My Cold Senior

My Cold Senior
SADAR



Untuk pertama kalinya Mikaela tidak bisa tidur semalaman. Padahal biasanya gadis ini selalu tertidur di manapun, selagi tidak kedinginan atau kepanasan maka tempat apa pun bisa ia tiduri. Untung saja tidak pernah diangkut maling!


Tapi kali ini matanya benar-benar enggan untuk terpejam. Seolah banyak hal yang dipikirkan walau ia sendiri tau pasti efek buruk yang nanti bisa saja menimpanya.


Mikaela masih menatapi wajah pria yang masih terpejam di hadapannya. Sudah lebih dari 5 jam tapi ia tak kunjung lelah, bahkan sebab itu kantuk tak berani menyapanya.



Mikaela bingung dengan sikap yang harus ditunjukannya. Haruskah ia senang? ini pertanda tuhan masih menyayanginya. Memberi kesempatan kedua padanya walau pernah menjadi orang yang tak bisa menjaga titipannya.


Ataukah marah? demi tuhan ini tubuhnya tapo kenapa ia tak bisa menyadari hal ini? Mikaela sungguh kesal pada dirinya sendiri. Merasa bodoh dan tidak berguna!


Arva mengerjapkan kedua matanya yang terkena paparan sinar matahari, membuat Mikaela segera memalingkan tubuhnya dan menarik selimut setinggi mungkin sebelum pria itu menyadari perbuatan ilegalnya. Bawah mata Mikaela menggelap, gadi ini memang paling tidak bisa terlambat tidur.


Cup


Kecupan mendarat pada pelipis Mikaela.


"Morning" bisik Arva.


Deg


Hati Mikaela mencelos, seperti luka terbuka yang dibasuh air garam. Rasanya perih tak tertahankan.


Tidak! Mikaela tidak berencana untuk ini. Tapi tetap saja ia tak bisa mengatur dirinya sendiri, berusaha untuk tidak sakit tapi tetap saja rasanya sakit.


Sungguh Arva tidak bersalah, pria itu hanya ingin melindungi istrinya. Hanya itu! sejak awal pun sudah begitu.


Tapi terlepas dari niat baiknya, hati Mikaela tetap sakit! ia merasa dibohongi dan dikhianati untuk ke dua kalinya.


"Aku tau kamu sudah bangun." ujar Arva berusaha membawa tubuh istrinya untuk berhadapan dengannya.


Dengan sekuat tenaga Mikaela masih menahan diri. Ia tak mau pria itu melihat matanya yang mulai berair bahkan ia tak tau alasan apa yang harus diucapkannya ketika nanti Arva mempertanyakannya. Mikaela butuh sedikit waktu, menyembuhkan luka yang kembali tersayat. Hanya sedikit, tanpa pria itu tau.


Arva melenguh, ia tak bisa memaksakan egonya. Walau hanya sekedar ingin melihat wajah sang istri sebagai pasokan semangat paginya.


"Ya sudah. Aku mandi dulu, ya!" ucap Arva menyerah.


Mikaela menghembuskan napasnya yang sedikit tertahan. Ia hanya pura-pura tertidur walau pria itu bisa menyadari kepura-puraannya karena Arva sama sekali tidak akan mempermasalahkannya.


Lalu sekarang apa? haruskah ia hanya tidur di kasur seharian atau bersikap seperti biasa saja? sulit! masalahnya ia harus memakai masker wajah untuk menghilangkan mata panda yang semakin jelas terlihat.


Mikaela segera meraih masker mata lalu mengaplikasikannya. Luka hati itu tak akan terlihat kalau kita tidak mau memperlihatkannya. Semua hal bisa diatur menjadi sesuatu yang kita inginkan.


Ketika Arva ke luar dari ruang walk in closet istrinya sudah tak berada di tempat. Ini membuatnya sedikit was-was sebab 30 menit lalu wanita itu masih melekatkan selimut tak bisa diganggu.


Mikaela rupanya sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Istri yang baik bukan? tapi Arva tidak merasa senang untuk ini.


"Kenapa gak istirahat aja?" keluh Arva.


"Udah selesai kok!" sahut Mikaela hendak kembali ke kamarnya.


Deg


Lengan Mikaela dicekal. Apa lagi ini? bukankah ia sudah melakukan tugasnya?


