
Happy Reading ♡♡
"Tunggu" tahan Rendra, membuat gadis yang berjalan di depannya menghentikan langkahnya
Rendra berdeham untuk menyamarkan kegugupannya "Emm Arva bilang lo mau pergi" ucapnya
Vanya memutar tubuhnya lalu mengangguk mengiyakan "Iya" jawabnya
"Ke mana?" tanya Rendra. Sekuat apapun ia menahan rasa penasarannya, ia tetap tidak bisa bertahan dengan pertanyaan yang pasti akan terus bersrliweran kalau saja tak segera diketahui jawabannya
"Umm oke lupain, lagian ini bukan urusan gue" lanjut Rendra, yang segera menampikkan rasa sebenarnya.
"Gue mau lanjut kuliah di luar negeri" jawab Vanya, membuat langkah Rendra yang akan segera meninggalkannya kembali terdiam
"Gue malu" ucap Vanya
"Untuk kesalahan kali ini yang sama sekali gak bisa dimaklumi, gue sadar. Dan mungkin termasuk lo juga yang gak akan bisa maafin kesalahan yang udah gue perbuat sekarang, tapi gue gak akan minta maaf, gue yakin lo tau." lanjutnya
Rendra membalikkan badannya "Ya, gue sangat tau. Kalo lo emang gak pernah mau mengakui kesalahan" balas Rendra
Vanya menggeleng "Tepatnya karena gue terlalu takut untuk itu" jelasnya
"Takut? cewek kayak dia ngerasain takut juga?" batin Rendra
Vanya melihat jam di tangannya "Oh ya, gue gak mau telat. Thank's buat perhatiannya selama ini, gue harap lo gak gampang nyerah buat raih apa yang lo mau." lanjutnya
Cup
Vanya mengecup pipi kiri pria yang sama sekali tidak berpikiran ke arah sana
"Gue gak suka cowok player, gue bakal liat perubahan lo setelah gue balik nanti" bisiknya
Tak lama sebuah mobil berhenti di depannya dan membawa gadis itu pergi dari hadapannya.
"What??" kejut Rendra setelah berhasil menyaring banyak kalimat yang diucapkan gadis itu tadi
Rendra mengelus jejak kecupan pada bagian wajahnya "Seperti biasanya, gue akan dapet apa yang gue mau" gumamnya mengembalikan tekadnya
__________________________
Seseorang yang dinanti-nanti kedatangannya akhirnya sudah di depan mata, sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
"Padahal kan cuman ngetes" batin Nayla sambil cengengesan
Vino keluar dari mobilnya dan bersamaan dengan itu ternyata Nayla malah masuk kedalamnya.
Vino berdecak "Kenapa harus berurusan dengan bocah SMA sih" kesalnya dalam batin
"Ada apa?" tanya Vino dari luar, di depan pintu mobilnya yang masih dibiarkan terbuka
"Masuk aja kak" Nayla menarik lengan Vino untuk segera masuk kedalam mobilnya
"Mobil-mobil gue kenapa gue yang diatur-atur" kesalnya sambil menuruti permintaan gadis kecil itu
"Emm aku lapar, makan yuk kak? kebetulan aku belum makan siang nih, yah mau yahhh" pinta Nayla
"Sebenernya lo mau apa ngehubungin gue? gue gak punya waktu buat main-main" ketus Vino
Nayla berdecak "Pelit banget sih" gerutunya
"Dan kenapa lo bisa tau nomor gue?" heran Vino yang sama sekali tidak pernah memberikaannya kepada sembarang orang
"Mau tau?" tanya Nayla, Vino mengangguk "Tapi makan dulu" lanjutnya memberi syarat
Vino mendesah, ia melihat jam tangannya yang masih menunjukan jam 9 pagi. Lagi pula ia sedang tak punya kesibukan, mungkin sekali ini turuti saja keinginan gadis yang tiba-tiba mengakrabkan diri ini
Dengan berat hati Vino mengabulkan permintaan Nayla, membuat gadis itu kesenangan seperti anak kecil, berisik
"Lalu apa?" tanya Vino setelah makanan di depan gadis itu habis tak tersisa
"Laluuu.." gantung Nayla sambil berpikir "Emm gimana kalo sebelum pulang kita jalan-jalan sebentar" lanjutnya riang
"Lalu tau nomor gue dari mana?" jelas Vino, sebelum ia kembali luluh karena kegemasan yang diperlihatkannya
"Lo udah janji" tagih Vino
Nayla menghela napasnya panjang "Oke, aku bakal kasih tau semuanya tanpa terkecuali" jelasnya sambil bersidekap dengan serius
"Dari kak Arva" jawab Nayla
Vino mengangkat salah satu alisnya "Arva?" ulangnya
Nayla mengangguk
"A-Arva?" ulang Vino sekali lagi
"Iya, kak Arva" jelas Nayla dengan penuh tekanan
"Sebenernya lo itu siapa? dan lo bisa kenal Arva dari mana? gak mungkin tiba-tiba Arva ngasih tau nomor gue gitu aja, gue gak bisa terima alesan lo yang ngada-ngada. Bisa aja kan lo cuman ngacak nomor atau bahkan lo berusaha nyari tau info tentang kami hanya untuk memeras kami" tutur Vino panjang lebar
"Kakak gak tau siapa aku?" tanya Nayla gak habis pikir. Padahal kalau gak tau kenapa pria itu mau menghampirinya seperti ini? mustahil
Vino menggelengkan kepalanya "Dan sekarang gue tau, kalo lo itu bocah SMA yang lagi nyari cengcengan orang kaya" ketusnya yang hendak pergi
"Gue sepupunya Mikaela" tegas Nayla dengan suara nyaring, membuat semua orang yang ada di kafe tersebut menatap heran ke arahnya
Vino mengerjapkan matanya "Se-sepupu?" ulang Vino lagi-lagi dengan nada tak percaya
Nayla mengangguk "Masih gak percaya? kemaren lo gak liat gue waktu di rumah sakit apa?" kesalnya
"Emang ada lo?" tanya Vino sedikit memutar otaknya
Nayla menggebrak meja, membuat orang-orang kembali menatap ke arahnya dan tentu saja membuat kesan pertama menggemaskan yang berusaha ia perlihatkan seketika luntur dan membuat kaget pria dewasa itu "Iya, ada. Dan lo gak liat badan gue yang segede ini?" kesalnya
Vino mengedarkan pandangannya, ia mulai malu dengan tatapan yang mengarah padanya dan kemudian segera meraih lengan gadis tak tau malu itu untuk kembali menuju mobilnya lagi.
