My Cold Senior

My Cold Senior
Takdir



Tinggalkan like dan komentarnya ya


Agar author semangat lanjut ceritanya 😘



Happy Reading ♡♡



"Lo nginep disini dulu, nanti besok gue jemput" ujar Arva pada Mikaela



"Ran, gue titip Mikaela gapapa kan?"



"I iya gak apa-apa kok, justru emang tadinya gue mau nyuruh Mikaela buat tinggal disini" jawab Rani



"Enggak, cuman sehari ini aja" jelas Arva lagi



"Kalo gitu gue pergi dulu" pamit Arva



"Habis ini mau kemana?" tanya Mikaela pada pria yang sudah balik kanan itu



Arva memutar kembali tubuhnya "Siapa?" tanyanya yang kemungkinan bisa jadi salah dengar



"Yah yaa kamu, siapa lagi?" jelas Mikaela sedikit ragu



Arva menarik ujung bibirnya "Gue mau ngurus sesuatu dulu" jawabnya



"Sesuatu apa?" tahan Mikaela lagi dengan pertanyaannya, membuat pria itu kembali menghentikan langkahnya



"Lo lagi kenapa?" telisik Arva sedikit merasa bangga



"A-aku cu cuman .. mau tau aja kok" alibinya



"Lo gak usah khawatir" ucap Arva sambil mengelus pipi nya lembut



Mikaela tak bergeming, ia ******** bibirnya kehabisan kata-kata. Entah kenapa hatinya terlalu takut dengan apa yang kemungkinan terjadi



"Hati-hati" ucap Mikaela ketika Arva sudah membuka pintu mobilnya, yang langsung dibalas dengan anggukan pasti



Mikaela menghembuskan napasnya berat "Semoga gak akan terjadi apa-apa" batinnya



Elusan pada bahunya membuat gadis itu tersadar dengan siapa dirinya sekarang



"Dia pasti baik-baik aja kok" ucap Rani dengan ekspresi serius yang dibuat-buat



"Kamu ngeledek?" tuduh Mikaela pada temannya



"Ppfffftt" suara tertawa Rani menggelegar seketika



"Rannnn" keluh Mikaela tak suka



"Habisnya lo lebay banget tau gak sih? udah kayak mau ditinggal suami perang ke perbatasan Korea utara aja" ledeknya



"Ran.. gak lucu" keluhnya lagi



Mikaela tak bisa tertawa untuk saat ini, karena memang ini bukan hal yang patut dibuat candaan. Dia serius



"Emangnya kenapa sih?" tanya Rani mencari tau hal yang tidak ia ketahui



"Di depan rumahnya tadi banyak penjaga"



"Penjaga?"



Mikaela mengangguk "Aku takut nanti Arva kayak waktu itu lagi" tuturnya



"Waktu itu?" tanya Rani



"Kok gue banyak gak tau? kenapa lo gak cerita sih?" protesnya



"Gak semua hal gampang buat diceritain Ran" jelas Mikaela



Rani mengangguk paham "Terus sekarang?"



"Ahh tuh kan gue lupa gak nyuruh masuk, cerita di dalem ya.. mama nanyain lo tuh dari kemaren" lanjutnya sambil membawa Mikaela masuk kedalam rumahnya



_______________________



Mikaela mengedarkan pandangannya di depan gerbang sejak 30 menit yang lalu



"Mik.. ayookk ngapain masih disini??" ajak Rani yang kembali menyusul sahabatnya



"Emm 5 menit lagi ya"



"Sejak setengah jam yang lalu lo ngomong kayak gitu, nyadar gak sih?" protesnya



"Emang? hehe" ujarnya yang kembali fokus dengan hal yang membuat ia rela berdiam diri lama seperti itu



"Arva gak akan.."



Ucapan Rani terhenti karena bekapan di mulutnya "Ssssttt" protes Mikaela sambil membawa sahabatnya itu menuju kelasnya



*istirahat*



"Vino" sapa Mikaela menghampiri mejanya



"Eh Mik, kenapa?" tanya Vino



"Emm Arva, dia gak masuk?" tanyanya sambil terus mengawaskan pandangan di sekitarnya, supaya tidak menjadi perhatian pasang mata lainnya



"Arva?" ulang Vino



"Dia bilang di telvon sih katanya lagi ada perlu" jelasnya



"Tapi dia gak kenapa-napa kan?" tanya Mikaela yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya



Vino tertawa kecil "Ya enggak lah, udah lo tenang aja"



"syukur deh kalo gitu" ucapnya menghembuskan nafas lega



"Eh ada Mrs.Arva nih" sapa Rendra yang baru memunculkan ujung hidungnya



"Ada apa nih??" tanyanya kepo



"Yaudah kalo gitu aku balik kesana ya" pamit Mikaela kembali ke meja dimana Rani berada



"Anjr gue dikacangin" keluh Rendra sambil memudarkan senyum andalan yang dipamerkannya



"Dia bukam type cewek yang terima dengan pesona kebusukan lo" ujar Vino sambil menyedot kembali es jeruk nya



"Sialan lu" cibir Rendra merengut



"Lagian type cewek gue kan bukan yang polos" ujarnya menyeringai



"Eh tapi gue heran deh ko Arva bisa suka sama dia ya?"



"Ngapain heran? dia cantik" bela Vino




"Takdir"



"Lo percaya kayak gituan?"



"Kayak gituan gimana maksud lo?"