"Aku mau mandi." Mikaela beralibi.


"Bukan hanya menyiapkan, tapi istri juga harus menemani suaminya makan" balas Arva.


Oke. Mikaela tak bisa berkata-kata lagi. Sebenarnya ia hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang tidak seerti biasanya


"Kamu kenapa?" tanya Arva hendak mengambil benda yang menempel di bawah mata istrinya.


"Jangan sentuh!" Mikaela menjauh.


Lagi-lagi Mikaela keliru dalam menyampaikan maksudnya.


"Ini masker mata." jelas Mikaela.


Tangan Arva yang berhenti di tengah kembali melanjutkan niatnya. "Aku tau, tapi kenapa pakai ini?" tanyanya bersamaan dengan benda kenyal yang berhasil diraih, sontak Mikaela segera menutupi bekasnya atau ia akan ketahuan.


"Kamu gak bergadang?" tanya Arva walau ia sendiri sudah tau jawabannya.


Damn.


Sejak awal perkenalan Mikaela memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari pria itu. Sepintar-pintarnya ia berusaha bersembunyi maka Arva akan menemukannya.


"Apa yang salah?" Arva berucap lagi sambil merendahkan kepalanya hanya untuk melihat wajah istrinya yang menunduk.


"Apa yang membuat kamu tahan sama aku?" Mikaela mulai bersuara, namun kalimatnya sungguh bukan hal yang Arva ingin dengar.


"Kamu ini bicara apa?"


"Tinggal jawab!"


Sebenarnya pagi ini ia ada meeting, tapi bagaimana bisa ia meninggalkan istrinya yng sedang seperti ini? "Tak ada alasan." sahut Arva.


Mikaela mendelik, jawaban itu sama sekali tak membuatnya puas.


"Karena aku akan bertahan dengan pilihanku!" ucap Arva lagi penuh penekanan. "Dengan segala macam halangan dan rintangan. Baik datang dari kamu maupun yang lainnya." tambahnya.


Mikaela menitikan air matanya. "Aku hanya marah pada diriku, aku kesal pada diriku yang berulah." ucapnya sambil terisak.


"Kamu gak ngasih tau tentang kehamilanku ini karena sikapku, aku tau! tapi lagi-lagi aku merasa jadi korban! aku menyalahkan kamu Arva!" lanjutnya semakin menguras emosi.


Arva menelan salivanya berat "Kamu tau?" ucapnya penuh kehati-hatian.


"Bodoh!" rutuk Mikaela.


"Ini tubuhku, bagaimana mungkin aku bisa tidak sadar dengan tubuhku sendiri?"


Arva mengangguk. "Aku hanya.. aku menunggu waktu yang tepat buat membicarakan ini! aku takut.."


"Aku tau!" potong Mikaela. "Alasanmu pasti untuk keadaanku tapi aku kesal! aku merasa dibohongi."


"Maaf." sesal Arva. Walau kata maaf tak bisa menyembuhkan tapi setidaknya Arva sudah menunjukan penyesalannya.


Mikaela tak lagi bersuara, gadis itu memilih pergi atau emosinya tak akan terkendali.


"Mikaela mau ke mana?" tahan Arva. Ia takut Mikaelanya pergi dan tak akan pernah kembali.


Mikaela menghentikan langkahnya "Hatiku ada di sini, aku gak akan pergi tanpa kembali!" ucapnya.


Arva membeku, walau sejujurnya ia hanya ingin Mikaela menyembuhkan diri bersamanya tapi pada kenyataannya Mikaela tak memilihnya sebagai opsi.


Mikaela sudah kembali dengan membawa sebuah koper yang mustahil tak berisi. Arva hanya akan membiarkannya jauh dalam beberapa jam saja selama ia berada di kantor. Bukan berhari-hari yang sepertinya akan terjadi.


"Kenapa bawa baju banyak begitu? kamu gak berniat membuat anak kita jauh dari ayahnya kan?" tutur Arva.


**Bersambung ....


Jangan lupa follow aku di instagram: @Lovelyliy_ facebook/twitter: @lovelyliy95


Kalau kalian suka sama cerita ini jangan lupa kasih vote yaaa**.



caranya klik detail lalu klik vote! biar cerita MIKAELARVA masuk ranking sampe 3 besar๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜ thxu