
Happy Reading ♡♡
"Menang atau kalah itu gak penting! Yang penting itu taruhannya" Erik melanjutkan
"Right" ucap Arva yang merasa tertolong membenarkan
Mikaela tak habis pikir kenapa bisa pamannya ini mudah akrab dengan orang baru, apalagi orangnya itu Arva. orang yang harusnya dijauhi, tapi kalau seperti ini gimana caranya biar bisa menghindar dari pria itu
Arva melirik Mikaela dengan menaikkan sebelah alisnya membuat Mikaela berdecak tak suka
"Yaudah paman.. aku ke kamar ya" ucap Mikaela sambil bangkit dari sofa
Nayla menyimpan 2 gelas cangkir di atas meja, lalu bergabung dengan duduk di tempat yang tadi diduduki Mikaela.
Nayla melihat Arva penuh kagum. yang ia tau gada pria tampan yang melebihi gebetannya di sekolah. Tapi melihat sosok yang ada di depannya langsung meruntuhkan anggapannya selama ini
"Emmm .." Arva mengedarkan pandangannya ke segala arah ruangan yang agak sempit ini.
Nayla menajamkan pandangannya "kenapa dia gak liat ke gue sih heran" batinnya. Arva tau bahwa Nayla memperhatikannya, tapi "so what?" Ketampanannya memang seringkali mengganggunya
"Paman, saya numpang ke toilet boleh?"
"Oh ya itu sebelah sana" tunjuk Erik
"Aku anter" ucap Nayla menawarkan diri
Arva hanya mengangkat telapak tangannya, sebagai tanda agar Nayla mengurungkan niatnya
Nayla kembali duduk sambil mengerucutkan bibirnya
"Udah sejam kenapa dia gak pulang-pulang" kesal Mikaela yang habis membersihkan diri lalu mengintip ruang tamu sebentar
"Ck" Mikaela berdecak lalu memutar tubuhnya
Bugh
Mikaela mengusap jidatnya. ia menabrak sesuatu yang gak keras tapi ya bikin sakit juga kalo tabrakan gini
Mikaela terhenyak ketika ia melihat siapa yang ia tabrak, kali ini bukan di kampus melainkan di rumahnya. Tunggu "aakkkk" Mikaela memeluk tubuhnya sendiri karena hanya terlilit handuk sampai sepaha
"Li liat apa?" Tanya Mikaela tak terima sambil mengeratkan pelukan tangannya
"Ya liat yang ada di depan gue" jawab Arva seakan tak merasa aneh
"Ishh ngapain disini?"
"Mau keee.."
Tap tap
Suara langkah kaki itu membuat Arva menarik Mikaela ke dalam toilet yang ada di sampingnya
"Kamm..."
Arva membekap mulut Mikaela dengan tangannya di balik pintu, dengan posisi saling berhadapan membuat tubuh mereka sangat dekat, bahkan saling bersentuhan.
Mikaela memukul lengan Arva sekuat tenaga, menyadari kalau pukulannya tak berpengaruh apapun membuat Mikaela menggigit lengan Arva yang masih menutup mulut cantiknya.
"Aahwwww" Arva meringis tertahan
"Kamu ngapain?" Tanya Mikaela tak habis pikir
"Sstttt"Arva masih dengan pemikirannya yang mengharuskan sembunyi. Tapi kenapa harus sembunyi? Pria aneh
"Lo gak liat, lo lagi gak pake baju?" Ucap Arva sambil mengedarkan pandangannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala gadis itu, membuat Mikaela meliukkan tubuhnya tak nyaman
"Heh kamu pikir ini dimana?"
"Di rumah paman lo"
"Terus apa masalahnya?"
"Ya .. hemm"
"Masalahnya ada di kamu, kenapa kamu masih belum pulang??" protes Mikaela yang masih setia menggenggam handuk yang membalut tubuh polosnya.
Bukan membuatnya sadar tapi Arva malah semakin menjadi. Wajahnya sudah sangat drkat dengan milik gadis yang hampir kehilangan kesempatan bernapas akibat ulahnya ini
"Ma mau ngap.."
Seperkian detik tak ada gerakan apapun, Arva segera membebaskan Mikaela tiba-tiba dan menjauhkan tubuhnya.
