
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
Arva mendorong tubuh Mikaela sampai bokongnya menyentuh kursi kayu yang tersedia di ruangan tengahnya
Tanpa bergeming Arva segera membawa kedua kaki jenjang milik gadis itu dan mengapitnya diantara kaki miliknya

"Isshh ngapaiinn??" ronta Mikaela berusaha meloloskan kaki nya
Mikaela sudah menyerah akan usahanya yang hanya membuatnya capek sendiri, ia mengerjapkan matanya beberapa kali setelah sadar bahwa pria itu sedari tadi memperhatikan wajahnya
"Gak usah liatin aku kayak gitu" protes Mikaela sambil membenarkan rambutnya, untuk memastikan masih menutupi bekas luka pada keningnya nya dengan benar
Arva tak bergeming, ia mengangkat celana bahan panjang milik Mikaela ke atas dan menunjukkan luka dengan darah yang sudah mengering

Mikaela membulatkan matanya "Kenapa ada luka disitu?" batinnya merutuki diri sendiri. Harusnya ia sadar lebih awal, pantas saja ada rasa nyeri pada kaki nya yang membuat langkahnya sedikit pincang tadi. Mungkin Arva curiga karena hal itu "Ceroboh" protes batinnya lagi
Arva kembali melihat si yang punya luka dan mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan akan hal ini
"Ahh aku gak nyadar" ucapnya jujur. Memang enggak sadar ada luka disitu, tapi untuk membeberkan apa penyebabnya yah sudah pasti Mikaela gak akan bilang
"Kok masih liatin gitu sih? kamu pikir aku bohong?" protes Mikaela pada pria yang masih menatapnya
"Kenapa lo marah-marah? huh" balas Arva sambil mengelus lembut rambutnya
Arva kembali melihat luka pada kaki Mikaela lalu meniupinya intens "Kenapa bisa gak sadar sih? huh" tanya Arva lembut tanpa tekanan seperti yang biasa ia lakukan
Mikaela menggelengkan kepalanya, lebih baik begitu dari pada harus mengatakan kebohongan lebih banyak
Arva segera bangkit dari duduknya dan kembali dengan semangkok air panas dan handuk kecil di tangannya
"Sakit?" tanya Arva ketika berusaha membersihkan luka nya
"Sedikit" jawab Mikaela dengan mimik wajah yang khas ketika merasakan perih
Arva kembali meniupi luka nya "Lain kali hati-hati" ujarnya kembali melihat gadis itu, membuat Mikaela menjawabnya dengan mengangguk pelan mengiyakan penuturannya
Cklek
Suara pintu rumahnya yang terbuka
Arva segera bangkit dan membawa Mikaela dengan menyimpan telunjuknya di depan bibirnya agar mikaela tak mengeluarkan suara apapun
"Jangan keluar sampai gue yang nyuruh" tekan Arva
"Mikaela.." tekannya lagi pada Mikaela yang tak menyatakan persetujuannya
Mikaela mengangguk paham "Lo tunggu disini" ucap pria itu setelah mengelus lembut pipi nya
"Papi tau dari mana tempat ini?" tanya Arva dengan suara datarnya
"Gak ada yang gak bisa papi tau" jawab Danu
Danu mengedarkan pandangannya dan mencoba untuk masuk ke ruangan lain tapi Arva menghadangnya dengan tubuh tegapnya "Sebaiknya papi pulang"
"Kamu ngusir papi?"
"Ya memangnya mau ngapain disini?"
"Oke .. papi pulang asalkan kamu ikut" tuturnya
"Enggak, mulai sekarang Arva tinggal disini" tolaknya
"Kenapa?"