"Yah takdir? menurut gue itu cuman pilihan tiap orang aja lahh, realistis aja mikirnya"



"Tapi lo gak bisa milih kepada siapa lo jatuh cinta"



Rendra sedikit berpikir "Gue bisa" pungkasnya penuh percaya diri



"Buktinya gue milih suka sama si Vanya karena lo liat dong body nya aduhaaiiii, mantan-mantan gue lewat semuaa, gilaa. Cantik mah gak usah ditanya, udah jelas"



"Ya kan?"



Krik krik



Rendra memudarkan ekspresi pada wajahnya "Bangke" sungutnya, ketika ternyata si manusia yang ia anggap mendengarkan ocehannya dari tadi sudah lenyap. Terlihat punggung yang baru ditelan tikungan di depannya



___________________



"Beneran lo gak mau ikut?" tanya Rani lagi untuk lebih memastikan



"Iya.. aku mau langsung pulang aja" jelasnya



"Kalo gitu biar nganterin lo dulu.."



"Enggak.. udah aja sana berangkat! aku bisa pulang sendiri" potong Mikaela menghentikan inisiatif sahabatnya



"Okedeh kalo gitu, sampai ketemu di rumah ya" pamit Rani setelah mencium pipi kanan dan kiri nya



Mikaela mulai berbelok ke arah toilet ketika langkah Rani sudah menjauh



Aktifitas cuci tangannya terheti ketika ia merasa ada seseorang di belakang tubuhnya. Ia memberanikan diri untuk melihatnya melalui cermin yang ada di hadapannya



Deg


Sosok wanita yang sudah berdiri sambil melipat tangannya, menunjukkan senyum devil yang biasa dilakukan pemeran antagonis dalam sinetron



Mikaela segera menyelesaikan aktifitasnya dan berniat untuk pergi dari tempat yang mulai mencekam ini



"Mau kabur kemana lo?" tahan Vanya dengan kaki jenjang yang ia lentangkan untuk menghalangi jalannya



"Kabur? aku cuman udah beres aja mangkanya mau keluar"



"Siapa yang ngijinin lo keluar??" teriak Vanya menunjukkan sifat aslinya, membuat Mikaela menekan kedua telinganya yang terasa sakit



Brak


Vanya mendorong tubuh Mikaela sampai kepalanya membentur ujung wastafel dan berhasil membuat pelipisnya mengeluarkan cairan merah



"Udah gue bilang gak usah deketin Arva!!" serang Vanya lagi yang kali ini sambil menjambak rambut terurai milik Mikaela







"Awhh" ringis Mikaela menahan rambutnya yang seakan copot dari tempatnya



"Sakit? huh" tanya Vanya puas, ia sama sekali tak merasa bersalah dengan apa yang sudah diperbuatnya malah cenderung puas



"Gue bilang jauhin Arva lo ngerti gak?"



"Tapi aku gak deketin dia" jawab Mikaela sebagai pembelaan untuk dirinya



"Maksud lo Arva yang ngejar-ngejar lo? jangan ngimpi cewek sialan"



"Aahhhhww" ringis Mikaela lagi ketika tarikan pada rambutnya itu semakin kuat



"Vann ada orangg" ucap Vera yang berjaga di depan pintu



"Urusan kita belum selesai" tekan Vanya menghentakkan wajah Mikaela, membuat gadis itu terhuyung hampir kehilangan keseimbangannya



Dengan sekuat tenaga Mikaela tetap menahan air matanya, ia tak boleh lemah. Apalagi hanya karena perbuatan nenek sihir itu



Ia merapikan rambutnya yang acak-acakan dan berusaha menutupi goresan kecil itu dengan rambutnya



Mikaela menuju ruang UKS dengan penuh keawasan, agar tidak ada yang curiga dengan keadaannya yang tak baik-baik saja







Mikaela mengobati lukanya itu dengan alkohol. Sebenarnya hanya goresan kecil, tapi kalau tidak diobati dengan segera maka akan menimbulkan bekas nantinya



Sekuat apapun ia menahan, tapi air mata itu lolos juga membasahi pipi nya



"Ibu" gumamnya pelan



"Apa enggak sebaiknya aku nyusul ibu aja?" mirisnya pada diri sendiri







dddrrt ddrrtt



Getaran pada ponselnya membuat Mikaela segera mengusap air matanya



Cowok Aneh is calling . .



Mikaela kembali memasukkan ponselnya kedalam tas miliknya. Mungkin ia memang harus menjauhi lelaki itu



Mikaela segera merapikan obat-obatan yang ia pakai barusan, tidak lupa dengan membalik kembali belah sisi rambutnya ke arah yang berlawanan untuk menutupi lukanya. Mikaela segera keluar dari ruangannya sebelum cowok aneh itu menemukannya di tempat ini



"Mau ngehindar lagi?" suara bariton dari arah belakang menghentikan langkah besar gadis cantik yang sedang buru-buru itu



Mikaela menekan kuat matanya, ia menghela napasnya untuk sekedar mengontrol wajahnya agar tidak menampilkan hal yang aneh



"Kenapa telepon gue gak diangkat?" tanya Arva yang tanpa disadari sudah berada di depannya



"Emang nelepon? hehe aku gak cek hp" bohongnya



Tanpa lama Arva segera menarik lengan itu untuk mengikuti langkah besarnya. Dengan susah payah Mikaela terpaksa mengikutinya, dan berharap kali ini wanita itu tidak melihatnya



"Ke Rani kan?" tanya Mikaela memastikan setelah pria itu mulai melajukan mobilnya



"Udah gue bilang kan kemaren?" ucap Arva datar



"Emm tapi mendingann.." Mikaela menghentikan kalimatnya ketika Arva menampilkan wajah tak suka nya



•


•


•


♡♡PLEASE LIKE AND COMMENT♡♡