My Cold Senior

My Cold Senior
Sengaja



Happy Reading ♡♡♡


"Ahhh kenyangnyaaa" puas Arva sambil mengusap-usap perutnya yang sudah penuh.


"Yaudah kalo gitu aku pulang ya" ucap Mikaela sambil merapikan wadah yang sudah tak berisi.


"Masa langsung pulang?"


"Ya terus ngapain disini lama-lama?"


"Nemenin aku lah, biar semangat kerjanya"


"Yang ada kamu malah gak fokus, numpuk gitu kerjaannya" balas Mikaela sambil melirik tumpukan kertas yang memenuhi meja kerja suaminya.


Arva berdecak "Orangtua gak ada otak emang, pertama kerja udah dikasih kerjaan segitu banyak"


"Kamu tuh kalo ngomong yang sopan dong, biar gimanapun kan dia papi kamu" delik Mikaela


"Iya-iyaa kelepasan"


"Jangan diulang, papi mau kamu maju"


Arva mengangguk paham.


Mikaela menghampiri Arva yang masih terduduk di sofa lalu melingkarkan tangannya pada leher pria itu "Habis ini aku mau ketemu Rani ya" ucapnya


"Mau ngapain?"


"Ya ketemu dong, udah lama gak pernah ketemu lagi"


"Iya gituu, kok diem sih"


"Langsung pulang aja deh"


"Ishh kok kamu gitu sih?"


"Ini udah jam 2, bentar lagi juga aku pulang"


"Gak lama kok"


"Mustahil, cewek kalo udah saling ketemu suka gak inget waktu"


"Enggak akan, yahh please" pinta Mikaela kembali memohon


Arva memutar tubuh istrinya untuk mendudukkannya di atas pangkuannya "Harus banget diiyain?"


Mikaela mengangguk semangat


"Mana bisa aku nolak kalo gini" keluh Arva


Mikaela mulai menarik bebas kedua ujung bibirnya.


"Sebelum aku pulang kamu harus udah ada di rumah" peringat Arva


"Siap bos" patuh Mikaela


Cup


Mikaela mengecup sudut bibir milik Arva sekilas "I love you, sampai ketemu di rumah" tuturnya yang sudah mengambil langkah seribu sebelum akhirnya pria itu kembali mengunci dirinya. Perlu tau kalau Arva cukup lemah dengan sentuhan, pasti akan ada kelanjutannya kalau Mikaela tak segera pergi.


__________________________


"Ran.." panggil Mikaela dari depan gerbang sambil melambaikan lengannya agar sahabatnya itu bisa menyadari keberadaannya.


"Mikaela" kaget Rani berantusias, ia segera lari ke arah dimana Mikaela berada.


"Kan bisa ketemuan di luar aja, kenapa nyamperin ke sini sih?"


"Kelamaan, nanti waktu ngobrolnya kepotong karena harus tunggu-tungguan"


"Sekangen itu?"


"Banget" jawab Mikaela dengan yakin lalu diikuti dengan suara tawa keduanya yang saling bersautan.


"Kita di kampus aja nih serius?"


"Iya Ran, aku gak bisa lama-lama soalnya, takut Arva keburu pulang"


"Halahh gue lupa, cewek udah nikah kan harus mikirin suami ya? Apa-apa harus izin, gak diizinin ya gak bisa berangkat".


"Pintarrrr" sahut Mikaela dengan menempelkan ibu jari nya pada kening Rani.


"Aishh Mikaelaa"


"Mikaela? lo disini?" sapa Rendra yang tak sengaja melihat keberadaan istri dari sahabatnya yang sudah sama-sama gak pernah nongol lagi di kampus.


"Lo kuliah lagi? Arva ngizinin lo kuliah lagi? huh" tanya Rendra lagi yang sudah duduk bergabung diantara kedua sahabat yang sedang saling temu kangen.


"Aku cuman mau ketemu Rani aja kok" jawab Mikaela


"Ohhgitu" Rendra ber-oh ria


Rani yang sudah mulai merasa risih akhirnya tidak lagi karena Rendra sepertinya menyudahi kekepoannya.


"Hai Mik, lo disini?" sapa Vino menyusul yang kemudian ikut bergabung.


Rani mendesah, harusnya ia tak melakukan pertemuan penting di sebuah tempat yang dipenuhi kenalannya yang lain.


"Misi tuan-tuan, ini waktunya Mikaela sama gue, jadi lo berdua gak usah ikut-ikutan ya, makasih loh sebelumnya." ucap Rani penuh penekanan lalu meraih lengan Mikaela untuk segera membawanya pindah ke tempat yang lebih tenang.