"Memang udah dari dulu Arva mau pindah dari rumah besar papi yang sudah seperti penjara itu" jelasnya
Danu menghela napasnya sebentar "Oke.. papi sekarang gak bisa maksa kamu lagi, atau mami kamu akan tambah parah"
"Mami? mami sakit?" tanya Arva mulai memberi respon yang seharusnya
Danu mengangguk "Pulang" pintanya lagi
"Iya"
____________________
"Mami.." panggil Arva ketika mendapati tubuh kecil wanita itu terbaring lemah di ranjang miliknya
"Arva.." ucapnya berantusias untuk menyambut puteranya
"No ! jangan banyak gerak" tahan Arva membenarkan kembali posisi tidur mami nya
Sophia tersenyum mendapat perhatian dari anaknya yang hampir tak pernah ia dapatkan selama ini "Maafkan mami nak" ucapnya
"Mami ngomong apa sih" elak Arva
Shopia menggelengkan kepalanya "Cepat atau lambat kamu pasti akan ingat semuanya, mami pikir dengan kamu yang kehilangan ingatanmu itu dapat membuat semua baik-baik saja, tapi mami salah" tuturnya
"Maksud mami apa?"
"Selama ini mami gak memperhatikanmu, maafkan mami sayang" ucapnya lagi terisak, ia memeluk tubuh tegap anaknya seperti yang terakhir kali ia lakukan saat 13 tahun yang lalu
"Arva baik-baik aja mih" ucap Arva
"Sejak kapan kamu sakit?" tanya Shopia sambil membingkai wajah anaknya
"Sa sakit?" tanya Arva terheran
"Harusnya mami sadar sejak awal, selama ini kamu kesakitan. Ibu macam apa mami ini?" isaknya lagi sambil menutupi wajahnya penuh dengan kedua tangannya
"Ssssttt mami jangan begini" ucapnya sambil mengusap bekas air mata pada pipi nya
"Mami liat kan? buktinya Arva disini" lanjut Arva
Shopia mengangguk lalu mengusap pipi basahnya "Mana gadis itu?" tanya Shopia seperti mencari sesuatu di balik tubuh anaknya
"Mami mau bilang makasih sama dia, kalau saja 13 tahun lalu gadis itu gaada disana sama kamu, mungkin kamu sekarang gak akan ada disini" tuturnya
"Dan .." Shopia menghela napasnya sebentar
"Apa kamu ingat dengan.."
"Dengan.."
Arva menampilkan wajah penasarannya
"Waktu itu, kamu.."
"Ada apa mih? apa yang gak Arva ingat lagi?" tuntutnya
"Mami mohon kamu jangan merasa bersalah karena kamu hanya ingin menyeoamatkan Mikaela" tutur Shopia
"Menyelamatkan Mikaela?" gumam Arva, yang ia ingat hanya Mikaela lah yang membuat dirinya bertahan
"Kamu menembak seseorang yang ingin melecehkan gadis itu"
"Nembak?" ulangnya mencoba meyakinkan penuturan mami nya
Shopia mengangguk "Pria bajingan itu mati karena tembakan pada dada nya, dan akibat kejadian itu kamu bisa kabur dari sana"
Arva masih tertegun karena penuturan mami nya
"Sayang.. kamu baik-baik aja kan?" Shopia menenepuk-nepuk pipi anaknya yang sedang berpandangan kosong
"Maksud mami Arva udah bunuh orang?" simpul Arva dengan suara parau
"Tapi kamu gak salah, orang itu jahat. Mungkin kalau gaada kejadian itu kamu akan disekap lebih lama dan mami gatau bisa nemuin kamu dalam keadaan selamat atau enggak" tutur Shopia lagi, ia tau anaknya pasti akan syok
"Tapi setelah kejadian itu kamu jadi aneh, mami seperti tidak mengenali kamu lagi. Dan akhirnya dokter menyimpulkan kalau kamu kehilangan ingatanmu selama 1 minggu saat kejadian mengerikan itu terjadi." jelasnya
"Mami pikir itu anugerah buat mami, karena mentalmu akan baik-baik saja. Tapi nyatanya selama ini kamu sakit dan mami gak tau, kenapa kamu gak pernah cerita? huh"
"Maaf mih" sesalnya
Shopia menggelengkan kepalanya "Mami yang harusnya minta maaf, mami yang salah" tutur Shopia lagi
