My Cold Senior

My Cold Senior
Pura-Pura



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Mikaela?" gumam Vino ketika melihat seseorang yang ia kenal sedang berada di pinggiran jalan. Ia segera menghampiri Mikaela dengan menepikan motornya di hadapannya



"Vino" kaget Mikaela



"Vin bantuin aku, bawa aku pergi dari sini plis" pinta Mikaela sambil menautkan kedua tangannya memohon



"Kenapa disini?" tanya Vino sambil melihat sekitarnya "Arva mana?" tanyanya lagi "Lo ditinggal?" tuduh Vino ingin tau banyak



Mikaela menggelengkan kepalanya "Gak ada waktu, nanti dia keburu .."



"Mikaela" suara bariton itu muncul dari kejauhan, belum menampakkan tubuh si pemiliknya



"Ayo" ajak Vino setelah cukup paham dengan situasi yang sedang dihindari wanita itu



Arva memicingkan matanya ketika melihat punggung seorang wanita di sebuah motor yang sudah melesat jauh



"Mik?" panggil Vino pada wanita yang masih menempel pada punggungnya



"Mikaela" panggilnya sekali lagi pada wanita yang masih belum menjawabnya



"Heum" Mikaela menjawabnya dengan berdeham



"Lo masih mau begini? kita udah nyampe" ucap Vino yang membuat Mikaela segera membenarkan posisinya "Oh, maaf" ucapnya



Vino tak bisa bergerak banyak, pasalnya kedua lengan wanita yang duduk di belakangnya masih memegang kuat sisi jaket yang dipakainya. "Apa lo setakut ini sama Arva?" tanya Vino yang merasakan lengan Mikaela terasa dingin



Mikaela segera turun dari motor besar itu tanpa menjawab sangkaan Vino terlebih dahulu "Makasih ya" tuturnya tulus



Vino mengangguk "Apa enggak sebaiknya lo ke rumah Rani atau ke temen lo yang lain? mungkin Arva bakal nyamperin lo kesini"



"Kalau seandainya dia macem-macem aku bisa teriak minta tolong kan?" jawab Mikaela berusaha untuk tenang.



Vino tertawa karenanya "Lo bener" ucapnya menyetujui



Mikaela segera mengunci pintu dan semua jendela rumahnya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk mengunci diri disana. Jantungnya masih berdegup kencang, sampai kapan ia bisa menghindari pria itu seperti ini??



Tok tok


Suara ketukan pada pintunya mulai berirama



Dengan perasaan tak menentu Mikaela berusaha mengendap untuk melihat dari sela gorden jendela nya.



"Mikaela buka pintunya" suara itu membuat Mikaela mencelos, ia mengurungkan niatnya sebab suara itu sudah jelas milik orang yang ia hindari mati-matian



"Mikaela buka.. gue tau lo di dalem" ucap pria itu lagi.



Mikaela menutup kedua telinganya, ia tak mau dengar dan tak mau perduli. Wanita itu segera menghampiri ranjang kecilnya lalu bersimpuh disana dengan ditutupi selimut tebalnya



"Mikaela.."



"Maaf mas, jangan teriak-teriak ! bayi saya jadi bangun" protes seorang wanita dari teras rumah di sampingnya



"Mikaela bukaa" tegas Arva lagi dengan menggedor-gedor pintu yang masih tak berniat untuk terbuka.



"Mas bisa diem gak sih? bayi saya bangun lagi" protes wanita itu lagi dengan ekspresi wajah yang lebih garang



Arva mengepal kuat lengannya, tak mungkin ia harus melampiaskannya pada wanita galak tadi kan? bisa-bisa ia sendiri yang akan jadi tumbal



"Kali ini lo lebih sulit ditaklukan, begitupun dengan gue yang mungkin gak akan kenal kata menyerah" gumam Arva



___________________



Vanya mengedarkan pandangannya, ia tak melihat pria idamannya dimanapun. Namun tiba-tiba ia menarik kedua ujung bibirnya ketika bahu nya ditepuk dari belakang



Cup


Vanya mencium wajah orang yang ia yakini sebagai Arva dengan mata tertutup



Rendra mengerjapkan matanya berkali-kali, bagaimana mungkin Vanya bisa mencium sembarang orang seperti ini?? bagaimana kalau yang menepuk bahu nya itu bukan dia? bagaimana kalau orang lain? itu gawat !



Vanya segera memicingkan matanya lalu menarik wajahnya secepat yang ia bisa. "Elo?' protesnya tak terima dengan kenyataan yang terjadi "Ke-kenapa bukan Arva?" geramnya



Rendra menggaruk belakang telinganya, terkadang takdir memang berpihak padanya, walaupun hanya sebuah ketidak sengajaan yang mutlak



Vanya mengusap-usap bibirnya kasar, berusaha keras menghilangkan jejak aroma pria yang sama sekali tak pernah muncul dalam pikirannya walaupun hanya bayangan



Rendra yang melihat itu pun segera melakukan hal yang sama. Ia mengusap bekas menempelnya bibir wanita itu di pipinya.



