
Tinggalkan like dan komentarnya ya
Agar author semangat lanjut ceritanya 😘
Happy Reading ♡♡
"Pilihan yang bagus" gumam Arva
Arva tak menghiraukan tatapan penuh tanya semua penghuni kelas yang dimasukinya. Pria itu hanya fokus melihat gadisnya sedang asik bersendagurau tanpa beban, tanpa menyadari kehadirannya disini
"Gue minjem Mikaela" ucap Arva ramah pada lawan bicara kekasihnya
Mikaela terkesiap karena kedapatan perlakuan yang tiba-tiba dari pria yang ingin sekali ia hindari, tapi tidak mungkin! rasanya selama pria ini hidup, ia tidak mungkin bisa menghindarinya.
Bukan!! tapi selama kepribadian asli belum muncul lebih tepatnya.
"Sebentar lagi ada dosen!!" tahan Mikaela
"Dosen mata kuliah pertama kelas ini gak masuk!" ucapnya lantang, membuat seisi kelas ikut terperangah seolah menanyakan kebenarannya
"Dari mana kamu tau?"
"Ketua kelas" panggil Arva. membuat salah seorang pria merasa terpanggil
"Hubungi dosen mata kuliah pertama" titahnya sambil melipatkan lengan di dada
"Sekarang?" tanyanya cengok
"Besok!! ya sekarang !" ucapnya jengah. tak habis pikir orang seperti ini bisa dijadikan ketua kelas, gaada yang lebih pinter apa?
Dengan tergesa si ketua kelas merogoh ponselnya dan mengetik beberapa kata pada layarnya
Mikaela dan Rani saling lempar tatap, ditambah suasana kelas seolah berubah menjadi tegang karena menunggu kebenaran pertanyaan dari sosok kaka tingkat yang jadi idola di kampusnya
"Maaf hari ini saya ada halangan.." tutur ketua kelas membaca balasan dosennya
Sedetik kemudian mulai bersautan suara kebahagiaan dari tiap pita suara yang ada, menggema di seluruh kelas
Pria pembawa berita pertama mengerlingkan matanya, tak mungkin ia membeberkan berita bohong
"Ayok" ajak Arva sambil meraih lengan Mikaela
"Tunggu.." tahan Mikaela
brak brakk
Gebrakan ketua kelas membuat kericuhan di kelasnya mulai padam pelan-pelan
"... tugasnya membuat maping dari jurnal yang saya kirim" lanjut ketua kelas itu
"Jurnalnya ada 5" lanjutnya lagi. Kekecewaan menghantam masing-masing jantung dari tiap orang yang ada disini
mending ge dosennya masuk kalo kayak gini caranya
kenapa lo ngehubungin duluan sihh?? dikiranya butuh banget kan kesel
GATOT girls
pasrah gua mah
"Ada tugas.." ucap Mikaela pura-pura memasang wajah kecewa, padahal di hati ? tentu saja dia jingkrak-jingkrak. Mending ngerjain tugas daripada ngintilin pria yang jadi incaran banyak perempuan ini ! udah kayak nyerahin nyawa
Arva mendengus, ia tak suka membuang waktu. ia kembali menarik lengan Mikaela namun gadis itu kembali menahan tubuhnya
"Ehmm oke.." Arva melepaskan lengan Mikaela sebagaimana apa yang diinginkan gadis itu
"Pengumuman!!" ucapnya lantang
"Mulai saat ini.." ucapan Arva terhenti karena lengannya sudah diseret keluar oleh gadisnya.
"Mau kamu apasih?" tanya Mikaela dengan nafasnya menahan kesal
"Mau lo nurut" jawab Arva sambil mengelus puncak kepala Mikaela
"Kalau kayak gini caranya gak lama lagi semua orang bakal tau.."
"Gue kan udah ngasih pilihan, lo sendiri yang bikin gue nyamperin" pungkasnya.
Mikaela tak menjawab, apa yang dikatakan pria menyebalkan itu memang benar adanya.
"Terus apa?"
"Gue belum sarapan" ujarnya.
"apa perduliku?" timpal Mikaela dalam hatinya. Yaa, hanya hatinya saja yang bisa berkata semena-mena
Arva berdecak karena keterdiaman gadisnya. memang sulit memenangkan hati gadis incarannya ini. Bukankah tak ada kekurangan dalam dirinya? lantas kenapa? yah mungkin alasannya karena memang dirinya yang terlalu sempurna
"Mau kemana?" tanya Mikaela ketika lengannya kembali ditarik
"Makan!"
"Tapi aku udah makan"
"Temenin gue makan"
"Tapi nanti banyak yang liat"
"Makan di luar!" ucapnya final membuat Mikaela kehabisan alibi.