"Sorry gue lupa" ucap Vino setelah berada di dalam mobilnya
"Ok, no problem." jawab Nayla
"Tapi sekarang udah tau kan? liat baik-baik"
Vino mengangguk "Nama lo siapa?"
"Nayla" jawabnya
"Terus kenapa bisa Arva ngasih tau kontak gue ke lo?"
"Aku yang minta, tapi awalnya gak boleh sih" jawabnya sambil senyam-senyum
"Terus?"
"Aku bilang kalau kak Vino itu suka sama Mikaela, jadi aku yang jagain kak Vino biar gak bisa deket-deket sama Mikaela" jelasnya
"A-apa? lo bilang gitu? kenapa bisa lo mikir gitu? padahal itu baru pertama lo liat gue" bantahnya
"Yaleah kak, orang buta juga tau kali kalo kak Vino itu suka sama Mikaela. Keliatan"
Tenggorokan Vino seketika terasa kering, ia segera meraih botol minum yang ada di depannya
"Hahahaha" Nayla tertawa melihat pria di depannya sudaj keringat dingin, seperti orang yang sudah tertangkap basah
"Ukhuk uhukk" Vino terbatuk-batuk karena tersedak minumannya
"Ya ampun kak, pelan-pelan" Nayla menepuk-nepuk punggung Vino pelan
"Bercandaan lo gak lucu" protes Vino
"Mana mungkin kak Arva ngasih nomor kak Vino? katanya aku harus belajar, bentar lagi ujian" jelas Nayla sambil memperagakan ucapan Arva yang masih terbayang jelas
"Jadi aku ngambil nomor kakak dari hp nya Mikaela, tapi aku gak bilang. Lagian kalo aku minta juga Mikaela pasti ngasih kok" jelasnya
"Tapi setelah ini aku pikir ucapanku tadi bener ya?" tanya Nayla polos
"Enggak, lo salah. Mana mungkin gue suka sama pacar sahabat gue sendiri" sangkal Vino
Nayla mengangguk "Bagus deh kalo gitu" sahutnya kembali riang
"Kenapa senyam-senyum gitu?" heran Vino
"Masa gue harus bilang kalo gue suka? kan malu" batin Nayla sambil dag dig dug ser sedari tadi. Nayla memudarkan senyumnya lalu menggelengkan kepalanya
"Tunggu" Vino menghentikan mobilnya seolah mengingat sesuatu "Arva bilang bentar lagi lo ujian, terus sekarang? lo gak sekolah?" tanya Vino
"A-aku emm.." ucap Nayla gugup
"Lo bolos?" tuntut Vino
_________________________
"Ini?" tanya Mikaela ketika melihat satu buket besar bunga mawar putih berada di atas jok mobilnya ketika hendak masuk kedalamnya
Arva berdeham untuk menghilangkan kegugupan yang awalnya ia pikir tak bisa merasakan perasaan cemen seperti ini
"Buat kamu" jawab Arva
"Cepet masuk" titahnya. Ini hanya dalih agar bisa terhindar dari pertanyaan yang membuat jantung nya olahraga

"Emm dalam rangka apa?" tanya Mikaela yang masih tak percaya dengan apa yang Arva lakukan untuknya kali ini
"Aku pikir selama ini aku gak pernah ngasih apapun, aku gak bisa romantis kayak cowok lain, maaf untuk itu. Yang penting aku udah berusaha" jelas Arva
Mikaela tersenyum dibuatnya dan segera mengangguk "Aku gak pernah berharap tapi terimakasih atas usahanya, aku seneng" ucapnya
"Oh ya, kamu bilang Vanya mau pergi? kemana?" tanya Mikaela kembali ke topik sebelumnya
Arva menggedikkan bahu nya "Aku gak nanya dan dia gak bilang" jawabnya sambil melajukan mobilnya
Mikaela segera menyimpan bunga itu di lantai mobil "Kenapa kamu gak nanya?" protesnya, rasa haru itu hanya bertahan seperkian detik karena dikalahkan oleh hal yang mengalahkan momen yang jarang terjadi ini.