"Hahahaha"


"Apasih Mik, gak ada yang lucu" heran Rani


Mikaela berdeham untuk menetralkan kembali otot-otot yang ada di sekitaran mulutnya. "Lagian, barengan aja kenapa sih"


"Gak enak, gak bebas"


"Oh ya, mending kita ke kaffe tempat biasa kita aja yuk"


Mikaela melihat jam kecil yang melingkar pada pergelangan tangannya "Kayaknya gak bisa deh, satu jam lagi Arva pulang, aku harus udah di rumah."


"Bentaran doang Mik, pliss"


"Bukannya gak mau lebih lama, cuman nanti takutnya Arva gak akan ngizinin lagi, ngeri kan?"


Rani diam beberapa saat "Lo bener"


Mikaela segera memeluk tubuh sahabatnya "Nanti kita atur waktu lagi ya" ucapnya


"Lo udah janji"


_________________________


"Gak ada yang nyambut" batin arva, hari pertamanya bekerja tak ada hal yang istimewa, semua melelahkan.


"Bik, mami mana?" teriak Arva ketika tak menemukan seorangpun di dalam rumahnya.


"Ibu lagi keluar den"


"Jangan bilang kalo Mikaela juga belum pulang" pikirnya sambil menaiki tangga


"Sayang.." panggil Arva


Cklek


Arva membuka pintu kamar.


Sunyi sepi


"Bagus"


"Istri saya mana bik?" tanya Arva lagi sedikit berteriak dari lantai atas


"Non Mikaela belum pulang den" sahut asisten rumah tangganya yang masih sibuk memasak.


"Mikaelaaa" keluhnya menahan kesal.


Arva merogoh ponselnya lalu menekan kontak favoritnya untuk segera dihubungkan



"The number your calling is..." Arva *** ponselnya lalu menarik asal dasi nya yang terasa semakin menyesakkan.


Blug


Arva membanting pintu kamarnya cukup keras, membuat pantulannya terdengar sampai ke lantai bawah.


Deg


Wanita yang sudah membuat mood nya rusak dengan tiba-tiba berada di hadapannya.


"Kok? tadi aku cari kamu gak ada.." heran Arva masih tak percaya "Tadi bibik juga bilang kalo kamu belum pulang" tambahnya yang tidak mungkin salah sangka.


"Sengaja" ucap Mikaela.


"Huh, maksudnya?"


Tanpa berniat untuk menjelaskan lebih dulu, Mikaela mendekati posisi Arva lalu mengusap peluh yang mengalir dari keningnya. "Kok acak-acakkan gini sih?" keluh Mikaela sambil membuka dasi yang belum seluruhnya terlepas dari kerah kemeja suaminya.


"Gara-gara kamu"


"Kok nyalahin?"


"Tadi aku cari gak ada, aku kira kamu masih belum pulang, kalo sampe bener sih awas aja.." mulut Arva sudah tersumpal oleh telapak tangan Mikaela "Buktinya kan aku ada disini, kamu nya aja"


"Sekarang kamu mandi" titah Mikaela sambil menyeret prianya ke arah toilet


Pintu toilet hampir tertutup namun Arva sudah kembali menggenggam lengan istrinya yang akan beranjak pergi "Kamu juga belum mandi kan" tebaknya


"Aku nanti aja, masih sibuk"


"Enggak ada yang lebih penting dari.."


Tok tok


"Mikaela.. ayoo sayang, katanya mau bantuin" suara mami dari luar


"Tuh udah ada yang manggil" ujar Mikaela merasa tertolong, namun tangannya masih belum dilepaskan "Arvaa.." keluhnya


Arva menggelengkan kepalanya tanda tak setuju lalu segera menarik tubuh Mikaela sampai menabrak dada bidangnya. "Masuk, atau gak keluar sama sekali" tuturnya memberi pilihan


"Ishh kamu gila ya" protes Mikaela memukul tubuh yang mengunci pergerakannya.


"Tinggal pilih, ikut mandi atau kita gak akan keluar kamar sampai besok" lanjutnya seraya berbisik


Tok tok


"Mikaela.. kamu di dalam kan?" suara Shopia kembali mencuat


Mikaela menggigit bibir bawahnya "Tapi cuman mandi, gak yang lain-lain kan?"


Arva mengangguk "Janji"


"Yaudah aku mau bilang dulu.."


"Mikaela sibuk mih, gak bisa bantu" sahut Arva mengambil alih lalu dengan cepat menarik wanitanya untuk ikut masuk kedalam ruangan yang tak cukup luas namun cukup lembab dan basah.


Shopia mengerutkan keningnya "Sibuk?" ulangnya. "Yaudah, mami tunggu di bawah ya" lanjutnya


"Gimana bik udah siap semua?"