"Mikaela.." panggil Melvin dari ujung koridor. ia melihat Mikaela sedang dibawa pergi oleh pria yang kemarin juga membawanya pergi "seenaknya" gumamnya
________________________
"Kenapa?" tanya Mikaela sambil mengusap-usap pipinya, mungkin ada yang aneh di wajahnya sehingga membuat pria ini mentertawainya
Arva menarik ujung bibir milik Mikaela dengan telunjuknya "Kalau begini lebih cantik" ujarnya
"Tapi kalau begini juga gapapa sih gue tetep suka" ucap Arva sambil mengapit pipi kanan dan kiri Mikaela dengan telunjuk dan ibu jarinya, membuat bibirnya mengerucut dan daging pipinya berkumpul. Itu pasti jelek !
Arva kembali tertawa lalu tersedak karenanya.
Kini giliran Mikaela yang tertawa "Emang enak" sungutnya puas tanpa berniat membantu Arva untuk mengambilkan minumnya
Arva meraih gelasnya dengan susah payah lalu meminum habis isinya. Dengan nafas ngos-ngosan Arva melirik gadis yang masih sibuk mentertawai dirinya
Bukannya marah, Arva malah ikut tertawa. Melihat itu membuat Mikaela menghentikan tawanya dan mengusap matanya yang berair.
"Emm itu.." dengan refleks Mikaela mengusap sisa makanan pada ujung bibir pria itu
Arva menahan telunjuk Mikaela yang akan segera ditarik kembali si pemiliknya lalu melumatnya singkat, diakhiri dengan senyum smirk nya yang dipamerkan
Deg
Dengan segera Mikaela menarik lengannya. ia meneralkan dirinya "Udah kan?" tanyanya kemudian. Sudah pasti akan meminta untuk kembali ke kampus. padahal jam kosongnya masih sangat lama
Arva mengedarkan pandangannya, mencari ide agar bisa melakukan hal yang lain setelah ini.
Ia melihat di luar kafe ada mesin boneka "Tepat" pungkasnya. tidak ada wanita yang tidak tersentuh dengan cara ini
Arva segera meraih lengan Mikaela lalu membawanya ke luar kafe
"Lo mau boneka yang mana?" tanya Arva sambil memainkan alisnya
Dengan wajah flat Mikaela menggelengkan kepalanya. "Kenapa harus susah payah? kalo mau beli tinggal ke tokonya" ujarnya
"Ini beda ! ayo tinggal tunjuk aja mau yang mana?" kukuhnya lagi
Mikaela mengacak rambutnya gusar "Yang itu" tunjuknya asal tanpa melihat apa yang ditunjuknya
"Okee, lo liat ya pacar lo ini akan memenangkannya" ucapnya penuh percaya diri
10 menit berlalu
"Ayoo Arv .. ini udah banyak" rengek Mikaela pada Arva yang masih saja berusaha memenangkan boneka yang tadi ia tunjuk
"Tanganku udah penuh !!" keluhnya dengan lebih dari 5 boneka yang sudah ada dalam pelukannya
Arva menghentikan aktifitasnya, ia mengambil alih boneka yang Mikaela pegang lalu membuangnya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya
"Arva..." protes Mikaela
"Kenapa dibuang??"
"Jangan ganggu gue .. okeee" ucapnya sambil membingkai wajah Mikaela lalu melanjutkan usahanya kembali
Mikaela melenguh, apapun alasannya Arva tidak akan berhenti
Mikaela menghampiri tempat sampah tadi "Keliatannya gak kotor" ucapnya sambil kembali memunguti boneka dari dalam tong sampah tadi
"Yesss" puasnya setelah mendapatkan apa yang jadi targetnya.
"Kenapa diambil lagi?" protes Arva
"Daripada dibuang mending kasih orang" ucap Mikaela
Arva mengangguk untuk membenarkan pernyataan gadisnya.
"Dek sini.." Arva melambaikan tangannya pada 2 gadis kecil yang kebetulan akan lewat di depannya
"Nih buat kalian!!" ucap Arva sambil memberikan boneka-boneka tadi
"Serius kak??" tanya anak umur 7 tahuhan itu
"Iya ambil aja" ucapnya mengiyakan
"Makasih ya kak" ucap kedua anak kecil itu berantusias
"Kenapa dikasih semua?" protes Mikaela ketika anak kecil itu sudah membawa pergi semua bonekanya
"Nih.." Arva mengasongkan sebuah boneka berwarna hijau tua dengan bentuk tak jelas. itu boneka ter tidak niat dalam pembuatannya
"Buat aku?"
"Kan ini yang tadi lo tunjuk" ujarnya
"Apa? aku?"
"Siapa lagi?"
Arva segera meraih lengan Mikaela untuk segera kembali ke kampus atau gadis ini akan marah-marah kalau sampai terlambat untuk masuk di mata kuliah selanjutnya
Dengan wajah yang masih tak percaya Mikaela hanya bisa mengikuti langkah besar pria yang suka menarik-narik lengannya dalam setiap kesempatan
•
•
•
Please like and comment !!