Arva mendesah "Kenapa jadi kayak Rendra sih? bukannya seneng" batin Arva
"Sekarang aku cuman mau fokus sama kamu" tutur Arva sambil mengelus lembut tambut gadis yang ada di sampingnya
"Gak seneng?" tanya Arva "Padahal tadi kamu sendiri yang gak mau aku ketemu sama dia" lanjutnya
"I-iya, tapi gak harus pergi jauh juga. Aku gak pernah mikir sejauh itu." jelas Mikaela
"Terus? lagian itu kemauannya"
"Aku cuman gak bisa seneng di atas penderitaan orang, kita gak bisa kayak gitu" keluh Mikaela
"Dan kamu terlalu sering menutupi kesedihan" sahut Arva sambil mengusap lembut pipi mulusnya
"Mulai sekarang kamu gak perlu menutupi apapun karena gak akan ada lagi kesedihan yang harus kamu tutupi" jelasnya
"Lusa kita nikah" bisiknya
"A-pa?" pekik Mikaela
Arva tertawa karenanya, bukannya kebahagiaan yang diperlihatkan malah ekspresi kaget yang ia terima.
"Kenapa cepet banget? b-bukan cepet lagi tapi ngebut. Kita belum siapin apa-apa, dan.."
"Pssstt" Arva menyimpan telunjuknya di depan bibir manis milik gadisnya "Semua sudah beres" jelasnya
"Sekarang kita fitting baju, hanya ini yang perlu ada kamu nya" ucapnya bersamaan dengan berhentinya mobil yang ia kendarai di depan sebuah butik.
"Pak?!" panggil pemilik butik sambil menampilkan calon istrinya yang sudah terbalut dengan gaun putih yang menjuntai.
Deg
Seperti terlahir kembali, sekali lagi Arva menginginkan gadis itu
Tubuh Mikaela dibalut dengan gaun putih yang terkulai sampai menyentuh lantai. Seolah semua cahaya mengarah hanya padanya, Sangat indah
"Apa pernikahannya bisa aku percepat jadi besok?" gumamnya, membuat wanita paruh baya yang mendengar itu ikut tersenyum seolah ikut merasakan perasaan keduanya.
Sedangkan Mikaela masih menunduk malu, ia seperti tak siap untuk menerima semua hal yang terlalu mendadak untuk terjadi padanya
Arva menghampiri gadis yang masih terpatung itu tanpa mengalihkan pandangannya yang masih menatap intens wajah polos gadisnya "Are you ready?" tanya Arva sambil membawa dagu Mikaela agar matanya bertemu dengan tatapannya
"Sejak kapan kamu butuh jawaban?" tanya Mikaela, membuat Arva tersenyum karena kebenaran yang dibeberkannya
"Untuk kali ini aku memberikanmu kesempatan untuk menjawab, hanya saja aku tidak menerima kata tidak" jawabnya
"Kalau begitu kamu sudah tau jawabannya"
"Katakan, aku ingin dengar" pinta Arva
Mikaela memutar bola matanya, ia mendekatkan wajahnya yang hampir membuat pria itu salah sangka "Aku siap" bisik Mikaela di depan telinganya
Arva menghirup udara sebanyak-banyaknya, darahnya berdesir ketika hembusan napas gadis itu menyentuh kulitnya "Kenapa waktu berasa lama" keluhnya segera merogoh ponsel di saku celananya
"Mau ngapain?" tanya Mikaela
"Aku mau pernikahan kita jadi besok" jawabnya hendak memanggil salah satu kontak pada ponselnya
"Astaga Arvaaa" protes Mikaela berusaha merebut ponsel yang sudah tersambung dengan panggilannya
Cup
Arva mengecup bibir Mikaela sekilas "Aku bercanda, aku ingin melihat ekspresi takjub bukan ekspresi kaget seperti ini" jelasnya sambil tertawa karena berhasil membuat Mikaela kembali terkejut
"Halo mih" ucap Arva dibalik teleponnya. "Iya ini Arva lagi sama Mikaela, dia pikir Arva mau cepetin acara jadi besok haha" tuturnya sambil tertawa
Mikaela menghembuskan napasnya, pria itu memang selalu semaunya. Begitu pun dengan perasaan miliknya, Arva selalu berhasil jadi yang mengontrol segalanya.
Ia kembali memperhatikan wajah pria yang masih asik dengan teleponnya dan sesekali meliriknya. Menyebalkan, rasanya sesuatu yang hilang entah sekian lama ia rasakan itu perlahan mulai lenyap. Ia pikir hanya sekedar rasa, namun ternyata bukan hal yang sesederhana itu.
•
•
•
PLEASE LIKE AND COMMENT