"Sudah buk, tinggal kue nya masih di oven sebentar lagi juga matang"


"Bagus" senang Shopia.


Cup


Danu mengecup kening istrinya secara tiba-tiba, membuat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik ini sedikit terkejut


"Astaga papi, mami kira siapa" keluhnya


"Kok kayak mau ada acara makan besar" ucap Danu melihat meja makan yang cukup besar itu hampir terisi penuh segala macam makanan


"Yup, sebagai perayaan untuk Arva. Hari pertama bekerja harus jadi hari yang spesial" sahut Shopia


Danu mengangguk "Baguslah, tadi udah papi bikin capek juga, biat dia semangat masuk kerja besok"


"Papi gimana sih? mami bilang kan pelan-pelan" protes Shopia


"Sssttt, ini urusan laki-laki. Lanjutkan ya, papi mau ganti baju dulu, udah laper" putusnya sambil berlalu.


"Gimana mih? maaf tadi.."


"Iya gak apa-apa, mami juga pernah muda" sahutnya penuh pengertian, membuat Mikaela merasa kikuk


"Mami gak kerepotan kan? tadi Mikaela minta.." Belum sempat Arva melengkapi kalimatnya tapi Mikaela sudah lebih dulu memprotes pada pria yang akan membuat isu bohong


Shopia tertawa "Kalian apaan sih"


"Jadi mami mau bikin kejutan buat aku ceritanya?" tebak Arva memastikan


Shopia menggeleng "Bukan, ini ide istri kamu" ralatnya


Arva terperangah "Really??"


Kedua pipi Mikaela sudah memerah, tanpa menjawabpun seharusnya Arva sudah tau jelas jawabannya. Tapi bukan Arva namanya kalau akan puas hanya dengan cara seperti ini.


"Ya mami mengiyakan saja, sudah pasti apa yang membuatmu senang mami akan setuju" ucap Shopia lagi


Senyum Arva masih merekah, mungkin ini senyum terlama yang terpampang dari wajahnya.


Cup


Arva mengecup pipi Mikaela, sebab hanya itu benda yang paling dekat dengannya "I am so happy" tuturnya


"Semua makanan yang ada disini juga Mikaela yang masak" ucap Shopia lagi, membuat kebahagiaan Arva tak lagi terbendung, ia merasa amat sangat special


"Mami jangan berlebihan, kan mami sama bibik juga bantuin, bukan aku aja." ralat Mikaela


"Bukannya kamu pergi ketemu Rani.."


"Aku bilang kan sebentar"


"Tapi mana sempet kalo masak sebanyak ini?"


"Ya sempet kalo disempet-sempitin, lagian kan mami sama bibik juga bantuin aku bilang tadi" jelas Mikaela


Arva menghela nafas panjang, entah apa yang ada dalam diri wanita biasa yang ada di sampingnya, yang jelas Mikaela sangat bisa membuat perasaan marah berganti menjadi senang dalam hitungan detik.


Rasanya kalau menciumnya saja itu tidak akan cukup, Arva memutar otaknya untuk hal apa yang harus ia tawarkan pada wanitanya itu.


"Arva, kok malah melamun sih?" heran Shopia.


"Ah, gak apa-apa mih" sahutnya.


Acara makan berjalan dengan hikmat "Harus sering-sering begini, mami seneng liat kamu makan lahap" ucap Shopia melihat anaknya yang sudah 2x nambah nasi.


"Papi enggak?"


"Papi kan emang makannya banyak" canda Shopia yang langsung diikuti tawa semua anggota keluarga


"Arva, mami dan papi sudah tidak muda lagi" tutur Shopia mulai bernada serius


"Mami mau.."


"Mih, diobrolkan nanti kan bisa" potong Danu


"Gak bisa pih" kukuh istrinya


"Mami mau kalian cepet ngasih mami cucu" lanjut Shopia memperjelas


"Iya mih, mungkin belum dikasih aja" sahut Arva


Glek


Mikaela menelan salivanya berat, tenggorokannya tercekat "Habis ini apa lagi?" batinnya khawatir.


Mikaela mremas lengan Arva, seolah menyalurkan kekhawatirannya agar suaminya segera menyudahi obrolannya kali ini.


Arva merasakan kekhawatiran istrinya, tapi ia juga tak bisa menghindari mami nya secara gamblang


"Gimana mau dikasih kalau kalian menghalanginya" lanjut Shopia


Boom


Bagaikan ledakan bom tepat di depan wajahnya. Genggaman Mikaela semakin melemah, ini tidak akan terhindarkan



"Menghalangi?" ulang Arva


♡Like and Comment♡