Melihat kelakuan pria itu membuat Vanya merasa tersinggung "Lo harusnya bangga dapet ciuman dari gue" protes Vanya



"Kenapa?" tanya Rendra



"Siapapun berharap ada di posisi lo sekarang" ucap Vanya menyombongkan diri



"Lo juga harusnya bangga. Di luar sana banyak cewek yang gak kesampean nyium gue" timpal Rendra



Vanya berdecak kesal, meladeni pria itu hanya akan membuat darah nya naik "Arva mana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan



"Kalo nanya itu baik-baik, biar enak jawabnya" tutur Rendra yang segera membuat Vanya ingin muntah dan lebih memlih pergi secepatnya




"Rendra.." panggil seseorang menghambat langkahnya



"Eh liat Mikaela gak?" tanya Rani



"Tadi sih.. emm emang kenapa?" tanyanya ingin tau maksud sebelum memberi informasi



Rani memicingkan matanya "Tau gak??" tanyanya lagi tak ingin berlama-lama



Rendra mengangguk mantap "Tapi mau apa tanya dia?"



"Kepo" ketus Rani segera menghentakkan kaki nya yang merasa menyesal sudah mau menghampiri orang ini



Rendra yang baru saja memutar tubuhnya untuk segera melanjutkan langkahnya lagi-lagi terhambat.



"Tadi Rani jalan lewat sini, lo liat gak?" tanya orang yang berpapasan dengannya.



Rendra mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia tak menemukan siapapun selain orang-orang yang berada jauh dari posisinya. "Nanya ke gue?" tebak Rendra



Melvin mengangguk "Iya lo, liat Rani gak?" ulangnya



Rendra menghembuskan napasnya panjang "KEPO" cibirnya puas, lalu segera meninggalkan Melvin yang seketika memudarkan wajah harapnya



Memangnya dia peta atau apa? harus menjadi yang ditanyai posisi orang lain. Memangnya gak ada yang bisa ditanyai selain dirinya?? manusia bukan ia saja.



_________________________



Krwuk krwuk


Suara perut Mikaela mulai menyeruak, membuatnya terbangun dari tidur lelapnya yang susah payah



Jarum pendek jam dinding di hadapannya sudah mengarah pad angka 7, pantas saja perutnya lapar sebab dari pagi ia memang belum makan apa-apa karena rasa mualnya yang selalu mengganggu



Mikaela membuka kulkas, disana hanya ada beberapa butir telur saja. Tidak, ia tidak mau makan nasi yang baru dilihatnya saja sudah membuatnya mual. Mungkin ia harus membeli makan ke luar?



"Iya bu dari tadi siang masa berisik banget, sampai anak saya bangun loh"



"Tapi keliatannya masih ada ya tadi saya lihat, kasian juga"



"Segitunya ya?? emang mau ngapain ya"



"Tadi sih saya tanya katanya.."



Ucapan salah satu ibu-ibu rempong terhenti ketika Mikaela lewat di depannya "Eh mba, itu suaminya kasian jangan gitu-gitu amat lah"



"Suami?" heran Mikaela



"Iya, kata si mas nya tadi" jawab tetangga baru nya itu



"Masalah dalam rumah tangga itu biasa lohh, jangan gampangan pisah-pisah gitu. Apalagi kalau cerai ih amit-amit jangan sampai" lanjut satunya menambahkan



Mikaela hanya manggut-manggut tanpa mengerti dengan apa yang disampaikan para ibu rempong yang mencegat jalannya



Deg


Langkah Mikaela terhenti ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintunya "A-Arva?" gumamnya tak percaya, sebab ketika ia keluar rumah tadi tak ada siapapun, itu kenapa ia bisa keluar dari rumahnya atau ia terpaksa menahan lapar sampai besok daripada harus berhadapan dengan Arva lagi



Mikaela yang akan segera kembali menjauh dari rumahnya tiba-tiba berhenti ketika melihat rombongan tetangganya yang sedang menuju jalan pulang sudah semakin dekat dengannya



"Mba kok masih disini?" ujar salah satu wanita termuda dari 4 lainnya itu, membuat Arva memutar tubuhnya ke arah suara



Mikaela melenguh, sudah pasti kali ini ia tak akan selamat.



"Eh eh itu kenapa?" teriak salah satu tetangga rewel nya, membuat Mikaela mengikuti arah yang ditunjukinya



"Arva.." kaget Mikaela berbarengan dengan tubuh pria itu yang mulai gontai dan seketika jatuh menyentuh aspal







"Astaga mba sudah saya bilang kan, jangan keterlaluan" ucap salah satu tetangganya yang mejadikannya tontonan



"Bu tolong bantu saya" pinta Mikaela pada semua yang mengelilingi posisinya



"Iya ayok ayok" ucap ibu-ibu komplek yang ternyata masih mempunyai rasa kemanusiaan



Mikaela menggigit bibir bawahnya kuat, kini pria yang sedang dihindarinya sudah berada di ruangan persegi miliknya. Semua yang membantunya untuk mengangkat beban berat pria itu sudah pergi, hanya tinggal menyisakan mereka berdua.



Dengan keraguan yang amat sangat, Mikaela menyentuh kening Arva yang memang sedikit hangat. Tapi bukankah itu manusiawi?? Mikaela beralih menyentuh kening dan leher miliknya, suhu normal tiap orang memang seperti ini. Kalau dingin berarti mati



Mikaela hendak bangkit dari sofa tapi seketika sepasang lengan membuat tubuhnya kembali pada posisinya. "Kamu pura-pura?" tuduh Mikaela pada pria yang dengan berani menyimpan kepalanya di atas lahunannya.



Arva tak bergeming, ia melingkarkan lengannya pada pinggang Mikaela



Cup


Pria itu tiba-tiba mendaratkan ciuman pada perut rata Mikaela lalu mengusapnya lembut "I am so sorry" ucapnya parau




•


•


•


PLEASE LIKE AND COMMENT


Like Like Like


Comment Comment Comment