Arva tersudut di sela pintu dengan satu tangan menyentuh tembok untuk menahan tubuhnya sedangkan yang satu lagi memegang kepalanya kuat, lalu setengah menjambak rambutnya sendiri
Mikaela yang melihat Arva kesakitan langsung panik dan kebingungan "Kenapa?" tanyanya berusaha mendekat
Jangankan mendengar suara gadis itu, untuk bernafas saja rasanya sulit karena harus menahan sakit yang tak tertahan.
"Aku harus ngapain?" Batin Mikaela tak karuan. Lalu Mikaela segera membuka pintu toilet dan berteriak memanggil pamannya
"Ada apa?" Tanya Erik menghampiri dengan panik
"Apasih teriak-teriak" keluh Nayla merasa terganggu
"Paman tolong.. emm Arva"
"Apa? Arva kenapa?" Tanya Erik sambil melihat ke arah toilet yang ditunjukkan Mikaela
Erik segera menahan tubuh Arva yang hampir roboh kebawah.
"Kenapa bisa?" Tanya Erik pada Mikaela
"Kenapa kalian ada di sini?"
"Kael jelasin nanti.." Mikaela membantu pamannya yang menahan tubuh Arva lalu membopongnya ke kamar
"Segera pakai baju, sebelum temanmu ini tersadar dan melihatmu dalam keadaan seperti ini" titah Erik sebelum akhirnya keluar dari kamarnya
Mikaela menghembuskan nafasnya lega "Untung paman gak curiga" batinnya "Ngerepotin banget si" gumamnya pelan lalu keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa potong pakaian untuk dipakainya
Mikaela kembali ke kamarnya melihat Arva yang seperti tak ada gerakan sama sekali karena posisi sejam yang lalu sebelum meninggalkannya sampai kembali lagi itu sama persis.
"Sebenarnya dia kenapa?" Batin Mikaela kembali bertanya-tanya.
Mikaela menutup pintu kamarnya lalu menghampiri pria yang masih memejamkan matanya
"Kalau sedang begini, dia terlihat lucu" gumamnya sambil menarik sebelah ujung bibirnya. Mikaela menggelengkan kepalanya setdlah menyadari apa yang ia lakukan saat ini
Arva menggerakkan jari tangannya, lalu menggerakkan kepalanya tak nyaman dengan mata yang tetap terpejam. Keringat mengucur deras di kening dan pelipisnya
"Hey.." ucap Mikaela berusaha membangunkan Arva yang seperti bermimpi buruk
"Arva.." panggil Mikaela menepuk lengan pria itu
Arva tak kunjung sadar, ia masih tak nyaman dengan tidurnya.
Mikaela duduk di ujung kasur lalu mengusap keringat Arva dengan lengan pakaiannya yang panjang
Mikaela mengusap kening dan pipi Arva yang sudah sangat basah dengan keringat.
"Demam" gumam Mikaela saat menyentuh kening Arva dengan punggung tangannya
Arva meraih tangan Mikaela ketika gadis itu hendak bangkit dari duduknya, membuat gadis itu kembali duduk. Arva menggenggam tangan Mikaela semakin kuat membuat Mikaela takbisa kemana-mana
"Aku harus apa?" Gumamnya
Arva menarik lengan Mikaela dengan menyimpannya di celuk lehernya, membuat gadis itu harus lebih mencondongkan tubuhnya. Tapi gak bisa, itu pegal.
Mikaela duduk di lantai dengan menjadikan lengan satunya sebagai bantalan kepalanya. Wajah pria tampan yang sedang mengunci tangannya ini sudah mulai terlihat nyaman, tidak seperti tadi.
"Huawhhh" Mikaela menutup mulutnya yang memaksa untuk terbuka
Kedipan Mikaela perlahan melemah dan melambat, kantuk yang menyerangnya tak bisa ia tahan, membuat Mikaela terlelap dalam keadaan terduduk di lantai seperti itu
Tertidurnya Mikaela berbarengan dengan terbangunnya Arva. Kini Arva siuman dari tidur lelapnya. Wajah gadis itu yang pertama ia lihat, membuat pria itu tersenyum senang
"Tunggu.. kenapa gue disini?" Gumam Arva seketika menghentikan senyumnya
•
•
•
Please like and comment !!