatnya
"Mik ayoo.." Melvin yang akan segera menarik lengan gadis itu lagi malah menyentuh angin, nyatanya Mikaela sudah melepaskan pegangannya
Melvin memutar tubuhnya, melihat Mikaela yang sudah beralih tangan. tangan yang saling bergenggaman seperti sepasang kekasih. tapi tidak ! lengan pria itu yang menggenggam lengan Mikaela
Tanpa buang waktu, Arva membawa Mikaela segera melewati tubuh pria yang masih tertegun dengan kenyataan yang dilihatnya.
Arva memamerkan senyum smirk nya tepat di depan wajah Melvin yang tak habis pikir dengan sikap Mikaela.
Padahal Arva yang jadi biang masalah. tapi kenapa Mikaela justru lebih pilih menempel pada pria itu?
"Kenapa lo bisa sama dia?" tanya Arva sambil menginjak pedal gas mobil cepernya.
Mikaela diam tak bergeming, ia malah membuang wajahnya ke arah jendela, melihat rintikan hujan yang mulai turun membasahi keringnya jalanan yang dilaluinya
"Mikaela .. kenapa lo bisa sama Melvin" tekannya lagi meminta jawaban
Mikaela memutar matanya jengah. ia tak mungkin menceritakan kelakuan pemuja setianya itu. ia tau, Vanya tak memperlihatkan sisi buruknya di hadapan pria ini.
ckiiittt
Arva membanting setir ke tepi jalan secara tiba-tiba. membuat tubuh Mikaela terpantul, untung saja paksi seatbell
Dengan gemuruh jantungnya yang seakan meledak membuat Mikaela melirik tajam kearah si biang masalah
"Ada aku disini aja harusnya udah cukup!" tekannya
"Apa?" pernyataan Mikaela membuat rahangnya mengeras
Menyadari hal itu Mikaela segera meredakan amarahnya, atau pria itu akan berbuat hal yang tidak ia inginkan
"Tadi Melvin ke kelas, ngajak pulang bareng" ucap Mikaela setelah beberapa saat memejamkan matanya, menetralkan perasaannya
"Terus?"
"Ya aku nyari alesan.."
"Gue liat ya lo pegangan tangan tadi.. sampe gue panggil 2x lo baru mau nengok"
"Ya maaf.. aku bingung harus ngasih alesan apa"
"Ya bilang mau bareng sama gue"
"Arva.. kamu udah janji ya gakan bilang ke siapa-siapa"
"Kecuali Melvin"
"Loh kenapa?"
"Biar dia gak gangguin lo terus"
"Tapi.."
"Kasih tau dia atau semua orang bakal tau?"
Mikaela menghembuskan nafasnya berat, tanda-tanda menyerah sudah ditunjukkannya membuat Arva menarik ujung bibirnya
"Okee" jawab Mikaela pasrah
"Tapi cuman dia!" ucap Mikaela lagi memperingatkan
"good girl" ucapnya sambil menyeringai puas dengan mengelus lembut rambut Mikaela.
"Kenapa rambut lo acak-acakan gini?" tanya Arva sambil menyisir rambut sepunggung gadisnya dengan jari-jari tangannya
Mikaela yang baru saja tersadar segera merapikan rambutnya, menggantikan sisiran Arva disana
"Kenapa?" tanyanya lagi
"Emm tadi.. tadi aku ketiduran" ungkapnya. tiba-tiba kalimat itu yang muncul di otaknya
"Iya tadi ketiduran, kebangun pas bel pulang. jadi gak sempet rapiin hehe" Mikaela tertawa kikuk, meyakinkan Arva dengan ekspresinya.
Tanpa bertanya lebih lanjut seperti biasanya, Arva memilih untuk mengangguk paham lalu kembali melajukan mobilnya. melihat itu membuat Mikaela bisa menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
•
•
•
Please like and comment !!
target 300 like + 30 comment boom 10 part🔥🔥setuju ??