"Dan berusaha menjauhkan gadis itu dengan kamu, itu kesalahan yang lainnya. Mami dan papi berusaha untuk menghilangkan segala ingatan buruk itu. Kalau seandainya kalian tidak berpisah mungkin mentalmu tidak akan terbagi seperti ini"
"Mami benar, gadis itu memang penyembuh Arva mih" tutur Arva
___________________
Mikaela berjalan menyusuri sudut kota di bawah langit gelap dengan tatapan kosongnya. Ia masih terus berjalan walau sudah tertatih-tatih, air matanya seakan habis dan menyerap kedalam pori-pori kulitnya oleh angin malam
Tiiiiiitttttt
Mikaela menoleh ke arah suara klakson dan menghalangi wajahnya yang tersorot lampu mobil yang akan segera menyentuh tubuhnya kalau saja tak ada yang menarik lengannya
"Mik.. Mikaelaa" Panggil seseorang berusaha menyadarkan Mikaela dalam rengkuhannya
Melvin segera memangku tubuh kecil itu untuk segera membawanya ke rumah sakit
"Kenapa bisa begini sih?" gumam Melvin. Keadaan gadis ini amat sangat kacau, sudah seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.
Mikaela yang ia tau adalah gadis yang selalu tersenyum manis padanya, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan hal semacam ini
"Dok gimana keadaan teman saya?" tanya Melvin pada seorang dokter yang baru keluar dari ruang pemeriksaannya
Dokter menghela napasnya "Kondisinya sangat lemah" tuturnya
Melvin menautkan kedua alisnya, ada yang tidak beres. Banyak hal yang tidak ia ketahui tentang gadis itu
"Mentalnya sedikit terguncang, mudah-mudahan tak ada hal buruk yang terjadi padanya. Saya akan memastikan kembali kalau pasien sudah sadar" tutur dokter tersebut
Melvin membuka ointu ruangannya dengan sangat hati-hati, ia menghampiri ranjang itu dan duduk di sampingnya
"Sebenernya lo itu kenapa?" batinnya
Flashback
tap tap
Mikaela menghampiri langkah itu "Tadi siaa.. pa.." suaranya melemah ketika ternyata bukan Arva yang datang menghampirinya
Mikaela mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menyuruhnya untuk menunggunya disini.
"Siapa kamu?" tanya Mikaela yang terus membawa tubuh bergetarnya untuk melangkah mundur
"Arhh" Mikaela menekan kuat kepalanya yang seakan menampilkan sesuatu kejadian yang mirip dalam ingatannya
Pria itu menyeringai ketika langkah Mikaela terhenti menyentuh tembok
"Lepass" teriak Mikaela dengan suara yang sudah melemah akibat rasa sakit pada kepalanya
Pria itu semakin menyudutkannya, dan berusaha menciumi celuk lehernya. Ia menarik karah baju Mikaela untuk menampilkan lengan telanjangnya
"Aaakkk tolongggg, jangaaaaaannn" tangis Mikaela sekuat mungkin
"Arvaaaaaaaa" teriaknya
prok prok
suara tepuk tangan menyudahi perlakuan menjijikan pria yang tak ia kenali itu
"Masih berani memanggil nama anak saya?" ledek Danu dengan tatapan jijiknya
"Kamu itu jalang Mikaela !!" tegasnya
"Saya harap kamu akan mengingat kejadian semacam ini yang menimpamu dulu" tuturnya
Mikaela menggigit bibirnya, berusaha menahan suara isaknya "Gak mungkin" Ingatan menjijikan itu memenuhi ruang kepalanya, ia mengusap tiap inci tubuhnya, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Kamu mau melanjutkan??" tanya Danu pada pria suruhannya
Suara tawa nya menggelegar jauh kedalam rongga pendengaran Mikaela, membuat gadis itu menekan kuat telinganya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
•
•
•
♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